Raising Teens Class

  • 0

Raising Teens Class

 

Kelas Parenting untuk orangtua yang memiliki anak remaja (usia 12 – 17 tahun).

Kelas : RAISING TEENS

Topik :

# Memahami perkembangan, kebutuhan & masalah remaja

# Menolong remaja mengenali potensi diri

# Berkomunikasi dan bersahabat dengan remaja

# Mendisiplin anak remaja


  • 0

Sibling Rivalry

Category : FAMILY , PARENTING

bigstock-siblingriv1

Rasanya bahagia jika antar saudara kandung bisa hidup rukun bersama. Ini adalah kerinduan setiap orangtua. Namun kenyataannya, anak-anak yang tinggal dalam satu rumah pasti akan mengalami sibling rivalry.

Sibling rivalry bisa diartikan sebagai kompetisi antar saudara kandung, baik antar saudara kandung yang berjenis kelamin sama ataupun berbeda. Kompetisi ini bisa berwujud rasa iri hati atau cemburu, persaingan dan juga pertengkaran. Bersaing untuk mendapatkan sesuatu, seperti perhatian orangtua atau mainan baru. Bisa juga bersaing untuk membuktikan sesuatu, seperti berusaha menjadi yang paling berprestasi dalam keluarga, menjadi yang paling disayang oleh orangtua, paling banyak teman, dan lain-lain.

Sibling rivalry bisa mulai terlihat saat hadirnya sang adik. Ada anak yang menunjukkan sikap senang dengan hadirnya sang adik, tetapi banyak yang mulai menunjukkan sikap makin rewel atau semakin tidak mau berpisah dengan ibunya. Ia merasa tidak lagi menjadi yang paling istimewa, karena perhatian orangtua tercurah pada adiknya, waktu bermainnya dengan orang tua berkurang dan keinginannya tidak lagi paling diutamakan.

“Read More”


  • 0

Mother Styles

img-20161217-wa0009-2

 

Saat diberi kepercayaan menjadi seorang ibu, kerinduan kita tentunya adalah dapat menjalankan peran sebagai ibu dengan benar.

Menjadi seorang ibu yang baik adalah dambaan semua wanita. Tapi seringkali kita berpikir  bahwa untuk menjadi orangtua yang baik adalah kita harus expert atau ahli.  Itulah sebabnya banyak dijual parenting book, ada seminar-seminar parenting dan banyak orangtua belajar bagaimana menjadi orangtua yang baik dan benar.  Ilmu-ilmu yang dipelajari dan masukan dari orang lain seringkali membuat kita bingung. Sehingga melupakan satu hal yang sangat penting bahwa sebagai ibu atau sebagai orang tua, jika kita mengenal dan memahami diri kita, maka kita juga akan bisa memahami anak-anak kita. Oleh karena itu hari ini kita belajar mengenai Mother Styles.

Apa saja yang diperoleh jika kita belajar Mother Styles ?

  • Mengenal kekuatan kita, sehingga kita lebih percaya diri dengan kecenderungan kita yang natural dan pendekatan yang unik sebagai ibu.
  • Kita akan lebih realistik dan bisa menerima apa yang menjadi pergumulan atau perjuangan kita sebagai seorang ibu. Karena setiap style memiliki keterbatasan juga.
  • Mengurangi rasa bersalah yang disebabkan merasa tidak bisa menjadi ibu yang baik.
  • Belajar bagaimana me-recharge diri sendiri sesuai dengan style kita.
  • Mengerti dan meminimalkan konflik dengan pasangan dan anak-anak yang berbeda style.
  • Bisa memenuhi kebutuhan anggota keluarga.
  • Bisa menerima dan menghargai perbedaan di dalam keluarga.

  • 0

Buah Hatiku Berkebutuhan Khusus

special-needs

Saya khawatir dengan anak saya yang berusia 4 tahun karena perkembangannya berbeda dengan anak-anak lain seusianya. Dia sangat terlambat dalam banyak hal. Terlambat bicara, sulit fokus, tidak dapat mengikuti pelajaran di sekolah dan cenderung impulsif. Saya telah membawa anak kami ke Psikolog dan disarankan melakukan beberapa tes. Hasilnya disebutkan anak kami terdiagnosa Autism. Sebagai orangtua saya sedih dan bingung karena anak kami ternyata berkebutuhan khusus (ABK). Kami memikirkan masa depan anak kami. Apa yang harus saya lakukan sebagai orangtua, dan bagaimana seluruh anggota keluarga yang lain dapat mendukung juga? (Vivi, 36 tahun)

“Read More”


  • 0

TANTRUM pada Anak

Category : FAMILY , PARENTING

tantrum

Pernahkah Anda sebagai orang tua mengalami kegalauan dan merasa bingung ketika anak marah, menangis, bahkan sampai berguling-guling di lantai?

Salah satu masalah yang sering dihadapi orang tua yang memiliki anak-anak adalah TANTRUM.

Tantrum adalah luapan emosi kemarahan pada anak yang tidak terkontrol. Pada umumnya tantrum terjadi pada anak-anak yang berusia 1 sampai 3 tahun.  Perilaku yang ditunjukkan pada saat tantrum antara lain : meraung, menjerit, menangis, menghentakkan kaki bahkan berguling-guling di lantai.

Nah, tantrum harus diatasi dengan benar dan bijaksana sejak dini. Bila tidak, maka anak akan menggunakan tantrum untuk memanipulasi orang tua dan orang-orang tertentu. Anak pun akan tumbuh menjadi anak yang egois.

“Read More”


  • 0

7 Kesalahan ORTU terhadap REMAJA

Category : FAMILY , PARENTING

remaja

Harus kita akui, mendidik remaja bukanlah pekerjaan mudah. Bahkan tidak sedikit orangtua yang melontarkan kebingungan menghadapi anak mereka yang sedang tumbuh sebagai remaja. Di sinilah orangtua perlu belajar banyak parenting, termasuk bagaimana dealing with a teenagers. Terkadang orangtua melakukan kesalahan akibat ketidaktahuan. That’s okay, seperti pepatah bilang, kesalahan adalah guru yang terbaik. Dari kesalahan atau kegagalan, kita bisa belajar bagaimana menjadi orangtua yang lebih baik. Bicara soal kesalahan, berikut 10 kesalahan yang kerap dilakukan orangtua terhadap anak remaja mereka! Parents, yuk pelajari dan berubahlah!

“Read More”


  • 0

Gaya Belajar Anak

Category : PARENTING

gaya belajar

Lain lubuk lain belalang. Lain anak lain gaya belajarnya. Supaya tidak salah gaya, yuk cari tahu apa gaya belajar yang cocok dengan anak-anak kita. Ini contekannya!

Sama halnya dengan keunikan tiap individu, masing-masing anak ternyata punya gaya belajar tersendiri. Meski bersekolah di sekolah yang sama, duduk di kelas yang sama, gaya belajar tiap anak ternyata tidak sama. Perbedaan itu bahkan ada pada anak-anak dari satu keluarga. Seperti kakak, adik bahkan saudara kembar sekalipun.

Saat mengikuti pelajaran di kelas, ada murid yang begitu tekun menyimak meski sang guru menyampaikan materi pelajaran seperti orang berceramah berjam-jam. Ada yang terkesan hanya memerhatikan sepintas lalu, meski sebetulnya mereka membuat catatan-catatan kecil di bukunya. Namun banyak juga anak yang merasa bosan.

Ada anak yang lebih mudah menangkap isi pelajaran jika disertai praktik. Anak semacam ini lebih suka berkutat di laboratorium ketimbang mendengar penjelasan guru. Sedangkan anak lain, mungkin lebih tertarik mengikuti pelajaran yang disertai berbagai aspek gerak. Contoh, guru yang menerangkan materi pelajaran kesenian sambil sesekali diselingi nyanyian dan tepuk tangan.

Ada juga anak yang harus bersemedi dan menutup pintu kamar rapat agar bisa konsen belajar. Sebaliknya, cukup banyak juga anak yang mengaku justru terbuka pikirannya bila belajar sambil mendengarkan musik.

“Read More”


  • 0

  • 0

Menepis Resiko si “ONLINE”

Tags :

Category : FAMILY , PARENTING

online

23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Menyoal kehidupan anak, di era teknologi komunikasi yang kian berkembang pesat seperti sekarang ini, anak-anak kita begitu dekat dengan dunia “online”. Kalaupun belum ‘online’ sekarang, cepat atau lambat anak-anak kita akan segera bergabung dengan jutaan anak-anak lain yang menggunakan internet. Entah menggunakan internet di sekolah maupun rumah, dunia “online” menawarkan anak-anak pengalaman yang mendidik dan bermanfaat, tetapi tak sedikit pula yang menimbulkan risiko.

Mesti diakui, internet merupakan tantangan baru bagi orangtua. Tidak seperti televisi ataupun radio, internet bersifat interaktif. Anak kita bisa berinteraksi dengan siapa pun secara online dari rumah, sekolah, atau tempat lain. Internet memungkinkan setiap pengguna, kapan saja, mengirimkan informasi. Termasuk informasi yang tidak akurat, menyesatkan atau tidak pantas untuk anak-anak. Lebih riskannya, hal ini juga memungkinkan orang untuk mengumpulkan informasi pribadi dari anak kita. Ditambah orangtua kerapkali sulit mengawasi kegiatan berselancar anak di internet, dimana terkadang justru ada situs-situs yang berbahaya buat mereka. That’s why, anak-anak perlu paham aturan dan risiko di dunia maya. Berikut adalah risiko dari online yang sangat umum dialami anak-anak!

“Read More”


  • 0

Sumber Stress pada Anak

stress

Beberapa waktu yang lalu banyak media ramai membicarakan tentang terjadinya peristiwa bunuh diri dari seorang anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Banyak pakar Psikologi yang mencoba menganalisa penyebab dari peristiwa yang menghebohkan ini.  Pengaruh media televisi, ingin menarik perhatian orangtua, perasaan malu, …. dan yang utama adalah karena ketidakmampuan menangani stres yang yang mereka simpulkan.

Apakah stres hanya terjadi pada orang dewasa?

Selama ini, mungkin kita  berpikir bahwa stres hanya mungkin dialami oleh orang dewasa yang memiliki tingkat kesulitan hidup yang lebih kompleks. Ternyata tidak hanya orang dewasa saja yang bisa mengalami stres, anak-anak pun bisa mengalami gangguan ini.

Ada beberapa berita terkini, sebagai berikut :

  • Survey terbaru iVillage menemukan bahwa hampir 90% ibu menganggap anak-anak sekarang jauh lebih stres dibandingkan mereka dulu.
  • Penelitian menemukan bahwa antara 8 dan 10 persen anak-anak Amerika mengalami kesulitan dan gejala-gejala serius akibat stres.
  • University of Rochester Medical Center meneliti selama 3 tahun terhadap anak usia 5 – 10 tahun menemukan bahwa anak-anak yang berada di bawah tekanan dengan orangtua dan keluarganya lebih sering sakit yang disertai demam dibandingkan anak-anak lain.

Jika stres dibiarkan dan tidak diatasi dengan baik, maka dapat menyebabkan penyakit secara fisik, emosi maupun mental. Stres yang kronis juga merusak sistem imun, menjadikan anak mudah terjangkit pilek dan demam, asma, diabetes dan penyakit lainnya.

“Read More”