Istri Korban KDRT

  • 0

Istri Korban KDRT

Category : COUNSELING , FAMILY


KDRT

Saya sudah menikah 3 tahun. Suami saya melakukan KDRT terhadap saya. Jika saya bertengkar hebat dengan dengan suami, dia suka memukul saya.  Lalu suami minta maaf dan katanya menyesal, tidak akan melakukannya lagi. Tetapi kejadian itu terjadi lagi, saya berulang-ulang dipukul. Sekarang, saya menjadi tidak tenang, karena takut dipukul oleh suami.

Apa yang harus saya lakukan untuk menghadapi suami saya? Bagaimana supaya suami bisa berubah? (Sintya, 34  tahun)

“Read More”


  • 0

Pelaku KDRT

Category : COUNSELING , FAMILY

KDRT

Saya sudah menikah lebih dari 5 tahun. Saya mengalami masalah dalam keluarga. Ada sifat jelek yang sulit saya ubah. Kalau saya ribut dengan istri, berantem, lama-kelamaan kami jadi saling memaki. Semakin lama saya semakin emosi dan saya ga tahan kalau istri saya sudah menghina saya. Kemudian saya  ga bisa mengendalikan diri lagi dan saya memukul istri. Saya menyesal sekali karena sudah menyakiti istri, dan saya segera maaf kepada istri saya lalu berjanji untuk tidak melakukan lagi. Saya tahu bahwa itu salah, tapi kejadian ini berulang beberapa kali dan semakin sering.  Saya benar-benar ingin berubah.

Apa yang terjadi pada saya? Bagaimana saya bisa berubah? Saya tidak mau rumah tangga saya hancur karena sifat jelek saya ini!  (Handoko, 34  tahun)

“Read More”


  • 0

Tidak ingin seperti PAPA

Bad DaddyTerus terang pernikahan orangtua saya tidak patut dicontoh. Papa mama selalu bertengkar dan mereka bercerai saat saya remaja. Papa sering mabuk-mabukan, papa sering bicara kasar dan membentak mama serta anak-anak, papa juga suka menyalahkan mama. Saya sedih sekali dengan perceraian mereka, saya tidak ingin hal itu terjadi dalam pernikahan saya.

Nah, saat menikah 3 tahun yang lalu, saya berjanji pada diri saya sendiri bahwa saya tidak ingin seperti papa. Saya tidak ingin menjadi suami yang suka bicara kasar. Tapi saya sering konflik dengan istri dan tanpa saya sadari saya kog kasar seperti papa? Kemudian jika saya stress, pelarian saya adalah hang out dengan teman-teman dan saya mulai mencicipi minuman beralkohol.

Saya khawatir jika apa yang terjadi dengan papa mama akan terulang kembali dalam pernikahan saya. Apa yang harus saya lakukan? (Elvin, 36 tahun)

“Read More”


  • 0

Penghalang-penghalang Mezbah Keluarga

Tags :

Category : FAMILY

Memasuki tahun 2010, di mana merupakan “Tahun Pemulihan dan Kelimpahan”, kita sangat percaya bahwa Tuhan rindu memulihkan keluarga kita, baik pemulihan hubungan antara suami istri maupun pemulihan hubungan orang tua dan anak. Bahkan kelimpahan akan Tuhan sediakan, baik kelimpahan secara rohani maupun jasmani.

Tuhan pasti sangat rindu untuk memulihkan, memberkati, memberikan pertolongan, perlindungan dan pengarahan bagi rumah tangga kita.
Namun, hal ini sulit terjadi secara instan. Kita membutuhkan Dia sebagai Sumber dari segalanya. Kita perlu menghadirkan Tuhan dalam keluarga kita.

Sayangnya, banyak suami isteri yang rajin ke gereja setiap hari Minggu namun tidak pernah menghadirkan Tuhan dalam rumah tangganya.
Di sinilah penyebab utama sesungguhnya mengapa pemulihan dalam keluarga menjadi sulit. Banyak masalah keluarga yang tidak terselesaikan, bahkan kita merasa bahwa keluarga kita sedang berada dalam kegelapan.
Bayangkan apabila kita sedang berjalan dalam kegelapan dan tidak ada cahaya, kita pasti akan bingung harus berjalan ke arah mana ?


Di dalam Alkitab, seringkali memakai kegelapan sebagai tempat di mana hati kita yang sangat jahat berada, tempat dosa bermanifestasi.
Ketika kita merasa keluarga berjalan tanpa arah, berputar-putar, persoalan datang silih berganti, hubungan suami istri dingin, anak-anak memberontak dan sulit dimengerti, di sinilah salah contoh kegelapan sedang menyelimuti keluarga kita.
Nah, jika Tuhan tidak hadir dalam rumah tangga, jika FirmanNya tidak menjadi pelita bagi kaki kita dan terang bagi jalan kita, apa jadinya keluarga kita???
“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. ”
(Mazmur 119 : 105)

Oleh karena itu, untuk mengalami pemulihan dan menerima kelimpahan dalam keluarga kita, mau tidak mau, tidak bisa dipisahkan dengan mezbah keluarga.
Mezbah keluarga sangat penting !!!
Namun mengapa sedikit keluarga Kristen yang melakukannya?
Bahkan riset menyatakan 90% keluarga Kristen tidak melakukannya.

Ada beberapa hal bisa menjadi penyebab, antara lain :

1. Are you happy with The Word of God ?
Kita tidak suka dengan Firman Tuhan. Mengapa?
Untuk berhadapan dengan Firman Tuhan, maka banyak kenikmatan harus dibuang, dosa harus dibuang.
Banyak keluarga yang hidup dalam kemalasan, terikat dengan dosa pornografi, dan terikat dengan dosa lainnya. Ini membuat kita sulit mencintai Firman Tuhan. Kita tidak mungkin bisa mencintai dua hal yang berseberangan.
“Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. ” (Matius 6 : 24)
Kita harus berhati-hati jika kita menikmati kebiasaan buruk dalam keluarga kita, karena apa yang kita tabur, akan kita tuai.

2. Kehidupan yang spirit-nya sekuler. Seperti baut yang tidak pas dengan mur-nya.
Misalnya kita lebih senang nonton TV, lebih senang baca koran, lebih senang berkutat dengan komputer & internet, bahkan kita lebih setia baca majalah dibandingkan membaca Firman Tuhan. Semua waktu habis untuk hal-hal sementara.
Kita lebih tertarik pada peristiwa-peristiwa dalam dunia, daripada dengan apa yang Tuhan katakan.
Waktu kita di rumah, kita tidak memikirkan hal-hal rohani. Tidak ada waktu dan ruangan bagi Firman Tuhan.
Spirit
yang sekuler akan membawa kita kepada hal-hal yang fana dan tidak membangun keluarga.

3. Tidak ada yang cakap memimpin.
Mengapa tidak bisa memimpin? Karena papa dan mamanya tidak bergaul dengan Firman. Sebagai orang tua yang rajin membaca Firman dan rajin merenungkannya, sharing Firman Tuhan akan mengalir dari mulut kita tidak habis-habisnya. Pengalaman rohani yang kaya akan membuat sharing yang hidup bagi anak-anak kita.
Jika kita tidak melekat dengan Tuhan, maka hidup kita akan miskin dengan pengalaman rohani, dan kita tidak bisa membagikan hidup kita kepada keluarga kita.

4. Disiplin !!!
Mengapa ada orang yang berkemauan tetapi sulit menjalankannya?
Karena tidak bisa disiplin.
Membangun mezbah keluarga membutuhkan disiplin !!
Disiplin akan membentuk kebiasaan. Kebiasaan yang sudah terbentuk akan menjadi pola, dan jika pola sudah baki akan menjadi sistem dalam keluarga. Kalau maezbah keluarga sudah menjadi sistem, maka akan menjadi mudah sekali. Sampai akhirnya jika kita tidak melakukan mezbah keluarga, rasanya ada yang kurang dan hilang.

Mazmur 1: 1- 3 : “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.”

Kunci dari segalanya adalah mengasihi Tuhan !!
Jika kita mengasihiNya, segala hambatan pasti dapat diatasi dan kita akan melakukan mezbah keluarga dengan setia !!!

Related to this topic : Mezbah Keluarga Membentuk Rumah Berkat.

(Beberapa tulisan bersumber dari buku Garam & Terang bagi Keluarga – CKF)


  • 0

Keintiman dalam Pernikahan

Category : FAMILY , MARRIAGE

Berapa lamakah umur pernikahan kita ?
Setahun, dua tahun, sepuluh tahun atau duapuluh lima tahun ?
Apakah kita merasakan keintiman di dalam pernikahan kita selama ini ?

Kejadian 2:25 menuliskan :
“Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.”

Artinya Allah menghendaki keintiman antara suami dan isteri.
Seharusnya, semakin panjang usia pernikahan, maka semakin bertambah pulalah keintiman antara suami dan isteri.
Sayangnya, justru lebih banyak pernikahan yang mengalami kehambaran.

Banyak orang menikah dengan modal cinta yang segar.
Namun setelah menikah, kita lupa memelihara pernikahan, sehingga tidak ada keintiman di dalam pernikahan.

Keintiman adalah sebuah aspek yang sangat penting di dalam pernikahan.
Karena kualitas pernikahan kita ditentukan oleh tingkat keintiman di antara suami istri.
Pernikahan yang kaya dengan intimasi akan membawa efek yang sehat baik psikis maupun fisik.
Di samping itu, keintiman juga menjadi benteng pertahanan melawan stress.

Keintiman berbeda dengan hidup bersama, berbeda dengan ber-mitra, berbeda dengan berdampingan.
Intim bukan berarti bebas dari pertengkaran.
Dan sebaliknya, tidak adanya pertengkaran juga bukan berarti kita mempunyai kualitas pernikahan yang baik.
Sebagai contoh, kita dapat hidup puluhan tahun dengan pata tetangga tanpa bertengkar dan berkelahi, tetapi kita tetap tidak memiliki relasi intim dengan mereka.

Kualitas pernikahan diukur dengan seberapa dalamnya keintiman.
Keintiman mencakup beberapa aspek yang perlu dibangun di dalam setiap pernikahan, sebagai berikut :

Keintiman Fisik
Yaitu kesanggupan kita untuk hidup berdua dengan pasangan dalam satu rumah.
Ada suami isteri yang tidak bisa serumah karena kebiasaan hidup yang terlalu berbeda; seperti kerapihan, kebersihan, cara mandi, kebiasaan tidur, selera makan, dsb.
Hal yang tampak sepele ini ternyata bisa menjadi kerikil yang berdampak buruk bagi kehidupan rumah tangga.
Keintiman harus dimulai dari penyesuaian hal-hal yang bersifat jasmani, sebab mustahil kita dapat mencapai keintiman dalam segi lain jika kita tidak berhasil menyatukan diri dalam hal-hal ini.

Keintiman Emosional
Dapatkah kita menyelami perasaan pasangan kita, dan sebaliknya?
Apakah kita mengetahui mengapa ia marah, tidak senang dan tersinggung?
Apakah kita mengijinkan dia mengetahui perasaan kita yang sesungguhnya?
Jika kita pintu hati kita tidak terbuka terhadap pasangan kita, keintiman akan sulit terjalin.

Keintiman Mental
Artinya kita dapat memasuki, menyelami pikiran masing-masing demi mencapai kesepakatan.
Biasanya kita lebih sering mengambil jalan tengah agar tidak terjadi pertengkaran.
Contoh : ini tugasmu dan ini tugasku.
Pengambilan keputusan dilakukan sendiri-sendiri tanpa sepengetahuan atau persetujuan pasangannya.

Keintiman mental bukan berarti tidak ada perbedaan pendapat.
Namun yang terpenting adalah, apakah kita bisa mengambil keputusan bersama-sama ?

Keintiman Finansial
Dapatkah kita menyatukan penghasilan kita serta seia sekata dan terbuka dalam penyimpanan dan pengeluaran uang ?
Tidak dapat dipungkiri, banyak pasangan yang mengalami konflik karena masalah finansial dalam keluarga.
Misalnya sang isteri adalah orang yang hemat, sedangkan suami lebih suka memberi. Hal yang kelihatannya sepele ini dapat menimbulkan konflik berkepanjangan.

Keintiman Sosial
Menikah dengan pasangan bukan berarti hanya hidup berdua dengan pasangan kita.
Dapatkah kita saling menghargai dan bergaul dengan keluarga, kerabat dan relasi pasangan kita?
Contoh : banyak konflik dalam pernikahan yang disebabkan oleh urusan mertua-menantu.

Agar pernikahan semakin intim dan bersatu, kita sebaiknya kita memiliki teman-teman yang sama.
Jangan kehidupan sosial kita semakin hari semakin jauh. Misalnya teman suami tidak kenal dengan teman istri.
Terciptanya jurang sosial akan menjauhkan pernikahan kita dari keintiman.

Keintiman Rekreasi
Dapatkah kita menikmati rekreasi bersama ?
Banyak pasangan yang kesukaannya berbeda. Misalnya ada suami yang senang bermain golf, sementara isterinya senang berjalan-jalan ke mall untuk mengisi waktu senggangnya.
Jika sesekali, hal ini tidak masalah.
Namun jika itu berlangsung terus-menerus, akan timbul masalah.
Aturlah jadwal rekreasi yang bisa dinikmati bersama-sama.

Keintiman Seksual
Apakah kita memiliki gairah cinta terhadap pasangan kita ?
Apakah kita dapat saling terbuka terhadap pasangan kita mengenai hubungan seksual ?

Satu hal yang sangat berpengaruh dalam membangun keintiman seksual adalah “kekudusan” dalam pernikahan.
Kekudusan dalam penikahan berarti tidak adanya pihak ketiga dalam pernikahan, seperti perselingkuhan.
Selain itu, banyak pasangan yang memiliki fantasi seksual, atau harus menonton film porno terlebih dahulu sebelum melakukan hubungan seksual.
Hindarilah hal-hal demikian, yang dapat menghancurkan pernikahan kita !!!

Keintiman Rohani
Apakah suami isteri memiliki kematangan rohani yang sama ?
Dapatkah pasangan memberikan respon yang sama terhadap kehendak Tuhan ?
Misalnya, saat Tuhan menghendaki sesuatu, sang suami ingin melakukan kehendak Tuhan, tetapi pasangannya tidak setuju.

Akanlah sulit kita dapat bersatu hati meresponi kehendak Tuhan, bila kita tidak memiliki kematangan rohani yang sama.

“Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati.”
( I Petrus 3:8 )

Mari hiduplah dalam KEINTIMAN !!!

( Beberapa tulisan bersumber dari buku How to Enjoy Your Marriage, Paul Gunadi )


  • 0

A Family Can Give Impact for the Nation

Tags :

Category : FAMILY , MARRIAGE

Pernahkah kita berpikir bahwa pernikahan kita dapat berdampak bagi sebuah generasi?
Atau berdampak bagi sebuah bangsa?Mungkin kita sering mendengar sebuah kalimat :

KELUARGA YANG KUAT MEMBANGUN MASYARAKAT YANG KUAT.
MASYARAKAT DAN GEREJA YANG KUAT MEMBANGUN KEBUDAYAAN YANG KUAT.
KEBUDAYAAN YANG KUAT MEMBANGUN NEGARA YANG KUAT.

Marilah kita melihat contoh nyata dari 2 keluarga sebagai bukti dari pernyataan tersebut :

Max Jukes adalah seorang ateis yang menikah dengan seorang wanita kafir (tidak mengenal Tuhan).
Dari sekitar 560 keturunannya ditelusuri :

300 orang mati sebagai pengemis,
150 orang menjadi penjahat, 7 orang di antaranya pembunuh,
100 orang terkenal sebagai pemabuk,
dan lebih dari setengah keturunannya yang perempuan adalah pelacur.
Keturunan Max Jukes menyebabkan pemerintah Amerika Serikat merugi sekitar $1.25 juta dengan nilai dolar pada abad ke-19.

Jonathan Edwards adalah seorang yang hidup pada masa yang sama dengan Jukes.
Ia adalah seorang Kristen yang setia.
Dia selalu mengutamakan Allah dalam kehidupannya.

Ia menikah dengan seorang wanita muda yang saleh,
dan dari 1.394 orang keturunannya ditelusuri :

295 orang lulus dari universitas, di antaranya 13 orang menjadi rektor dan 65 orang professor.
3 orang dipilih sebagai senator Amerika Serikat,
3 orang sebagai gubernur negara bagian,
dan yang lainnya diutus ke negara-negara asing sebagai hamba-hamba Tuhan.
30 orang menjadi hakim,
100 orang menjadi pengacara Negara bagian,
1 orang menjadi dekan sebuah sekolah tinggi hokum terkenal.
75 orang menjadi perwira angkatan bersenjata,
100 orang menjadi misionaris, pengkhotbah dan penulis terkenal,
80 orang lagi bekerja di beberapa kantor pemerintah, tiga di antaranya adalah walikota kota-kota besar, satu adalah seorang pengawas keuangan Departemen Keuangan Pemerintah Amerika Serikat,
dan seorang lagi adalah Wakil Presiden Amerika Serikat.

Tidak satu orang pun keturunan keluarga Edwards merugikan pemerintah Amerika Serikat.

Nah, mau tidak mau keluarga kita adalah ikatan nilai dari generasi satu kepada generasi berikutnya.
Kita adalah salah satu mata rantai dari rantai yang sangat panjang dari lingkaran generasi.

Firman Tuhan menuliskan, “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka : Beranak-cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:29)

Artinya, Tuhan rindu melalui keluarga Ilahi dan melalui keturunan Ilahi, kita menghasilkan generasi yang menegakkan Kerajaan Allah di muka bumi ini.

Oleh karena itu, marilah kita menentukan pilihan :

1. Apakah kita ingin menjalani kehidupan pernikahan tanpa tujuan dan tanpa arah ?
2. Bagaimana kita menjalani kehidupan pernikahan kita dan keluarga kita ?
3. Nilai-nilai apa yang akan kita bangun dalam keluarga kita ?
4. Warisan apakah yang akan kita tinggalkan bagi generasi berikutnya ?

Walaupun ada mata rantai negatif dari masa lalu keluarga kita, putuskanlah, tinggalkanlah dan kejarlah rencana Allah yang dahsyat bagi keluarga kita dan generasi yang akan datang !!!


  • 0

Home Sweet Home

Tags :

Category : FAMILY

Pernahkah anda bermimpi mengenai sebuah Rumah Idaman?
Rumah Idaman seperti apakah yang anda inginkan?

Mungkin kita sering berpikir, seandainya rumah saya lebih besar, seandainya rumah saya seindah rumah tetangga saya, seandainya perabotan saya lebih lengkap?

Tetapi, tahukah bahwa banyak orang yang memiliki rumah / tempat tinggal ( house ), bahkan memiliki rumah yang mewah berisi perabotan yang mewah dan lengkap, tetapi belum tentu merasakan “ kebahagiaan ” di dalam keluarga.

Sehingga seringkali rumah kita hanya menjadi HOTEL, tempat kita menginap atau tidur di malam hari, namun kita tidak betah tinggal di dalamnya. Ataupun rumah kita menjadi ARENA PERTARUNGAN, di mana banyak konflik terjadi, atau pun sebagai tempat pelampiasan kemarahan satu sama lain.
Atau … sebagai PUSAT HIBURAN, di mana anggota keluarganya lebih banyak mengisi waktu di rumah dengan menonton televisi dan film, bermain game atau internet.

Mengapa demikian ?
Karena kebahagiaan dalam keluarga, tidak ditentukan dari besarnya atau mewahnya sebuah rumah, tapi bagaimana kita membangun dan menciptakan rumah kita menjadi “ home sweet home”.

Ada sebuah kalimat :

“ Home is not just a place you live – it’s a place you grow up in.”
( Christina )

“House is where the building is but home is where the heart is.”
( Clavel )

Marilah kita : make a HOUSE a HOME

Mengapa hal ini penting ?

Di dalam rumah, dibangunlah keluarga yang kuat.
Keluarga yang kuat membangun masyarakat dan gereja yang kuat.
Masyarakat dan gereja yang kuat membangun kebudayaan yang kuat.
Kebudayaan yang kuat membangun negara yang kuat.

Bagaimana caranya ?

Di dalam Mazmur 127 : 1, menuliskan,

“ Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. “

Hal yang utama dalam membangun rumah / keluarga, adalah melibatkan Tuhan di dalam keluarga kita.
Jika tidak, sia-sialah usaha kita !
Seberapa besar biaya yang kita keluarkan untuk membangun rumah, seberapa banyak keringat yang kita keluarkan untuk membangun keluarga yang bahagia … sia-sialah semuanya itu jika kita tidak mengundang Dia sebagai ‘Master’ in our home !

Apa yang harus kita ‘bangun’ di dalam rumah kita ?

Make our home a :

1. Church
Mengapa hal ini penting ? Jika kita ‘make our home a church’, berarti hadirat Tuhan akan memenuhi rumah kita.
Ketahuilah bahwa anak-anak kita lebih banyak menghabiskan waktu di rumah daripada di gereja, sehingga atmosfer hadirat Allah di dalam rumah kita lebih memperngaruhi mereka dibandingkan program terbaik apa pun yang ada di gereja.

Untuk ‘make our home a church’, kita harus menjadikan relationship dengan Tuhan adalah prioritas utama di dalam keluarga kita.
Bangun Mezbah Keluarga dengan konsisten setiap hari, doa bersama, mempelajari Firman bersama-sama.

2. Restoration Center
Artinya sebagai “pusat pemulihan”.
Mengapa ? Karena setiap anggota keluarga akan menghadapi problem ketika berada di luar rumah. Seperti problem pekerjaan, konflik dengan orang lain, anak-anak mengalami problem di sekolah dengan teman-temennya. Walaupun mengalami banyak problem, ketika tiba di rumah, masing-masing anggota keluarga saling mendukung satu sama lain, peroblem yang ada bisa terselesaikan.
Rumah merupakan tempat untuk menyelesaikan konflik, tempat untuk belajar dari kesalahan yang ada juga bisa merupakan tempat untuk mempraktekkan kasih dan pengampunan setiap anggota keluarga.
Banyak anak-anak muda jatuh dalam narkoba, pergaulan yang buruk, karena hati mereka penuh dengan kepahitan dan sakit hati yang tidak terselesaikan di keluarga. Bagaimana dengan keluarga kita ?

3. Growth Center
Rumah adalah tempat untuk pertumbuhan, baik pertumbuhan secara fisik, mental, intelektual maupun pertumbuhan rohani dengan seimbang.
Menyediakan nutrisi yang baik bagi kesehatan keluarga, di mana justru banyak anak-anak jaman sekarang sudah dicemari dengan jajanan yang merusak kesehatan, makanan ‘junk food’ yang tidak baik bagi pertumbuhan.
Memberikan semangat bagi setiap anggota keluarga untuk mengejar mimpi dan masa depan yang penuh harapan.
“Tidak ada lingkungan yang lebih baik untuk membesarkan anak-anak dibandingkan keluarga yang takut akan Tuhan.”

4. Playground
Rumah adalah tempat untuk relaksasi, menikmati kesenangan bersama-sama, penuh dengan canda dan tawa, bermain dan rekreasi bersama.
Masing-masing anggota keluarga akan mendapatkan penghiburan yang sesungguhnya.
Pusat hiburan yang sesungguhnya adalah di dalam keluarga, bukan di cafe, diskotik .. yang merupakan hiburan semu.

5. School
Rumah adalah tempat untuk belajar. Apa yang dipelajari ?
Belajar mengenai nilai-nilai kehidupan, etika, karakter.
Anak-anak bisa belajar mengenai kehidupan rumah tangga melalui orang tuanya sebagai persiapan di masa mendatang.
Belajar memasak, belajar mengatur rumah tangga, mengekspresikan kreativitas, dsb.

6. Communication Center
Rumah adalah pusat komunikasi yang terbaik dan terpercaya. Tempat sharing dan curhat, di mana setiap anggota keluarga dapat terbuka untuk menyampaikan pikiran dan perasaan tanpa dihakimi.

7. Wedding Party
Kebahagiaan pernikahan biasanya hanya terjadi di pesta pernikahan dan bulan madu saja. Sesudah itu, pasangan akan menghadapi berbagai macam persoalan yang dapat menimbulkan konflik dan membuat keluarga menjadi tidak harmonis lagi.
Jangan biarkan itu terjadi. Pilihan ada di tangan kita !
Kebahagiaan dalam pernikahan tidak terjadi secara otomatis, tetapi perlu dipelihara sepanjang masa.
Marilah kita terus menciptakan dan memelihara suasana kebahagiaan pernikahan di rumah kita. Biarlah rumah kita menjadi tempat untuk saling mengekspresikan kasih dan berbagi keintiman.
Keluarga yang bahagia akan menghasilkan anak-anak yang bahagia pula.

8. Meeting Office
Biarlah rumah kita menjadi tempat untuk merencanakan kegiatan-kegiatan keluarga dan merancang strategi masa depan keluarga.
Banyak pasangan yang tidak mengetahui bahwa kebahagiaan dan masa depan keluarga memerlukan perencanaan.
Keluarga yang sukses tidak dapat terjadi secara kebetulan …. Sama seperti membangun rumah, pernikahan yang sukses adalah produk dari perencanaan yang cermat dan rancangan yang serius, bahan yang benar, nasihat yang baik dan kontraktor yang memenuhi syarat.

9. Museum
Jadikan rumah kita sebagai tempat untuk mengenang dan mengingat hal-hal yang telah Tuhan lakukan dalam keluarga kita. Beritakanlah kebesaran-kebesaran Tuhan kepada anak-anak kita turun-temurun.
Warisan apakah yang ingin kita turunkan kepada keluarga kita ? Warisan yang kekal ! Nilai-nilai Kerajaan Allah !
Buatlah foto-foto kenangan bersama dengan keluarga. Kenangan keluarga tidak akan berakhir selamanya !

10. House of Blessing
Jadikan rumah kita sebagai rumah yang memberkati orang-orang lain yang berkunjung. Mereka akan merasakan kehangatan, kasih dan penerimaan yang tulus. Make people feel at home !
Sediakanlah rumah kita sebagai tempat untuk memuji dan menyembah Tuhan bersama-sama, seperti ‘komsel’, tempat persekutuan orang-orang percaya, doa bersama, dll


  • 0

A-A-D-C

Category : FAMILY , MARRIAGE


ADA APA DENGAN CINTA ? Sepasang kekasih yang saling mencintai, memutuskan untuk segera mengakhiri masa lajang mereka. Mereka sudah tidak sabar untuk segera masuk ke dalam jenjang pernikahan.
Ketika ditanya apa yang melatarbelakangi mereka sehingga berani masuk ke jenjang pernikahan, si pria menjawab dengan tegas, “Akhirnya saya temukan juga belahan jiwa yang selama ini saya cari, bagi saya dia cinta pertama dan terakhir saya, semua kriteria wanita yang saya idam-idamkan ada dalam dirinya”, jawab si pria tadi dengan tatapan mesra ke arah pasangannya. Sedangkan si wanita dengan tidak kalah semangatnya menjawab, ”The Power of Love ! Ya !!! kekuatan cintalah yang mempersatukan kami !”
Dengan modal CINTA mereka berani mengarungi bahtera rumah tangga.

Seiring berjalannya waktu, pernikahan mereka mengalami ujian demi ujian, kehadiran anak-anak bukan lagi mempererat hubungan mereka, tetapi justru menjadi sumber pertengkaran. Kesibukan suami yang padat, dan segala macam problem keluarga membuat jurang pemisah di antara mereka.
Cinta yang selama ini mereka agung- agungkan menjadi mulai dingin, walaupun tidak bercerai dan masih hidup seatap, namun hubungan mereka sudah hambar. Tidak ada lagi kehangatan, kemesraan, keintiman seperti di awal-awal pacaran dan di awal-awal pernikahan dulu. Rumah tangga ini tetap bertahan semata-mata karena kasihan pada anak jika kelak kedua orang tuanya bercerai, dan apa kata dunia jika sepasang suami istri yang diberkati di gereja bercerai?.

Kemanakah gerangan “The Power of Love” yang waktu itu mereka kumandangkan?
Apakah mereka tidak mengerti makna KASIH yang sesungguhnya ???
Banyak orang dengan mudah mengatakan ‘cinta’, mengatakan ‘kasih’, mengatakan ‘sayang’, padahal mereka tidak menyelami apa makna sesungguhnya dari KASIH itu.

Mari kita lihat apakah makna kasih yang sesungguhnya …..

K A S I H yaitu :

K : KEPUTUSAN
Kasih adalah keputusan dan bukan perasaan.
Banyak orang berpikir bahwa kasih adalah suatu perasaan. Jika kasih itu adalah suatu perasaan, maka tidak akan bertahan lama..
Mengapa ? Karena perasaan setiap manusia selalu berubah setiap saat, setiap waktu. Perasaan mudah berubah-ubah tergantung kondisi yang ada.
Mungkin saat kita menikahi pasangan kita, kita memiliki rasa kagum dan rasa simpati, tetapi setelah menikah, semakin terlihat sifat aslinya. Baru terbuka kekurangan dan kelemahan pasangan kita, sehingga kekaguman yang kita miliki pada saat kita mengenal dia akan semakin berkurang. Dan semakin lama, kasih terhadapnya pun akan semakin pudar.

Tetapi akan berbeda jika kasih adalah sebuah KEPUTUSAN, apapun yang terjadi, apapun kondisinya kita tetap teguh berpegang pada apa yang telah kita putuskan.
Dan, apabila kita memutuskan untuk mengasihi pasangan kita, maka kasih itu akan terus berkembang dalam kehidupan pernikahan kita, bahkan semakin hari akan semakin bertambah.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.“
Yohanes 3:16, menunjukkan bahwa Kasih Yesus adalah sebuah keputusan, sekalipun manusia itu telah menganiaya dan menyalibkan-Nya, Tuhan Yesus tetap pegang keputusan-Nya untuk mengasihi manusia.

A : APA ADANYA
“Apa Adanya” berbeda jauh dengan “Ada Apanya”. Kasih yang ‘Apa Adanya’ mengandung arti ketulusan, tidak ada motivasi, atau ‘hidden agenda’.
Sebaliknya orang yang mendasari kasihnya dengan “Ada Apanya”, berarti mengasihi karena ada motivasi lain. Antara lain bisa karena uang, harta, penampilan, dll.
Kita sering dengar istilah Cewe/Cowo Matre, Ada uang abang sayang, tidak ada uang abang melayang.
Apabila “Ada Apanya”, yang mendasari kasih seseorang, maka kehidupan pernikahan akan selalu dipenuhi dengan tuntutan serta konflik karena keinginan manusia tidak pernah ada habisnya dan tidak pernah ada kata puas. Hal ini dapat merusak pernikahan.

Namun, kasih yang “Apa Adanya”, kasih yang mengandung ketulusan akan membawa pernikahan kita mengalami hal yang semakin indah.
“Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.” (Kidung Agung 8:7)

S : SETIA
“Setia” dan “Bukan sementara”. Cinta yang “mengebu-gebu” di awal hubungan, sama sekali tidak menjamin kelanggengan rumah tangga sampai akhir, terkadang hubungan itu berakhir dalam hitungan bulan setelah menikah.
Cinta yang menggebu itu berubah menjadi menjadi kebencian, saling menyakiti satu sama lain dan seringkali berakhir dengan perceraian.
Setiap pernikahan, pasti akan mengalami ‘ujian kesetiaan’, dan kasih yang sesungguhnya, akan tetap setia walaupun dalam kondisi apa pun juga.

Sebagai contoh :
Apakah kita tetap setia kepada pasangan kita ketika kesulitan datang menghadang ? Mungkin dalam hal ekonomi, sakit penyakit, dll.

Kita mungkin pernah mendengar kesaksian dari Dwi … seorang pilot yang tertimpa musibah kecelakaan. Kecelakaan tersebut mengakibatkan seluruh tubuhnya rusak parah karena terpanggang api. Tetapi sang istri tetap setia mendampingi, memberi semangat, bersama-sama melewati masa-masa sukar, sehingga Dwi … saat ini menjadi hamba Tuhan yang dipakai luar biasa, yang memberikan inspirasi bagi banyak orang. Hanya kasih memampukan kita bertahan untuk melewati masa sulit bersama-sama.

Setia juga berarti hanya ada ikatan kasih antara pasangan suami & istri, dan tidak ada tempat untuk orang ketiga.
Dan, di dalam pernikahan Kristen, kita harus mencoret kata “cerai” dalam rumah tangga kita. Kita harus setia kepada pasangan kita, yaitu mengasihi sampai pada akhirnya, sampai ajal menjemput.

“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Matius 19:6 )

I : ILAHI
Kasih bersifat Ilahi bukan duniawi. Kasih yang sejati bukan berasal dari dunia, kasih yang sejati itu berasal dari Allah. “Allah itu kasih…”

Dalam sebuah survey kasus perceraian ditemukan :
Dari 1.152 pasangan yang bercerai, hanya ada 1 pasangan yang masih berdoa bersama setiap hari sebelum bercerai. Artinya 99,9 % pasangan yang bercerai tidak pernah berdoa bersama. Sudah sepatutnya kita membangun relationship dengan “Sang Kasih Sejati’” itu.

Kasih manusia itu ada batasnya, tapi kasih Tuhan itu tak terbatas.
Jika kita memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan, maka kasih Ilahi akan memenuhi hati kita, dan kasih Ilahi itu yang akan memampukan kita mengasihi pasangan kita tanpa syarat, memampukan kita untuk memberikan kehangatan dan meresponi pasangan kita dengan baik.
Oleh karena, jangan abaikan mezbah keluarga !

“Nyanyian ziarah Salomo. Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.” (Mazmur 127 : 1
)

H : HUBUNGAN
Hubungan antara suami dan istri tidaklah terjadi secara otomatis. Kasih itu tercipta karena adanya hubungan yang baik, dan hal itu perlu dibangun.
Berlomba-lombalah menyatakan kasih setiap hari, sehingga hubungan pernikahan kita terasa indah.

Ada banyak cara membangun sebuah hubungan :

– Tanamkan dalam pikiran dan pandangan kita, bahwa pasangan kita sangat berharga, dan yang utama di atas orang tua, di atas anak, di atas sanak saudara, di atas bisnis dan pekerjaan, di atas bos, sahabat, hobi kita, di atas segalanya setelah Tuhan.
– Katakan sesering mungkin “I Love You”.
– Ungkapkan cinta melalui pelukan dan kejutan-kejutan atau hal terbaik apa pun yang dapat memenuhi kebutuhan pasangan kita.
– Tunjukan kasih sayang kita di depan umum, seperti menggandeng dan memeluk pasangan.
– Luangkan waktu untuk berkencan bersama pasangan kita seperti pada pacaran. Mungkin kita sudah jarang melakukan hal ini, dikarenakan kesibukan sehari-hari.
– Selalu menyediakan diri jika pasangan membutuhkan kita.

Mari milikilah kasih yang sejati dalam kehidupan pernikahan kita….

“Kasih yang sejati akan menjadi pondasi yang kuat bagi sebuah pernikahan untuk mencapai sebuah pernikahan yang sejati.”


  • 0

Anggur Manis Pernikahan

Category : FAMILY , MARRIAGE


Yohanes 2 : 1-11Perkawinan adalah lembaga yang begitu menarik buat Tuhan, sehingga Dia membuat Mujizat Pertama Kalinya dalam sebuah Pesta Perkawinan (ayat 11).

Dalam sebuah Pesta Perkawinan SELALU ada Anggur.
‘Anggur’ adalah lambang SUKACITA dalam Penikahan dan keluarga.
Kerinduan Tuhan “Anggur Pernikahan” selalu ada setiap waktu dalam keluarga kita…

Ada 3 Pengertian tentang “Anggur Pernikahan” :
1. Sukacita dan Kebahagiaan Pernikahan
.
Pernikahan yang penuh dengan sukacita dan kebahagiaan, bukan dukacita dan air mata.
2. Kehangatan Hubungan dalam Pernikahan.
Hubungan antar suami – istri yang harmonis dan terus bertumbuh, komunikasi yang sehat, saling mengerti dan mengampuni.
3. Kesehatan Rumah Tangga.
Pernikahan yang sehat adalah dimana tidak adanya campur tangan pihak ke-tiga. Bahkan mampu menangkis setiap serangan dari kuasa si Jahat yang selalu ingin menghancurkan pernikahan.

Bagaimana membuat sebuah Keluarga TIDAK kekurangan Anggur Pernikahan ?

1. Sebuah Keluarga yang MENGUNDANG Yesus
“Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu.” (Ayat 2)
Undang Yesus dalam kehidupan Pribadi kita maka dengan demikian kita juga menghadirkan Yesus dalam keluarga/pernikahan kita Yesus adalah Tuhan atas keluarga kita. Selama kita jadikan Dia Tuhan, maka Anggur Pernikahan itu senantiasa mengalir dalam keluarga kita.

2. Sebuah Keluarga yang MELIBATKAN Yesus bekerja didalamnya
“Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.” (Ayat 3)
Libatkan Tuhan Yesus dalam seluruh aspek kehidupan kita termasuk dalam keluarga kita.
Melibatkan Yesus memiliki arti sebagai berikut :
a. HUBUNGAN dengan Tuhan secara rutin rmelalui Mezbah keluarga
b. KETERLIBATAN Tuhan dalam Masalah yang dihadapi oleh keluarga.

3. Sebuah Keluarga yang MENGERTI dan MENTAATI Hukum Tuhan dalam Pernikahan
Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (ayat5 )
Tuhan sudah memberikan HukumNya kepada kita, untuk kita lakukan dangan taat. Jika kita melakukannya, yang datang adalah berkat. Jika Hukum Pernikahan dari Tuhan kita lakukan maka Berkat Anggur Penikahan itu akan senantiasa diberikan dalam keluarga kita.
Oleh sebab itu kita harus belajar apa saja Hukum Tuhan bagi Pernikahan yang harus kita mengerti dan lakukan.

Beberapa Hukum Tuhan dalam sebuah Pernikahan :
4. 1. Efesus 5 :22 – 33 : Hubungan Suami – Istri
Suami Harus MENGASIHI ISTRI.
Istri Harus TUNDUK PADA SUAMI
4. 2. Mat 19 :6 : Kesatuan Pernikahan
Pernikahan TIDAK boleh DICERAIKAN.
4. 3. Ef 5: 31 : Kemandirian Pernikahan
Pernikahan HARUS MANDIRI
4. 4. Ulangan 6:6 : Mendidik anak-anak
Pendidikan Anak adalah Tugas & Tanggungjawab ORANG TUA

Marilah kita lakukan 3 Prinsip ini agar Keluarga kita, Pernikahan kita mendapat “Anggur yang Baru”….

 


  • 0

Waktu bagi Keluarga, Sebuah Investasi bagi Keluarga

Tags :

Category : FAMILY


“Time is Money” demikianlah kata dunia tentang waktu. Dan sering kali kita juga mendengar banyak orang “kekurangan waktu” untuk banyaknya kegiatan mereka.
Bahkan tidak jarang kita mendengar ada yang mengatakan “wah… saya sudah tidak punya waktu lagi untuk keluarga…”, “saya tidak sempet lagi bermain2 lagi dengan anak-anak….”, “ istri dan anak2 compalin nih…saya jarang bersama-sama keluarga…”, dll. Intinya adalah ada yang kekurangan waktu untuk keluarga atau bahkan tidak memiliki waktu yang cukup untuk keluarga lagi.
Jika memang ini, problem yang kita hadapi, kita perlu memperbaiki keadaaan ini supaya tidak mengganggu kebahagiaan dalam keluarga kita.Kenapa kita harus memiliki waktu untuk keluarga?
Belajarlah dari Tuhan Yesus, Dia datang dengan misi menyelamatkan seluruh umat manusia, tetapi Dia masih mau memberikan waktu untuk keluarganya yang ada di bumi.
Luk 2:51 : Yesus menyediakan waktu untuk keluarga di bumi.

Ada 5 Alasan kenapa waktu untuk Keluarga itu PENTING…

1. Waktu untuk keluarga itu TERBATAS.
Pengkotbah 3 : 1 : “Untuk segala sesuatu ada masanya (waktunya) ….”
Waktu berbicara kesempatan yang terbatas (moment waktu selalu ada batas akhirnya). Pakailah waktu yang ada sebaik-baiknya untuk bersama keluarga selama Tuhan masih berikan kesempatan.

2. Waktu untuk keluarga itu berharga Mahal
Prioritas waktu dalam hidup kita harus benar. Prioritas yang benar adalah demikian :
Nomor 1 : Tuhan
Nomor 2 : Keluarga
Nomor 3 : Pekerjaan / Karier / Bisnis
Nomor 4 : Pelayanan
Keluarga ada dalam prioritas nomor 2 setelah Tuhan!!! Jadi waktu untuk keluarga itu penting dimata Tuhan.

3. Waktu untuk keluarga adalah Investasi bagi pertumbuhan keluarga
Sebuah ilustrasi : Sebuah benih menjadi pohon yang besar memerlukan waktu. Tidak mungkin langsung/instant menjadi pohon yang besar, harus ada proses waktu yang dilewati.
Demikian pula dengan keluarga kita, jiak ingin bertumbuh semakin berkualitas, harus ada WAKTU yang Di-INVESTASIKAN. Semakin banyak waktu untunk keluarga berarti semakin banyak peluang keluarga untuk bertumbuh.

4. Waktu untuk keluarga akan membuat kenangan (sejarah)
Kenangan terbentuk karena proses waktu !! Biarlah kita membuat kenangan indah dalam keluarga kita melalui waktu bersama keluarga. Kenangan tidak akan hilang selamanya, bahkan sampai kita tidak di bumi ini sekalipun kenangan akan menjadi sebuah sejarah.

5. Waktu untuk keluarga adalah sarana untuk membangun hubungan semakin erat.
Salah satu hal terpenting dalam membangun keluarga adalah HUBUNGAN, Hubungan hanya bisa terbangun oleh waktu kebersamaan.
“Tidak ada Waktu = Tidak ada Hubungan”

3 Prinsip Utama Manajemen Waktu untuk Keluarga :
1. Perencanaan Waktu
Buatlah perencanaan proyek istimewa untuk waktu keluarga.
– Rencanakan Acara : Liburan keluarga, makan bersama, proyek yang dilakukan bersama-sama di dalam rumah, dll
– Buatlah schedule waktunya & catat dalam agenda pribadi
– Persiapkan apa yang diperlukan untuk merealisasikan (Contoh : dana, kendaraan, perlengkapan, dll)

2. Berani berkata TIDAK untuk apa yang buka prioritas
Buatlah prioritas dan beranilah berkata “TIDAK” jika itu bukan hal yang menjadi prioritas.
Belajarlah menetapkan prioritas : Keluarga adalah Prioritas Nomor 2

3. Temukan PELUANG untuk waktu bersama keluarga
Terkadang kita tidak memiliki waktu keluarga karena kita tidak melihat peluang yang ada. Sebenarnya banyak peluang yang tercipta dari kegiatan rutin kita, untuk kita bisa bersama-sama dengan keluarga.

Inilah waktunya kita memperbaiki management waktu untuk keluarga kita..

Bangunlah keluarga yang berkualitas dengan waktu untuk keluarga yang seimbang.