Berduka karena Kehilangan

  • 0

Berduka karena Kehilangan

Tags :

Category : ARTICLES , COUNSELING

berduka

Saya memiliki teman baik di kantor yang baru saja kehilangan kakaknya yang meninggal karena kecelakaan mobil. Karena mereka hanya dua bersaudara, hubungan mereka sangat akrab sekali. Sehingga teman saya ini sangat kehilangan dan sangat berduka. Kejadiannya 3 bulan yang lalu, tetapi teman saya ini masih berduka dan sikapnya sekarang berubah. Ia masih suka menangis kalau ingat kakaknya. Ia sering bercerita mengenai masa-masa indah bersama kakaknya. Ia menjadi lebih kurus karena nafsu makannya berkurang dan kelihatan sekali dia kehilangan semangat bekerja. Sebagai teman, saya sangat kasihan dan khawatir dengan dia. Saya ingin menghibur dan menolongnya. Tapi saya bingung, apa yang harus saya lakukan? (Rachel, 27 tahun)

Rachel, terima kasih untuk pertanyaan Anda. Terima kasih juga untuk kejujuran Anda atas perasaan Anda.

Saya bisa memahami perasaan Anda yang khawatir dengan sikap teman Anda yang berubah sejak tiga bulan terakhir ini. Saya menangkap perubahan sikap yang dialami teman Anda adalah karena ia sedang alami dukacita akibat kematian kakaknya.

Well, di dalam kehidupan ini, adakalanya kita tidak bisa menghindari kejadian yang mengakibatkan kita harus mengalami rasa kehilangan. Berdukacita adalah bersedih karena kehilangan. Mungkin kehilangan anggota keluarga atau teman. Bisa juga kehilangan bagian tubuh atau fungsi tubuh, juga bisa kehilangan rumah atau pekerjaan. Besar atau kecil, kehilangan itu memengaruhi kita dan membuat kita berdukacita (Neh. 1:3-4). Saat kehilangan seseorang, meski kita sadar bahwa ia telah bersama Allah Bapa di surga (1 Tes. 4:13), tetapi kehilangan dan sadar kalau kita tidak bersamanya lagi saat menjalani hidup inilah yang membuat kita sedih dan berduka.

Kita perlu tahu, proses berduka membutuhkan waktu dan energi. Untuk menolong orang yang sedang berduka, kita perlu paham lebih dulu bahwa ada tahapan proses dukacita yang perlu dilewati orang-orang yang mengalami kehilangan agar bisa sembuh dan pulih dari dukacitanya.

#1. Tahap pertama: Penolakan dan kemarahan. Saat seseorang mengalami kehilangan, dia tidak merasa apa pun dan tidak sadar apa yang terjadi di sekitarnya. Dia tidak percaya orang itu sudah meninggal atau tidak percaya peristiwa tersebut benar-benar terjadi. Dia mulai menangis atau marah. Ia bisa marah pada Tuhan karena mengijinkan itu terjadi. Bisa marah pada yang meninggal karena meninggalkannya. Ia bisa punya banyak pertanyaan seperti “Kalau saya berbuat ini, dia mungkin tak meninggal,” atau “jika saja saya…. “ atau “Mengapa ini terjadi pada saya?” Ia mungkin mencari orang lain untuk disalahkan, dan mungkin mau balas dendam. Intinya, dia menolak dan tidak percaya kalau orang itu sudah benar-benar meninggal. Tahap ini bisa terjadi selama sebulan atau lebih. Bisa dimulai saat acara penguburan.

#2. Tahap kedua: Tanpa Harapan. Di tahapan ini  ada rasa sedih dan kehilangan harapan. Ia akan merasa susah dengan hidupnya sekarang. Ia masih sering berharap yang sudah meninggal bisa kembali lagi. Ia merasa sendiri, kesepian dan diabaikan. Di tahap ini seseorang bisa alami stres, depresi, keinginan ingin menyusul yang sudah meninggal, tidak semangat, trauma, atau mengalami sakit.  Seseorang bisa tinggal di tahapan ini selama 6-15 bulan.

#3. Tahap ketiga: Permulaan Baru. Sudah bisa menerima kehilangan dan harapan berangsur-angsur muncul kembali. Pada tahap ini, ia mulai berpikir untuk memulai hidup baru. Ia siap untuk menyesuaikan diri dengan kehidupan yang berbeda. Ia sudah bisa menghabiskan waktu bersama teman-teman dan bergembira kembali.  Di sinilah seseorang yang berdukacita mulai bangkit.

Nah, apabila seseorang telah melewati tahapan berdukacita dengan baik, ia akan menjadi pribadi yang lebih kuat dari sebelumnya dan bisa membantu orang lain. Namun, proses melewati ketiga tahapan tersebut tidak selamanya berjalan lancar. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan:

  • Kurang baik jika tinggal di tahap pertama atau kedua terlalu lama. Contohnya, wanita yang berpikir dia masih bisa melihat atau mendengar suaminya setelah sang suami meninggal. Kemudian ia tidak mau keluar rumah sampai dua tahun. Jika terlalu lama, butuh pertolongan untuk dilayani konseling secara khusus.
  • Di sisi lain, repot jika seseorang tidak mengijinkan dirinya untuk mengalami proses berdukacita. Contoh, ia cenderung memendam dan menekan perasaan sedih, menahan dirinya kuat-kuat untuk tidak menangis, langsung menyibukkan diri dengan banyak kegiatan demi menyembunyikan rasa sedih. Atau, dia bersikap tak acuh dan kaku. Sesungguhnya rasa duka tidak pernah pergi dan bisa menimbulkan masalah psikologis di kemudian hari. Seperti mengalami gelisah, konflik batin dan depresi terus-menerus.

Di sinilah pentingnya peran kita menolong seseorang yang sedang mengalami dukacita agar mereka bisa melewati tahapan demi tahapan dengan baik. Di tahapan yang tersulit, ijinkan orang yang berduka untuk menangis, mengeluarkan perasaan sedih dan kemarahannya. Menangis bukan berarti kurang iman, juga bukan berarti tanda keputusasaan. Menangis merupakan bagian  yang wajar dari proses dukacita. Ketahuilah, air mata adalah jalan yang Tuhan sediakan untuk membuang kesedihan dari tubuh kita. Menangis adalah bagian penting dalam proses dukacita baik untuk wanita maupun laki-laki. Yesus menangis ketika sahabatnya Lazarus meninggal (Yoh. 11:33-38a). Pemazmur menangis (Maz. 42:4), begitu juga para nabi (Yes. 22:4, Yer. 9:1). Pengk. 3:4 berkata ada waktu untuk menangis. Tuhan melihat air mata kita (Yes. 38:3-5).

Kehadiran kita yang tanpa komentar, pengertian kita saat dia menangis dan meratap, serta kesediaan kita untuk mendengar ia mengungkapkan kesedihan akan sangat menolongnya melewati proses berduka. Bahkan Roma 12:15 berkata, “Menangislah dengan orang yang menangis.”

Berikut hal-hal yang bisa kita lakukan untuk menolong orang yang sedang berdukacita:

  • Berkunjung dan berdoa untuk mereka (Ef. 6:18).
  • Kalau mereka siap, doronglah untuk membicarakan perasaannya. Biarkan mereka mengeluarkan isi hati, pikiran kemarahan, atau kesedihan.
  • Dengarkan ungkapan penderitaan mereka. Usahakan lebih banyak mendengar daripada berbicara ataupun memberi nasehat. Pemulihan terjadi bila mereka mengeluarkan kesedihan atau rasa sakit di hatinya.
  • Bantu mereka dengan hal yang praktis dan sederhana. Misalnya membantu di saat acara penguburan, acara-acara berikutnya. Masih banyak cara membantu orang yang berduka.
  • Bantulah mereka untuk mengerti bahwa berdukacita adalah wajar, dan merupakan proses yang membutuhkan waktu. Tidak akan selamanya perasaan mereka seperti hari ini.
  • Banyak orang yang sulit tidur di minggu-minggu pertama bahkan beberapa bulan setelah kejadian. Ajaklah mereka melakukan aktivitas bersama.
  • Last but not least, ketika orang itu sudah tenang hatinya, bantulah ia untuk menyerahkan semua beban pada Tuhan. Semua kehilangan itu perlu diungkapkan kepada-Nya satu demi satu (Mazmur 62:9) karena Tuhanlah penyembuh yang sejati.

Leave a Reply