Menghindari Perselingkuhan

  • 0

Menghindari Perselingkuhan

043922200_1420597719-selingkuh2

Saya baru menjalani pernikahan selama satu tahun. Saya khawatir karena saya dibesarkan dalam keluarga di mana papa saya pernah berselingkuh dan bercerai. Saya sedih dan kecewa dengan papa, saya kasihan dengan mama. Saya bertekad tidak ingin mengalami kegagalan pernikahan seperti orangtua saya. Saya ingin membangun pernikahan yang bahagia. Adakah tips-tips agar pernikahan kami bisa aman dari perselingkuhan? (Handi, 33 tahun)

Bpk Handi,

Terima kasih untuk pertanyaan Anda. Terima kasih juga untuk kejujuran Anda atas perasaan Anda terhadap diri sendiri.

Saya bisa memahami perasaan Anda ketika Anda mengalami gejolak di dalam kehidupan keluarga bersama dengan papa dan mama. Nampaknya, pengalaman pernikahan orangtua Anda menjadi motivasi yang kuat bagi Anda untuk belajar bagaimana membangun pernikahan Anda. Saya sangat menghargai tekad Anda tersebut.

Well, pernikahan adalah lembaga yang membutuhkan benteng yang kuat karena pernikahan memiliki ancaman-ancaman serius yang membahayakan kelangsungan dan keutuhannya. Ancaman dalam pernikahan bisa berasal dari dalam, yaitu konflik-konflik internal rumah tangga yang tidak terselesaikan dengan baik, serta ancaman dari luar, yaitu ketertarikan kepada orang lain.

Data menunjukkan bahwa perselingkuhan telah menjadi penghancur bagi banyak keluarga. Mengapa bisa terjadi perselingkuhan? Kita perlu menyadari bahwa sebagai manusia, pasangan suami-istri masing-masing merupakan makhluk emosional, artinya sangat mungkin terhanyut, mudah terpengaruhi ketika ada kebutuhan-kebutuhan tertentu dalam dirinya yang dipenuhi oleh orang lain. Kita merupakan makhluk seksual, yang berarti dapat memiliki ketertarikan yang sifatnya romantis dan seksual kepada lawan jenis. Ingatlah, ketertarikan merupakan hal normal serta potensial terjadi pada siapa saja.

Ketertarikan tidak hanya terjadi pada orang yang belum menikah. Banyak individu yang sudah menikah, secara sadar atau tidak sadar mengagumi bahkan jatuh cinta pada orang lain yang bukan pasangannya. Tidak jarang, kekaguman ini menyeret masuk ke dalam jerat perselingkuhan.

Perlu diketahui bahwa ketertarikan kepada orang lain tidak hanya terjadi pada pasangan dengan pernikahan buruk. Pernikahan buruk memang rawan terhadap perselingkuhan atau keinginan untuk berselingkuh, namun pernikahan yang sehat pun tidak bebas dari perasaan tertarik kepada orang lain.

Bagaimana bisa terjadi? Pada prinsipnya ketertarikan muncul karena profil pasangan yang dianggap ideal ditemukan pada seseorang. Jika berjumpa dengan orang lain yang memiliki sifat-sifat yang disukainya, apalagi sifat yang diinginkannya itu tidak ditemui pada pasangannya, maka secara otomatis pertemuan itu dapat menghadirkan perasaan suka. Perasaan suka ini cenderung menguat bila orang tersebut bisa memenuhi kebutuhannya.

Nah, godaan bisa datang kapan saja, di mana saja, dari siapa saja, dan bisa menyergap secara mendadak atau secara perlahan. Jadi, sangat diperlukan adalah kewaspadaan!

Ada beberapa hal yang perlu diwaspadai :

  • Berhati-hatilah terhadap ajakan bepergian berduaan dengan lawan jenis, meskipun dia adalah teman baik. Ingatlah bahwa hampir semua perselingkuhan diawali dengan pertemanan, bukan permusuhan.
  • Berhati-hatilah terhadap sikap lawan jenis yang terlalu baik dan penuh perhatian.

Kita perlu berjaga-jaga kepada lawan jenis yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang terlalu pribadi. Sebaliknya, jika memiliki masalah pribadi atau ada hal lain yang ingin dibagikan kepada orang lain, pilihlah teman sesama jenis, jangan memilih teman yang berbeda jenis yang berpotensi untuk memunculkan ketertarikan.

# Berhati-hatilah dengan kegiatan iseng atau tadinya biasa-biasa saja yang akhirnya membuat suami/istri tega mengkhianati pasangan dengan melakukan perselingkuhan. Seperti chatting! Ngobrol di dunia maya memang mengasyikkan dan membuat orang lupa waktu. Masing-masing bisa mengungkapkan perasaan secara blak-blakan. Dari chatting biasanya lantas berlanjut dengan kopi darat atau janjian ketemu. Jika keduanya merasa tertarik, pertemuan kedua dan selanjutnya lalu direncanakan, sehingga hubungan makin intensif.

# Berhati-hatilah terhadap ajakan untuk mengerjakan tugas berdua. Jika harus menyelesaikan tugas, misalnya pekerjaan kantor, usahakan untuk mengerjakannya bersama-sama, bukan berdua saja. Hindari dinas keluar kota berduaan dengan lawan jenis.

# Berhati-hatilah terhadap orang dengan kebutuhan emosional yang tinggi. Antara lain jagalah hati dan sikap terhadap teman yang sedang menghadapi masalah dalam pernikahannya, atau sedang dalam kondisi kedukaan. Perselingkuhan seringkali dimulai dari seringnya curhat. Meskipun pada awalnya motivasi dan tujuannya baik, namun pertemuan yang berulang-ulang bisa mengancam pertahanan diri, karena percakapan yang terjadi dapat berpotensi menghadirkan rasa simpati kepada teman yang sedang mengalami masalah tersebut.  Sebaliknya, teman itu pun merasa diterima, dimengerti, dan pada akhirnya muncul ketertarikan dan mengarah kepada percintaan.

# Berhati-hatilah dengan ajang reuni. Kita memang patut berterima kasih kepada dunia teknologi yang membuat kita terhubung kembali dengan sahabat lama kita. Entah teman SD, SMP bahkan mungkin mantan pacar di masa lalu. Dan berlanjut dengan maraknya reuni plus kumpul-kumpul dengan teman lama. Sayangnya, munculnya reuni juga diikuti dengan munculnya “CLBK”, yaitu “cinta lama bersemi kembali”. Bahkan, mulai teringat kembali perasaan berbunga–bunga ketika bersama sang mantan yang tadinya telah terlupakan. Akhirnya, terbukalah celah untuk merajut kembali hubungan lama yang terputus.

Waspada saja tidak cukup !!

Kita perlu secara pro-aktif membangun benteng yang kuat dalam pernikahan kita. Bagaimana caranya?

#1. Batasi hubungan dengan lawan jenis kalau memang sudah punya pasangan hidup.

Bukankah tetap ada batasan tertentu yang mesti diperhatikan ketika seseorang sudah menjadi suami/istri? Meski terbilang akrab, tetap bedakan hubungan pertemanan dengan pasangan hidup yang memang terikat secara emosional dan dalam tingkat yang paling mendalam. Jika ada seseorang yang memperhatikan gelagat naksir, jangan malah merasa bangga. Segera komunikasikan dengannya dan tegas-tegas katakan status kita yang sudah menjadi istri/suami.

#2. Jika sudah mulai tertarik kepada orang lain, sadarlah !

Ciri-ciri bahwa kita telah tertarik secara emosional kepada seseorang antara lain : ia membuat kita selalu merasa senang bersamanya, ia enak diajak bicara, bisa memahami diri kita, dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita, atau ternyata kita telah tertarik secara seksual kepadanya. Kesadaran bahwa kita telah tertarik kepada pihak lain harus diikuti oleh kesadaran berikutnya, yaitu : jika perasaan suka bisa datang, berarti perasaan tersebut juga bisa pergi. Prinsip yang perlu diingat adalah : jangan menyediakan pot untuk bibit cinta! Bibit cinta yang jatuh ke tanah namun tidak diberi pot, lama-kelamaan akan mati dengan sendirinya.

#3. Menjaga keintiman pernikahan.

Masing-masing pasangan perlu memberikan sumbangsih dalam menjaga manisnya rumah tangga agar tidak menjadi hambar dan memelihara kesegarannya agar tidak menjadi kering. Suami maupun istri perlu belajar untuk cepat memperbaiki kerusakan yang ada, menyelesaikan masalah yang muncul dengan segera, bersikap jujur dan terbuka dalam mengungkapkan keinginan atau harapan pribadinya terhadap pasangan, melakukan hal-hal yang menyenangkan bersama-sama.

#4. Menjaga keseimbangan hidup.

Keseimbangan berarti cukup beristirahat, kerja, olahraga, rekreasi, bergaul, dan berteman. Keseimbangan membuat jiwa relatif lebih sehat serta stabil. Kestabilan memberikan kekuatan untuk mengendalikan perasaan dan perilaku, sementara ketidakstabilan membuat seseorang mudah sekali hanyut dalam perasaan termasuk perasaan menyukai orang lain.

Sebagai contoh, suami istri yang bijak, selain bekerja keras dalam pekerjaan seharusnya juga bekerja keras memikirkan waktu untuk beristirahat di tengah atau akhir ritme pekerjaan sehari-hari.

#5. Takut akan Tuhan.

Kesadaran bahwa Tuhan mengawasi dan mengetahui semua yang kita lakukan seharusnya menjadi rem bagi setiap kita saat kita tergoda untuk melakukan hal yang berdosa.

Tuhan adalah benteng yang paling utama dalam pernikahan Kristen. Karena itu, sikap hati yang takut kepada Tuhan perlu senantiasa dipelihara serta dikembangkan dalam kehidupan keluarga Kristen.

Well, saat mengalami masalah pernikahan, jangan dibiarkan berlarut-larut. Jika membutuhkan bantuan Konselor atau Terapis Pernikahan, segeralah menghubungi Victory Counseling Ministry – 0812 80164000 (kunjungi website kami: www.victorycounseling.org. Tuhan Yesus memberkati !

(Sumber : Membangun Benteng Pernikahan)

Leave a Reply