Apakah Saya Sudah Mengampuni?

  • 0

Apakah Saya Sudah Mengampuni?

forgive

Enam tahun yang lalu, saya pernah difitnah oleh rekan kerja sekantor. Padahal saya sering menolong kalau dia mengalami kesulitan. Akibatnya, saya dipecat dan kehilangan pekerjaan. Saat itu saya sangat kecewa, marah dan tidak percaya dia mengkhianati saya. Rasanya saya tidak akan melupakan perbuatannya yang jahat itu. Saya menganggur beberapa bulan, dan mengalami masa-masa sulit. Puji Tuhan, kemudian saya mendapat pekerjaan dengan bantuan saudara saya. Kondisi saya saat ini baik dan saya sekarang lebih berhasil daripada rekan saya itu.

Saya juga sudah mengampuni dan tidak dendam lagi dengan dia. Saya berusaha melupakan kejadian tersebut. Bulan lalu di pernikahan kerabat, saya bertemu rekan saya itu, jujur saya menghindar tidak mau menegur dia. 

Apakah saya sudah mengampuni atau saya masih menyimpan kepahitan ya? Saya jadi ragu-ragu dengan hati saya…..bagaimana caranya supaya saya bisa mengampuni total?  (Devi, 33 tahun)

JAWAB :

Devi,

Terima kasih untuk pertanyaan Anda. Terima kasih juga untuk kejujuran Anda atas perasaan Anda terhadap diri sendiri.

Saya bisa memahami perasaan Anda yang terluka ketika difitnah oleh rekan Anda. Saya juga sangat menghargai kerinduan Anda untuk mengampuni rekan Anda sepenuhnya.

Umumnya setiap individu pernah terluka karena peristiwa negatif yang dialami. Peristiwa itu bisa karena dihina atau difitnah, pengkhianatan atau kecewa atas perbuatan seseorang.

Ada kalanya seseorang bisa mengampuni, tapi jika tidak diatasi dengan benar, hal ini dapat menimbulkan akar pahit. Tak jarang ada yang menyimpan kepahitan bertahun-tahun lamanya. Meskipun ingin mengampuni, tapi tak berdaya.

Banyak orang salah dalam mendefinisikan pengampunan, menyatakan bahwa “Mengampuni adalah melupakan kesalahan orang lain.”  Ada juga seseorang berusaha melupakan dengan cara menyimpannya dan mendiamkannya.

Tak jarang pula kita merasa sudah memaafkan, tapi ternyata belum. Sisa kemarahan masih terasa dan sebagian luka hati kita tidak bisa langsung sembuh, apalagi jika luka itu terlalu dalam.  Akibat kepahitan itu awalnya tak berasa, tetapi lama-kelamaan dapat mempengaruhi kehidupan kita. Kepahitan merupakan kekuatan yang dapat merusak relasi kita dengan siapa pun tetapi terutama menghancurkan diri kita sendiri, karena dapat membuat fisik kita sakit, menghambat pertumbuhan rohani, merusak kesehatan emosi sehingga kita tidak dapat menikmati hidup.

Nah, bagaimana mengetahui apakah  kita sudah mengampuni sepenuhnya dan luka kita sudah pulih?

Ada beberapa ciri yang menunjukkan bahwa luka kita belum sungguh-sungguh pulih, antara lain :

  • Kita cenderung menghindar, atau tidak ingin bertemu dengan orang tersebut.
  • Kita membatasi komunikasi saat berjumpa dengan orang tersebut, atau berkomunikasi dengan terpaksa.
  • Hati tidak merasa nyaman, dan kehilangan semangat saat bertemu.
  • Enggan menceritakan kelebihan orang tersebut, meski kita tahu keistimewaannya.
  • Ada dorongan kuat untuk menceritakan kekurangan (menjelekkan) orang tersebut jika ada peluang.
  • Senang jika mendengar kabar buruk tentang orang tersebut.
  • Iri dan kecewa jika mengetahui orang tersebut ternyata lebih sukses atau berprestasi dari kita.
  • Ada dorongan yang kuat untuk berkompetisi dan menunjukkan bahwa diri kita lebih hebat dari orang tersebut.

Well, dalam hidup ini kita seringkali terluka justru oleh orang yang kita kenal baik, mereka yang dekat dengan kita. Kita hampir selalu mengalami kesalahpahaman dan konflik atau perbuatan negatif dari orang-orang di sekitar kita. Oleh sebab itu, salah satu cobaan yang paling sering kita hadapi dalam hidup adalah : mengampuni atau tidak!  Setiap hari kita harus melakukan pilihan itu karena kalau tidak, hati kita akan penuh kemarahan dan kepahitan.

Jadi, kita perlu belajar untuk mengelola luka dan mengampuni haruslah menjadi sebuah gaya hidup serta kebiasaan kita setiap hari.

Nah, untuk dapat mengampuni secara total, maka kita perlu mengerti apa yang mendasari dalam proses pengampunan, yaitu :

#1. Kita perlu mengubah cara pandang kita mengenai manusia. Paulus menjelaskan bahwa, “Semua orang sudah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23). Jadi, semua orang di sekitar kita, termasuk orang terdekat, akan selalu ada kemungkinan dia berbuat salah  dan melukai kita. Dengan kata lain, semua orang butuh  pengampunan.

#2. Kita perlu memahami bahwa orang yang membuat kita terluka sesungguhnya justru menyadarkan bahwa kita adalah orang yang masih bisa merasakan marah, kecewa dan sakit hati. Oleh sebab itu, kita membutuhkan anugerah Tuhan yang memampukan kita untuk bisa mengampuni.

#3. Mengampuni adalah pintu perdamaian dan kebahagiaan. Jika ingin menjadi pribadi yang bahagia dan penuh damai, milikilah roh yang mengampuni. Hati yang tidak mengampuni seperti penjara yang membelenggu jiwa seseorang. Dan penjara itu kejam sekali karena dapat merampas kedamaian hidup. Namun agar punya jiwa memaafkan, kita perlu memiliki kesediaan untuk merendahkan diri atau mengosongkan diri.

#4. Sebelum bisa mengampuni orang lain, kita sendiri harus mengalami dan menerima pengampunan Tuhan. Tanpa kesadaran ini, sulit bagi kita untuk memberi pengampunan kepada orang lain.  Kemudian kita juga perlu lebih dulu memaafkan diri sendiri. Artinya, menerima dan berdamai dengan diri kita sendiri. Kita perlu mengatasi semua rasa bersalah dan ketidakpuasan dalam diri kita. Jika tidak, hal ini akan menghambat kemampuan kita mengampuni orang lain.

#5. Pengampunan bukan berarti menyangkal atau berpura-pura tidak pernah terjadi sesuatu. Mengampuni juga bukan sekadar melupakan kesalahan yang dilakukan seseorang terhadap kita. Mengampuni berarti memaafkan orang untuk kesalahan yang telah diperbuatnya. Mengampuni sering kali merupakan suatu proses dan bukan suatu tindakan “sekali jadi”. Untuk itu, kita perlu terus-menerus memberikan dan menyatakan pengampunan terhadap orang yang melukai kita. Kita terus mengampuni sampai rasa sakit itu hilang.

#6. Mungkin peristiwa dan orang yang melukai hidup kita bisa saja terus kita ingat. Tetapi, karena kita sudah mengampuni maka kenangan itu tidak membuat kita merasa sakit lagi. Kenangan itu justru memberi kita banyak pelajaran dan membuat kita lebih bijak dalam hidup. Luka malah bisa menjadi investasi, membangun empati dalam diri kita ketika membimbing orang yang terluka sama seperti kita. Pengampunan membuat kita mampu melihat diri kita sendiri, orang lain, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidup kita sebagaimana adanya.

#7. Pengampunan adalah membuat keputusan secara sadar untuk berhenti membenci karena kebencian itu sama sekali tidak ada gunanya. Ketetapan hati yang menyatakan tidak ada gunanya untuk membalas dendam. Pengampunan adalah melepaskan semua emosi negatif yang berkaitan dengan peristiwa yang menyakitkan. Pengampunan merupakan tanda dan landasan adanya harga diri yang positif dan selanjutnya membuat kita semakin kuat karena energi yang ada di dalam diri kita tidak digunakan untuk membalas dendam, tetapi untuk mengerjakan hal-hal yang lebih baik dan mencari jalan keluar yang lebih positif.

Seringkali kita sulit mengampuni karena orang yang melukai kita adalah orang yang pernah kita tolong dan berbuat baik. Nah, kalau kita cenderung menghitung jasa maka sakit hati kita terpelihara. Solusinya, daripada menghitung jasa kita, marilah kita ingat bahwa kita pun punya kekurangan.  Kalau kita mau mengampuni, lakukanlah dua hal : hitung kekurangan kita dan hitung kelebihan orang yang sedang melukai kita. Jangan melakukan hal yang sebaliknya.

Ingatlah bahwa : melakukan kesalahan adalah manusiawi dan mengampuni adalah Ilahi !

(Salah satu sumber : Mencinta Hingga Terluka)


Leave a Reply