Mother & Daughter

  • 0

Mother & Daughter

Category : PARENTING , WOMEN

Mother & Daughter

Hubungan antara ibu dengan anak perempuannya adalah hubungan yang istimewa, karena ibu dapat mengkomunikasikan kasih sayangnya kepada sang anak mulai dari dalam kandungan melalui sikap, perkataan dan sentuhannya. Kebutuhan pokok anak perempuan yang berkaitan erat dengan peran ibu adalah kebutuhan untuk dikasihi tanpa syarat yang menjadi landasan terbentuknya penghargaan diri yang kuat dan menjadi modal anak perempuan untuk mengemban peran kewanitaannya kelak saat membentuk keluarga.

Ibarat Sahabat

Ibu dapat memiliki hubungan yang erat ibarat sahabat dengan anak perempuannya. Sebagai sahabat maka ada waktu khusus berdua. Hubungan jenis ini baik sebab keduanya (ibu dan anak perempuannya) saling memperlakukan diri sebagai teman bermain, sehingga keduanya sama-sama memiliki rasa kepercayaan diri setiap melakukan banyak hal berdua. Jika hubungan ini baik, anak perempuan ‘curhat ‘ kepada ibunya tentang masalah percintaannya dengan nyaman pada saat remaja kelak dan dapat bertukar pikiran dengan baik.

Ibarat Saudara (Adik-Kakak)

Hubungan seperti ini baik karena ibu dan anak perempuan memiliki kesamaan dan keinginan untuk ‘mirip’ satu sama lain.

Walaupun usia ibu dan anak berbeda jauh, namun ibu dan anak perempuan  bisa saling mengerti satu sama lain. Dengan hubungan jenis ini, anak perempuan akan merasa dibutuhkan keberadaannya, sebaliknya ibunya akan merasa tetap dicintai.

Apa yang terjadi jika anak perempuan tidak memiliki relasi yang baik dengan ibunya ?

Pertama, jika anak tidak memiliki relasi yang baik dan menerima kasih ibu secara cukup, anak perempuan akan bertumbuh besar TANPA HARGA DIRI YANG KOKOH. Ia cenderung gamang dan tidak memiliki penghargaan diri yang kuat. Ia akan mengembangkan keraguan pada dirinya dan mencari-cari kasih dan figur untuk mengisi kekosongan dirinya. Ia pun akan mencari-cari tempat di mana ia bisa menunjukkan dirinya sebagai seseorang yang bernilai. Ia akan menjadi sosok yang menantikan cinta dan mendambakan orang yang bisa menjadikannya berharga.

Kedua, jika anak perempuan tidak mengalami kasih dan penerimaan tanpa syarat, IA PUN BERTUMBUH DENGAN SIKAP KRITIS DAN TIDAK MENERIMA DIRI APA ADANYA. Singkat kata, ia tidak melihat apa yang ada di dalam dirinya melainkan apa yang tidak ada. Bukannya melihat apa yang dapat dilakukannya, ia malah menyoroti apa yang tidak dapat dilakukannya. Dan, kalaupun ia dapat melakukannya, ia merasa tidak dapat melakukannya dengan baik. Ia senantiasa melihat kekurangan pada dirinya.

Ketiga, jika ia tidak mengalami kestabilan dalam keluarga akibat tidak hadirnya ibu atau tidak berperannya ibu secara konsisten, maka ia pun akan mengembangkan RASA TIDAK AMAN. Ia senantiasa penuh kecemasan dan ingin memastikan bahwa semuanya berjalan dengan baik. Ia pun berusaha mencari figur pelindung yang dapat memberikannya rasa aman.

Nah, selain membangun relasi yang baik dengan anak perempuan… ibu juga berperan mempersiapkan anak perempuan untuk menjadi wanita dewasa.

Apa saja yang perlu dipersiapkan dalam diri anak perempuan?

#1. SIAP MENJADI DIRI SENDIRI

Tugas mendidik anak perempuan, adalah mempersiapkan agar dapat bertumbuh menjadi wanita dewasa yang memiliki jati diri yang sehat.

Hal yang harus diperhatikan untuk membangun jati diri anak perempuan  adalah  AUTENTIK  (menjadi diri apa adanya) vs TUNTUTAN (diri yang diharapkan)

Dibandingkan dengan pria, seorang wanita lebih dituntut untuk menyesuaikan diri dengan  norma serta budaya di mana ia tinggal.  Itulah sebabnya penting bagi  kita  untuk mempersiapkan anak perempuan agar dapat hidup dan diterima oleh lingkungan.

Masalahnya adalah kadang-kadang hal ini tidak dipahami saat masih anak-anak atau remaja. Ia lebih senang memilih dan memiliki gaya tersendiri tanpa mempedulikan reaksi lingkungan. Sikap ini tidak selalu salah, karena ia perlu mengoptimalkan dirinya, tetapi di sisi lain, ia harus sadar akan tuntutan lingkungan di mana ia tinggal. Jadi, perlu keseimbangan antara memiliki kemerdekaan menjadi diri apa adanya (autentik) sekaligus dapat memenuhi harapan/norma di sekitarnya.

Kita perlu mendorong dan menolongnya untuk dengan sukarela memenuhi tuntutan yang berlaku, baik dalam hal berbusana, bertutur kata atau bertingkah laku, agar tidak tampil aneh dan ditolak oleh lingkungan.

Apabila kita membiarkan anak perempuan bertumbuh semaunya tanpa memperdulikan norma yang berlaku atau memaksakannya menjadi seperti yang kita harapkan, keduanya akan memberikan dampak buruk.

Kemudian, kita perlu menolong anak perempuan agar dapat menerima tubuhnya.

Anak perempuan, khususnya remaja putri sangat memperhatikan penampilan tubuhnya dan cenderung membangun penghargaan atau citra dirinya dari sisi fisik saja. Tubuh yang kegemukan atau kekurusan merupakan topik yang sangat sensitif baginya. Media massa dan produk-produk kosmetik serta fashion telah mencetak citra tertentu tentang postur, wajah atau gaya yang digandrungi oleh semua remaja putri. Sehingga, remaja putri cenderung menuntut kesempurnaan fisik. Sebagai ibu, kita perlu berhati-hati dalam memberi komentar akan kondisi fisiknya. Kata-kata seperti : “rakus, gembrot, gemuk, nanti tidak laku” dapat menimbulkan perasaan tertekan dan terhina sehingga mempengaruhi pembentukan konsep diri. Sebagai ibu, lebih baik memberikan pengarahan tentang bagaimana merawat tubuh dan hidup sehat. Tujuan akhirnya bukan pada ukuran dan berat tubuh yang sempurna, melainkan pada bagaimanakah caranya menjadi seorang yang dapat menjaga kesehatan, kerapihan, kebersihan dan kesegaran tubuh.

#2. SIAP BERTEMAN

Sejak kecil… anak perempuan membutuhkan pengarahan yang tepat dalam berelasi. Khususnya, ia perlu belajar bagaimana bergaul dan bersikap terhadap lawan jenis. Kita harus menanamkan norma keKristenan untuk menjadi panduan dalam pergaulannya dengan pria.

 

Hal yang sangat perlu ditanamkan kepada anak perempuan : Tubuh adalah Bait Allah yang kudus dan perlu dijaga dengan baik !!  Kita perlu ajarkan :

  • Melarang teman pria memegang tubuhnya dan mengingatkan untuk tidak mudah percaya pada janji cinta sebelum melihat bukti yang nyata dan panjang.
  • Menolong untuk menentukan kriteria pasangan hidupnya kelak. Menjelaskan pria seperti apakah yang baik, cocok atau tidak cocok untuknya. Pria yang tidak baik adalah yang hanya mau menikmati tubuhnya. Pria yang baik adalah yang takut akan Tuhan, mengasihinya, memikirkan kepentingannya, bukan hanya kepentingan diri sendiri, bertanggung jawab atas tindakannya dan mempersiapkan hari depannya.

Ingatlah… panduan ini perlu diberikan jauh sebelum ia bergaul secara akrab dengan teman prianya !!

#3. SIAP MENJADI ISTRI DAN IBU

Kita perlu mengajarkannya tentang peran istri dan bagaimana seharusnya bersikap terhadap suami.

Ia perlu memahami bahwa Tuhan telah menetapkannya untuk menjadi penolong yang sepadan bagi suami. Sebagai penolong sudah tentu ia tidak memerintah, menyuruh atau mendominasi suaminya. Ia pun diharapkan untuk dapat memberi pertolongan tanpa harus memberi kesan menggurui suaminya. Di dalam relasi suami-istri dan struktur gerejawi Tuhan meminta istri untuk tunduk kepada suami.

Kita pun perlu mengajak anak perempuan untuk belajar mengurus rumah, memasak, mengasuh anak. Kita juga harus menyiapkan anak perempuan untuk merasa nyaman dengan perannya sebagai seorang ibu, khususnya peran sebagai pengasuh anak. Peran ini perlu ditekankan dan dipersiapkan dengan matang sejak anak belum menikah. Misalnya dengan memberikan kesempatan untuk mengasuh adik atau saudara-saudaranya sehingga melalui peran ini anak belajar memberi, menolong dan merawat. Ini adalah ketrampilan yang sangat bermanfaat tatkala ia memiliki anak sendiri.

Pada akhirnya secara alamiah ia akan menumbuhkan keinginan yang kuat untuk menjaga, merawat, menggendong anaknya. Sehingga pengasuhan anak akan menjadi prioritas dalam hidupnya dan ia tidak akan dengan mudah menyerahkan hak asuh itu kepada orang lain.

Anak yang diasuh oleh ibunya akan memiliki kedekatan emosional dengan ibunya sendiri.

Ini perlu ditanamkan sejak dini agar jangan sampai di kemudian hari ia tidak memiliki keinginan merawat anak tatkala menjadi seorang ibu. Keteladanan kita sendiri menjadi bagian pembelajaran yang paling efektif. Kalau kita sendiri tidak mengasuhnya, bagaimana mungkin kita mengajarkan semua ini kepadanya?

#4. SIAP MENJADI ANGGOTA MASYARAKAT

Sebelum anak perempuan terjun ke dalam masyarakat, hal utama yang harus kita persiapkan adalah membekalinya dengan muatan rohani, agar ia hidup dekat dengan Tuhan. Agar ia dapat memahami dengan tepat apa yang baik dan apa yang buruk, apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan dan dapat menilai orang dengan dasar dan kriteria yang tepat pula, yakni melalui Firman Tuhan.

Kita juga perlu melengkapinya dengan pemahaman yang tepat dan tidak sempit akan pelayanan. Pelayanan bukan sekedar aktivitas gerejawi. Pelayanan jauh lebih luas dari itu, kita dapat melayani melalui bidang pekerjaan yang kita tekuni atau mempersembahkan hidup kita untuk perluasan pekerjaannya. Bahkan… menjadi istri atau ibu, mengurus keluarga dan rumah tangga adalah pelayanan yang berkenan di hadapanNya !!


Leave a Reply