Kekerasan dalam Pacaran : It’s a BIG NO!!

  • 0

Kekerasan dalam Pacaran : It’s a BIG NO!!

Tags :

Category : COUNSELING , DATING

kekerasan dalam pacaran

Tidak seorang pun yang berhak melakukan kekerasan terhadap dirimu! Sekalipun itu pasanganmu! Tindak kekerasan dalam bentuk apapun merupakan pelanggaran serius yang harus ditanggapi sama seriusnya.

Pokoknya kamu nggak boleh dekat sama teman laki-laki kamu.. aku nggak suka.. awas kalau sampai aku tahu ya!”

“Gitu aja nggak bisa, bodoh banget sih kamu!”

 ”Aku laki-laki, kamu perempuan… harusnya perempuan itu tunduk sama laki-laki. Kalau kamu nggak nurut sama yang aku bilang, lebih baik kita putus”

Seems familiar dengan ucapan-ucapan di atas? Apa kamu justru pernah mengalami sendiri perlakuan-perlakuan tidak menyenangkan dari pacar, baik dalam bentuk ucapan maupun tindakan? Kalau iya, hati-hati, mungkin tanpa kamu sadari kamu telah menjadi korban dari apa yang disebut dengan “kekerasan dalam pacaran” (KDP). Tindakan kekerasan nyatanya bukan hanya menimpa pasangan yang sudah menikah saja, tetapi bisa terjadi kepada mereka yang dalam tahap berpacaran.

Sayangnya, hanya sedikit saja remaja atau anak muda yang aware dengan masalah ini, sehingga mereka tidak sadar kalau dirinya sudah menjadi korban kekerasan. Pengertian KDP adalah tindakan kekerasan terhadap pasangan yang belum terikat pernikahan yang mencakup kekerasan fisik, psikologi dan ekonomi.

Fakta ini bisa membuat mulut kita terbuka lebar, tak percaya! Catatan tahunan Komnas Perempuan dari tahun 2010-2012 memperlihatkan bahwa terdapat lebih dari 1000 laporan KDP yang masuk ke Komnas Perempuan. Tahun 2013, ada 279.760 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani. Dan kekerasan fisik menempati urutan tertinggi dengan persentase 39%, urutan kedua kekerasan psikis 29%, kemudian kekerasan seksual 26% dan terakhir kekerasan ekonomi 6%

Mungkin di antara kita masih belum banyak yang paham bentuk-bentuk kekerasan yang bisa saja dilakukan pacar atau pasangan kita. Apa saja bentuknya? Cek yang di bawah ini!

Kekerasan fisik, seperti memukul, menampar, menendang, mendorong, mencekik, mencengkram dengan keras tubuh pasangan, serta tindakan fisik lainnya

Kekerasan psikologis, seperti mengancam, memanggil dengan sebutan buruk, mempermalukan, menjelek-jelekkan, mengejek, hingga tindakan stalking seperti membuntuti, mengikuti segala aktivitas pasangan sehingga mengganggu privasi dan membatasi kegiatan sehari-hari pasangan.

Kekerasan seksual, seperti memaksa pasangannya untuk melakukan perilaku seksual tertentu seperti meraba, memeluk, mencium, atau melakukan hubungan seksual di bawah paksaan atau ancaman.

Kekerasan ekonomi, seperti meminta pasangan untuk membayar kebutuhan pribadinya, makan, pakaian dan lain-lain.

Tentu saja KDP menimbulkan pengaruh negatif. Selain berpengaruh pada fisik, KDP juga menoreh dampak psikologis yang tidak kalah serius dimana korban bisa mengalami perasaan rendah diri atau merasa diri tidak dihargai, stres pasca trauma, kecemasan, maupun rasa malu.

“MUST DO” LIST!

Pencegahan selalu menjadi pilihan terbaik. So, agar perilaku KDP ini tidak terlanjur menimpamu ataupun tidak membuat kamu terjerembab dalam kasus KDP yang lebih parah, coba lakukan langkah-langkah preventif berikut ini!

#1. First think first! Pencegahan KDP dimulai dari kesadaran bahwa ekspresi cinta atau kasih tidak pernah dengan cara menyakiti atau merusak (baca: kekerasan). Ini harus dipahami betul oleh para remaja atau anak muda yang seringkali ‘dimabuk’ cinta saat berpacaran. Ingat, bentuk kasih itu seharusnya seperti yang tertuang dalam 1 Korintus 13:4-6.

#2. Kenali pasangan! Sebelum memutuskan berpacaran, sebaiknya ketahui perilaku calon pacar, termasuk kebiasaan baik dan buruknya. Kamu bisa mencari sebanyak mungkin informasi dari orang-orang terdekatnya, seperti sahabat, kakak, adik, saudara atau bahkan orangtuanya. Semakin banyak informasi yang kamu dapatkan tentang dia semakin matang pertimbanganmu untuk memutuskan menerimanya sebagai pacar/pasanganmu. Jangan pernah “memilih kucing dalam karung” alias memilih calon pasangan dengan asal-asalan, karena pasti akan berujung penyesalan.

#3. General check up hubunganmu! Maksudnya, saat sudah berpacaran, kenali hubungan dengan bertanya pada diri sendiri: Apakah pacar sangat pencemburu, terutama jika kamu tidak berada di sampingnya? Apakah ia sering menuntut kamu melakukan hal-hal yang tidak kamu inginkan? Apakah ia melarang kamu bergaul dengan teman-temanmu? Apakah emosinya naik turun dan mudah marah? Apakah ia sering mengatakan hal negatif tentang kamu (misalnya menyebut kamu bodoh, tidak berguna, dll)? Apakah pacar tampil ‘berkepribadian ganda’, sesaat ia memukul dan memaki, tapi kemudian meminta maaf dan memohon kamu untuk kembali padanya? Apakah ia sering bilang bahwa ia melakukan itu semua demi kebaikanmu? Jika jawabannya “Ya” pada satu pertanyaan atau lebih, kamu sedang berada zona KDP, dan itu berbahaya!

#3. Berani berkata ”Tidak”! Saat pacar mulai memaksa melakukan sesuatu yang tidak kamu suka dan tidak pantas, contoh ekstrimnya melakukan hubungan seks, beranilah mengungkapkan pendapat atau keberatanmu dengan cara yang tepat. Jangan pernah termakan ucapan, “atas nama cinta” sehingga kamu berkewajiban menuruti semua kemauan pacar. Kamu harus ingat, kamulah yang bertanggung jawab atas dirimu sendiri! Jangan pernah memaksakan dirimu untuk menyenangkan pasangan/pacar apabila hal itu tidak kamu kehendaki. Dengan berani bersikap, kamu akan punya kontrol atas dirimu sendiri dan tidak cenderung didominasi orang lain, termasuk sang pacar.

#4. Mencari dukungan! Kekerasan psikis biasanya lebih sulit diketahui orang lain karena dampaknya tidak mudah terlihat. Bila kamu mulai menyadari perilaku pacar/pasangan mulai mengganggu atau mengancam dirimu, cobalah untuk terbuka pada pihak yang bisa dipercaya seperti orangtua, kakak rohani, atau sahabat. Ini bisa membantumu mendapat masukan mengenai apa yang harus dilakukan. Jika merasa bahwa dampak yang dialami sudah semakin parah dan kamu merasa butuh cerita ke pihak yang lebih ahli, kamu bisa mencari pertolongan seorang konselor di gerejamu atau konselor profesional.

#5. Evaluasi kelanjutan hubunganmu! Menurut Making Waves, sebuah organisasi yang menangani KDP remaja di Amerika, sebuah hubungan dikatakan sehat jika pasangan membuat keputusan bersama, mampu mendiskusikan perbedaan pendapat, saling mendengarkan, saling menghargai, saling membangun ke arah yang positif, merasa nyaman jika melakukan kegiatan sendirian tanpa pacar dan tidak ada yang berusaha mengontrol hubungan secara berlebihan. Sebaliknya, andai kamu masuk dalam hubungan yang rentan dengan kekerasan, sebelum terlalu jauh, segeralah putuskan hubunganmu! Pikirkan, jika masa berpacaran saja dia sudah berani melakukan kekerasan terhadapmu, apa yang bisa kamu harapkan saat menikah kelak? Catat baik, setiap orang berhak merasa bahagia dan kekerasan bukanlah hal yang pantas dilakukan dalam sebuah hubungan.

#6. Libatkan (dan prioritaskan) Tuhan! Sekalipun ini ada di urutan terakhir, tetapi sebetulnya wajib dilakukan dari awal – bahkan sebelum kamu memutuskan untuk berpacaran atau menerima seseorang menjadi pasangan/pacarmu. Dengan selalu menyertakan atau melibatkan Tuhan, hidup dan langkahmu pasti terjaga aman sebab Roh-Nya sendirilah yang akan menuntun dan membuka segala pengertian kepadamu sehingga kamu dapat berpikir dan bertindak selaras kehendak-Nya. Salah satunya, sedini mungkin kamu akan dimampukan untuk memiliki motivasi yang benar ketika kamu menjalin hubungan dengan seseorang.

(Sumber : Transformer)

Leave a Reply