Bebas dari KHAWATIR

  • 0

Bebas dari KHAWATIR

khawatir

Saya seorang ibu dari 3 orang anak. Akhir-akhir ini saya sulit tidur karena saya sering merasa khawatir dan cemas. Saya khawatir apakah saya ibu yang baik untuk anak remaja, saya khawatir memikirkan masa depan anak saya?  Saya khawatir apakah kebutuhan keluarga dapat tercukupi, saya juga khawatir dengan pekerjaan dan kesehatan suami saya. Bagaimana jika saya jatuh sakit dan tidak dapat mengurus keluarga?  Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi?  Masih ada banyak hal lain yang saya khawatirkan.

Saya bingung, bagaimana saya bisa mengatasi perasaan khawatir saya yang sangat mengganggu?  

(Ester, 44 tahun)

JAWAB :

Ester,

Terima kasih untuk pertanyaan Anda. Terima kasih juga untuk kejujuran Anda atas perasaan Anda terhadap diri sendiri.  Saya bisa memahami betapa tidak nyamannya apabila perasaan kita dikuasai oleh kekahawatiran akan banyak hal.

Sebagai individu, kita semua pernah merasa khawatir dari waktu ke waktu. Misalnya saat akan menghadapi ujian,  kita khawatir  apakah kita akan lulus atau gagal.  Mungkin saat kita akan menghadapi wawancara,  kita khawatir apakah akan diterima dalam pekerjaan? Atau kita mengkhawatirkan apakah kita cukup uang untuk membayar cicilan,  mengkhawatirkan kesehatan.  Jika sehat,  khawatir jatuh sakit. Saat sakit,  khawatir apakah akan sembuh.

Kita juga dapat khawatir tentang hubungan. Jika masih lajang dan ingin menikah, maka mengkhawatirkan apakah kita akan bertemu dengan orang yang tepat. Jika kita menikah, kita mengkhawatirkan apakah kita menikahi orang yang tepat. Mungkin kita memiliki anak dan kita mengkhawatirkan mereka ketika mereka tidak sedang bersama kita, khawatir sesuatu yang buruk bisa saja terjadi pada anak. Jika kita memiliki anak remaja, kita mengkhawatirkan keberadaan mereka, siapa yang sedang bersama mereka dan apa yang sedang mereka lakukan.

Well, kekhawatiran memang sangat mempengaruhi perasaan. Kita dapat kehilangan sukacita karena mengkhawatirkan situasi yang mungkin tidak akan pernah terjadi atau ternyata tidak seburuk yang kita bayangkan.  Padahal kekhawatiran jarang membantu.

Semakin kita khawatir, kita akan merasa semakin buruk, semakin buruk perasaan kita, semakin kita berpikir dengan cara yang mengkhawatirkan dan mencemaskan.

Apabila kekhawatiran itu mengintimidasi dan mengontrol diri kita, maka dapat menjadi ketakutan yang selalu menghantui setiap saat.

Tuhan Yesus berbicara tentang kekhawatiran dalam khotbahNya di bukit, ia ingin agar kita bebas dari kekhawatiran supaya pikiran kita tidak dikuasai oleh beban dan kekhawatiran hidup (Matius 6:25).

Ia ingin agar kita mengelola kekhawatiran dari kehidupan kita supaya hal itu tidak menjadi penjara di dalam hidup kita.

Nah, bagaimana caranya mengelola perasaan khawatir?

#1. Mengenali kekhawatiran kita.

Ambil selembar kertas dan tuliskan semua yang kita khawatirkan. Ketika kita memindahkan semua kekhawatiran dari kepala kita ke selembar kertas, akan menjadi lebih spesifik. Kemudian kita akan dapat menanganinya dengan lebih mudah.

Ada sebuah penelitian dilakukan bertahun-tahun yang lalu tentang masalah yang dikhawatirkan oleh orang. Kesimpulan penelitian tersebut adalah bahwa :

  • 40% hal-hal yang cenderung kita khawatirkan ternyata tidak pernah terjadi. Bahkan sama sekali tidak mungkin. Mereka tidak akan pernah terjadi. Banyak hidup manusia dipenuhi oleh tragedi yang tidak pernah benar-benar terjadi.
  • 30% dari hal yang dikhawatirkan manusia terjadi di masa lalu. Hal itu sudah terjadi itu sudah terjadi dan sudah selesai. Orang tidak dapat berbuat apa pun terhadapnya tetapi mereka masih merasa khawatir.
  • 10% yang dikhawatirkan manusia adalah hal yang remeh. Hal yang sepele. Hal yang sangat kecil dan bukan masalah besar.
  • 12% dari kekhawatiran manusia berhubungan dengan kesehatan mereka. Menariknya, merasa khawatir membuat kesehatan kita menjadi buruk.

Dengan demikian, kekhawatiran kita sudah mencakup 92%. Sisa 8% dari kekhawatiran manusia adalah tentang hal-hal yang masuk akal. Hal-hal tersebut adalah kekhawatiran yang nyata. Akan tetapi, hanya setengah (atau 4%) dari hal ini adalah hal-hal yang dapat ditangani oleh manusia. 4% sisanya adalah hal-hal di luar kendali manusia.

Penelitian menunjukkan bahwa 96% hal yang kita khawatirkan adalah hal yang tidak pantas dikhawatirkan.

Well, sekarang kita tahu dan mampu membedakan mana yang pantas dikhawatirkan dan mana yang tidak.

#2. Mengambil tindakan tentang kekhawatiran Kita.

Kenalilah kekhawatiran kita yang masuk akal dan tanyakan kepada diri kita sendiri apakah kita dapat melakukan sesuatu tentang masalah-masalah tersebut. Jika bisa, ubah setiap kekhawatiran menjadi tindakan. Ketika kita mulai menindaklanjuti kekhawatiran kita, kita mulai mengubah situasi dan kekhawatiran akan teratasi.

Buatlah daftar tindakan yang seharusnya kita lakukan secara spesifik. Setelah itu, lakukan tindakan itu. Lakukan mulai dari hal yang kita anggap paling kecil dan sederhana.

Sebagai contoh, jika kita khawatir apakah bisa mendidik anak dengan baik, kita dapat melakukan tindakan dengan mempersiapkan diri sebagai orangtua dan mulai membaca buku mengenai parenting.

Seringkali tanpa disadari kita lebih menghabiskan banyak waktu dan tenaga pada hal-hal yang kita khawatirkan tetapi tidak melakukan tindakan apa-apa.

#3. Ubahlah kekhawatiran menjadi doa kepada Tuhan.

Dalam Filipi 4:6-7, menuliskan agar membawa semua kehawatiran kita kepada Allah di dalam doa.

Sebagai contoh, jika kita mulai merasa khawatir tentang anak remaja kita, gunakan kekhawatiran tersebut sebagai pendorong untuk mulai berdoa bagi mereka dan membawa mereka kepada Tuhan.

Kekhawatiran tidak menyelesaikan apa pun, tetapi doa sangat besar kuasanya dan memberikan pengaruh positif. Jika kita mengubah kekhawatiran menjadi doa, bukannya membiarkan kekhawatiran menjadi pusat hidup kita, maka kita akan merasakan damai sejahtera.

#4. Belajar untuk menyerahkan kekhawatiran kepada Tuhan.

Kita perlu menyadari bahwa di dalam hidup kita akan ada ketidakpastian dan masalah-masalah yang berada di luar kendali kita. Tidak ada tindakan apa pun yang dapat  kita lakukan atas kekhawatiran-kekhawatiran tersebut, sehingga belajarlah untuk menyerahkan kekhawatiran kepada Tuhan dan sadarilah bahwa hidup kita berada di bawah kendali Tuhan. Tidak ada yang dapat terjadi kepada kita tanpa sepengetahuan dan seijin Dia.

Nah, jangan biarkan kekhawatiran menjadi penjara yang menyedot sukacita kita, menghabiskan tenaga kita dan menyebabkan kita terbelit dengan kebutuhan kita sendiri. Jika tidak diatasi, maka kita akan kehilangan banyak kesempatan untuk menjadi berkat. Tuhan Yesus memberkati !


Leave a Reply