Menikah atau Tidak?? Saya Bingung…..

  • 0

Menikah atau Tidak?? Saya Bingung…..

Category : COUNSELING , LSD

Saya sudah pacaran setahun. Orangtua saya sering bertanya dan mendesak saya untuk menikah? Nah, masalahnya adalah semakin mengenalnya, saya semakin ragu untuk melanjutkan hubungan ke pernikahan. Walaupun dia beragama Kristen, dia jarang ibadah ke gereja. Dia suka berbohong, suka dugem dan mabuk. Kalau jalan-jalan bareng dia sih menyenangkan, tapi kayaknya tujuan hidupnya adalah untuk bersenang-senang. Saya jadi ragu-ragu untuk menikah dan hidup bersama dia selamanya. Bagaimana ya, apakah saya harus melanjutkan hubungan dengan dia? Padahal saya juga sudah tidak muda lagi, tapi hati saya semakin tidak ada damai sejahtera jika bersama dia. (Marsya, 30 tahun)

Marsya,

Terima kasih untuk pertanyaan Anda. Terima kasih juga untuk kejujuran Anda atas perasaan Anda terhadap diri sendiri.

Saya bisa memahami perasaan Anda. Nampaknya, Anda sedang ragu-ragu ragu untuk melanjutkan hubungan dengan pacar Anda sampai ke jenjang pernikahan karena perilakunya yang suka berbohong, suka dugem, jarang beribadah dan beberapa pertimbangan lainnya. Tetapi di sisi lain, orangtua semakin mendesak Anda untuk menikah dan Anda pun merasa bahwa umur Anda sudah tidak muda lagi.

Well, saya sangat menghargai langkah Anda untuk mengevaluasi hubungan Anda dengan sang pacar, sebelum melanjutkan ke arah yang lebih serius.

Karena pernikahan adalah keputusan yang sangat penting, hanya sekali seumur hidup. Suatu tahapan no turning back! Memasuki pernikahan itu ibarat menjalani sebuah lorong panjang berdua, yang menjadi akhir hanyalah kematian. Apa yang sudah dipersatukan Allah, tidak dapat dipisahkan oleh manusia (Matius 19:6).

Janji “Saya Bersedia !”, yang diucapkan saat pemberkatan nikah ialah tetap bersama baik suka maupun duka, saat senang maupun susah, kala sehat maupun sakit, waktu kaya maupun miskin, sampai maut memisahkan.

Pernikahan adalah seperti membangun rumah. Jikalau fondasinya benar dan kuat maka rumah tangga yang dibangun pun akan benar dan kuat. Jikalau tidak benar dan tidak kuat berarti kehancuran siap menghampiri rumah tangga tersebut.

Fondasi yang utama adalah fondasi iman. Firman Tuhan jelas menyatakan bahwa, “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?” (2 Korintus 6:14).

Tuhan menghendaki agar setelah menikah, suami istri dapat saling menjadi teman rohani, melayani bersama, dan bukan menjadi penghalang untuk bertumbuh di dalam Dia.

Nah, tentunya kita tidak mau menjalani pernikahan seumur hidup dengan orang yang salah.

Selain itu, ketahuilah bahwa menikah adalah sebuah mandat Ilahi. Ada panggilan Ilahi di dalamnya! Bersama pasangan dan keluarga, seharusnya hidup kita lebih baik dan produktif untuk menjalankan tugas panggilanNya (Kejadian 1:28).

Oleh karena itu,  jangan sampai kita menikah karena alasan-alasan sebagai berikut :

Faktor Usia

Ada orang yang ingin menikah karena usianya sudah berada dalam masa rawan. Pernikahan yang sehat bukan karena terjepit oleh faktor umur. Jangan mengambil keputusan menikah hanya karena dibebani oleh usia, melainkan karena sudah menemukan yang terbaik.

Faktor ingin cepat-cepat keluar dari rumah

Keluarga yang broken home biasanya akan menghasilkan anak-anak yang broken heart. Akibatnya setelah anak beranjak dewasa bisa saja akan menikah tanpa perhitungan matang, hanya karena ingin segera keluar dari suasana rumah yang membawa kepedihan, luka hati, dan air mata. Ia akan menikah dengan siapa saja yang peduli dengan nasibnya.

Faktor mencari figur pengganti

Contohnya, ketika seorang pria menemukan figur ibunya ada pada sosok gadis pujaannya maka dia merasa gadis itu akan mampu menjadi istri yang baik seperti ibunya. Begitu juga sebaliknya, bila seorang gadis menemukan figur ayahnya ada pada pria pujaannya, maka dia akan merasa aman seperti ayahnya yang mampu memberi keamanan buat dirinya. Atau ada orang menikah karena kehilangan ayah atau ibu, dan berharap pasangannya itu dapat menggantikan salah orangtua yang telah tiada.

Faktor hawa nafsu

Alasan karena hawa nafsu tidak bisa dijadikan pembenaran untuk menikah. Pernikahan perlu perencanaan yang serius bukan sekedar pelampiasan  hawa nafsu.

Menikah dengan harapan pasangan dapat memberikan kebahagiaan dan untuk bersenang-senang.

Jangan terburu-buru untuk menikah karena telah bosan hidup sendiri. Banyak orang berpikir     bahwa menikah itu satu-satunya jalan untuk menikmati kebahagiaan. Ia berharap bahwa setelah menikah, pasangannya akan selalu siap melayani dia. Namun, ketika memasuki jenjang pernikahan dan ternyata apa yang diharapkan oleh pria/wanita itu tidak menjadi kenyataan, maka timbullah masalah dalam rumah tangga.

Kehormatan keluarga atau desakan keluarga

Pada jaman sekarang masih ditemukan orang yang mau menikah  atau dijodohkan demi nama baik keluarga,  atau untuk meningkatkan status kehormatan keluarganya.

Jangan menikah karena desakan orang lain. Misalnya seperti keluarga terbelit hutang, jangan paksakan diri untuk menikah demi menyelesaikan persoalan tersebut.

Motif ekonomi

Ada yang menikah karena untuk membiayai hidup. Jangan jadikan materi atau kekayaan sebagai alasan menikah. Pernikahan Ilahi tak dapat dibeli dengan uang. Buat apa menikah dengan orang yang kaya raya jika ia tidak takut akan Tuhan, punya sifat dan kebiasaan buruk, misalnya sering melakukan kekerasan, tidak bisa menghargai, dan sebagainya.

Nah, hal-hal yang telah diuraikan tersebut dapat menjadi masukan untuk mengevaluasi hubungan Anda dengan sang pacar.

Bijaksanalah, hati-hati serta sabarlah saat menetapkan pasangan hidup. Berdoalah, cari kehendakNya! Firman Tuhan sangat jelas mengatakan bahwa, di mana ada kebenaran, di situ akan tumbuh damai sejahtera. Ketika Tuhan sudah menyatakan kehendak-Nya, dan ternyata kita tidak berada dalam kehendakNya, maka Dia dapat menghadirkan perasaan tidak damai sejahtera dan  kegelisahan di dalam hati. Kala bimbang, tidak yakin akan keputusan apa yang harus diambil, …maka mintalah pada Tuhan, sumber hikmat!

 


Leave a Reply