I’m (Maybe) Broken Home But Not Broken

  • 0

I’m (Maybe) Broken Home But Not Broken

broken home

Setiap orang (keluarga)  pasti mendambakan kehidupan rumah tangga yang harmonis, bahagia, utuh dan langgeng sepanjang hayat. Tetapi pada kenyataannya, tidak sedikit keluarga, termasuk keluarga-keluarga Kristen yang kehidupan rumah tangganya justru berantakan bahkan hancur (Red-broken home) hingga menimbulkan luka dan kepahitan berkepanjangan bagi pribadi-pribadi yang hidup di dalamnya. Ironis!  Sebab faktanya, tak ada satu pun anak di bawah langit ini yang menginginkan tumbuh di tengah keluarga broken home.

Keluarga kami dibangun bukan atas dasar cinta, melainkan perjodohan yang bapak dan mamaku tidak saling mengasihi satu sama lain. Sejak mereka menikah hingga kami beranjak remaja, jarang sekali mereka akur. Hampir setiap hari mereka bertengkar. Terkadang aku dan adik-adik menjadi pelampiasan kemarahan mama. Dicebur ke dalam got jorok dan bak mandi, dihajar di depan teman-teman sepermainan, dan dipukuli. Begitu juga bapak, selalu memarahi kami tanpa alasan yang tidak bisa dimengerti oleh anak kecil. Dan itu kami rasakan hingga bertahun-tahun. Ketakutan, kepahitan, dan kemarahan tertanam dalam jiwa kami. Kami pun sebagai anak-anak dituntut untuk menjalani hidup yang tidak normal, berbeda dengan orang kebanyakan (aku memilih untuk tidak menuliskan semua, yang pasti sangat menyedihkan dan sama seperti anak-anak korban broken home lain). Aku menjadi orang yang pendiam di rumah, tetapi menjadi sedikit liar di sekolah (bikin konser kecil-kecilan di kelas, gangguin teman, pokoknya menutupi apa yang terjadi di dalam keluargaku), dan ribut di rumah jika orangtua kebetulan tak ada. Aku juga jadi “tukang siksa” bagi adik bungsuku. Aku sering menakut-nakuti dia, memeras uang jajannya dan banyak lagi yang sering menyakiti hatinya sebagai anak kecil. Yang ada di pikiranku saat itu, dia harus merasakan sakit hati yang aku rasakan atas orangtuaku. Tapi aku sebenarnya sangat menyayanginya. Sering  aku nangis setelah “menghajarnya”. Pada pertengahan tahun 1997, orangtuaku sudah tak lagi sekamar. Hancur sudah saat itu, makan pun jadi situasi yang tak enak. Pernah juga timbul niatku untuk bunuh diri. Saat itu aku tak kenal sama yang namanya Tuhan.

Istilah “broken home” biasanya digunakan untuk menggambarkan keluarga yang berantakan atau tidak harmonis dan tidak berjalan layaknya keluarga yang rukun, damai, dan sejahtera karena sering terjadi keributan serta perselisihan yang menyebabkan pertengkaran dan berujung pada perceraian (Menurut riset frekuensi perceraian di Indonesia masuk peringkat tertinggi se-Asia Pasifik. Dalam rentang sembilan tahun terakhir, angka perceraian rata-rata mencapai 161.656 setiap tahunnya). Anak yang broken home bukan hanya anak yang berasal dari ayah dan ibu yang bercerai, namun berasal dari keluarga yang tidak utuh, dimana ayah dan ibunya tidak dapat berperan dan berfungsi sebagai orangtua yang sebenarnya.

Ada banyak faktor yang menjadi penyebab broken home. Orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga lupa untuk memperhatikan anak dan tidak lagi memiliki waktu untuk berdialog, berdiskusi atau bahkan hanya untuk saling bertegur sapa. Saat orangtua pulang bekerja, anak sudah tertidur dan saat anak terbangun tidak jarang orangtua sudah harus berangkat kerja dan anak pergi sekolah.

Memang di tengah tuntutan ekonomi yang kian tinggi orangtua seolah dipaksa untuk bekerja ekstra keras, bahkan kerap tak kenal waktu. Namun kurang atau putusnya komunikasi di antara anggota keluarga (suami dan isteri, orangtua dan anak-anak), akibat kesibukan menyebabkan hilangnya kehangatan di antara keluarga yang kemudian berimbas pada keharmonisan.

Faktor lainnya, keretakan hubungan suami dan istri (terjadinya percekcokan secara terus menerus yang biasanya dengan alasan ketidakcocokan atau disorientasi tujuan) mengakibatkan terjadinya pengabaian pada anak bahkan sering berakhir pada perceraian. Seperti kasus di atas, ketidakdewasaan sikap orang tua dan kurangnya rasa tanggung jawab juga menjadi faktor pencetus problema ini.

Tentu saja broken home menimbulkan dampak yang sangat besar dalam kehidupan setiap anggota keluarga, terutama anak-anaklah yang menjadi korban. Setidaknya ada tiga ‘broken” yang dialami oleh anak yang tumbuh di tengah keluarga broken home, di antaranya :

  1. Broken heart : Merasakan kepedihan dan kehancuran hati sehingga memandang hidup ini tidak ada artinya dan mengecewakan. Situasi ini membuat anak krisis kasih sayang dan biasanya lari pada hal yang bersifat negatif seperti tawuran, melakukan bullying, merokok, seks bebas, narkoba, dll.
  2. Broken relation : Merasa bahwa tidak perlu dihargai dan menghargai, tidak ada orang yang dapat dipercaya dan tidak ada orang yang dapat dijadikan contoh/teladan. Pemikiran ini dapat membentuk kepribadian yang cuek/masa bodoh, menutup diri, tidak bergairah dalam hidup, ugal-ugalan, tidak mau dengar nasehat orang, sensitif, cari perhatian dan cenderung “semau-mau gue”.
  3. Broken values : Kehilangan nilai kehidupan yang benar. Baginya kehidupan ini tidak ada yang benar dan tak ada yang baik atau merusak, yang ada hanya yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Pokoknya yang menyenangkan saya lakukan dan yang tidak menyenangkan saya tinggalkan. Anak broken home juga cenderung menjadi malas dan tidak memiliki motivasi untuk belajar maupun berprestasi.

HAVE A COURAGE TO FACE IT!

Apakah Anda termasuk keluarga atau anak broken home? Tanamkan dalam pikiran Anda bahwa masalah dan penderitaan yang Anda alami bukanlah masalah dan penderitaan tanpa solusi dan bukan tanpa arti. Seperti pepatah bilang blessing in disquise, di balik masalah dan penderitaan itu kita tetap dapat menikmati kebaikan dan berkat-berkat Allah, selama kita melakukan beberapa hal di bawah ini!

Berpikir positif. Peristiwa yang kita alami lihatlah dari sisi positifnya, karena di balik semua masalah pasti ada hikmah, pelajaran dan kebaikan yang dapat kita petik. Klise? Tetapi itu yang sebenarnya! Jadikan semua masalah sebagai proses pembelajaran bagi kita menuju tahap kematangan rohani. Buat anak-anak muda, jauhkan segala pikiran buruk yang bisa menjerumuskan kita ke jurang kehancuran, seperti memakai narkoba, minum-minuman keras, malah sampai mencoba untuk bunuh diri.

Jangan terjebak situasi. Yang jelas, kita tidak boleh terjebak dalam situasi dan menghakimi orangtua atau diri sendiri atas apa yang terjadi serta marah dengan keadaan. Alangkah baiknya apabila kita bisa mulai untuk menerima kenyataan sambil terus mencoba memperbaiki keadaan dan berusaha menjadi lebih baik. Keterpurukan bukanlah jalan keluar! Belajarlah tegar dan mencoba bangkit, itu kuncinya! Sekalipun kita hidup di dalam keluarga yang  berantakan, bukan berarti masa depan dan hidup kita harus juga berantakan. Tengok saja orang-orang terkenal dan sukses yang dulunya berasal dari keluarga broken home (sebut saja Oprah Winfrey). Tetapi mereka tidak mengijinkan masa lalu atau keadaan broken home mengontrol dan menentukan  masa depan mereka.

Cari komunitas rohani. Jangan pernah mencari jawaban ke tempat atau komunitas yang salah. Firman Tuhan nasehatkan bahwa pergaulan buruk dapat membawa kita kepada hal-hal buruk. Ketika kita memilih komunitas (pergaulan atau teman-teman) yang salah, bukan penyelesaian dan kebahagiaan yang kita dapatkan, justru kerusakan yang lebih parah. Sebaliknya, komunitas yang baik seperti CareCell, SPK, YOUTH dll, dapat menolong untuk bertumbuh rohani sehingga kita menjadi lebih kuat dan bijak menghadapi masalah-masalah hidup.

Selesaikan bersama Tuhan. Mungkin saat ini Anda sedang menghadapi broken home, dimana kelangsungan rumah tangga dan keluarga Anda sedang di ujung tanduk, tetapi ingatlah 2000 tahun silam, Yesus telah menanggung dan menyelesaikan segala kelemahan kita di atas kayu salib. Itu artinya, tidak ada persoalan atau masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan baik bila kita datang ke hadapan-Nya. Selesaikan masalah kita bersama Tuhan! Yesus sangat mengasihi kita dan Ia sungguh-sungguh ingin memelihara hidup kita dan memberi kebahagiaan. Bukti terbesar dari perhatian Allah bagi kita dapat ditemukan jika kita melihat Yesus Kristus. Di dalam Kristus, kita dapat menanggung tragedi yang paling buruk pada saat ini, karena Dia telah memberi kita kekuatan dan meletakkan harapan di hadapan kita. Dengan bersandar dan berharap kepada Dia, “your broken home” akan diubah-Nya menjadi “your beautiful home”. Kita hanya perlu percaya dan beriman!

Terakhir namun bukan berarti tak penting, bagi para orangtua! Ingat dan sadarilah, kebutuhan psikologis anak sama pentingnya dengan memenuhi kebutuhan hidup. Anak membutuhkan kasih sayang berupa perhatian, sentuhan, teguran dan arahan dari ayah dan ibunya, bukan hanya dari pengasuhnya atau pun dari nenek kakeknya. Sebanyak apapun materi yang Anda limpahkan bagi anak-anak Anda, tidak akan pernah bisa mengganti kehadiran Anda bagi mereka! Anak adalah harta dan aset Kerajaan yang Tuhan percayakan untuk Anda jaga, pelihara dan sayangi, jadi lakukanlah tanggung jawab itu sebagaimana Tuhan mandatkan.

(Transformers)

Leave a Reply