Garbage In Garbage Out!!

  • 0

Garbage In Garbage Out!!

tv

Sinetron, drama korea, atau tontonan sejenis ‘opera sabun’ lainnya bisa ditemukan dengan mudah di layar kaca kita. Dan beberapa dari sinetron atau drama korea itu digandrungi sebagian besar remaja. Mungkin itu lantaran tema yang diusung dekat dengan dunia anak remaja seperti bercerita tentang pergaulan di sekolah, persahabatan, cinta dan tren anak remaja, dan lainnya. Tapi tahukah bila di dalam cerita sinetron atau drama korea yang membuai itu terselip sesuatu yang ‘berbahaya’ bila tidak segera diwaspadai?   

Peribahasa barat garbage in garbage out  (sampah masuk sampah keluar) mengingatkan agar kita berhati-hati dengan apa saja yang masuk ke dalam diri kita. Bila yang masuk adalah hal-hal negatif maka yang keluar pun adalah hal-hal negatif.  Karena itu, perhatikan dan awasi apa yang kita baca, dengar dan lihat. Sebab itu semua akan mempengaruhi cara kita berpikir dan bertindak.

Sebuah penelitian American Psychological Association (APA) mengatakan bahwa tayangan yang bermutu akan mempengaruhi seseorang untuk berlaku baik, dan tayangan yang kurang bermutu akan mendorong seseorang untuk berperilaku buruk. So, be careful what you watching! Termasuk tayangan sinetron atau drama Korea yang suka kita tonton!

Karena faktanya, setelah dicermati, kisah-kisah sinetron maupun drama Korea memuat unsur negatif yang berpengaruh buruk bagi penonton. Khususnya bagi para remaja dan anak-anak. Baru-baru ini KPI (komisi penyiaran Indonesia) bahkan mengeluarkan pernyataan adanya pelanggaran yang dilakukan tayangan sinetron. Di antaranya menampilkan adegan bullying (baik itu kekerasan fisik maupun kekerasan verbal), adegan percobaan bunuh diri, percobaan pembunuhan, adegan mistis, pornografi, dan lainnya). Beberapa dari sinetron di Indonesia dikatakan tidak layak tonton!

Berikut daftar nilai-nilai negatif yang ditebar sinetron dan drama Korea yang bisa menimbulkan dampak buruk bagi para penikmatnya, yang dirilis oleh para pakar sosiologi dan psikologi!

Menumpulkan kreativitas berpikir

Keranjingan nonton sinetron maupun drama Korea bisa bikin otak pasif, melumpuhkan kemampuan berpikir kritis dan merusak kecerdasan otak sebelah kanan (Nah, lho!). Anak-anak remaja juga diajar berpikir pendek dan serba instan. Contohnya, cerita yang memperlihatkan anak muda yang putus cinta lalu melakukan percobaan bunuh diri, atau anak muda yang sukses tanpa kerja keras. Kalau diajak ngobrol pelajaran di sekolah nyambung-nya rada susah, tapi begitu diajak ngobrol soal sinetron atau drama Korea, jangan ditanya… mulut bisa lancar bercerita a-z dan hapal di luar kepala (ckckckckck….).

Suka mengkhayal

Cerita di sinetron bisa menarik kita tenggelam untuk masuk ke dalam cerita itu. Akibatnya, sekali pun kita tidak lagi di depan televisi, kita melanjutkannya dalam khayal. Mengkhayal punya rumah mewah, mobil bagus, wajah cantik atau tampan, dan kehidupan yang serba menyenangkan seperti tokoh yang ada di dalam cerita sinetron atau pun drama Korea yang kita tonton. Hati-hati, kebanyakan berkhayal bisa membuat kita jadi pemalas dan hidup jauh dari realita. Lebih berbahaya, kalau dunia khayal yang kita bangun tidak selaras dengan kenyataan hidup yang kita jalani sehari-hari. Ini bisa memunculkan perasaan putus asa dan tidak tahu bersyukur! Firman Tuhan berpesan, Ucaplah syukur  senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita.” (Ef.5:20).

Hedonisme dan materialisme

Sinetron dan drama Korea kerap mempertontonkan kehidupan yang glamor (serba gemerlap) dan penuh kesenangan dunia semata. Anak sekolah naik turun mobil mewah, nenteng barang-barang mahal dan branded, shopping dan nongkrong di pusat-pusat perbelanjaan mewah, pergi dugem, mengadakan pesta-pesta di kapal mewah, dan gaya hidup jet set lainnya. Semua itu memperlihatkan seolah di dunia ini yang terpenting adalah materi dan bersenang-senang. Kalau kita tidak berhati-hati, mind set kita bisa terkontaminasi dengan berpikir bahwa kesuksesan hidup diukur dari mobil mewah, rumah mewah, jabatan dan status sosial yang kita miliki. Bahwa tujuan kita hidup di dunia adalah untuk memuaskan keinginan dan kesenangan kita semata. Eits, tunggu dulu! Firman Tuhan justru berkata, kita ada di dunia ini untuk mengerjakan dan menyelesaikan apa yang menjadi rencana (panggilan) Tuhan atas hidup kita (Yer. 1:5).

Kekerasan dan pornoaksi

Sinetron maupun drama Korea kerap bercerita tentang kehidupan sehari-hari yang penuh konflik dan dibumbui  adegan kekerasan atau bullying (berkelahi, memukul, menjambak rambut, mengejek, intimidasi, dll). Kalau kita keseringan melihat adegan kekerasan, apalagi adegan itu dilakukan oleh anak-anak sebaya kita, tanpa disadari kita bisa terbawa atau terisipirasi untuk melakukan hal serupa terhadap teman-teman di sekolah atau di lingkungan kita bergaul. Kita bisa berpikir kalau nge-bully adik kelas itu keren. Menginjak-injak harga diri orang lemah it’s okay. Bicara kasar dengan teman itu gaul. Sinetron dan drama Korea terkadang juga mempertontonkan anak-anak remaja yang berpakaian seronok, melakukan adegan yang tidak pantas (ciuman, meraba-raba bagian tubuh, dll), yang bisa meracuni pikiran pemirsanya untuk berbuat serupa. Firman Tuhan mengingatkan agar kita menjauhi kekerasan (Maz. 140:12) dan percabulan (1 Kor.6:18).

Pemberontakan dan kebebasan

Cerita-cerita di sinetron atau drama Korea kerap memperlihatkan kebebasan berekspresi yang berlebihan, bahkan cenderung kebablasan. Ini diperlihatkan lewat adegan-adegan yang memperlihatkan sikap tidak hormat pada orang tua, guru maupun orang yang lebih tua. Bicara seenaknya terhadap orang tua, bebas keluar dan pulang larut malam, tidak mau diatur orang tua, dan adegan lain yang membuat anak-anak remaja berpikir bahwa hidup bebas tanpa aturan dan memberontak adalah “hak” dan “boleh”. Hati-hati, karena Tuhan justru memerintahkan kita untuk hormat terhadap orang tua (Ef. 6:2-3) dan hidup tunduk serta mentaati segala perintah yang telah Allah tetapkan (Mat.19:17).

Kecanduan dan lupa waktu

Pernah lihat teman atau anggota keluarga yang kuat nonton seharian drama Korea tanpa makan dan tidur? Yup, faktanya sinetron dan drama Korea memang cenderung menimbulkan efek kecanduan, karena biasanya penonton dibuat penasaran dengan alur cerita selanjutnya. Gawatnya kalau tontonan itu ditayangkan di jam-jam dimana remaja atau anak-anak seharusnya belajar. Mereka bisa lupa waktu, lupa makan, lupa mandi, lupa doa, lupa baca firman Tuhan, bahkan sampai merubah jam tidur. Mereka seolah terhipnotis dan susah untuk menghentikan!  Kalau keinginan nonton kamu sudah tidak bisa dikontrol atau dikendalikan, waspada! Itu tandanya kamu sudah kecanduan dan kamu harus segera ambil tindakan untuk memutuskan ikatannya! Ingat nasihat Paulus yang mengatakan agar kita tidak membiarkan diri untuk diperhamba oleh apa pun juga yang datang dari dunia ini (1Kor. 6:12). Termasuk sinetron dan drama Korea favoritmu tentunya!

Kurang  pergaulan

Pulang sekolah mengurung diri di kamar nonton drama Korea. Waktu libur juga nonton drama Korea. Liburan panjang, lagi-lagi drama Korea. Tidak beranjak kemana-mana kecuali di depan televisi, kamar mandi dan dapur. Hidup kamu hanya seputar itu-itu saja. Kamu terkurung dalam duniamu sendiri bersama sekumpulan dvd drama Korea atau sinetron-sinetron yang berseliweran di layar kaca, sepanjang hari. Komunikasi dan hubungan dengan keluarga, teman-teman, dan lingkungan seolah terputus. Kamu jadi kuper dengan informasi dan peristiwa lain yang terjadi di luar. Wake up… and get a life! Dunia nyatamu adalah orang-orang di sekitarmu dan kejadian yang terjadi di sekelilingmu. Bukan yang ada di sinetron atau pun drama Korea. Kalau kamu tidak segera sadari, kamu bisa kehilangan apa yang justru berharga, yakni persahabatan dengan teman-teman, kehangatan dengan keluarga dan kepekaan kamu dengan lingkungan sekitar.

Ini bukan masalah dosa atau tidak dosa. Suka atau tidak suka. Tetapi masalah bagaimana kita bijak menyikapi apa yang ada di sekitar kita. Ini waktunya kita menjadi orang-orang Kristen yang dewasa rohani, seperti firman Tuhan katakan, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini. Tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2).

(Sumber : Transformers)

Leave a Reply