Siapa Idola Anakku?

  • 0

Siapa Idola Anakku?

Tags :

Category : PARENTING

idol

Pernahkah kita melihat anak remaja berbondong-bondong melihat artis idola mereka menyanyi? Mereka sampai rela mengeluarkan uang ratusan ribu bahkan jutaan, ngantri berjam-jam hanya untuk mendapatkan  tiketnya dan terpesona oleh idola mereka, berjingkrak dan berteriak histeris.

Betapa remaja kagum dan menyukai artis atau atlet tertentu. Mereka tidak segan meniru model rambut, baju atau celana, hingga membeli assesoris yang mirip dengan yang sang idola gunakan, atau sekedar ada nama sang idola tertera di kaos atau topi mereka. Mereka juga suka menceritakan dan mendiskusikan kehebatan idolanya kepada teman-teman.

Kebutuhan Role Model (Idola)

Sesungguhnya anak-anak di usia perkembangan awal, khususnya usia tiga hingga enam tahun membutuhkan role model atau figur yang dapat ia banggakan. Seseorang yang ia sukai dan ia harapkan. Anak memiliki kebutuhan dasar seperti kedekatan emosi, waktu, bermain, dipeluk atau sekedar dipangku sambil mendengarkan cerita papa atau mamanya.

Anak membutuhkan seseorang yang senang memuji dan memperhatikan, dan memberinya barang, mainan serta makanan kesukaannya.

Nah, tentu saja orang itu adalah orangtuanya sendiri yang bersama di rumah dan punya tanggung jawab utama dan pertama dalam mengasuh diri si anak.

Namun banyak anak-anak yang tidak memperoleh pemenuhan kebutuhan seperti hal-hal di atas. Kebutuhan emosi dan waktu bersama orangtua terabaikan karena berbagai alasan. Sebut saja karena orang tua sibuk bekerja, atau karena miskinnya emosi orang tua dalam mengasuh anak yang diakibatkan minimnya ketrampilan orangtua mengomunikasikan bahasa cinta kepada anaknya.

Ada juga anak lebih banyak dititipkan pada pembantu rumah tangga, baby sitter atau neneknya.

 Apa dampaknya?

Akibatnya adalah hubungan batin si anak dengan papa dan atau mamanya menjadi miskin. Sehingga rasa keberhargaan diri sang anak tidak terbangun dengan baik.

Jika  Anak Tidak Punya Tokoh Idola

Akibatnya, saat anak berusia tujuh tahun atau lebih, dia berusaha mencari figur tersebut  dalam tokoh film kesukaannya. Mungkin dari film kartun atau film anak lainnya, seperti film-film superhero. Khususnya tokoh yang ditampilkan sebagai orang yang hebat, baik dan suka menolong. Meskipun tokoh itu kasar dan punya nilai-nilai hidup yang buruk, anak akan tetap menyukai dan membanggakannya di hadapan orang tua dan teman-temannya.

Bagi anak….. tokoh itu adalah pahlawan, apalagi  jika sifat itu dia tidak jumpai pada papa atau mamanya.

Selanjutnya….. saat anak memasuki usia remaja dia mencari figur dari para bintang film atau atlet terkenal, baik yang dia kenal lewat film, televisi atau dunia maya seperti twitter, facebook dan sebagainya.

Si anak ngefans sampai fanatik banget !!

Sebaliknya terhadap orangtua…. anak cenderung tidak respek, bahkan melawan !

Inilah yang seringkali tidak dimengerti oleh orangtua dan menganggap anak remajanya agak aneh. Padahal….. ini hanyalah hasil dari miskinnya pola asuh orangtua yang diberikan kepada si anak.

Nah, jika si idola adalah artis atau aktor yang baik dan bermoral, hasilnya masih bisa baik. Tetapi sangat membahayakan jika idola sang anak memiliki nilai, perilaku dan gaya hidup yang negatif. Misalnya pengguna narkoba, penganut faham free-sex atau sering kawin-cerai.

Juga membahayakan jika idola anak kita adalah pelaku kekerasan dalam rumah tangga atau sangat konsumtif serta hedonis.

Sikap Orangtua

Jika orang tua menjumpai anak ngefans pada idolanya, alangkah baiknya jangan menampakkan kesan antipati. Bicarakanlah apa yang anak sukai dari tokoh tersebut. Sejauh apa ia mengenal, dan apa saja prestasinya. Jikalau ada nilai hidupnya yang kurang di mata orangtua, tanyakan kesan atau pendapat si anak.

Sebagai orangtua, kita boleh saja berpendapat lain tapi dalam konteks diskusi, bukan konfrontasi menyerang si anak.

Kedua, jika ada kesalahan orangtua melukai jiwa si anak jangan segan minta maaf dan perbaiki hubungan itu agar anak kembali percaya pada kita sebagai orang tua.

Maksimalkan fungsi sebagai papa dan mama bagi si anak, khususnya sebelum anak kuliah dan meninggalkan rumah.

Rasa percaya anak sangat penting membangun keintiman atau kedekatan batin antara orangtua dan anak.

Ketiga, bangunlah ulang hubungan kita dengan si anak. Berikan waktu lebih banyak, pahami bahasa cinta si anak dan berikanlah. Ada lima bahasa cinta utama anak : pujian, sentuhan fisik, kebersamaan, pemberian dan pelayanan. Manakah dari kelima hal tadi merupakan kebutuhan dan kesukaan anak kita? Berikanlah !

Lalu sediakan selalu waktu bicara berdua, menonton, main atau liburan bersama. Mungkin hanya duduk menemani anak menonton, atau sekedar mendengar dia curhat.

Semoga dengan perbaikan di atas hati anak dipulihkan, dikembalikan pada kita sebagai orangtua. Kemudian orangtua akan mendapatkan kepercayaan dan kebanggaan di hati anak-anak.

Jika sudah pernah berbuat salah, kadang tak mudah memperbaikinya. Tetapi selalu tersedia anugerah-Nya bagi kita semua yang percaya.

(Sumber : Papa yang Tangguh – Julianto Simanjuntak)

Leave a Reply