Pelayan Tuhan tapi sering KONFLIK?

  • 0

Pelayan Tuhan tapi sering KONFLIK?

Tags :

Category : COMMUNITY LIFE , COUNSELING

Pic-konflik pelayan Tuhan

Saya melayani di sebuah komunitas. Saya merasa lelah karena di tempat saya melayani sering konflik antara sesama pelayan Tuhan. Saya berusaha menjadi penengah untuk mendamaikan, tapi ga ada hasilnya. Masing-masing yang berkonflik mempertahankan pendapat sendiri, bahkan selalu merasa yang paling benar dan menyalahkan yang lain. Saya menjadi bingung, mengapa dalam wadah pelayanan bisa terjadi konflik. Apa yang harus saya lakukan?  (Lukas, 45 tahun)

Bapak Lukas,

Terima kasih untuk pertanyaan Anda. Terima kasih juga untuk kejujuran Anda atas perasaan Anda terhadap diri sendiri.

Saya bisa memahami perasaan Anda, sungguh tidak nyaman rasanya apabila melayani di sebuah komunitas yang sarat dengan konflik. Dan tentunya  sangat melelahkan jika sudah berusaha menjadi penengah dan mendamaikan, tetapi konflik tetap ada.

Well, memang Tuhan menghendaki kita melayani sesama untuk menjadi saluran berkat dan memuliakan namaNya. Namun acapkali, motivasi setiap individu dalam melayani Tuhan bisa berbeda-beda sehingga dampak yang dihasilkan juga berbeda.

Nah,  ada berbagai jenis motivasi melayani di kegiatan gereja atau kegiatan sosial, antara lain :

Pertama, ada yang melayani agar bisa membagikan berkat dalam mengikut Tuhan. Ia tidak hanya rela berkorban, tapi juga menularkan semangat berbagi  kepada yang dilayani.

Kedua, ada yang melayani untuk mendapatkan aktualisasi diri. Mereka mencari apresiasi yang dulu tidak diperoleh pada masa kanak-kanak. Akibatnya adalah senang mencari popularitas di dalam pelayanan, selalu  ingin menjadi ketua atau berkuasa. Jika tidak dihargai maka akan cepat tersinggung dan marah.  Jika tidak mendapatkan apa yang diinginkan, jika tidak diberi kuasa untuk memimpin, maka ia cenderung sakit hati kemudian pindah gereja atau bikin kelompok sendiri.

Ketiga, ada pula yang giat melayani di gereja karena mau melarikan diri dari ketidakbahagiaan keluarga. Ia merasa tidak puas di rumah, lalu mencari kepuasan di luar rumah. Di rumah ia tidak dihargai oleh pasangan, kemudian merasa puas karena di gereja ia dihargai dan dihormati. Pelayanan seperti ini justru akan semakin merusak sistem keluarga.

Keempat,  ada yang diam-diam malah mencari keuntungan dari pelayanan atau memanfaatkan pelayanan. Giat melayani untuk mengejar persembahan,  bahkan pelayanan sosial dapat dijadikan wadah untuk  memperkaya diri.

Kelima, ada juga yang melayani karena ikut-ikutan saja. Ia melayani hanya dengan bermodalkan semangat, tetapi tidak mau bertumbuh dalam karakter, skill dan pengetahuan. Sehingga ia melayani Tuhan dengan tidak serius dan bersikap asal-asalan.

Oleh sebab itu, hal yang terpenting sebagai pelayan Tuhan adalah marilah kita mengevaluasi motivasi setiap kita dalam melayani Tuhan dan dampak yang dihasilkan dalam melayani !

Apakah pelayanan semakin memotivasi kita dalam merindukan dan mengenal Tuhan secara pribadi ketimbang berkat-berkatNya? Apakah ketika melayani Tuhan, semakin mendekatkan kita dengan keluarga serta membantu sistem keluarga kita menjadi lebih sehat dan berfungsi atau sebaliknya? Apakah pelayanan kita membantu kita berelasi baik dan bisa bekerja sama dengan sesama? Sehingga interaksi yang dibangun akan menghasilkan kehidupan yang harmonis dan memberkati sesama.

 Atau sebaliknya?

Apakah pelayanan kita menjauhkan kita dengan keluarga dan kesibukan membuat kita mengabaikan fungsi-fungsi dalam keluarga? Apakah pelayanan kita mendorong kita merasa lebih benar sehingga sulit bekerjasama dan essensi pelayanan terhadap sesama kerapkali terabaikan? Hal seperti ini cenderung menumbuhkan sifat mementingkan diri sendiri, memandang rendah yang lain sehingga menimbulkan konflik bahkan perpecahan dalam pelayanan.

Sesungguhnya, hakekat kita melayani Tuhan adalah  sebagai wujud ucapan syukur kepada Tuhan yang telah menebus dosa kita di kayu salib. Kita mempersembahkan hidup kita untuk menyenangkan hati Tuhan dan memperluas kerajaanNya di muka bumi, itulah ibadah yang sejati  (Roma 12:1).

Dalam melayani Tuhan, kalau ada yang harus kita lakukan adalah bukan bekerja keras untuk mendapatkan hasil yang kita inginkan atau menyenangkan orang lain, tapi bekerja keras untuk mencari isi hatiNya Tuhan dan melakukan kehendakNya (I Korintus 10:31).

Bahkan penilaian yang digunakan bukanlah berdasarkan penilaian manusia, tetap penilaian dari Tuhan. Tidak mencari hormat dan pujian manusia. Bukan berarti kalau kita tahu bahwa semua itu berasal dari Tuhan, maka sekarang kita tidak perlu bekerja dengan giat dan sungguh-sungguh. Pastikan bahwa kita melakukan apa yang Tuhan sukai sesuai standardNya, yaitu kita melakukan yang terbaik dengan hati yang tulus.

Prinsip berikutnya dalam melayani adalah pandanglah Tuhan Sang Empunya pelayanan itu, bukan  memandang manusia. Sadarilah bahwa sekalipun pemimpin rohani, mereka adalah manusia yang tidak sempurna. Apabila ada rekan pelayanan yang menyakiti hati kita atau membuat kecewa, jangan biarkan hal tersebut membuat kita mundur dalam melayani. Seringkali Tuhan mengijinkan keadaan ini terjadi untuk membangun karakter kita, seperti  hati yang mengampuni, kesabaran dan kerendahan hati.

Dan jangan lupa untuk terus mengasah karakter dan memperlengkapi skill sehingga kita semakin bertumbuh. Belajarlah dengan membaca buku, mengikuti seminar dan menerapkannya dalam kehidupan kita. Tuhan Yesus memberkati !


Leave a Reply