Conflict Resolution

  • 0

Conflict Resolution

Category : COUNSELING , MARRIAGE

Conflict

Kami sudah menikah selama 4 tahun.  Saya tidak tahan lagi dengan pernikahan kami yang selalu konflik. Saya melihat istri saya mudah tersinggung. Selain itu, kalau kami membahas apa saja, ujung-ujungnya ribut karena tidak ada kesepakatan. Saya merasa istri saya selalu menuntut saya. Istri sering bilang bahwa saya suami yang tidak pernah pengertian. Padahal  saya merasa sudah berusaha menjadi suami yang baik. Apa yang harus saya lakukan supaya pernikahan kami menjadi lebih baik. (Santo, 36 tahun)

Bapak Santo,

Terima kasih untuk pertanyaan Anda. Terima kasih juga untuk kejujuran Anda atas perasaan Anda terhadap diri sendiri.

Saya bisa memahami perasaan Anda, sungguh tidak nyaman rasanya apabila suasana di dalam rumah sarat dengan konflik. Dan tentunya  sangat melelahkan jika sudah berusaha menjadi suami yang baik, namun konflik masih terjadi.

Well, sesungguhnya konflik adalah hal yang biasa terjadi di mana-mana. Di dunia kerja, dunia pertemanan, pastinya di dunia rumah tangga juga. Pertanyaannya : jika biasa, kenapa berakibat fatal? Mengapa banyak pernikahan yang menjadi dingin setelah konflik?  Penyebabnya adalah karena tidak bisa mengatasi konflik !

Pernikahan yang sehat bukanlah pernikahan yang tidak pernah konflik, tetapi bisa mengatasi konflik dan setelah itu masing-masing  semakin mengenal dan mengasihi satu sama lain. Kemudian RELASI suami istri akan semakin bertumbuh.

Nah, bagaimana cara mengatasi konflik?

Untuk dapat mengatasi konflik, kita perlu mengenali dulu jenis dan penyebab konflik dalam rumahtangga.

Konflik sendiri artinya disagreement, ketidakcocokan, ketidaksetujuan dan ketidaksesuaian.

Konflik dapat digolongkan dalam dua jenis, yaitu :

  1. Irrational Conflict.

Konflik ini timbul karena ketidakdewasaan pasangan suami–istri dan masalah  kepribadian seperti : cepat tersinggung, over sensitive, selalu mengkritik, negative thinking atau cemburu yang kelewatan. Biasanya, pemicunya adalah hal-hal sepele.

Nah, konflik yang seperti ini seharusnya tidak perlu ada.

  1. Rational Conflict.

Adalah konflik yang timbul dari perbedaan pemahaman atau pendapat. Misalnya, perbedaan prinsip hidup, cara berpikir, cara pendang ataupun cara berespon.

Konflik jenis ini adalah konflik yang normal terjadi, karena dalam pernikahan adalah penyatuan dua pribadi yang berbeda. Tapi yang terpenting adalah jika konflik terjadi harus diselesaikan sampai tuntas dan cara berkomunikasi sangat menentukan bagaimana menyelesaikan konflik jenis ini. Konflik jangan  disimpan dalam hati karena akan menimbulkan hati yang pahit.

Mengapa bisa terjadi konflik?

Biasanya ada tiga hal yang tidak terpenuhi yang dapat menjadi pemicu konflik, yaitu :

  • Kebutuhan yang tidak tercapai, di mana suami ataupun istri masing-masing memiliki kebutuhan yang berbeda.
  • Tujuan yang tidak tercapai. Sebelum menikah, biasanya pasangan memiliki tujuan pribadi. Apabila masing-masing mempertahankan tujuannya sendiri di dalam rumahtangga, maka konflik yang besar sudah menanti. Nah, setelah menikah… tujuan pribadi harus perlahan-lahan harus menuju tujuan bersama ataupun tujuan keluarga.
  • Harapan yang tidak tercapai.

Ada dua macam harapan, yaitu harapan yang realistis dan harapan yang tidak realistis.

Apa saja harapan yang tidak realistis? Misalnya : mengharapkan pernikahan dapat menghilangkan kesepian atau mengubah pasangan menjadi manusia yang ideal.

Nah, setelah mengetahui apa yang sesungguhnya menjadi penyebab konflik dalam rumahtangga, apa yang harus kita lakukan untuk menyelesaikan konflik? Ada beberapa tips sebagai berikut :

  1. Pertama-tama, datanglah kepada Tuhan dan berdoa. Doa akan akan membuat hati kita menjadi tenang.
  2. Ambilah inisiatif untuk menyelesaikan konflik.

Apakah kita pihak yang dirugikan atau merugikan, Tuhan ingin kita berinisiatif menyelesaikan konflik.

Firman Tuhan menuliskan, sedapat-dapatnya bila hal itu bergantung kepadamu hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.

  1. Persiapkan waktu untuk berkomunikasi.

Berkomunikasilah  pada tempat dan waktu yang tepat, jangan di tengah-tengah kesibukan atau kelelahan yang sedang dialami oleh pasangan kita.

  1. Perhatikan perasaan pasangan.

Caranya adalah menjadi pendengar yang baik. Cobalah menghentikan aktivitas lain saat mendengarkan pasangan berbicara, kemudian perhatikan apa yang tersirat bukan apa yang tersurat, serta  belajarlah mengerti apa yang dimaksud atau diharapkan oleh pasangan kita.

  1. Bicaralah dengan lemah lembut, tidak meledak-ledak.

Sampaikan ungkapan, perasaan dan harapan secara asertif bukan provokatif.

Komunikasi yang  provokatif adalah komunikasi yang saling menyerang, menyalahkan bahkan menyudutkan. Contoh : “Mengapa kamu selalu tidak pernah punya waktu untuk saya?”  “Kamu memang tidak pernah berubah !” “Kamu selalu bicara kasar !”

Tetapi di dalam komunikasi asertif, kita menjelaskan tentang pikiran, perasaan, kebutuhan dan harapan dengan ekspresi yang tenang dan sabar serta menggunakan  pilihan kata yang tidak menyerang orang lain.  Perhatikanlah contoh berikut ini :

  • “Saya merasa bahwa kita membutuhkan waktu berdua lebih banyak lagi.”
  • “Saya melihat bahwa ada hal-hal yang perlu ditingkatkan untuk menjadi lebih baik.”
  • “Saya akan merasa nyaman apabila kamu bisa bicara lebih lembut.”

Nah, di sini kita bisa melihat perbedaan antara kedua jenis komunikasi tersebut. Materi dan tujuan pembicaraan yang sama dapat disampaikan dengan cara yang lebih baik.

  1. Mengakui bahwa kita juga memiliki andil dalam melakukan kesalahan.

Kita perlu menyadari bahwa kesalahan tidak dibuat hanya satu pihak. Apabila konflik terjadi, pasti ada bagian kita di dalamnya. Bersedialah mengakui dan minta maaf jika kita ada kesalahan. Bersedialah mengampuni jika ada perkataan pasangan yang mungkin menyakitkan.

Ingatlah bahwa pernikahan adalah perjuangan seumur hidup. Pernikahan juga sekolah seumur hidup, tempat kita belajar untuk saling mengenal dan mengerti. Lalu sama-sama bertumbuh.

Tuhan Yesus memberkati !


Leave a Reply