Technology ? Better Late than Early

  • 0

Technology ? Better Late than Early

Category : PARENTING


TeknologiBeberapa waktu terakhir ini ada artikel di media sosial yang cukup mengejutkan. Yaitu testimoni jurnalis New York Times Nick Bilton tentang Steve Jobs yang tidak mengizinkan anaknya menggunakan iPad sama sekali.

Ternyata,  anak-anak Steve Jobs, si pencipta produk canggih Apple, justru tidak diizinkan memakai produk-produk karya ayah mereka sendiri (saat itu ketiga anaknya sedang memasuki remaja).
Dan ternyata, bukan hanya dijauhkan dari iPhone dan iPad. Di rumah Steve Jobs,  segalanya serba low tech dan sederhana. Ketiga anak itu juga sama sekali tidak menonton televisi – kata Jobs, agar kreativitas mereka jangan terhambat. Akses internet juga sangat dibatasi.
Jobs menegaskan bahwa baginya interaksi tatap muka  bersama seluruh keluarga jauh lebih penting ketimbang menghabiskan waktu sendiri-sendiri di depan layar.
Yang lebih mengherankan lagi, Steve Jobs, juga dengan ketat mengawasi pemakaian gadget  anak-anaknya.  Ada apa ?

Semua pasti setuju bahwa  perkembangan teknologi semakin memudahkan akses masyarakat terhadap berbagai macam gadget.  Mulai dari smartphone, tablet, hingga video game, semuanya semakin mudah didapat. Gadget menjadi teman di kala sendiri, menjadi penghubung jarak yang berjauhan. Bahkan gadget dan berbagai peralatan handheld menjadi teman bagi seluruh keluarga.  Agar anak tidak rewel, tak jarang orangtua membolehkan anak-anak bermain dengan smartphone dan tablet mereka.

Namun, sedikit yang menyadari bahaya apa yang bisa mengintai jika anak-anak sudah diijinkan menggunakan gadget  sejak kecil.

Bayangkan,  anak yang belum berumur 2 tahun pun sudah bisa betah berjam-jam, asyik mengotak-atik berbagai fitur.

Tidak dipungkiri bahwa generasi baru saat ini, sejak dini sudah terpapar televisi, video games, tablet, dan smartphones.

Bahkan sebuah riset mendapati bahwa dalam sehari rata-rata anak sibuk dengan terpapar teknologi selama 8,5 jam sehari. Pada usia 20 tahun, rata-rata remaja telah menghabiskan waktu 20 ribu jam berselancara di internet.

Apa sebenarnya bahaya televisi, video games dan gadget bagi anak-anak ?

  1. Pertumbuhan otak yang terganggu

Antara umur 0 hingga 2 tahun,  ukuran otak anak-anak berkembang hingga tiga kali lipat ukuran aslinya. Perkembangan tesebut terus berlanjut hingga usia 21 tahun. Perkembangan awal otak dipengaruhi oleh rangsangan lingkungan.

Ketika anak-anak banyak menghabiskan hari-harinya dengan gadget, pertanyaannya adalah: kegiatan apa yang tidak dikerjakan? Mereka jadi jarang membaca buku, jarang bergaul tatap muka, dan mengabaikan kegiatan yang mengasah keterampilan berpikir dan ketrampilan sosial.

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk melihat perkembangan otak setelah terlalu banyak terpapar teknologi seperti  TV, smartphone, internet, dan iPad.  Hasilnya, ada bukti bahwa paparan teknologi mengakibatkan anak menjadi kurang konsentrasi, menghambat proses berpikir, menghalangi proses belajar, mengganggu perkembangan emosional , dan menurunkan kemampuan anak untuk menguasai diri.
Barbara Arrowsmith Young melihat adanya perbedaan antara anak-anak masa kini. Ia melihat bahwa banyak anak muda sekarang punya masalah dengan kemampuan berpikir dan sulit menyelesaikan tugas sampai tuntas. Perhatian mereka mudah terpecah, tak bisa berkonsentrasi sampai tugas selesai. Selain itu, anak-anak sekarang juga mengalami kesulitan dalam kemampuan sosial dan menjalin persahabatan, karena otak depan (prefrontal cortex) mereka kurang berkembang baik.

Jadi, jangan heran jika para remaja masa kini cenderung egois, suka cari enaknya sendiri, suka yang instan, dan sulit memahami sudut pandang orang lain.

Sebuah studi Dr. Akio Mori dari Tokyo’s Nihon University mendapati: makin panjang waktu yang anak habiskan bermain  games, makin tertekan perkembangan area-area otak yang mengatur pembelajaran, memori, emosi, dan penguasaan diri.

  1. Menimbulkan gangguan kejiwaan

Siapa bilang anak tidak bisa mengalami gangguan jiwa?

Orangtua sekarang sangat gampang mengijinkan anak-anak mereka bermain dengan gadget.  Penelitian di Amerika menunjukkan 60% orangtua tidak mengawasi anak-anak mereka ketika mereka bermain dengan gadget. Selain itu, 75% anak-anak usia 9 dan 10 tahun mengalami kesulitan tidur akibat terlalu banyak bermain dengan gadget. Kemudian, penggunaan teknologi yang berlebihan telah terbukti menjadi penyebab kenaikan angka depresi pada anak, kecemasan, kurang konsentrasi, autisme, bipolar, dan perilaku bermasalah lain.

Sebenarnya, perkembangan teknologi ini adalah “kesempatan raksasa”, ketika anak-anak kita bisa menjadi generasi tercerdas dalam sejarah umat manusia. Mereka punya kemampuan untuk bereaksi cepat untuk  menyaring sejumlah besar informasi, memiliki banyak informasi, lalu memutuskan secara cepat juga.

Namun, situasi selalu siaga karena kebanjiran informasi ini akan membuat otak mengalami stres. Sebab, otak memang tidak dirancang untuk terus-menerus tegang. Kalau sudah kelelahan, kemampuan berpikir menurun, gejala depresi muncul.

  1. Meningkatkan perilaku agresif

Banyak sekali  tontonan dan  games yang menampilkan perilaku kekerasan. Padahal, anak kecil mudah sekali meniru apa yang mereka lihat.  Konten games dan acara televisi yang penuh dengan kekerasan adalah sebagai salah satu penyebab perilaku agresif pada anak-anak.  Ada sebuah kota di Canada, di mana sejak teknologi masuk, terjadi peningkatan perilaku anak yang saling mendorong, menggigit bahkan memukul.

Studi longitudinal terhadap anak 8 tahun yang menonton kekerasan, pada usia remaja mereka lebih agresif dibandingkan dengan teman-teman sebayanya yang tidak menyaksikan kekerasan. Kemudian…. semakin agresif lagi  dan terlibat dalam masalah besar pada saat usia 30 tahun,  yaitu kekerasan dalam rumah tangga dan pelanggaran lalu lintas.

  1. Menimbulkan kecanduan

Perilaku memainkan gadget biasanya diturunkan dari orangtua ke anak-anak.  Anak-anak mencontoh orangtua mereka yang selalu sibuk dengan berbagai gadget dan teknologi. Orangtua pun akan semakin jauh dari anak-anak. Akibatnya, anak-anak kemudian meniru perilaku orangtua mereka dengan bermain gadget terus menerus, dan menimbulkan kecanduan. Saat ini, jutaan anak di dunia telah kecanduan gadget. Jika anak sudah kecanduan ….. tidaklah heran jika ia melalaikan tanggung jawabnya seperti belajar ataupun mengerjakan tugasnya. Jangankan anak-anak, orang dewasa pun jika sudah kecanduan gadget, bisa melupakan segalanya.

  1. Terpapar radiasi

Sudah bukan rahasia lagi bahwa telepon seluler dan berbagai teknologi nirkabel mengeluarkan radiasi yang berbahaya bagi kesehatan. WHO pada tahun 2011 bahkan mengkategorikan radiasi ponsel sebagai penyebab kanker. Anak-anak yang sering bermain ponsel, smartphone, dan tablet PC tentu semakin sering terpapar radiasi tersebut. Padahal, sistem kekebalan dan otak mereka sedang tumbuh. Tentu saja bahaya radiasi tersebut terhadap anak-anak lebih besar dibandingkan pada orang dewasa.
Well…. jika demikian, saat anak-anak berusia remaja ke bawah, prioritaskanlah interaksi tatap muka yang intim dalam keluarga, habit training, berkegiatan sebanyak-banyaknya di luar ruangan dan alam terbuka, baca buku-buku yang bagus.

Bagaimana dengan televisi, video games, internet, tablet, smartphone

Better late than early  !! 

Berikut pedoman penggunaan teknologi untuk anak-anak dan remaja yang dikembangkan oleh Cris Rowan, Dr. Andrew Doan,  Dr. Hilarie Cash, dengan kontribusi dari American  Academy of Pediatrics dan Canadian Pediatric Society yang berupaya untuk memastikan masa depan yang cerah bagi semua anak.

jADWAL mEDIA

(Sumber :  www.huffingtonpost.com & Komunitas Charlotte Mason Indonesia/Ellen Kristi)

 

 


Leave a Reply