A-A-D-C

  • 0

A-A-D-C

Category : FAMILY , MARRIAGE


ADA APA DENGAN CINTA ? Sepasang kekasih yang saling mencintai, memutuskan untuk segera mengakhiri masa lajang mereka. Mereka sudah tidak sabar untuk segera masuk ke dalam jenjang pernikahan.
Ketika ditanya apa yang melatarbelakangi mereka sehingga berani masuk ke jenjang pernikahan, si pria menjawab dengan tegas, “Akhirnya saya temukan juga belahan jiwa yang selama ini saya cari, bagi saya dia cinta pertama dan terakhir saya, semua kriteria wanita yang saya idam-idamkan ada dalam dirinya”, jawab si pria tadi dengan tatapan mesra ke arah pasangannya. Sedangkan si wanita dengan tidak kalah semangatnya menjawab, ”The Power of Love ! Ya !!! kekuatan cintalah yang mempersatukan kami !”
Dengan modal CINTA mereka berani mengarungi bahtera rumah tangga.

Seiring berjalannya waktu, pernikahan mereka mengalami ujian demi ujian, kehadiran anak-anak bukan lagi mempererat hubungan mereka, tetapi justru menjadi sumber pertengkaran. Kesibukan suami yang padat, dan segala macam problem keluarga membuat jurang pemisah di antara mereka.
Cinta yang selama ini mereka agung- agungkan menjadi mulai dingin, walaupun tidak bercerai dan masih hidup seatap, namun hubungan mereka sudah hambar. Tidak ada lagi kehangatan, kemesraan, keintiman seperti di awal-awal pacaran dan di awal-awal pernikahan dulu. Rumah tangga ini tetap bertahan semata-mata karena kasihan pada anak jika kelak kedua orang tuanya bercerai, dan apa kata dunia jika sepasang suami istri yang diberkati di gereja bercerai?.

Kemanakah gerangan “The Power of Love” yang waktu itu mereka kumandangkan?
Apakah mereka tidak mengerti makna KASIH yang sesungguhnya ???
Banyak orang dengan mudah mengatakan ‘cinta’, mengatakan ‘kasih’, mengatakan ‘sayang’, padahal mereka tidak menyelami apa makna sesungguhnya dari KASIH itu.

Mari kita lihat apakah makna kasih yang sesungguhnya …..

K A S I H yaitu :

K : KEPUTUSAN
Kasih adalah keputusan dan bukan perasaan.
Banyak orang berpikir bahwa kasih adalah suatu perasaan. Jika kasih itu adalah suatu perasaan, maka tidak akan bertahan lama..
Mengapa ? Karena perasaan setiap manusia selalu berubah setiap saat, setiap waktu. Perasaan mudah berubah-ubah tergantung kondisi yang ada.
Mungkin saat kita menikahi pasangan kita, kita memiliki rasa kagum dan rasa simpati, tetapi setelah menikah, semakin terlihat sifat aslinya. Baru terbuka kekurangan dan kelemahan pasangan kita, sehingga kekaguman yang kita miliki pada saat kita mengenal dia akan semakin berkurang. Dan semakin lama, kasih terhadapnya pun akan semakin pudar.

Tetapi akan berbeda jika kasih adalah sebuah KEPUTUSAN, apapun yang terjadi, apapun kondisinya kita tetap teguh berpegang pada apa yang telah kita putuskan.
Dan, apabila kita memutuskan untuk mengasihi pasangan kita, maka kasih itu akan terus berkembang dalam kehidupan pernikahan kita, bahkan semakin hari akan semakin bertambah.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.“
Yohanes 3:16, menunjukkan bahwa Kasih Yesus adalah sebuah keputusan, sekalipun manusia itu telah menganiaya dan menyalibkan-Nya, Tuhan Yesus tetap pegang keputusan-Nya untuk mengasihi manusia.

A : APA ADANYA
“Apa Adanya” berbeda jauh dengan “Ada Apanya”. Kasih yang ‘Apa Adanya’ mengandung arti ketulusan, tidak ada motivasi, atau ‘hidden agenda’.
Sebaliknya orang yang mendasari kasihnya dengan “Ada Apanya”, berarti mengasihi karena ada motivasi lain. Antara lain bisa karena uang, harta, penampilan, dll.
Kita sering dengar istilah Cewe/Cowo Matre, Ada uang abang sayang, tidak ada uang abang melayang.
Apabila “Ada Apanya”, yang mendasari kasih seseorang, maka kehidupan pernikahan akan selalu dipenuhi dengan tuntutan serta konflik karena keinginan manusia tidak pernah ada habisnya dan tidak pernah ada kata puas. Hal ini dapat merusak pernikahan.

Namun, kasih yang “Apa Adanya”, kasih yang mengandung ketulusan akan membawa pernikahan kita mengalami hal yang semakin indah.
“Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.” (Kidung Agung 8:7)

S : SETIA
“Setia” dan “Bukan sementara”. Cinta yang “mengebu-gebu” di awal hubungan, sama sekali tidak menjamin kelanggengan rumah tangga sampai akhir, terkadang hubungan itu berakhir dalam hitungan bulan setelah menikah.
Cinta yang menggebu itu berubah menjadi menjadi kebencian, saling menyakiti satu sama lain dan seringkali berakhir dengan perceraian.
Setiap pernikahan, pasti akan mengalami ‘ujian kesetiaan’, dan kasih yang sesungguhnya, akan tetap setia walaupun dalam kondisi apa pun juga.

Sebagai contoh :
Apakah kita tetap setia kepada pasangan kita ketika kesulitan datang menghadang ? Mungkin dalam hal ekonomi, sakit penyakit, dll.

Kita mungkin pernah mendengar kesaksian dari Dwi … seorang pilot yang tertimpa musibah kecelakaan. Kecelakaan tersebut mengakibatkan seluruh tubuhnya rusak parah karena terpanggang api. Tetapi sang istri tetap setia mendampingi, memberi semangat, bersama-sama melewati masa-masa sukar, sehingga Dwi … saat ini menjadi hamba Tuhan yang dipakai luar biasa, yang memberikan inspirasi bagi banyak orang. Hanya kasih memampukan kita bertahan untuk melewati masa sulit bersama-sama.

Setia juga berarti hanya ada ikatan kasih antara pasangan suami & istri, dan tidak ada tempat untuk orang ketiga.
Dan, di dalam pernikahan Kristen, kita harus mencoret kata “cerai” dalam rumah tangga kita. Kita harus setia kepada pasangan kita, yaitu mengasihi sampai pada akhirnya, sampai ajal menjemput.

“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Matius 19:6 )

I : ILAHI
Kasih bersifat Ilahi bukan duniawi. Kasih yang sejati bukan berasal dari dunia, kasih yang sejati itu berasal dari Allah. “Allah itu kasih…”

Dalam sebuah survey kasus perceraian ditemukan :
Dari 1.152 pasangan yang bercerai, hanya ada 1 pasangan yang masih berdoa bersama setiap hari sebelum bercerai. Artinya 99,9 % pasangan yang bercerai tidak pernah berdoa bersama. Sudah sepatutnya kita membangun relationship dengan “Sang Kasih Sejati’” itu.

Kasih manusia itu ada batasnya, tapi kasih Tuhan itu tak terbatas.
Jika kita memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan, maka kasih Ilahi akan memenuhi hati kita, dan kasih Ilahi itu yang akan memampukan kita mengasihi pasangan kita tanpa syarat, memampukan kita untuk memberikan kehangatan dan meresponi pasangan kita dengan baik.
Oleh karena, jangan abaikan mezbah keluarga !

“Nyanyian ziarah Salomo. Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.” (Mazmur 127 : 1
)

H : HUBUNGAN
Hubungan antara suami dan istri tidaklah terjadi secara otomatis. Kasih itu tercipta karena adanya hubungan yang baik, dan hal itu perlu dibangun.
Berlomba-lombalah menyatakan kasih setiap hari, sehingga hubungan pernikahan kita terasa indah.

Ada banyak cara membangun sebuah hubungan :

– Tanamkan dalam pikiran dan pandangan kita, bahwa pasangan kita sangat berharga, dan yang utama di atas orang tua, di atas anak, di atas sanak saudara, di atas bisnis dan pekerjaan, di atas bos, sahabat, hobi kita, di atas segalanya setelah Tuhan.
– Katakan sesering mungkin “I Love You”.
– Ungkapkan cinta melalui pelukan dan kejutan-kejutan atau hal terbaik apa pun yang dapat memenuhi kebutuhan pasangan kita.
– Tunjukan kasih sayang kita di depan umum, seperti menggandeng dan memeluk pasangan.
– Luangkan waktu untuk berkencan bersama pasangan kita seperti pada pacaran. Mungkin kita sudah jarang melakukan hal ini, dikarenakan kesibukan sehari-hari.
– Selalu menyediakan diri jika pasangan membutuhkan kita.

Mari milikilah kasih yang sejati dalam kehidupan pernikahan kita….

“Kasih yang sejati akan menjadi pondasi yang kuat bagi sebuah pernikahan untuk mencapai sebuah pernikahan yang sejati.”


Leave a Reply