Istri Korban KDRT

  • 0

Istri Korban KDRT

Category : COUNSELING , FAMILY


KDRT

Saya sudah menikah 3 tahun. Suami saya melakukan KDRT terhadap saya. Jika saya bertengkar hebat dengan dengan suami, dia suka memukul saya.  Lalu suami minta maaf dan katanya menyesal, tidak akan melakukannya lagi. Tetapi kejadian itu terjadi lagi, saya berulang-ulang dipukul. Sekarang, saya menjadi tidak tenang, karena takut dipukul oleh suami.

Apa yang harus saya lakukan untuk menghadapi suami saya? Bagaimana supaya suami bisa berubah? (Sintya, 34  tahun)

Ibu Sintya,

Terima kasih untuk pertanyaan Anda. Terima kasih juga untuk kejujuran Anda atas perasaan Anda terhadap diri sendiri.

Saya bisa memahami perasaan Anda, betapa tidak nyamannya hidup bersama dengan suami yang kerapkali menyakiti Anda, bahkan melakukan pemukulan.

KDRT adalah tindakan aniaya atau tindakan penyalahgunaan kekuatan fisik yang dilakukan oleh seseorang terhadap pasangannya.

Nah, bagi seorang korban pemukulan di dalam rumah tangga, alangkah baiknya tidak terlalu buru-buru untuk menyimpulkan bahwa dirinya mengalami tindakan KDRT. Apabila kekerasan terjadi hanya sesaat ataupun terjadi secara reflek (begitu saja muncul) ketika adanya sebuah masalah, bisa jadi hal ini hanya karena kekhilafan pasangan sesaat. Tetapi apabila kekerasan tersebut terjadi secara berulang dan sering, seperti yang Anda alami, maka bisa jadi ini merupakan indikasi tindakan KDRT.

Di dalam Maleakhi 2:16, tertulis : “Sebab aku membenci perceraian, firman Tuhan, Allah Israel – juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan…”  Jelas bahwa Tuhan membenci orang yang melakukan kekerasan terhadap sesamanya. Ironisnya, dalam KDRT justru kekerasan atau tindakan pemukulan itu terjadi kepada anggota keluarga.

Di Indonesia ada UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT). Jika pelaku KDRT dilaporkan pada yang pihak yang berwajib dan ditemukan bukti-bukti yang kuat, maka pelaku KDRT  dapat ditindak secara hukum.

Orang yang menjadi korban kekerasan, baik anak-anak maupun pasangan – akan bertumbuh dengan rasa takut berlebihan, stress bahkan depresi. Mereka akan merasa diteror terus-menerus dan senantiasa berjaga-jaga, seperti Anda yang mengalami ketakutan setiap hari. Jika intensitas kekerasan semakin bertambah dan mengakibatkan luka-luka, maka dapat membahayakan jiwa.

Nah, bagaimana upaya menghadapi suami yang melakukan KDRT ?

1. Mencegah.

Ada beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan untuk mencegah pemukulan. Salah satunya dengan mengenali dan mengatasi faktor pemicunya. Misalnya, jangan sampai membuat suami merasa kehilangan kendali, terutama dalam konflik. Dengan kata lain, ketika bertengkar janganlah menyerang, apalagi menantang suami. Kemudian, jangan membuat suami merasa dipermalukan. Kadangkala dalam kemarahan yang memuncak, istri mengeluarkan kata-kata yang memojokkan atau melecehkan suami. Selain itu, jangan membuat suami merasa terancam oleh kata-kata mengancam bahkan jangan mendorong suami. Dalam keadaan demikian, besar kemungkinan ia akan balas memukul.

2. Interospeksi Diri.

Kita harus dapat mengenali diri sendiri dan pasangan dengan baik, sehingga tahu kapan kita harus berhenti berkata-kata atau melakukan hal-hal yang semakin mengobarkan kemarahan. Misalnya, jika istri tahu suami mempunyai masalah dengan kemarahan, sebaiknya menghindar dari pertengkaran sampai amarah mereda. Sebaliknya, jika istri yang bermasalah dengan kemarahan, cobalah untuk jangan berbicara ketika hendak marah atau meledak. Jika ingin marah… cobalah pergi keluar selama satu atau dua jam, ambillah napas panjang, tenangkan diri, berdoalah minta kekuatan Tuhan, setelah tenang baru pulang.

Kemudian, ambil waktu yang pas untuk mengkomunikasikan masalah dengan tenang sehingga konflik dapat diselesaikan dengan baik.

3. Libatkan Pihak Luar.

Pada umumnya, korban tidak mau melibatkan pihak luar karena malu diketahui ada masalah di keluarganya. Atau biasanya pelaku mengancam korban untuk tutup mulut. Tetapi KHUSUS dalam KDRT, ini bukan tindakan yang tepat. Semakin ditutupi, masalah KDRT bisa semakin berkembang. Menutupi masalah kekerasan justru membuat pelaku KDRT merasa aman karena tahu istrinya tidak mungkin berani mengadu kepada orang lain. Sebaliknya, jika suami tahu bahwa orang luar sudah mengetahui masalah ini, ia akan berpikir dua kali sebelum memukul istrinya. Dengan kata lain, korban KDRT akan menerima bantuan dan dukungan yang dibutuhkan. Keterlibatan pihak luar akan menciptakan sistem pertanggungjawaban pada suami yang akan mengingatkan pelaku kekerasan untuk tidak berbuat seenaknya. Pihak luar yang dapat dilibatkan antara lain orangtua, anggota keluarga lain, atau komunitas rohani seperti CareCell atau gereja.

Bahkan jika ada kasus-kasus yang sangat parah, ada suami yang memang berani mengancam hendak membunuh istri atau sudah membahayakan nyawa anggota keluarga lainnya, hal ini harus melibatkan aparat keamanan. Laporlah kepada pihak berwajib agar dapat memberikan peringatan kepada suami atau meminta suami menandatangani surat perjanjian bahwa suami tidak akan memukul istri lagi. Bila dilanggar, maka pelaku dapat ditindak secara hukum.

4. Selesaikan Akar Masalahnya.

Kita harus menyelesaikan masalah yang menjadi akar ketidakharmonisan. Biasanya kekerasan dalam rumah tangga bukanlah satu-satunya masalah karena bisa jadi ada banyak masalah lain yang terlibat di dalamnya. Apakah ada tekanan ekonomi, masalah harga diri, masalah tentang anak, atau yang lainnya? Akar masalah perlu diselesaikan. Jika tanpa penyelesaian menyeluruh, kekerasan akan cenderung berulang.

Jangan menunda dan jangan berkata, “Masalah kami hanyalah pemukulan saja.” Carilah bantuan untuk Anda dan suami, mintalah pertolongan atau melakukan konseling keluarga.

Jika Anda membutuhkan bantuan, dapat menghubungi sekretariat gereja atau Hotline Center.

5. Jika ada perasaan sakit hati, marah atau benci yang mendalam terhadap suami, serahkanlah kepada Tuhan agar Anda memperoleh kemampuan untuk mengampuni suami. Sehingga hati Anda tidak dikuasai oleh kepahitan kepada suami.

Hal yang terpenting adalah senantiasa memelihara persekutuan pribadi dengan Tuhan agar hati kita terus-menerus dipenuhi kasih, kelemahlembutan dan damai sejahtera serta jangan jemu-jemu mendoakan pasangan kita. Tuhan Yesus memberkati !


Leave a Reply