Pelaku KDRT

  • 0

Pelaku KDRT

Category : COUNSELING , FAMILY

KDRT

Saya sudah menikah lebih dari 5 tahun. Saya mengalami masalah dalam keluarga. Ada sifat jelek yang sulit saya ubah. Kalau saya ribut dengan istri, berantem, lama-kelamaan kami jadi saling memaki. Semakin lama saya semakin emosi dan saya ga tahan kalau istri saya sudah menghina saya. Kemudian saya  ga bisa mengendalikan diri lagi dan saya memukul istri. Saya menyesal sekali karena sudah menyakiti istri, dan saya segera maaf kepada istri saya lalu berjanji untuk tidak melakukan lagi. Saya tahu bahwa itu salah, tapi kejadian ini berulang beberapa kali dan semakin sering.  Saya benar-benar ingin berubah.

Apa yang terjadi pada saya? Bagaimana saya bisa berubah? Saya tidak mau rumah tangga saya hancur karena sifat jelek saya ini!  (Handoko, 34  tahun)

 
JAWAB :

Bpk Handoko,

Terima kasih untuk pertanyaan Anda. Terima kasih juga untuk kejujuran Anda atas perasaan Anda terhadap diri sendiri.

Saya sangat menghargai kerinduan Anda untuk berubah. Saya juga bisa memahami perasaan Anda, di mana hal tersebut merupakan suatu pergumulan yang belum juga membuahkan hasil. Nah, apa yang Anda lakukan adalah  termasuk dalam kekerasan fisik dalam rumah tangga (KDRT).

KDRT adalah tindakan aniaya atau tindakan penyalahgunaan kekuatan fisik yang dilakukan oleh seseorang terhadap pasangannya. Saya sangat mengerti bahwa Anda sesungguhnya tidak ingin ini terjadi. Saya pun percaya bahwa Anda menyesali perbuatan Anda. Namun, biar bagaimana pun, tindakan KDRT sangat tidak dibenarkan!

Di dalam Maleakhi 2:16, tertulis : “Sebab aku membenci perceraian, firman Tuhan, Allah Israel – juga orang yang menutupi pakaiannya dengan kekerasan...”  Jelas bahwa Tuhan membenci orang yang melakukan kekerasan terhadap sesamanya. Ironisnya, dalam KDRT justru kekerasan atau tindakan pemukulan itu terjadi kepada anggota keluarga.

Di Indonesia ada UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT). Jika pelaku KDRT dilaporkan pada yang pihak yang berwajib dan ditemukan bukti-bukti yang kuat, maka pelaku KDRT  dapat ditindak secara hukum.

Mengapa bisa terjadi KDRT? Ada beberapa karakteristik pelaku KDRT, sebagai berikut :

1. Tipe Penyalur

Biasanya tipe ini dibesarkan dalam rumah tangga yang penuh dengan kekerasan juga. Besar kemungkinan ia melihat papa memukul dan mencaci mamanya dengan kasar. Ia juga seringkali menjadi korban kekerasan orangtuanya. Pada akhirnya ia bertumbuh menjadi pribadi yang mudah tegang dan marah. Sesungguhnya menyimpan amarah yang sangat besar terhadap orangtuanya, kemudian ia menyalurkan kemarahan yang diterimanya pada masa kecil (dari orangtuanya dulu) kepada orang di sekelilingnya. Ia tidak bisa mengelola kemarahan secara sehat.

2. Tipe Pengendali

Tipe ini melihat istri sebagai obyek yang harus dikuasai dan ditundukkannya. Biasanya orang seperti ini dibesarkan dalam masyarakat yang punya prinsip bahwa suami harus mengendalikan istri. Ada juga orang menjadi tipe ini akibat pengalaman masa lalunya. Mungkin ia sering melihat mamanya yang tidak menghormati dan bahkan melecehkan papanya. Ia pun berjanji, jika sudah menikah, ia tidak akan membiarkan istri merendahkannya. Tipe ini peka terhadap bantahan, jika istri berani membantah maka akan segera membalas dengan kekerasan

3. Terancam

Pada awalnya, pasangan ini mungkin hidup serasi. Namun semakin sering bertengkar. Misalnya disebabkan karir istri menanjak, sementara karir suami semakin menurun. Akibatnya suami merasa tersisih oleh istri. Ada perasaan terkalahkan. Akhirnya suami hidup dalam kecemasan, merasa tidak aman dan melihat istri sebagai ancaman. Sehingga saat konflik dan ketegangan, ia memukul sebagai upaya untuk mempertahankan posisi dan supaya tidak kehilangan muka.

4. Terdesak dan terpojok

Tipe ini adalah jenis yang paling umum terjadi. Kebanyakan pria tergoda untuk memakai kekerasan untuk meluapkan frustasi dan kemarahannya.

Konflik yang sering terjadi dan istri yang tidak mau mengalah berpotensi besar menimbulkan stress berkepanjangan dan membuat suami menjadi frustasi. Apalagi kalau di dalam pertengkaran istri menantang dan berkata, “Kalau berani, pukul saya!” Maka besar kemungkinan suami akan memukulnya. Biasanya, pada saat pertama kali memukul, respon istri adalah kaget diam dan tidak memberi perlawanan lagi. Suami juga kaget dan merasa bersalah. Tapi, ada satu hal lain lagi yang terjadi, yaitu suami menemukan sebuah ‘solusi’ baru untuk membungkam istri, yaitu dengan kekerasan. Akibatnya, kejadian ini akan terulang lagi di kemudian hari.

Nah, dari masalah yang Anda hadapi, saya percaya pada dasarnya Anda menginginkan hidup yang tenteram, namun ledakan emosi yang tak terkendali itulah yang membuat Anda memukul.

Jadi, sebenarnya Anda memiliki masalah emosi yang perlu dipulihkan.

Bagaimana cara mengatasinya ?

1. Milikilah komitmen yang kuat untuk melakukan perubahan hidup. Tanpa tekad yang sungguh-sungguh maka akan sulit, karena tanpa disadari KDRT sudah menjadi pola dan kebiasaan untuk menyelesaikan konflik.

2. Menyadari termasuk tipe manakah Anda, apakah tipe Penyalur, Pengendali, Terancam atau Terdesak? Dengan menyadarinya, maka Anda dapat menyelesaikan akar masalahnya dan mengalami pemulihan. Tanpa penyelesaian menyeluruh, kekerasan akan cenderung berulang.

3. Interospeksi diri dengan menanyakan sesungguhnya apa yang Anda butuhkan. Sebagai contoh : saya memukul istri karena sesungguhnya dalam hati ingin berkata ‘Hormati saya!” Atau merasa harga diri terancam.

4. Kenali pemicu yang dapat membuat amarah menjadi tak terkendali. Mungkinkah Anda sedang stress karena masalah ekonomi atau pekerjaan? Kondisi seperti ini dapat membuat Anda semakin tertekan.

5. Belajar untuk mengelola kemarahan. Jika ingin marah… cobalah pergi keluar selama satu atau dua jam, ambillah napas panjang, tenangkan diri, berdoalah minta kekuatan Tuhan, setelah tenang baru pulang.

6. Bersandar pada kuasa Roh Kudus dan memiliki persekutuan yang erat denganNya. Jika kita tidak dikuasai oleh Roh Kudus, maka kita akan dikuasai oleh diri sendiri (Galatia 5:16)

Jika Anda membutuhkan bantuan, jangan malu untuk pertolongan hamba Tuhan atau konselor.

Jangan biarkan emosi menghancurkan seluruh hidup yang telah Tuhan anugerahkan. Sayangilah pemberianNya-istri dan anak-anak-dan takutlah kepadaNya! Tuhan Yesus memberkati!


Leave a Reply