Raising Kids God’s Way – 4

  • 0

Raising Kids God’s Way – 4

Tags :

Category : PARENTING

ORANG TUA BIJAK

Sebagai orang tua kita telah mengetahui mengapa kita harus mendidik anak, mempelajari pola-pola pengasuhan yang sangat berpengaruh pada anak, kemudian kita belajar untuk melakukan 10 hal agar dapat menjadi orang tua bijak.
Kita telah membahas 5 hal untuk menjadi orang tua bijak, dan berikut ini kita akan membahas masalah otoritas dan pengajaran.

Langkah-langkah berikutnya yang harus kita lakukan sebagai orang tua adalah :

6. Menjadi orang tua yang memiliki otoritas ( Roma 13 : 1 ).Sebagai orang tua kita harus menyadari bahwa kita memiliki otoritas yang berasal dari Allah.
Oleh karena itu orang tua harus memakai otoritas dari Tuhan untuk mengajar dan mendidik anak.

Tuhan telah memberikan otoritas kepada orang tua, artinya Tuhan ingin agar orang tua menjalankan bentuk kepemimpinan yang dibutuhkan, bukan diinginkan oleh anak-anak.
Pemberian otoritas kepada orang tua di dalam keluarga tidak dimaksudkan oleh Tuhan agar orang tua memimpin anak-anaknya dengan bengis, sikap keras atau tidak adil. Bukan pula agar orang tua bersikap acuh tak acuh, ceroboh ataupun serba membolehkan.

Anak-anak perlu dipimpin oleh orang tua karena mereka tidak mampu membedakan apa yang baik atau yang terbaik bagi dirinya. Dan anak memiliki sifat dosa yang egois dan mementingkan dirinya sendiri.

Marilah kita melihat grafik berikut ini :

Grafik OTORITAS vs HUBUNGAN

Ketika anak masih kecil, didiklah anak anda dengan pengaruh otoritas, ketika anak mulai dewasa, didiklah anak dengan pengaruh hubungan.

Saat anak masih kecil, orang tua harus memimpin anaknya dengan otoritas, karena :

a. Anak belum memiliki self control / pengendalian diri, sehingga kita harus mengontrol kehidupannya.
Contoh : anak tidak tahu kapan waktu makan, minum , tidur , dsb.
b. Hati nurani anak belum berfungsi, sehingga anak belum mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.
Contoh : seorang anak berusia 2 tahun mungkin menginginkan es krim untuk makan pagi, tetapi ia tidak punya pengetahuan mengenai nutrisi sehingga ia tidak tau bahwa es krim tidak baik untuk menggantikan makanan utama.
c. Anak belajar terlebih dahulu bagaimana bertindak secara benar, baru berpikir secara benar.

Contoh :

Orang tua mengajarkan kepada anak-anak bahwa ke gereja duduk yang sopan, baik untuk memuji dan menyembah Tuhan, bukan berlari-larian. Mungkin saat itu anak belum bisa mengerti alasannya ( usia 1-2 tahun ).
Selama belum bisa mengerti mengenai pengajaran, kita memberikan instruksi & mengontrol anak untuk duduk dengan baik di gereja.
Ketika anak bertumbuh semakin besar ( usia 4-5 tahun ), kontrol orang tua berkurang, tetapi orang tua mulai memberikan pengajaran, sehingga anak-anak akan memperoleh pengertian.
Kita mengajarkan bahwa kita ke gereja untuk memuji dan menyembah Tuhan karena Tuhan layak dipuji dan ditinggikan.

Semakin besar usia anak, kontrol orang tua semakin berkurang, dan orang tua semakin banyak memberikan pengajaran.

Jika orang tua tidak menggunakan kekuatan otoritasnya sejak dini dan sangat longgar dalam aturan dengan alasan mengasihi anak, orang tua akan menjadi orang tua yang permisif. Akibatnya anak bertumbuh menjadi pribadi yang tidak dapat dikontrol oleh orang tua.
Tetapi ketika anak mulai besar, ia sudah bertumbuh dalam tanggung jawab, orang tua mulai melonggarkan kepemimpinannya melalui otoritas dan harus mengembangkan kepemimpinan melalui hubungan.
Jika orang tua gagal melihat pentingnya perubahan cara kepemimpinan tersebut, orang tua dapat menjadi orang tua yang otoriter.

7. Menjadi orang tua yang memberikan pengajaran ( Ulangan 6 : 6-7 ).

Prinsip dalam mengajar anak-anak kita :

a. Apa yang diajarkan ?
Hal-hal yang perlu diajarkan kepada anak kita adalah :
– Tuhan.
– Firman Tuhan.
– Karakter.
– Prinsip Hidup.
– Nilai dalam keluarga & kehidupan.
– Manners / Etika

Kita harus mengetahui dengan jelas nilai apa yang kita tanam dalam keluarga.
Karena kita tahu betapa pentingnya apa yang harus diajarkan kepada anak, maka pengajaran ini tidak bisa diserahkan kepada orang lain, pembantu, baby sitter, dll…
Tidak ada yang bisa menjamin apa yang akan mereka ajarkan.

b. Dalam keadaan non konflik.

Artinya, seringkali ketika anak sudah melakukan kesalahan, kita memarahi anak, terjadi konflik dan kita berusaha mengajarkan apa yang benar dan apa yang salah.
Pada saat seperti ini ( saat konflik ), justru semua yang kita katakan dan kita ajarkan pada anak tidak akan ditangkap oleh anak.
Seharusnya … waktu yang terbaik untuk kita menanamkan nilai-nilai pengajaran adalah pada saat tenang.
Namun, biasanya dalam keadaan tenang, orang tua sering lupa. Sehingga jika kesalahan muncul akan terjadi konflik berikutnya.

Kapankah waktu yang baik yang dapat kita gunakan untuk mengajarkan anak ?

Di dalam Ulangan 6 : 6-7 menuliskan :

“ Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,
haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”

Jadi pada setiap saat dan setiap kesempatan … itulah waktu yang terbaik untuk mengajar anak-anak kita.

SETIAP SAAT / MENGGUNAKAN KESEMPATAN YANG ADA

• Pada saat kita memandikan anak kita, kita bisa menanamkan kepada anak kita bahwa ‘ Yesus membersihkan hidup ktia dari dosa-dosa sehingga putih seperti salju’.
• Pada saat kita menyiapkan roti untuk anak kita, kita bisa menanamkan kepada anak kita bahwa ‘manusia hidup bukan hanya dari roti saja, tetapi dari Firman Tuhan yang hidup’.
• Pada saat kita menyisir rambut anak kita, kita bisa mengajarkan bahwa ‘sehelai rambut pun jika Tuhan tidak ijinkan tidak akan jatuh’. Menanamkan betapa Tuhan sangat memperhatikan hidup kita.

SAAT MAKAN

Banyak keluarga yang mengabaikan acara makan bersama. Masing-masing sibuk dengan urusan masing-masing dan makan pun masing-masing.
Padahal … acara makan bersama adalah kesempatan yang baik untuk berbagi antara anggota keluarga dan menanamkan nilai-nilai kepada anak-anak.

SAAT BEPERGIAN / DI KENDARAAN

Mari kita renungkan … sebagai orang tua, apa yang sering kita lakukan pada saat bersama-sama di kendaraan ? Ada yang sibuk dengan handphone, sibuk dengan pikiran masing-masing, sibuk melihat pemandangan di luar.
Di dalam kedaraan adalah kesempatan yang baik di mana orang tua dan anak memiliki waktu yang cukup lama untuk saling berkomunikasi.

SAAT MENJELANG TIDUR

Waktu menjelang tidur dapat digunakan untuk menceritakan kepada anak-anak nilai-nilai kehidupan melalui buku cerita Alkitab, untuk evaluasi apa yang terjadi pada hari itu dan berdoa bersama-sama.

SAAT BANGUN PAGI

Apakah kita sebagai orang tua telah memprioritaskan Mesbah Keluarga di pagi hari ?
Sebelum melakukan aktivitas masing-masing, setiap anggota keluarga akan mendapatkan kekuatan dengan mendapatkan siraman rohani di pagi hari melalui Mesbah Keluarga.
Jangan kita abaikan hal ini.

c. Berulang-ulang.

“ Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,
haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”
( Ulangan 6 : 6-7 )
Firman Tuhan menuliskan ‘berulang-ulang’ …. mengapa ?
Karena mendidik anak bukanlah suatu pekerjaan yang instan. Hasilnya tidak dapat diperoleh dengan seketika.

Seringkali terjadi jika anak sudah diajar berkali-kalli, tetapi tetap melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang.
Apabila hal ini terjadi, sebagai orang tua jangan merasa lelah dan jangan lupa, karena selama masih ada kesempatan, ajarlah anak kita dengan berulang-ulang.
Karena hal inilah betapa pentingnya orang tua mendampingi anak, terlibat dengan anak agar mengetahui perkembangan anak.

Apakah seorang pembantu atau baby sitter dapat mengemban tugas penting seperti ini ?

 


Leave a Reply