5 Mistakes Parents Make with Kids

  • 0

5 Mistakes Parents Make with Kids

Tags :

Category : PARENTING

Parents' Mistakes

Tahun Baru biasanya identik dengan resolusi. Yaitu memperbaiki hidup untuk menjadi “lebih baik” dan juga memulai komitmen baru.  Umumnya kita melakukan resolusi dalam kehidupan pribadi, pekerjaan ataupun kehidupan keluarga.

Nah, sebagai orangtua alangkah baiknya kita juga membuat resolusi di tahun yang baru ini.

Untuk mewujudnyatakan resolusi, biasanya kita akan menyusun serangkaian target untuk kita penuhi di tahun yang baru.

Tetapi resolusi kali ini, biarlah kita memperbaiki kesalahan-kesalahan yang tanpa sadar sering dilakukan orangtua, namun sangat berdampak pada tumbuh kembang anak.

Well, kita bukanlah orangtua yang sempurna yang tidak pernah melakukan kesalahan, tapi kita bisa belajar untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama ataupun mengulangi kesalahan yang sering dilakukan oleh orangtua pada umumnya.

Berikut ini ada 5 kesalahan orangtua yang perlu disadari dan jangan diulangi :

Membeda-bedakan anak satu dengan lainnya (favoritism).

Terkadang kita tidak menyadari kesalahan itu karena beranggapan sudah mengasihi anak sama rata, padahal sebenarnya tidak. Jika kita merenungkan dengan sadar, ternyata kita lebih sayang kepada anak yang baik-baik dan tidak menyusahkan kita.

Kemudian, kalau marah, kita akan berkata, “Mengapa kamu tidak bisa taat seperti adik/kakakmu?”

Menjadi anak yang dibedakan dengan adik atau kakaknya itu sungguh tidak menyenangkan. Anak akan bertumbuh dengan perasaan tertolak, tidak dikehendaki dan tidak berdaya. Sebagai anak, tentunya ia tidak menginginkan keadaan itu.

Jika kita memelihara cara mendidik anak seperti itu, maka anak akan bertumbuh menjadi anak yang rendah diri.

Membanding-bandingkan situasi anak sekarang dengan keadaan kita pada waktu seusia dengan mereka (veteranism).

Pada umumnya kita menganggap anak-anak kita lebih beruntung dibandingkan kita dahulu. Jika anak terus-menerus mendengar kalimat “Kamu sekarang lebih enak tidak seperti papa/mama dulu.”

Maka anak akan menyesali jaman yang dihidupinya ini. Anak yang demikian juga cenderung merasa tertolak karena tidak berdaya menghadapi jaman mereka sekarang.

Cara mendidik seperti ini juga akan menimbulkan  perasaan rendah diri si anak.

Menganggap anak sebagai sumber investasi dan sumber kebanggaan orangtua.

Hal itu sebenarnya tidak salah, tetapi akan merusak jika kemudian ternyata anak sulit memenuhi keinginan orangtuanya dan tidak seperti yang diharapkan.

Misalnya, si ayah yang sudah mengeluarkan banyak biaya untuk anaknya, tanpa sadar ayah akan sering marah-marah menyalahkan anaknya.

Jika demikian, lagi-lagi perasaan tidak berdaya karena sudah mengecewakan orangtua dan berbagai perasaan negatif lainnya akan membuat anak tumbuh dengan harga diri yang rendah.

Membiarkan anak tumbuh begitu saja (tanpa pengarahan dan teladan).

Kita seharusnya menjadi guru pertama bagi anak-anak kita. Ketidakhadiran kita bagi anak-anak akan membuat mereka bingung ketika menghadapi banyak pertanyaan yang muncul dalam pikirannya (berkaitan dengan hal-hal yang ada di sekitarnya).

Anak-anak memerlukan teladan yang baik sehingga mereka tahu bagaimana harus bersikap pada keadaan tertentu. Itulah yang membuat kepercayaan diri mereka tumbuh, memiliki karakter yang baik, tidak pemalu dan bertanggung jawab.

Oleh karena itu, anak-anak  membutuhkan pendampingan orangtua.

Memperlihatkan ketidakharmonisan dan percekcokan.

Jika orangtuanya sering konflik, anak-anak akan tumbuh dengan perasaan tidak aman dan waswas.

Anak akan memiliki pertanyaan : “Apakah aku penyebab konflik mereka? Apakah salah saya? Apakah papa dan mama akan bercerai? Di mana saya tinggal jika mereka berpisah?” Mungkin itulah pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam pikiran anak.

Kenangan dan memori buruk akan pertengkaran orangtuanya akan terekam dalam ingatan anak, akan berdampak pada mental dan emosi anak. Anak dapat mengalami trauma, bertumbuh dengan perasaan tidak aman, penakut, suka menyalahkan diri sendiri, dan sakit hati.

Well….para orangtua, sadarilah bahwa Tuhan memberkati kita di dalam dan melalui keluarga. Jabatan kita sebagai ayah/ibu dan suami/istri sangat istimewa dan tidak tergantikan.

Oleh sebab itu, selama kita hidup, keluarga wajib dirawat dengan memberikan kasih, waktu, dan tenaga kita.

Marilah kita memiliki komitmen yang baru di tahun baru ini !!

(Sumber : Merekayasa Lingkungan Anak – JS)


Leave a Reply