Anakku Korban BULLYING

  • 0

Anakku Korban BULLYING

Anak kami berusia 13 tahun. Baru sebulan lalu pindah sekolah. Alasan kami memindahkan karena anak kami menjadi korban bullying di sekolah yang lama. Sempat beberapa bulan dia menolak untuk pergi sekolah, memaksa minta diantar ke sekolah padahal biasanya menggunakan fasilitas antar jemput. Dia semakin pendiam dan murung, bahkan sering mengalami mimpi buruk. Jika kami tanya penyebabnya, dia tidak mau menceritakan kejadian yang menimpanya. Kami baru mengetahui bahwa dia menjadi korban bullying dari temannya yang melapor. Karena kami khawatir anak kami menjadi trauma dan depresi, kami pun memindahkannya ke sekolah baru supaya menemukan lingkungan baru. Meski demikian, sebagai orangtua kami tetap khawatir, apakah anak kami akan mengalami hal yang sama di sekolah yang baru? Apa yang harus kami lakukan apabila anak kami di-bully oleh teman-temannya? Apakah ada tindakan pencegahan bullying? (Trisna, 40 tahun)

Jawab :

Ibu Trisna, saya bisa memahami perasaan Anda yang prihatin dengan anak Anda karena mengalami bullying di sekolah lama, dan khawatir akan mengalami kejadian serupa di sekolah yang baru. Memang saat ini tindakan dan perilaku bullying kian marak terjadi, dan cukup menyedihkan karena terjadi di institusi pendidikan formal seperti sekolah. Berdasarkan penelitian lembaga riset Family First Aid di Amerika Serikat, setidaknya 30% remaja di sana pernah terlibat dalam bullying di sekolah– entah sebagai korban atau pelaku. Di Indonesia sendiri, jumlah bullying di sekolah atau kampus bertambah setiap tahunnya.

Bullying sendiri berdampak cukup signifikan terhadap perkembangan anak, terutama dampak yang negatif. Mereka yang menjadi korban bullying, tidak hanya mengalami dampak fisik, tetapi juga  berpotensi luka batin dan trauma, kepercayaan diri yang rendah, dan banyak masalah lain yang ditimbulkan akibat perilaku bullying. Bahkan dalam kasus-kasus ekstrim, pengaruh fisik bisa berakibat kematian maupun dampak emosional yang bisa mengakibatkan korban mencoba bunuh diri (bullycide).

Bullying bisa diartikan penggunaan kekuasaan atau kekuatan untuk menyakiti dan bisa terjadi di dalam sebuah kelompok. Kita perlu memerhatikan, tindakan bullying selalu mengandung 3 elemen sebagai berikut: Pertama, tindakan menyakiti yang dilakukan bukanlah suatu kebetulan, tetapi disengaja. Kedua, aksi yang dilakukan biasanya diulangi. Bullying tidaklah sama dengan occasional conflict atau pertengkaran biasa yang umum terjadi pada anak. Konflik pada anak itu normal dan membuat anak belajar cara bernegosiasi serta bersepakat satu sama lain. Sedangkan bullying merujuk pada tindakan yang bertujuan menyakiti dan dilakukan secara berulang. Ketiga, umumnya dilakukan terhadap seseorang atau kelompok yang lebih “lemah” oleh seseorang atau sekelompok orang yang mempersepsikan dirinya lebih “kuat”.

Bullying bisa dilakukan dengan bentuk-bentuk  sebagai berikut:

  1. Bullying fisik: Paling sering di lakukan, misalnya dengan cara memukul, menendang, membanting, mencekik dan aktivitas fisik lainnya yang menimbulkan rasa sakit. Termasuk merusak peralatan atau baju anak lain, memalak atau mengompas.
  2. Bullying verbal: Kata-kata atau ucapan yang ditujukan untuk menyakiti perasaan, memaki, memfitnah, menyebarkan desas-desus, mempermalukan atau membuat korbannya tak berdaya. Seperti mengejek, membuat julukan negatif atau menyebarkan gosip yang menghancurkan reputasi korban.
  3. Bullying emosional: Mengancam, meneror, mengucilkan, mendeskriminasi atau melakukan intimidasi pada korbannya. Sehingga korban merasa tertekan, kesepian dan terisolasi.
  4. Cyber bullying: Dilakukan lewat media internet atau teknologi digital. Misalnya, mengirimkan teks, chatting atau gambar lewat sosmed yang berisi pesan-pesan menyinggung perasaan atau bertujuan agar korban merasa malu dan tidak lagi ada tempat yang aman untuknya.

Orangtua perlu mengenali tanda atau gejala seorang anak yang mungkin mengalami tindakan bullying agar bisa segera memperhatikan secara serius. Karena biasanya korban justru tidak mau dan takut untuk melapor bahwa ia telah di-bully, seperti yang terjadi dengan anak Anda. Itu artinya sebagai orangtua, kita perlu waspada terhadap berbagai tanda atau gejala yang diperlihatkan anak kita yang perlu kita telusuri lebih jauh.

Perubahan-perubahan perilaku dalam diri anak korban bullying!

  • Tidak bisa menjelaskan tanda-tanda kekerasan fisik seperti luka, memar, cakaran atau tidak bisa menjelaskan kehilangan alat-alat sekolah, baju, bekal makan siang atau uang.
  • Kecemasan yang berlebihan dan selalu merasa takut.
  • Takut ditinggal sendirian, tidak mau pergi ke sekolah, takut naik bis sekolah, ingin orangtua ada di saat sekolah bubar, tiba-tiba menjadi lengket terus dengan orangtua.
  • Tetiba cemberut, pendiam, suka mengelak, sering berkata tentang rasa kesepian.
  • Mengalami keluhan fisik, sakit kepala, sakit perut.
  • Mengalami sulit tidur, mimpi buruk, menangis sendiri di waktu tidur.
  • Menghindari toilet di sekolah dan menahan sampai tiba di rumah untuk pergi ke kamar mandi.
  • Mengalami penurunan nilai secara tiba-tiba dan signifikan, sulit fokus dan berkonsentrasi.
  • Meningkatnya kemarahan. Sesungguhnya kemarahan yang timbul bisa disebabkan karena marah terhadap diri sendiri, terhadap pelaku bullying, orang-orang di sekitarnya atau orang dewasa yang tidak bisa atau tidak mau menolongnya.
  • Mulai melakukan tindakan bullying terhadap saudara kandung atau anak-anak yang lebih kecil.

Menurut penelitian dan pengamatan, ada beberapa karakteristik target bullying:

  • Anak dengan “Self-Esteem” atau harga diri yang baik biasanya bisa menghindari diri dari target bullying. Dengan kata lain, anak-anak yang tidak percaya diri akan cenderung menjadi korban bullying.
  • Anak yang tidak punya teman cenderung menjadi sasaran bullying. Jadi, anak dengan banyak teman akan sangat menolong atau setidaknya bisa mengurangi kemungkinan menjadi sasaran bullying.
  • Anak yang cenderung lebih kecil atau terlihat lemah daripada teman sebayanya. Dengan kata lain, ukuran badan lebih besar, terutama di antara anak laki-laki, cenderung mendominasi teman sebaya yang berbadan lebih kecil. Selain itu, bisa dikaitkan juga dengan kecenderungan siswa atau mahasiswa senior terhadap siswa/mahasiswa junior.

Pencegahan memperkecil kemungkinan anak menjadi korban bullying:

  1. Pupuk kedekatan hubungan agar anak mau terbuka dan mengomunikasikan apa yang terjadi pada orangtua, guru atau orang dewasa lain yang bisa dipercaya untuk membantu anak.
  2. Orangtua perlu membantu anak dan remaja menumbuhkan Self-Esteem (harga diri) yang baik. Anak yang dengan harga diri yang baik akan bersikap dan berpikir positif, menghargai diri sendiri dan orang lain, percaya diri, optimis, dan berani menyatakan haknya. Penelitian menemukan bahwa mempersenjatai anak dengan kepercayaan diri adalah salah satu bentuk perlindungan terbaik melawan pelaku bully. Misalnya mempelajari seni bela diri, mendorongnya melakukan hobi, minat, olahraga atau bakat yang dia senangi, serta memberinya kesempatan memecahkan masalah dan berbicara untuk dirinya sendiri.
  3. Mendorong anak agar punya banyak teman dan bergabung dengan group berkegiatan positif. Temukan teman yang bersifat mendukung. Bahkan meski hanya satu teman untuk sharing, ia lebih bisa mengatasi bullying ketimbang menyendiri. Katakan pada anak bahwa lebih aman jika ia ada dalam kelompok. Ajarkan anak untuk menghindari tempat-tempat pelaku bullying mencari mangsa, terutama tempat sepi dan tanpa pengawasan seperti gang, ruangan bawah tangga, lapangan parkir, taman/pekarangan sekolah, toilet,
  4. Kembangkan ketrampilan menghadapi bullying, baik anak sebagai sasaran atau sebagai saksi, dan bagaimana ia mencari bantuan jika mendapat perlakuan bullyingPertama, ajarkan anak jangan bersikap seperti korban, karena pelaku akan merasa menang dan senang sehingga akan sering mengulangi taktik jahatnya. Kedua, jangan biarkan pelaku merasa “berhasil” melakukan bullying. Anak perlu belajar mengusahakan tetap tenang dan tidak terganggu. Tekankan pada anak untuk jangan pernah menangis, merengek-rengek, menghina atau mengancam pelaku yang justru akan membuat pelaku meningkatkan tindakannya. Ketiga, tekankan pada anak bahwa dia harus berdiri tegak, menegakkan kepala dan bahu untuk memperlihatkan sikap percaya diri dan tidak rapuh. Latih anak untuk berkata dengan suara tegas dan perintah langsung yang sederhana seperti: “Mundur” “Berhenti” dan menatap mata pelaku tanpa bermaksud menantang. Keempat, jika pelaku tidak mau pergi/mengikuti, abaikan saja dan segera pergi menyingkir. Idealnya dia harus melangkah mendekati anak-anak lain atau orang dewasa lain. Beri tahu anak untuk minta bantuan jika dia memerlukannya.
  5. Melaporkan pada yang berwenang. Bila anak menjadi korban bullying atau menyaksikan orang lain menjadi korban, ajar anak untuk mencatat apa yang terjadi secara spesifik, kapan waktunya, kejadian, dan bukti-bukti yang ada. Lalu segera melapor pada yang berwenang, baik di sekolah dan orangtua.

Memang, penanganan yang paling ideal adalah kebijakan terintegrasi yang melibatkan seluruh komponen mulai dari guru, murid, kepala sekolah, dan orangtua, dengan tujuan untuk menghentikan perilaku bullying dan menjamin rasa aman bagi korban dan lingkungan. Program anti-bullying di sekolah bisa dilakukan dengan cara menggiatkan pengawasan dan pemberian sanksi secara tepat pada pelaku, atau melakukan kampanye melalui berbagai cara. Memasukkan materi bullying ke dalam pelajaran sekolah bisa memberi dampak positif bagi pengembangan pribadi anak-anak.


Leave a Reply