Menepis Resiko si “ONLINE”

  • 0

Menepis Resiko si “ONLINE”

Tags :

Category : FAMILY , PARENTING

online

23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Menyoal kehidupan anak, di era teknologi komunikasi yang kian berkembang pesat seperti sekarang ini, anak-anak kita begitu dekat dengan dunia “online”. Kalaupun belum ‘online’ sekarang, cepat atau lambat anak-anak kita akan segera bergabung dengan jutaan anak-anak lain yang menggunakan internet. Entah menggunakan internet di sekolah maupun rumah, dunia “online” menawarkan anak-anak pengalaman yang mendidik dan bermanfaat, tetapi tak sedikit pula yang menimbulkan risiko.

Mesti diakui, internet merupakan tantangan baru bagi orangtua. Tidak seperti televisi ataupun radio, internet bersifat interaktif. Anak kita bisa berinteraksi dengan siapa pun secara online dari rumah, sekolah, atau tempat lain. Internet memungkinkan setiap pengguna, kapan saja, mengirimkan informasi. Termasuk informasi yang tidak akurat, menyesatkan atau tidak pantas untuk anak-anak. Lebih riskannya, hal ini juga memungkinkan orang untuk mengumpulkan informasi pribadi dari anak kita. Ditambah orangtua kerapkali sulit mengawasi kegiatan berselancar anak di internet, dimana terkadang justru ada situs-situs yang berbahaya buat mereka. That’s why, anak-anak perlu paham aturan dan risiko di dunia maya. Berikut adalah risiko dari online yang sangat umum dialami anak-anak!

#1. Bullying dan pelecehan. Hal ini kemungkinan besar terjadi lewat situs jejaring sosial, email, atau pesan teks. Sangat penting untuk mendengarkan dan mendorong anak-anak kita untuk membicarakan ketakutan dan perasaan mereka tentang insiden tersebut. Para orangtua bisa mencari tahu di halaman-halaman website terpercaya tentang bagaimana menangani cyber bullying.

#2. Postingan yang merugikan reputasi. Mungkin anak-anak kita tidak mengerti bahwa “Online is forever” Tulisan-tulisan yang di-posting dalam beberapa hal bisa saja ‘menghantui’ mereka di masa depan dan seseorang mungkin saja menyimpannya, sekalipun tulisan itu telah dihapus. Karena itu, pastikan anak-anak kita memahami jelas hal ini, terutama jika itu menyangkut foto-foto. Luangkan waktu menggunakan mesin pencari untuk mencek apa yang pernah di-posting oleh atau tentang anak-anak kita.

#3. Upaya penipuan dan pencurian identitas. Bantu anak-anak kita menyadari bahwa email yang meminta password atau username kemungkinan adalah email palsu, meskipun kelihatannya legal. Mereka tidak seharusnya meng-klik email-email semacam itu. Jelaskan pada mereka bahwa password atau kata sandi tidak untuk dibagikan pada siapapun kecuali diri sendiri, dan pastikan perangkat operasi sistem dan perangkat keamanan terus up date.

#4. Konten yang tidak pantas. Anak-anak bisa dengan mudah tersandung materi pornografi, kekerasan atau kegiatan-kegiatan ilegal lainnya. Gunakan perangkat keamanan yang bisa memungkinkan orangtua mengetahui online-online pornografi yang telah diakses/dilihat anak.

#5. Penguntit atau predator di online. Meskipun kasus ini sering menjadi berita utama surat kabar, tapi risiko seorang anak atau remaja dirugikan oleh orang yang mereka kenal di online masih dianggap rendah alias tidak disikapi dengan serius. Meski begitu, tetaplah berlakukan aturan. Beritahu anak-anak kita jika seseorang yang mereka kenal di online membelokkan percakapan ke arah pribadi atau yang tidak pantas semisal percakapan seksual, mereka harus segera menghentikannya dan melapor pada orangtua. Jika diperlukan, hubungi pihak kepolisian untuk melacak/mengusutnya.

#6. Last but not least, ajarkan anak-anak kita untuk tidak memberi informasi pribadi (termasuk nama, alamat rumah, no. telepon, usia, ras, nama sekolah atau lokasi, nama teman) atau memakai kartu kredit secara online tanpa seizin kita. Carilah perangkat lunak atau layanan online yang menyaring situs yang ofensif. Banyak internet service provider dan layanan komersil online yang menawarkan situs blocking, pembatasan email yang masuk, dan akun anak-anak yang mengakses layanan tertentu.

(Transformer)

Leave a Reply