Sindrom SARANG KOSONG

  • 0

Sindrom SARANG KOSONG

Category : COUNSELING , FAMILY

empty nest

Saya memiliki 2 orang anak. Anak saya yang sulung sudah menikah dan yang bungsu juga kuliah di luar kota setahun yang lalu. Sejak anak bungsu kuliah di luar kota, di satu sisi saya merasa senang karena anak-anak saya sudah dewasa, tetapi saya menjadi sering merasa kesepian. Saya sering menangis tanpa sebab, merasa hidup saya diri saya tidak ada artinya dan tidak bersemangat melakukan kegiatan. Keadaan ini sudah berlangsung lama. Saya bingung apa yang terjadi dengan diri saya? Apakah saya stress? Bagaimana saya dapat mengatasinya?

(Dian, 48 tahun)

Ibu Dian,

Terima kasih untuk pertanyaan Anda. Terima kasih juga untuk kejujuran Anda atas perasaan Anda terhadap diri sendiri.

Saya bisa memahami kegelisahan Anda saat ini dan merasakan kesedihan Anda. Anda merasakan kesepian, perasaan tidak berarti dan tidak bersemangat tepatnya setelah anak-anak meninggalkan rumah atau ketergantungan anak terhadap Anda sebagai orangtua sudah berkurang.

Nampaknya, apa yang Anda rasakan saat ini erat kaitannya dengan “Empty Nest Syndrom” atau sindrom “Sarang Konsong”.

Empty Nest Syndrom adalah suatu kondisi emosi yang dialami oleh seseorang ketika anak-anak mulai meninggalkan rumah, entah karena berkuliah atau bekerja di kota lain, atau menikah. Perlahan tapi pasti, rumah yang semula ramai, lalu menjadi kosong dan sepi.

Sebagai orangtua pasti merasakan kehilangan ketika sang anak meninggalkan rumah. Namun jika hal ini terjadi sampai jangka waktu yang lama, ini bukanlah hal yang wajar lagi.

Umumnya perasaan seperti ini lebih sering dirasakan oleh wanita daripada pria. Karena sebagai seorang ibu yang sehari-harinya mengurus anak-anak dan rumah tangga. Kemudian jika semua anak sudah meninggalkan rumah, maka ibu tinggal bersama dengan suaminya berdua saja.

Nah, rasa kesepian akan disertai dengan rasa kehilangan. Jika tidak ditangani, maka emosi ibu pun menjadi tidak stabil. Apalagi sindrom ini biasanya terjadi di usia tengah baya, kurang lebih hampir bersamaan dengan awal priode menopause. Maka sang ibu bisa memiliki kecendurangan untuk mudah tersinggung, khawatir, berlanjut menjadi lebih mudah menangis, sulit tidur, kehilangan selera makan dan kehilangan semangat untuk beraktifitas. Dilanjutkan perasaan tidak berguna karena beranggapan bahwa tugas menjadi ibu telah berakhir.

Nah, perasaan, pemikiran dan kondisi seperti ini perlu diatasi agar tidak berkelanjutan.

Berikut adalah beberapa tips yang dapat dilakukan agar dapat membantu :

#1. Menyadari bahwa ada setiap musim dalam kehidupan kita.

Setiap manusia pasti akan mengalami transisi dalam kehidupan. Perubahan itu bisa berupa antara lain : perubahan pekerjaan, karir, perubahan tempat tinggal dan juga perubahan dalam keluarga, seperti yang dialami oleh Anda, yaitu anak-anak telah dewasa dan semakin mandiri.

Bagian kita adalah bekerjasama dengan Tuhan, agar dalam setiap musim kehidupan, kita tetap berada dalam rencanaNya. Terus mendekatkan diri pada Tuhan.

#2. Mengatasi pikiran negatif.

Tidak perlu merasa tidak berguna, karena semua bimbingan seorang ibu yang disertai kasih sayang yang mendalam, akan tertanam dan berdampak dalam hati dan kehidupan anak.

Buatlah keyakinan bahwa kepergian anak adalah untuk meraih masa depannya.

#3. Beri selamat pada diri sendiri.

Walaupun peran orang tua tidak pernah belum selesai dilaksanakan, namun pada saat anak dewasa maka orang tua sudah mencapai salah suatu tujuan. Yaitu orang tua sudah menjadikan anaknya sebagai seorang dewasa muda yang mandiri. Bersyukurlah untuk suatu tugas sebagai orangtua yang berhasil dilaksanakan dengan baik.

#4. Menyesuaikan diri dengan peran baru.

Ketika anak beranjak dewasa, ia akan menjalani peran dan tanggung jawab yang berbeda dibandingkan ketika masih kecil. Otomatis tugas dan peran orangtua pun akan berbeda. Jika dulu orangtua menjadi teladan dan pembimbing yang aktif, kini orangtua berperan memberikan dorongan dan dukungan, mengawasi dari kejauhan, dan memberikan masukan apabila diminta.

Tetap menjalin hubungan yang baik dengan anak, namun juga mengijinkan anak untuk mandiri.

#5. Membangun hubungan yang intim dengan pasangan.

Survey menunjukkan bahwa benteng pertahanan untuk melawan stress adalah keintiman dengan pasangan di dalam keluarga. Oleh karena itu, nyalakan romantis bersama dengan pasangan Anda, siapkan perencanaan untuk kencan berdua agar hubungan semakin intim.

#6. Memanfaatkan waktu untuk kegiatan yang berguna.

Carilah kegiatan yang dapat membangkitkan semangat dan harapan.  Milikilah keyakinan bahwa Anda dapat berdampak di berbagai bidang. Misalnya aktif dalam kegiatan sosial, aktif melayani di gereja atau persekutuan wanita, mulailah mengerjakan minat dan hobi baru.

#7. Berbagi dengan orangtua lain yang mengalami pengalaman yang sama, agar Anda tidak merasa sendiri dan dapat memperoleh masukan dari pengalaman teman-teman lainnya.

#8. Carilah komunitas rohani yang dapat mendukung dan menjadi wadah untuk berbagi.

#9. Carilah dukungan ketika membutuhkan.

Saat mengalami perasaan tertekan dan kesedihan yang berlebihan, Anda dapat mengunjungi atau meminta pertolongan keluarga, kerabat atau menghubungi Konselor.

Tuhan Yesus memberkati !


Leave a Reply