Gaya Belajar Anak

  • 0

Gaya Belajar Anak

Category : PARENTING

gaya belajar

Lain lubuk lain belalang. Lain anak lain gaya belajarnya. Supaya tidak salah gaya, yuk cari tahu apa gaya belajar yang cocok dengan anak-anak kita. Ini contekannya!

Sama halnya dengan keunikan tiap individu, masing-masing anak ternyata punya gaya belajar tersendiri. Meski bersekolah di sekolah yang sama, duduk di kelas yang sama, gaya belajar tiap anak ternyata tidak sama. Perbedaan itu bahkan ada pada anak-anak dari satu keluarga. Seperti kakak, adik bahkan saudara kembar sekalipun.

Saat mengikuti pelajaran di kelas, ada murid yang begitu tekun menyimak meski sang guru menyampaikan materi pelajaran seperti orang berceramah berjam-jam. Ada yang terkesan hanya memerhatikan sepintas lalu, meski sebetulnya mereka membuat catatan-catatan kecil di bukunya. Namun banyak juga anak yang merasa bosan.

Ada anak yang lebih mudah menangkap isi pelajaran jika disertai praktik. Anak semacam ini lebih suka berkutat di laboratorium ketimbang mendengar penjelasan guru. Sedangkan anak lain, mungkin lebih tertarik mengikuti pelajaran yang disertai berbagai aspek gerak. Contoh, guru yang menerangkan materi pelajaran kesenian sambil sesekali diselingi nyanyian dan tepuk tangan.

Ada juga anak yang harus bersemedi dan menutup pintu kamar rapat agar bisa konsen belajar. Sebaliknya, cukup banyak juga anak yang mengaku justru terbuka pikirannya bila belajar sambil mendengarkan musik.

Nah, sudahkah orangtua mengenali gaya belajar anak? Anak akan mudah menguasai materi pelajaran dengan memakai cara belajar mereka masing-masing.

Menurut DePorter dan Hernacki (2002), anak belajar dengan menyerap, mengatur, dan mengolah informasi. Berdasarkan ini, ada tiga jenis gaya belajar yang digunakan seseorang dalam memproses informasi, yaitu visual, auditory, dan kinestesis.

Gaya VISUAL

Anak lebih gampang menangkap pelajaran lewat hal-hal yang dilihat. Bagi anak bergaya belajar visual, melihat sesuatu adalah kebutuhan yang tinggi agar bisa memahaminya.

Karakteristik:

  1. Mengingat yang dilihat ketimbang yang didengar.
  2. Cenderung melihat sikap, gerakan dan ekspresi guru yang sedang mengajar.
  3. Saat mendapat petunjuk untuk melakukan sesuatu, biasanya anak akan melihat teman-temannya lebih dulu, baru kemudian mengerjakannya.
  4. Lebih suka membaca daripada dibacakan.
  5. Mudah menangkap pelajaran lewat materi bergambar, grafik, dsb.
  6. Lebih suka peragaan ketimbang penjelasan lisan.
  7. Biasanya kurang mampu mengingat informasi lisan.
  8. Anak senang mencatat sedetail-detailnya.

Strategi:

  • Gunakan materi visual seperti gambar-gambar/ilustrasi, diagram, poster, slide, peta, kartu bergambar/flashcard, alat peraga.
  • Gunakan multi media (contohnya: komputer, film, video) atau menggambar di papan tulis.
  • Sediakan pensil berwarna dan lembaran kertas untuk membuat gambar & tulisan.
  • Gunakan warna untuk meng-highlight hal-hal penting.
  • Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.
  • Ajak anak untuk membuat coretan atau mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.
  • Ajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut.

GAYA AUDITORI

Anak belajar dengan mengandalkan pendengaran agar bisa memahami sekaligus mengingatnya. Mereka belajar 50% dari apa yang didengar dan 50% dari apa yang mereka bicarakan. Mereka harus berbicara supaya bisa mengingat, senang memberitahu segala sesuatu dengan detail dan lengkap, senang bicara.

Karakteristik:

  1. Senang mendengar yang guru katakan.
  2. Belajar dari apa yang didengar dan mengingat ketimbang yang dilihat.
  3. Senang membaca dengan keras.
  4. Mengucapkan tulisan di buku ketika membaca.
  5. Lebih pandai mengeja ketimbang menuliskannya.
  6. Bisa mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara.
  7. Mengenal banyak sekali lagu atau iklan TV, bahkan bisa menirukannya secara tepat dan komplet.
  8. Mencerna makna yang disampaikan lewat tone suara, pitch (tinggi rendahnya).
  9. Cenderung senang bicara atau banyak omong.
  10. Saat belajar, senang bicara pada diri sendiri.

Strategi:

  • Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi atau debat di dalam kelas maupun
  • Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.
  • Bimbing mereka untuk mendendangkan apa yang harus dipelajari; bisa dibuat sajak, lagu atau sejenisnya.
  • Review pelajaran dengan pertanyaan oral, wawancara, laporan oral, role play, pidato, dll.
  • Biarkan anak merekam materi pelajaran ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarnya sebelum tidur.
  • Bisa membantu membacakan informasi, lalu meringkas dalam bentuk lisan, direkam, untuk selanjutnya

GAYA KINESTETIK

Anak dengan gaya kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan sesuatu. Anak seperti ini punya keinginan beraktivitas dan eksplorasi yang sangat kuat.

 Karakteristik:

  1. Suka menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya, termasuk saat belajar.
  2. Punya tangan yang selalu sibuk dan aktif.
  3. Suka belajar dengan menggunakan tangan dan ketrampilan tangan.
  4. Belajar lewat memanipulasi dan praktik.
  5. Menghafal dengan cara berjalan dan melihat.
  6. Menggunakan jari sebagai petunjuk saat membaca
  7. Punya koordinasi tubuh yang baik.
  8. Suka memakai objek nyata sebagai alat bantu belajar.
  9. Menyukai praktik/percobaan.
  10. Menyukai permainan dan aktivitas fisik.
  11. Sulit untuk bisa duduk diam dalam waktu lama.

Strategi:

  • Sediakan benda-benda untuk disentuh yang berkaitan dengan apa yang kita ajarkan, misal: permainan jari, flip chart, peragaan, puzzle, patung, buku pop up, model, dll.
  • Sediakan alat-alat yang bisa memfasilitasi dan meningkatkan belajarnya, tapi jelaskan agar jangan disalahgunakan.
  • Berikan ia benda-benda untuk diperbaiki, lepas-lepas dan dipasang kembali.
  • Ajar dia keterampilan seperti mencatat, membuat kartu catatan atau mewarnai apa yang harus dihafal sewaktu mereka mendengarkan. Ijinkan dia menciptakan sistem belajar taktis mereka sendiri.
  • Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam, dorong mereka untuk beristirahat saat belajar
  • Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya. Contoh, ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru.

Sebagai orangtua hindari sikap memaksa gaya belajar kita pada anak. Misalnya, orangtua auditori cenderung memaksa anak belajar secara auditori pula. Akibatnya, saat orangtua bicara, info tidak bisa dicerna anak. Pemaksaan ini bakal membikin anak merasa tidak nyaman dan tidak maksimal.

Jangan pula berasumsi kalau anak akan punya gaya belajar yang sama seumur hidupnya. Ada anak yang berubah sejalan dengan perkembangannya. Yang penting, beri anak kesempatan untuk mencoba gaya belajar lainnya. Ingatlah, semua anak mampu belajar! Dengan paham gaya belajar anak akan membantu orangtua dan pendidik untuk fokus pada kekuatan anak sekaligus membangun kepercayaan diri anak agar menjadi pelajar yang sukses seumur hidup!


Leave a Reply