MASALAH EMOSI

  • 0

MASALAH EMOSI

emosi

Saya bingung dengan diri saya. Saya merasa bahwa hidup saya sangat dikontrol oleh emosi. Saya mudah marah, meledak-ledak, dan sering konflik dengan orang lain. Terutama konflik dengan suami di rumah dan dengan teman-teman di kantor.  Saya merasa bahwa orang di sekitar saya tidak bisa memahami saya, tetapi mereka bilang saya adalah orang yang tidak punya pengertian dan suka menuntut. Hal-hal kecil di rumah pun memicu kemarahan saya, saat pulang ke rumah….saya sudah cape banget, ditambah mendengar anak-anak ribut bermain rasanya kepala saya mau pecah. Saya tau bahwa sebagai orang Kristen harus bisa mengontrol emosi. Tapi seringkali saya gagal.

Saya pernah mendengar bahwa orang yang yang dapat mengontrol emosi adalah orang yang memiliki kedewasaan emosi. Bagaimana caranya agar saya dapat berubah? (Anna, 38 tahun)

JAWAB :

Ibu Anna,

Terima kasih untuk pertanyaan Anda. Terima kasih juga untuk kejujuran Anda atas perasaan Anda terhadap diri sendiri.

Saya bisa memahami perasaan Anda bahwa bukanlah hal yang mudah untuk mengelola emosi di tengah situasi yang seringkali justru memicu emosi kita.

Menjawab pertanyaan Anda mengenai emosi, perlu diketahui bahwa emosi adalah tanggapan atau respons atas peristiwa-peristiwa yang terjadi silih berganti. Menurut Daniel Goleman, emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak dan rencana seketika untuk mengatasi masalah.

Ada berbagai macam emosi, dan salah satu cara mengklasifikasikan emosi adalah berdasarkan apakah emosi tersebut positif atau negatif. Emosi-emosi yang bernilai positif diantaranya adalah cinta, sayang, suka, senang, bahagia, gembira, damai, kagum dan lainnya. Sedangkan emosi negatif misalnya sedih, marah, jengkel, tersinggung, benci, jijik, muak, takut, cemas, kuatir, curiga dan sejenisnya.

Emosi memiliki peranan yang penting dalam kehidupan, tetapi tidak boleh mendominasi kehidupan seseorang. Bahkan emosi negatif pun diperlukan dalam kehidupan kita, biasanya sebagai peringatan bahwa ada sesuatu yang dibutuhkan.

Sebagai contoh, rasa takut dibutuhkan mempersiapkan kita untuk lari atau melawan jika menghadapi situasi bahaya. Saat menghadapi binatang buas, maka rasa takut mendorong kita untuk melindungi diri. Apa jadinya jika rasa takut tersebut hilang?

Kemudian perasaan bersalah bisa menunjukkan bahwa kemungkinan ada dosa yang perlu dikoreksi. Dukacita akibat dari kehilangan adalah alamiah, namun dukacita yang dialami anak Tuhan bukanlah tanpa harapan seperti halnya dukacita orang yang tidak mengenal Tuhan.

Banyak emosi tertentu digambarkan di dalam Alkitab, seperti dalam kitab  Ratapan, Pengkhotbah, Pemazmur (Mazmur 55), bahkan Tuhan Yesus juga mengalami berbagai perasaan (Matius 26:38).

Nah, sama seperti pertumbuhan fisik dan intelektual dalam diri seseorang, maka emosi juga perlu bertumbuh. Tetapi pertanyaannya adalah apakah kedewasaan emosi kita bertumbuh sesuai dengan umur fisik kita? Seringkali usia seseorang bertambah, tapi saat memberikan respons masih seperti anak kecil. Katakanlah usia fisik sudah 30 tahun, tapi responsnya persis anak usia 5 tahun.

Bagaimana ciri-ciri seseorang yang emosinya tidak dewasa?

  • Maunya diperhatikan dan suka mencari perhatian.
  • Sulit untuk melihat perspektif orang lain /melihat kehidupan orang lain.
  • Dikendalikan oleh keinginan untuk memperoleh kepuasaan secara instan. Hidup semaunya sendiri.
  • Mengunakan orang lain atau obyek lain untuk memenuhi keinginannya dan selalu menuntut. Dengan kata lain, selalu berpikir, “Kamu harus bisa membahagiakan saya!”
  • Merasa cukup, puas, dan bahagia jika memperoleh apa yang diinginkan.
  • Bereaksi cepat terhadap stress, kekecewaan dan godaan hidup.
  • Apabila ada yang tidak setuju dengan pendapatnya, merasa ditolak atau ditentang.
  • Mudah terluka dan kemudian memendam perasaan luka tersebut.
  • Suka mengeluh, manipulasi, menghindar, membalas dendam, bersikap kasar jika tidak memperoleh apa yang tidak diinginkan.
  • Sulit mengemukakan dengan jelas dan secara dewasa apa yang menjadi kebutuhan dan keinginannya.
  • Cenderung suka membela diri dan menyalahkan orang lain.
  • Mengingat-ingat apa yang telah dilakukan kepada orang lain, dengan tujuan mengharapkan balas budi di kemudian hari.
  • Sangat buruk dalam mengatasi konflik, lebih sering menyalahkan orang lain, bergossip dengan orang ke tiga, meledak-ledak ataupun menyembunyikan diri dengan cara menghindar tidak mau bertemu.
  • Sulit untuk bisa mendengarkan orang lain yang terluka, orang yang kecewa atau mendengarkan kebutuhan orang lain, karena ia lebih senang untuk
  • Suka kritik, mencela dan menghakimi.

Berikut adalah ciri-ciri seseorang yang memiliki kedewasaan emosi :

  • Dapat mengidentifikasi dan mengelola perasaan.
  • Dapat membangun hubungan yang baik dengan orang lain.
  • Memiliki respek terhadap orang lain dan menerima orang lain apa adanya tanpa menuntut untuk mengubah mereka.
  • Dapat menghargai orang lain, walaupun keadaan orang tersebut : baik, buruk, jelek, tanpa penghakiman.
  • Dapat memberikan ruang untuk kesalahan dan kegagalan diri sendiri dan juga kepada orang lain.
  • Dapat mengkomunikasikan dengan baik apa yang dibutuhkan dan diinginkan.
  • Menyadari kelebihan, kekuatan, keterbatasan dan kelemahan bahkan bisa sharing dengan nyaman kepada orang lain mengenai hal-hal tersebut.
  • Memiliki kemampuan /kapasitas untuk menyelesaikan konflik secara dewasa dan mampu bernegosiasi.
  • Dapat menjalani proses duka atau kesedihan dengan baik dan dapat pulih kembali.

Well, bagaimana caranya agar kita dapat memiliki kedewasaan emosi?

Kedewasaan emosi diukur dari kecakapan mengekspresikan emosi dengan sehat. Kita dapat mempelajari dan berlatih untuk mengelolanya.

Ekspresi emosi yang sehat  dan dewasa berkaitan dengan tiga hal  (dapat diilustrasikan seperti penyajian makanan):

#1. Richness : kemampuan mengekspresikan berbagai macam emosi, negatif, maupun positif (variatif). Misalnya, orang yang tidak dewasa emosinya bisa terlihat dari “miskinnya” emosi. Saat kuatir, yang ditunjukkan adalah kemarahan, saat lelah ia marah juga, saat sedih juga marah. Hanya marah dan marah saja yang bisa diekspresikan. Mereka sering terlihat labil dan tidak dapat dimengerti. Dan sebaliknya, jika senang pun tidak bisa mengekspresikan rasa senangnya.

#2. Fit : kemampuan mengungkapkan emosi secara tepat sesuai situasi. Tidak berlebihan ataupun kekurangan (pas porsinya). Sebenarnya mengungkapkan atau mengekspresikan emosi bukanlah tindakan yang buruk. Emosi memang perlu diekspresikan, namun alangkah baiknya kita bisa mengungkapkannya di tempat yang tepat dan dengan cara yang tepat pula. Jika gagal, maka tidak hanya menrugikan diri sendiri, tetapi juga dapat melukai orang lain.

Sebagai contoh : ada orang yang kalau marah berlebih-lebihan sampai kelewatan dan menyakitkan hati. Tidak bisa mengendalikan diri, barang dilempar pintu dipukul.

#3. Control : kemampuan mengontrol diri dan memilih emosi yang tepat untuk diekspresikan (penyajian yang indah). Orang yang emosinya matang terlihat stabil. Dia bisa marah, kadang juga sedih, tergantung situasi yang dihadapi, tetapi semua undercontrol. Bukan meledak-ledak, moody, ataupun dikuasai insting. Emosi menjadi Sang Penguasa di dalam hidupnya.

Dan yang tidak kalah pentingnya adalah milikilah kedewasaan rohani. Orang yang dewasa rohani, hidupnya dikendalikan oleh Roh Kudus dan dapat menyerahkan emosinya di bawah pimpinan Roh Kudus untuk dibersihkan dan dipakaiNya.  Teruslah berjuang untuk dengan dengan dan intim dengan Tuhan.

Jangan hanya umur saja yang bertambah, tetapi biarlah emosi dan kerohanian kita juga bertumbuh kian matang, berkualitas dan makin serupa dengan Kristus.


Leave a Reply