Monthly Archives: August 2014

  • 0

Pasanganku berbeda keyakinan …. apa yang harus saya lakukan?

Category : COUNSELING , MARRIAGE

Saya sudah menikah selama 3  tahun. Suami saya beda agama. Memang sejak pacaran, kami sudah beda agama. Saya berpikir jika menikah, saya bisa menginjil dan mengajak suami ke gereja. Tetapi sampai hari ini, suami belum mau ke gereja. Kalau saya mengajak dia, suami selalu menolak dan akhirnya kami bertengkar. Jika  bertengkar, suami saya bilang, “Kog orang Kristen sifatnya seperti itu?”   Saya jadi bingung, bagaimana caranya supaya suami saya bisa bertobat dan terima Tuhan Yesus? (Eveline, 35 tahun)

“Read More”

  • 0

Membentuk Anak Laki menjadi Pria Dewasa


Seorang ayah memikul tanggungjawab untuk membesarkan dan secara khusus memberikan bekal kepada anak laki-laki agar mereka bertumbuh besar menjadi seorang pria dewasa yang memang kita harapkan, khususnya yang Tuhan harapkan.

Seorang ayah memiliki peranan yang sangat besar bagi anak laki-laki. Anak laki-laki perlu menyerap sifat kelaki-lakiaan dari ayahnya. Ini disebut proses identifikasi.
Proses identifikasi adalah proses memasukkan sifat-sifat, perilaku, pola tingkah laku, pola pikir atau pengungkapan emosi dari ayah atau orang tua ke dalam diri anak laki-laki. Oleh sebab itu kehadiran seorang ayah dan waktu kebersamaan begitu penting.
Anak laki-laki akan menyerap yang baik maupun yang buruk dari sifat-sifat dan tingkah laku ayahnya sebagai pria dewasa.

Persiapan yang harus dilakukan seorang ayah adalah :
1. Seorang ayah harus hadir dan terlibat dalam kehidupan si anak.
2. Seorang ayah harus rajin berkomunikasi dengan anaknya.
Jika anak sudah menyerap hal-hal yang positif dan negatif karena mencontoh ayahnya, itu tidak akan membuat dia kesulitan dalam terjun ke masyarakat.
Ada beberapa hal yang secara TERENCANA perlu ayah ajarkan kepada anak laki-laki :
1. Mengajar anak mengambil keputusan.
Seorang pria sebaiknya menjadi orang yang mengambil inisiatif.
Doronglah anak untuk mulai mengambil keputusan bagi dirinya sendiri.
Penting bagi ayah untuk tidak mempermalukan atau melecehkan si anak sewaktu ia tidak bisa mengambil keputusan.  Adakalanya ayah perlu membiarkan anak mengambil keputusan yang memang terasa kurang pas, tetapi selama tidak berkaitan dengan dosa dan tidak membahayakan jiwanya, maka sekali-kali biarkanlah. Dengan cara ini maka dia akan belajar lebih berani mengambil inisiatif dalam sebuah keputusan, dan tidak tergantung terus dengan keputusan orang tuanya.
Sekali-kali ayah harus merentangkan anak untuk berani mengambil keputusan yang berbeda. Orang tua harus mengikuti perkembangan anak, supaya jangan sampai anak terjerumus dalam hal yang negatif, karena  kebebasannya tanpa dikontrol oleh orang tua.
Satu tindakan orang tua yang paling umum dan yang paling membuat anak tidak mau berbicara pada orang tua adalah celaan dan teguran.
2. Ada anak laki-laki yang sering kali mencoba bereksperimen, dalam hal ini dukungan orang tua khususnya ayah sangat diperlukan.
Keberanian mengambil resiko adalah sifat pria yang baik dan yang dihormati. Anak harus didorong untuk berani mengambil resiko dan mencoba, supaya dia tidak takut pada kegagalan. Waktu anak mengambil resiko melakukan sesuatu, sang ayah harus hati-hati : jangan terlalu cepat mengevaluasi, mengkritik, mencela atau menjatuhkan anak.
Salah satu kualitas pria yang dihargai oleh lingkungan adalah stabil, kestabilan emosi adalah suatu ciri pria yang baik.
3. Dalam menghadapi tugas, seorang anak laki-laki menjadi orang yang sigap.
Seorang pria , dalam melaksanakan tugasnya diharapkan bersifat sigap, bukan malas-malasan dan lamban, ini hal yang harus ditanamkan kepada anak.
Seorang anak laki-laki harus diberi tugas tanggungjawab, misalnya meletakkan sepatu di rak sepatu, membereskan piring setelah selesai makan. Ini adalah bagian dalam mendidik anak kita.
Yang sulit disini adalah memberi teladan pada anak, anak ingin lihat perbuatan daripada perkataan.
4. Anak harus dipersiapkan untuk bersosialisasi.
Seorang ayah juga harus mengajarkan kepada anak laki-laki untuk melindungi wanita. Jadi ajarkan anak laki-laki untuk mempunyai sikap atau persepsi yang tepat terhadap wanita, yaitu melindunginya bukan memanfaatkannya.
Seorang ayah perlu mengajarkan, tugasnya-lah melindungi wanita dari serangan orang, dari ancaman orang, dari eksploitasi orang, dari pemanfaatan orang lain, dan terutama jangan sampai dia menjadi seorang pria yang memanfaatkan wanita.
Dalam hubungan dengan pria lain, sang ayah harus mengajarkan bahwa dia setara denga pria lainnya.
Anak laki-laki yang menganggap dirinya hebat dan bisa atau paling kuat biasanya akan mempunyai masalah dengan teman-temannya, dia harus belajar merendahkan diri dan tidak sombong.
Namun apabila anak laki-laki yang merasa tidak bisa apa-apa, merasa teman-temannya lebih hebat dari dia, mungkin dia akan merasa rendah diri.
Oleh karena itu kita ajarkan bahwa dia sejajar dengan teman-temannya.
Dalam memberi bimbingan terhadap anak laki-laki, maka ada tiga hal yang harus diwaspadai  :
1. Jangan sampai kita terlalu terjebak dalam perbedaan antara feminin dan maskulin.
2. Jangan menghina anak laki-laki karena pria peka terhadap penghinaan.
3. Jangan mengharuskan anak laki-laki menyukai hobby kita.
Amsal 20:18 :  Sekalipun ada emas dan permata banyak tetapi yang paling berharga adalah bibir yang berpengetahuan.
Dalam hal ini….. hikmat menjadi seorang pria adalah :  menjadi seorang yang takut Tuhan, mengenal Tuhan dan bisa hidup di tengah-tengah lingkungannya.
(Sumber :  Paul Gunadi)

  • 0

Peran Ayah dalam Mendidik Anak

Seminar Peran Ayah - 2

63% anak remaja yang bunuh diri berasa dari keluarga tanpa ayah, 5 kali lebih tinggi dari angka rata-rata nasional (US Department of Health)
90% anak-anak yang lari dari rumah dan tak ada tempat tinggal, berasal dari keluarga tanpa ayah, 32 kali lebih tinggi dari angka rata-rata nasional (Journal of Justice & Behaviour)
80% pemerkosa yang dilatarbelakangi kemarahan berasal dari keluarga tanpa ayah, 20 kali lebih tinggi dari angka rata-rata nasional (US Department of Justice)
TAPI ….
Keluarga yang tinggal di lingkungan kriminal, namun dalam keluarga dengan peran orangtua stabil &
AYAH berperan dalam keluarga tersebut,  maka 90% anak dari keluarga tersebut TIDAK mengalami kenakalan remaja (Development & Pscychopathology, 1993)
Bagaimana PERAN AYAH dalam mendidik anak ?
Hadirilah :
MINI SEMINAR
Sabtu, 12 Juli 2014
Jam 3.30 – 5.00
 
@WTC Serpong