Monthly Archives: May 2014

  • 0

Anger Management

Shalom,
Saya merasa kasihan dengan isteri dan anak-anak saya, karena  sering kena sasaran kemarahan saya di rumah. Sebenarnya saya tidak berniat marah-marah, tapi tekanan di kantor sangat berat, atasan saya sering memaki-maki kami karyawannya. Kemudian saat pulang ke rumah….saya sudah cape banget, ditambah mendengar anak-anak ribut bermain rasanya kepala saya mau pecah.
Sehingga hal-hal kecil di rumah pun memicu kemarahan saya, bahkan saya sampai meledak-ledak. Akibatnya, saya jadi sering konflik dengan isteri saya juga.
Saya tau bahwa sebagai orang Kristen harus bisa menguasai diri terhadap kemarahan. Tapi saya sering gagal mengatasi kemarahan saya. Apa yang harus saya lakukan ? (Hendi, 36 tahun)

JAWAB :
Shalom Bpk Hendi,
Terima kasih untuk pertanyaan Anda. Terima kasih juga untuk kejujuran Anda atas perasaan Anda terhadap diri sendiri.
Saya bisa memahami perasaan Anda bahwa bukanlah hal yang mudah menghadapi situasi yang menekan dan menguras emosi Anda.
Nampaknya …ada  kaitannya antara  perlakuan atasan Anda dengan pola kemarahan Anda di rumah. Cobalah untuk merefleksikan bagaimana perasaan Anda saat atasan memaki-maki Anda ….apakah muncul perasaan kesal, kecewa, sedih sakit hati atau merasa diperlakukan tidak adil ?
Perasaan-perasaan yang tak terungkap ini tanpa sadar menimbulkan ‘energi kemarahan’ di dalam diri Anda.
Tentunya tidaklah bijak jika Anda melawan atasan Anda, tetapi akibatnya tanpa sengaja ‘energi kemarahan’ ini dilampiaskan kepada keluarga di rumah. Sehingga hal-hal kecil pun dapat memicu kemarahan Anda.
Marah pada dasarnya merupakan salah satu bentuk emosi yang dimiliki setiap individu. Penyebabnya bisa dari apa yang dilakukan orang lain terhadap kita, namun mungkin juga akibat apa yang telah kita lakukan sendiri pada diri kita sendiri.
Kemarahan dapat merusak apabila kita sudah dikuasai olehnya, contohnya: kita menjadi sering marah-marah dan cenderung menyerang orang lain. Dapat berbahaya karena berhubungan dengan frustasi, stress, depresi, resiko terkena sakit-penyakit, menimbulkan permusuhan, bahkan dapat mendorong untuk menyakiti orang lain, seperti memaki, memukul, menghancurkan benda-benda, ataupun penyiksaan.
Semuanya ini dapat membuat hati dan komunikasi kita sakit, mengganggu pernikahan, hubungan dengan pasangan dan anak-anak, juga dalam kehidupan karier dan persahabatan.
Firman Tuhan menyatakan bahwa, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa; janganlah matahari  terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” (Efesus 4:26-27).
Nah, ada beberapa cara yang dilakukan seseorang dalam mengatasi kemarahannya, yaitu :
          Ditekan atau dipendam ke dalam.
Saat dipendam, orang lain akan berpikir kita adalah orang yang sabar. Namun sesungguhnya tidak! Sebab biasanya kemarahan dilampiaskan kepada sesuatu yang ‘aman’ di mana orang tidak melihat secara langsung. Pelampiasannya antara lain makan berlebihan, merokok, atau lainnya. Banyak orang depresi karena menyimpan kemarahan yang terlalu lama dan sudah mendalam. “Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh.” (Pengkhotbah 7:9 )
          Meledak keluar.
Reaksi marah keluar antara lain seperti : menghancurkan benda, memukul, berteriak, memaki. Nampaknya meluapkan kemarahan ini dapat memberikan kelegaan sementara, tetapi sesungguhnya tidak pernah menyelesaikan akar penyebab mengapa kita marah. Biasanya masalah akan berulang-ulang kembali, bahkan bisa menjadi lebih parah dan tidak terkontrol.
“Si pemarah menimbulkan pertengkaran, dan orang yang lekas gusar, banyak pelanggarannya.” (Amsal 29:22)
Jelaslah, bahwa kemarahan itu berbahaya jika tidak diatasi dengan baik.
Oleh sebab itu, marilah kita belajar cara yang bijak, yaitu mengelolakemarahan, agar dapat menghentikan diri kita untuk melakukan dosa atau hal yang lebih buruk lagi.
 “Orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang bijak akhirnya meredakannya.”
(Amsal 29:11)
Ada beberapa tips untuk mengelola  kemarahan dengan baik, sebagai berikut :
          Perhatikan di saat gejala marah mulai menguasai kita.
Misalnya jantung yang berdegup kencang, napas lebih cepat, berkeringat, bahu lebih tegang, kepala sakit. Apabila ini terjadi, alihkan perhatian kita sementara agar tidak meledak keluar dan kita dapat menenangkan diri serta berpikir jernih.
          Mengenali akar penyebab kemarahan kita yang sebenarnya.
Dalam kasus Anda, akar penyebab kemarahan sesungguhnya adalah perasaan terluka akibat dari perlakuan atasan Anda. Kemarahan Anda bukan disebabkan oleh anak-anak yang bermain di rumah, bukan pula karena istri Anda. Tetapi tanpa sadar Anda sedang melampiaskan kemarahan tersebut kepada anak-anak dan isteri Anda.
          Menyadari dan jujur mengakui  bahwa ada perasaan marah di hati kita, bukan menyangkalnya.
Anda dapat mencoba mengungkapkan secara asertif kepada istri Anda bahwa Anda sedang mengalami tekanan karena terluka dengan perlakuan atasan di kantor, sehingga membutuhkan dukungan dari keluarga.
          Menyerahkan perasaan marah kita kepada Tuhan.
Saat melakukan hal ini, berarti kita mengijinkan Tuhan membersihkan hati kita dari berbagai perasaan seperti : sakit hati, dendam, kecewa, perasaan diperlakukan tidak adil, dan sebagainya, sehingga memampukan kita mengampuni orang yang menyakiti hati kita.
Dalam hal ini, Anda perlu menjaga agar hati Anda tidak dikuasai oleh kepahitan kepada atasan Anda.
         Memelihara persekutuan pribadi dengan Tuhan agar hati kita terus-menerus dipenuhi kasih, sukacita dan damai sejahtera (Roma 15:13).
Nah, tahukah bahwa untuk setiap detik yang diluangkan dalam bentuk kemarahan, maka satu menit kebahagiaan telah terbuang?
Marilah mengelola diri kita dengan baik. Tuhan Yesus memberkati !

  • 0

Sahabatku….Dilemaku…??

Shalom,
Sejak 2 tahun yang lalu, di kampus….. saya punya kakak kelas yang  akrab banget, sama-sama perempuan. Saya enjoy  kalo curhat dengan dia… dia benar-benar perhatian sama saya, dia suka jemput saya kuliah. Kami sering pergi, jalan-jalan dan hang-out berdua ke mana-mana. Dia juga suka menasehati saya. Saya senang sekali dan sudah menganggap dia sebagai kakak saya sendiri. 
Jujur,  sebagai anak tunggal…sejak kecil saya sering merasa kesepian,  tidak punya teman ngobrol,  sedangkan papa mama sibuk jaga toko.
Tapi sekarang saya bingung, karena teman saya ini suka marah kalau saya ga mau diajak pergi, padahal saya ingin selesaikan tugas-tugas kuliah.  Saya juga mulai sering bolos ke gereja karena menemani dia jalan-jalan. Katanya dia ga mau pergi kalau tidak bersama saya.
Dia juga selalu kepengen tau jadwal saya setiap hari, dan saya harus terbuka sama dia, pokoknya ga boleh ada rahasia di antara kita.
Saya takut kalau dia marah, jadi saya selalu menuruti keinginannya.
Saya juga takut kalau kami tidak bersahabat lagi, karena sejak bersama dia, saya ga pernah kesepian lagi?
Saya harus bagaimana ya?  (Viena, 20 tahun)
JAWAB :
Shalom Viena,
Terima kasih untuk pertanyaan Anda. Terima kasih juga untuk kejujuran Anda atas perasaan Anda terhadap diri sendiri.
Saya bisa memahami perasaan Anda, senang sekali rasanya bisa memiliki sahabat yang sangat memperhatikan kita layaknya seperti kakak sendiri.
Apalagi selama ini Anda merasa kesepian,  tapi sejak bersahabat dengan dia, Anda tidak merasa kesepian lagi.
Nampaknya… hal yang sama juga dirasakan oleh teman Anda.
Bagi dia….Anda juga sahabat yang penting. Ada berbagai bentuk perhatian yang dia berikan untuk Anda, contohnya : menjemput kuliah, menjadi teman curhat, memberikan nasehat, mengajak Anda hang-out, bahkan selalu ingin tahu apa yang Anda lakukan setiap hari.
Sebagai individu, kita pasti memerlukan hubungan dengan sesama dan persahabatan.
Thomas Aquinas berkata, “Persahabatan adalah sumber kesenangan terbesar, dan tanpa sahabat, kegiatan yang paling menyenangkan sekalipun jadi membosankan.”
Amsal 18 : 24b menuliskan, “Ada juga sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara.”
Namun, Amsal 12:26 juga mengingatkan kita, “Orang benar berhati-hati dalam persahabatan, tetapi jalan orang fasik menyesatkan mereka.” (terjemahan bebas dari Alkitab bahasa Inggris/NIV) .
Artinya…kita juga perlu berhati-hati di dalam persahabatan, karena ada persahabatan yang sehat dan yang tidak sehat.
Kita perlu mengamati apakah sahabat kita membawa pengaruh positif dalam hidup kita?  Hal-hal di bawah ini bisa menjadi ukuran seberapa sehatnya persahabatan kita :
   Apakah sahabat kita mendorong kita untuk membuat pilihan yang bijaksana?
   Apakah mereka menolong kita untuk bertumbuh? Apakah mereka menolong kita untuk mendekat kepada Tuhan?
   Apakah mereka memotivasi dalam kemalasan kita, bersukacita karena keberhasilan kita, menangis dalam duka kita, menentang dosa kita, menghibur kala kita sakit, tertawa dalam kegembiraan kita?
Beberapa persahabatan pada awalnya memang kelihatan wajar, tetapi bisa berbalik bisa menjadi sesuatu yang merusak bila menghambat pengembangan diri dan menciptakan halangan untuk bertumbuh.
Jika saya melihat persahabatan Anda, pada awalnya cukup baik, namun kemudian menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut :
   Memaksakan keinginannya. Jika keinginannya tidak Anda turuti, ia menjadi marah.
   Lebih memilih untuk menghabiskan waktu hanya bersama dengan Anda, bahkan eksklusif hanya berdua saja.
  Tidak mau melakukan apa pun jika sahabatnya tidak diikutsertakan (ketergantungan yang berlebihan).
  Memberi perhatian secara berlebihan, bahkan cenderung mengontrol kehidupan pribadi.  Contohnya : ia ingin mengetahui jadwal Anda dan menuntut Anda untuk menceritakan segalanya (tidak boleh ada rahasia).
   Tidak mendukung sahabatnya. Ia tidak peduli bahwa Anda harus menyelesaikan tugas kuliah, yang penting baginya adalah Anda harus menemaninya.
    Perlahan-lahan membuat Anda semakin menjauhi ibadah.
Oleh karena itu, saya bisa memahami Anda yang menjadi bingung karena Anda mulai merasakan bahwa persahabatan Anda dengannya semakin tidak sehat. Tapi di sisi lain Anda takut kehilangan sahabat yang begitu memperhatikan Anda.
Nah, ada beberapa hal yang mungkin dapat menjadi masukan,  sebagai berikut :
Pertama, alangkah baiknya jika Anda dapat berinisiatif mengajak teman  Anda untuk bergabung dengan komunitas yang membangun,  seperti CareCell, persekutuan mahasiswa,  atau ibadah Youth supaya persahabatan kalian tidak eksklusif berdua saja, melainkan sama-sama bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus.  Dengan demikian,  Anda  dapat memberikan pengaruh positif untuk teman Anda,  bukan sebaliknya.
Selain itu,  apabila Anda aktif terlibat dalam komunitas,   teman-teman Anda semakin banyak dan Anda tidak akan merasa sendirian lagi.
Kedua, Anda harus menetapkan batasan -batasan dalam persahabatan. 
Anda perlu belajar untuk berkata “tidak” terhadap permintaan dia jika  Anda harus menyelesaikan tugas kuliah ataupun tanggung jawab lainnya.
Ada batasan juga dalam kehidupan pribadi  dan privacy Anda yang tidak harus diketahui oleh dia.
Ketiga, apabila teman Anda semakin memberikan tekanan atau pengaruh negatif, Anda perlu mempertimbangkan kedekatan hubungan kalian. 
Karena di dalam 1 Korintus 15:33, menuliskan bahwa “Pergaulan yang buruk dapat merusak kebiasaan yang baik.”
Apakah Anda akan membiarkan kehidupan Anda semakin mundur demi menuruti keinginan dia?
Tentukan pilihan yang benar dalam persahabatan !
Kita perlu belajar bagaimana dan kapan harus mempertahankan persahabatan tertentu,  melepaskan yang lain dan mengembangkan yang baru di sepanjang perjalanan hidup.
Tuhan Yesus memberkati !