Monthly Archives: April 2014

  • 0

Mengasihi Anak dengan Bahasa Cinta

Tags :

Category : PARENTING

“Mam, hari ini kok belum cium aku, gak sayang aku lagi yah mam?”
“Papa kok gak datang waktutadi aku pentas, kan papa sudah janji mau datang? PAPA GAK SAYANG AKU!!!!”
Tidak asingkah kita sebagai orangtua dengan situasi tersebut?
Seringkali kita sebagai orangtua ‘merasa’ sudah mengungkapkan kasih sayang kita dengan memenuhi semua kebutuhan anak-anak kita. Tapi mereka masih merasa tidak disayangi. Mereka sepertinya selalu meminta perhatian. Mengapa?
Mungkin karena kita mengkomunikasikan kasih dengan “bahasa cintayang kurang pas terhadap anak-anak kita.
Nah,  setiap anak adalah unik !!
Ada berbagai cara dan bentuk, anak-anak kita merasa dikasihi dan disayangi.
Artinya, setiap anak memiliki “bahasa cinta” yang berbeda.
Apabila anak yang merasa benar-benar dikasihi dan diperhatikan sesuai “bahasa cinta”-nya, maka anak akan mengalami pemenuhan “tangki emosi”nya. Dengan demikian mereka memiliki kekuatan emosional yang dapat memberi bahan bakar sewaktu melalui hari-hari yang penuh dengan tantangan. 

Menurut Dr. Gary Chapman, ada lima cara anak dalam mengutarakan serta memahami cinta, yaitu : kata penguatan, saat yang mengesankan, menerima hadiah, tindakan melayani & sentuhan fisik.

1. Kata-kata Penguatan.
Seorang anak yang memiliki bahasa cinta ini, merekaakan sangat senang dan merasa disayang jika mereka sering dipuji, diberi motivasi atau dukungan yang diucapkan berkali-kali. Sebaliknya, kata-kata negatif yang diucapkan terhadapnya dapat sangat melukainya.
Mereka pun akan mengungkapkan kasih mereka dengan cara memuji: “Mam, kau adalah ibu terbaik yang aku miliki, aku sayang mama.”
2. Saat-saat yang Mengesankan.
Bagi anak jenis ini, keberadaan orangtua di sisinya sangat berarti baginya. Terutama di saat-saat khusus seperti perayaan ulangtahun, menghadiri pentas drama di sekolah, nonton bersama, pergiberlibur bersama, atausekedar ada di sampingnya mendengar cerita-ceritanya di saat dia sedang sedih. Kesibukan orangtua dan ketidakhadiran orangtuanya di momen-momen khusus biasanya akan melukai dirinya, dan anak akan merasa tidak disayang.  
3. Menerima Hadiah.
Bagi anak dengan bahasa cinta ini, sayangdiidentikkan dengan pemberian atau hadiah. Dengan menerima hadiah mereka merasa diperhatikan dan disayang. Mereka sebenarnya bukan materialis, karenabukan hadiah mahal yang diharapkan tapi perhatian yang dicurahkan dalam pemberian tersebut. Mereka sangat menyukai kejutan walaupun hanya sekedar kartu ucapan sayang di balik kotak bekal makan mereka.
4. TindakanMelayani.
Bagi anak jenis  ini akan merasa dicintai jika orangtuanya membantu mereka mengerjakan hal-hal yang merekainginkan. Contohnya : mengajari mengerjakan PR, membantu menyiapkan kebutuhannya, seperti menyiapkan sarapan, menolongnya saat mengerjakan hal-hal yang sulit. Orang tua dengan anak yang memiliki bahasa cinta ini harus berhati-hati dalam mendidik kemandirian untuk bisa melakukan segala sesuatunya sendiri. Jika orangtua berlebihan membantu mereka akan tumbuh menjadi anak yang manja dan tidak bisa mandiri.
5. SentuhanFisik.
Anak yang bahasa cintanya sentuhan fisik, secara emosi mereka menginginkan bentuk kontak fisik seperti : dicium, digandeng, dirangkul, ditepuk punggungnya ataupundieluskepalanya.Bentukkontak fisik yang kasar akan sangat melukai hati mereka. Pelukan saat mereka sedang sedih sangat berarti bagi mereka dibandingkankata-kata kita, karena dengan sentuhan kita…mereka akan merasa sangat diperhatikan.
Yes, but HOW ?
Bagaimana kita bisa mengenali bahasa cinta anak-anak kita?
Walaupun tidak mudah, orangtua dapat belajar dan berusaha mencoba untuk mengenali bahasa cinta anak-anak kita.
Ada beberapa petunjuk untuk mengenali dan menemukan jenis bahasa cinta mana yang paling utama pada anak-anak kita :
1.      Perhatikan bagaimana anak mengekspresikan cintanya kepada orangtua.
Anak dapat berbicara dengan baik sesuai bahasa cintanya sendiri tanpa kita sadari.
2.  Perhatikan bagaimana anak mengekspresikan kasihnya kepada orang lain.
      Perhatikan dengan seksama bagaimana mereka berinteraksi dengan anak-anak lain dan orang dewasa, di mana mereka paling sering menunjukan perasaannya.
3.   Dengarkan permintaan yang paling sering di-ajukan.
      Kebanyakan anak-anak tidak malu untuk menyebutkan permintaan dan keinginannya. Jika kita belajar untuk “mendengarkan” hal-hal yang anak  minta, maka kita dapat mendengar bahasa cinta utama dari anak kita.
4.   Dengarkan keluhan-keluhan yang sering diutarakan oleh anak.
      Ketika kita memperhatikan rengekan dan gerutuan mereka, biasanya keluhan mereka bisa berada pada kategori yang berhubungan dengan salah satu bahasa cinta mereka.
5.   Berikan mereka hanya satu dari dua pilihan.
      Cobalah untuk memperkenalkan kepada anak pada situasi di mana ada pilihan antara dua bahasa kasih. Kemudian perhatikan pada keputusan yang dibuatnya. Pilihan bahasa cinta anak yang paling sering diungkapkan, biasanya merupakan bahasa cinta utamanya.
Perlu diingat, anak-anak dapat memiliki kombinasi dari kelima bahasa cinta. Maka, alangkah baiknya apabila orang tua juga mengungkapkan kasihnya melalui bahasa cinta yang lain.
Sebagai orangtua, marilah kita terus bertumbuh dalam mengkomunikasikan cinta dalam keluarga kita !!
(Sumber  : Gary Champman, Ph.D & Ross Campbell, M.D. Lima Bahasa Kasih untuk Anak-anak. 2000, by hl)

  • 0

Mengenalkan Tuhan pada Anak Spesial

Tags :

Category : EVENT , SEMINAR

Tema: Mengenalkan TUHAN Pada Anak Spesial

bersama para fasilitator: Brent & Bonnie Armistead, Prof. Irwanto, Julianto Simanjuntak, Roswitha Ndraha, Nona Pooroe, dan Illyana Widodo.

Setiap anak yang dititipkan Tuhan adalah anak spesial. Di antara mereka ada anak dengan bakat spesial tertentu (differently abled) atau anak berkebutuhan khusus (special needs).
Perubahan jaman, tekanan pertemanan dan lingkungan membuat tidak sedikit anak menjadi stres. Seminar ini membukakan wawasan bagi orangtua dan pendidik, agar tidak sekadar menuntut anak sukses. Tetapi membimbing mereka cakap mengembangkan potensi diri dalam situasi mereka. Bagaimana merekayasa lingkungan agar anak berkembang secara optimal.
Seminar ini ditujukan untuk Anda orangtua, guru, pengerja dan guru sekolah minggu, konselor anak, dan aktivis pelayanan anak berkebutuhan khusus.

Sesi PLENO

  1. Mengenalkan Tuhan Pada Anak Spesial (Brent & Bonnie Armistead)
    Bagaimana orangtua mencari jalan (metode) agar anaknya yang berkebutuhan khusus bisa mencintai Tuhan, berhasil secara rohani, dan mengembangkan potensi ilahi.
    Ada sharing Universitas Online (Brent Armistead) dan pentingnya homeschooling (Illyana Widodo).
  2. Merekayasa Lingkungan Anak (Julianto Simanjuntak)
    Lingkungan anak makin tidak kondusif untuk tumbuh dengan baik dan mengasihi Tuhan. Kesehatan pernikahan orangtua, tekanan pertemanan, pengaruh sosial media, dan kualitas sekolah ikut membentuk pribadi anak.
    Bagaimana merekayasa lingkungan anak agar anak tumbuh secara maksimal sesuai kehendak Tuhan?
    Ada sharing Dewa Klasik Alexander mengenai perintisan sekolah untuk anak tidak mampu.

Sesi KAPITA SELEKTA (pilih salah satu topik)

  1. Pendampingan Anak Homeschooling (Illyana Widodo, M.Pd.K.)
    Menentukan strategi pendampingan anak yang sulit bersekolah di tempat umum. Memahami kurikulum homeschooling yang sesuai kondisi anak-anak. Mendampingi anak brilian dan dengan bakat tertentu (differently abled), agar punya kecerdasan sosial yang baik.
  2. Menjadi Orangtua yang Sukses Membimbing Anak Special Needs: Asperger, Down Syndrome, Autism, dan ADHD (Brent & Bonnie Armistead)
    Membentuk kepribadian orangtua yang sabar, cakap membangun kerjasama antara ayah dan ibu, dan menjadi bagian komunitas yang menyembuhkan.
  3. Mengelola Stres dan Trauma Anak (Prof. Irwanto, Ph.D.)
    Beberapa situasi dan pengalaman anak mem-buat mereka stres. Bahkan sejak masih bayi. Sebagian trauma karena pola asuh yang salah dan lingkungan yang tidak sehat bagi anak. Bagaimana proses pemulihan bagi anak dengan masalah stres dan trauma.
  4. Memotivasi Anak Gemar Belajar dan Membaca (Nona Pooroe & Roswitha Ndraha)
    Bagaimana menemukan potensi anak sejak dini, mendorong mereka suka membaca apa saja yang menjadi minat mereka. Bagaimana Membangun daya juang anak, agar gigih mencapai cita-cita. Belajar menciptakan lingkungan yang memberdayakan anak. Ada sharing bagaimana mendampingi anak yang dibesarkan orangtua tunggal (single parent).

BIAYA PENDAFTARAN
Harga earlybird sampai dengan tanggal 5 Mei 2014
– Umum Rp.350.000 / Normal Rp.450.000
– Utusan* Rp.300.000 / Normal Rp.400.000

Termasuk Makan Siang dan Sertifikat Pelikan

Pembayaran biaya pendaftaran melalui transfer ke:
BCA No. 5010 175 200 An. Tiyo Widi Prasetyo
Bukti transfer diemail ke cpe2014@pelikanindonesia.com atau fax ke 021-29238982.

Setelah melakukan pembayaran, isi formulir pendaftaran di Pelikan Indonesia

Pendaftaran grup/kelompok: Daftar 5 Gratis 1.

BONUS
Dapatkan BONUS** senilai Rp.500.000:

  1. FREE eBook “Konseling ANAK” (1000 halaman) dari 30 ahli konseling anak dan remaja. Copyright LK3.
  2. FREE Video topik Konseling Anak yang dapat dipilih salah satu dari beberapa pilihan judul berikut ini:
    – Konseling Anak dengan Kebutuhan Khusus
    – Terapi Bermain
    – Emotional Intelligence
    – Memahami Remaja: Menjembatani gap antar generasi
    – Membimbing Anak Memilih Teman Hidup yang Tepat
    – Pendidikan Keluarga & Sekolah Berbasis Takut Akan Tuhan
  3. FREE Biaya Pendaftaran Kuliah Konseling (S2/Diploma)

* Dengan surat pengutusan dari gereja/sekolah/lembaga
** Untuk 100 pendaftar pertama

Untuk informasi lebih lanjut hubungi:
– Anna 0899 998 6280
– Anne 0857 19100 112, 0812 8139 1414

Telp: (021) 2923 8981
Email: cpe2014@pelikanindonesia.com


  • 0

Takut Menikah….Bagaimana Ini???

Tags :

Category : COUNSELING


Shalom,
Saya sudah berpacaran selama 3 tahun, dan rencananya akan menikah 6 bulan lagi.
Tapi….gimana ya, semakin mendekati hari pernikahan kami, saya rasanya takut sekali. Karena bayangan kehancuran pernikahan orangtua saya selalu ada di depan mata saya.
Saat masih remaja, papa meninggalkan mama dengan wanita lain, sehingga saya khawatir akan mengalami hal yang sama.
Seharusnya saya bahagia karena akan menikah, tetapi sejujurnya saya juga ketakutan.
Bagaimana saya bisa bebas dari ketakutan itu ?
(Santy, 29 tahun)
JAWAB :
 
Shalom Santy,
Saya bisa merasakan betapa tidak nyamannya apabila perasaan kita dikuasai oleh kekhawatiran menjelang hari pernikahan.
Memasuki bahtera pernikahan biasanya adalah saat yang paling dinanti-nantikan oleh pasangan muda, namun….tidak sedikit pula individu yang mengalami kekhawatiran seperti yang anda alami.
Ada berbagai hal yang menjadi penyebab kekhawatiran dalam memasuki pernikahan, antara lain khawatir karena merasa belum siap, khawatir apakah acaranya akan sukses atau tidak? Atau khawatir karena meragukan apakah nanti dapat menjalani kehidupan pernikahan dengan baik?
Perasaan khawatir tersebut adalah reaksi alamiah yang dapat mendorong kita untuk mempersiapkan pernikahan dengan lebih sungguh lagi, baik dalam mempersiapkan acara pernikahan ataupun persiapan dengan belajar bagaimana menjalani kehidupan pernikahan kelak,  seperti mengikuti Bimbingan Pranikah yang diadakan di gereja.
Namun, apabila kekhawatiran itu mengintimidasi dan mengontrol diri kita sehingga menjadi ketakutan yang selalu menghantui setiap saat …. inilah yang perlu diatasi.
Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban  (2 Timotius 1:7).
Nampaknya, yang anda alami adalah kekhawatiran yang dilandasi trauma karena kegagalan pernikahan kedua orangtua anda. Sebagai seorang anak, biasanya memiliki perasaan kecewa, sedih, dan takut ketika melihat papa meninggalkan mamanya. Tanpa sadar, memori ini terbawa sampai dewasa, seperti yang anda alami saat ini, sehingga anda dibayangi  ketakutan seandainya nanti akan mengalami pengalaman yang sama dengan orangtua anda.
Nah, bagaimana dapat mengatasi  perasaan ketakutan ini … ada beberapa tips sebagai berikut :
Pertama, belajarlah untuk menyerahkan segala kekuatiran kepada Tuhan, sebab Ia yang akan memelihara hidupmu (1 Petrus 5:7).
Kedua, setelah mengetahui penyebab kekhawatiran, yaitu akibat trauma kegagalan pernikahan orangtua …. pahamilah bahwa anda tidak pernah bisa mengubah masa lalu, dan jika anda tetap tinggal dalam kekhawatiran pun tidak dapat memperbaiki keadaan. Tetapi ada satu hal yang bisa anda lakukan adalah mempersiapkan masa depan anda.
Ketiga, belajarlah untuk berdamai dengan masa lalu dan meminta pemulihan dari Tuhan. Artinya menyadari bahwa apabila diijinkan Tuhan dilahirkan dari keluarga yang tidak sempurna, ada pembelajaran dan makna melalui peristiwa ini. Kemudian belajarlah mengampuni orangtua yang mungkin pernah membuat hati anda kecewa, supaya hati anda pulih.
Keempat, sebelum menikah….cobalah untuk berkomunikasi dan berdiskusi dengan pasangan mengenai masa depan anda dengan dia, seperti perencanaan keuangan, berapa anak yang akan dimiliki, sehingga memiliki gambaran bagaimana pernikahan anda nantinya. Apabila menghadapi perbedaan, anda dan pasangan bisa belajar bagaimana mengatasi perbedaan-perbedaan tersebut.
Kelima, mempercayai Tuhan bahwa Ia yang mengontrol kehidupan anda dan masa depan anda (Yeremia 29:11). Jangan biarkan ketakutan akibat masa lalu terus mengontrol masa depan hidup anda. Dengan membawa rencana pernikahan anda dalam doa, berarti anda meletakkan masa depan keluarga anda di dalam genggaman tanganNya !
Ingatlah, kita tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi kita bisa memperbaiki masa depan kita !
Tuhan Yesus memberkati.