Monthly Archives: January 2010

  • 0

Tidak Tegas kepada Anak

Category : PARENTING

”Adapun anak-anak Eli adalah orang-orang dursila, mereka tidak mengindahkan Tuhan.” (1 Samuel 2:12)

Salomo dalam Amsalnya memberi nasihat, ”Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Amsal 22:6).
Adalah mutlak bagi orangtua mendidik anak-anaknya dengan baik sejak masa kecilnya. Orangtua harus bertindak tegas, ”Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa yang mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.” (Amzal 13:24).

Hajaran bukan berarti bertindak kejam dan tidak sayang kepada anak, tetapi sebagai bentuk pendisiplinan diri. Banyak orangtua bersikap lunak kepada anak, bahkan memanjakannya dengan uang sebagai wujud kasihnya kepada anak. Namun, tindakan itu bukannya mendidik anak, justru akan berakibat fatal di kemudian hari: anak menjadi manja, tidak mandiri, berontak bila keinginannya tidak dipenuhi.

Mari kita lihat anak-anak imam Eli. Mereka berkelakuan sangat kurang ajar terhadap Tuhan. Sebagai anak seorang imam seharusnya mereka bersikap baik dan takut akan Tuhan. Sebaliknya, mereka malah berani mengambil untuk dirinya sendiri daging korban persembahan sebelum dipersembahkan kepada Tuhan. ”Dengan demikian sangat besarlah dosa kedua orang muda itu di hadapan Tuhan, sebab mereka memandang rendah korban untuk Tuhan.” (1 Samuel 2:17).
Imam Eli mencintai anak-anaknya (Hofni dan Pinehas) dengan cara yang salah, tidak mendisiplinkan anak-anaknya sedari kecil, tidak berani bersikap keras dan tegas, akibatnya setelah dewasa kelakuan mereka menjadi rusak dan sangat memalukan. Buktinya setelah mendengar kelakuan anak-anaknya, termasuk perbuatan zinahnya dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan, Imam Eli hanya berkata, ”Mengapa kamu melakukan hal-hal yang begitu, sehingga kudengar dari segenap bangsa ini tentang perbuatan-perbuatan mu yang jahat itu? Janganlah begitu, anak-anakku.” (1 Samuel 2:23-24a).

Karena pemberontakannya, Hofni dan Pinehas harus menerima hukuman dari Tuhan (baca 1 Samuel 2:34).

Orangtua yang takut akan Tuhan mendisiplinkan anak-anaknya sesuai firman Tuhan.

( Sumber : WDN )


  • 0

Marriage is Beautiful

Category : MARRIAGE

“Pernikahan itu indah…”
Bagi pasangan suami-istri kebahagiaan dalam pernikahan merupakan sebuah dambaan.
Tapi banyak pasangan yang merasakan pesimis mengenai kebahagiaan dalam pernikahan.

Terlepas dari itu semua, sejujurnya kerinduan apa yang terdalam dalam hati kita ? Tentu pernikahan yang indah !!!

Pernikahan yang indah BUKAN diukur dari :
Bebas dari konflik dan perselisihan.
Bebas dari perbedaan antara suami dan isteri.
Bebas dari kesusahan dan derita yang dialami dalam kehidupan pernikahan.
Bebas dari kejadian buruk yang dialami dalam kehidupan pernikahan.

Semua hal tersebut tidak lepas dari setiap kehidupan pernikahan yang ada.
Tetapi, yang lebih penting adalah RESPON & SIKAP kita terhadap permasalahan dan situasi sulit yang terjadi dalam kehidupan pernikahan kita.

Charles Swindol berkata :
10 % hidup kita disebabkan karena apa yang terjadi diluar control kita.
90 % hidup kita disebabkan karena respon kita terhadap apa yang terjadi.

Jadi pernikahan yang indah tidak terjadi secara otomatis, tetapi respon kita dalam menghadapi setiap masalah & situasi sulit dalam pernikahan yang akan menentukan apakah pernikahan menjadi indah atau tidak.

Oleh sebab itu belajarlah memberi respon dan sikap yang selalu positif terhadap situasi apapun yang terjadi dalam kehidupan pernikahan kita.

Berikut ini beberapa contoh situasi yang sering terjadi dalam pernikahan kita dan bagaimana kita meresponinya secara positif :

Situasi 1 : Adanya perbedaan pria & wanita.
Respon Negatif :
· Perasaan tidak cocok dengan pasangan & tidak bisa bersama-sama lagi
Respon Positif :
· Melihat perbedaan adalah sarana saling melengkapi & menyempurnakan.
· Perbedaan adalah “sebuah kekayaan” sebuah pernikahan.
· Perbedaan bukan untuk dihilangkan tetapi di-sinergy-kan.

Situasi 2 : Melihat kelemahan pasangan kita.
Respon Negatif :
· Kecewa dengan pasangan.
· Menuntut pasangan untuk berubah.
· Terus menyalahkan pasangan.
Respon Positif :
· Menerima pasangan dengan segala kelemahannya.
· Mensupport untuk bisa mengatasi kekurangan.
· Mengucapkan yang positif kepada pasangan kita.
· Kelebihan kita adalah pelengkap kekurangan pasangan kita.

Situasi 3 : Terjadi konflik & perselisihan antara suami-istri.
Respon Negatif :
· Membiarkan konflik terus berlangsung & memelihara kemarahan bahkan kepahitan.
Respon Positif :
· Konflik pasti bisa diselesaikan, harus ada kemauan menyelesaikan.
· Kunci : Kerendahan hati & hati yang mengampuni.
· Menarik pelajaran positif dari sebuah konflik.

Marilah kita memiliki tekad untuk memelihara pernikahan kita dengan memberikan respon positif dalam setiap hal yang terjadi dalam kehidupan pernikahan, maka kita akan memasuki sebuah era pernikahan yang indah.
Tuhan Yesus memberkati !!!


  • 0

Tahun Baru, Komitmen Baru

Category : FAMILY


Di tahun yang baru, tepatlah jika kita juga memulai komitmen yang baru, terutama bagaimana kita melihat keluarga kita sebagai bagian dari rencana Tuhan.

Keluarga kita adalah untuk menggenapi misiNya di bumi, yakni melahirkan generasi-generasi baru yang takut akan Tuhan, dan melakukan tugas dan pekerjaan dengan cara-cara yang excellent dengan tujuan memberkati orang lain.
Tugas ini sesungguhnya diberikan kepada pasangan suami istri dan anak-anak mereka.

Suami istri harus terus-menerus membangun komitmen cinta yang kuat dari hari ke hari.
Menatap setiap masalah yang terjadi dalam keluarga secara bersama-sama.
Mengambil dan memutuskan cara yang terbaik dengan bersama-sama.
Selalu sepakat dalam memutuskan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak mereka.
Juga sejalan dalam memutuskan tujuan ekonomi keluarga untuk hari depan yang lebih baik dan cemerlang.

Tugas ini tidaklah ‘murah’ dan mudah.
Suami istri perlu memiliki hati yang sama-sama mau dibentuk.
Tidak pernah berhenti belajar untuk saling memahami satu sama lain.
Suami yang sadar betul tanggung jawab dan otoritas sebagai seorang kepala keluarga yang dapat mengambil keputusan terbaik berdasarkan hikmat Tuhan bagi keluarganya.
Demikian juga istri yang menjadi penolong yang sepadan sehingga sama-sama melangkah dalam tujuan Ilahi yang benar.

Sebagai keluarga kristen yang patuh dan taat dengan perintah Tuhan, Alkitab tentunya menjadi penuntun terbaik dalam mencari cara-cara dan tips dalam belajar, menilai keadaan, memutuskan suatu perkara bahkan menerima janji-janji Ilahi untuk hidup dalam kelimpahan.
Tuhan sesungguhnya menulis begitu banyak ayat dalam Firman Tuhan yang dapat menguatkan dan meneguhkan hati setiap suami, istri maupun anak.
Oleh Tuhan, kita dibekali dengan banyak sekali ayat Firman Tuhan yang dapat dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan keluarga kita.

Membangun sebuah keluarga excellent dalam segala hal, harus dimulai dari memperbaiki kualitas hubungan suami dan istri terlebih dahulu, yang dibangun di atas persekutuan dengan Tuhan dalam mezbah keluarga.
Tuhan akan berdiri di belakang suami dan isteri untuk mendorong agar pasangan terus maju dan tidak menyerah dalam menghadapi tantangan.
Tuhan juga akan berdiri di tengah suami dan istri untuk menjadi sahabat yang dapat diajak berbagi dan menumpahkan semua beban-beban hidup yang diterima.
Lebih dari pada itu, Tuhan juga akan berdiri di depan suami istri untuk menjadi pemimpin yang baik yang menuntun keluarga menuju tujuan yang sudah ditetapkan oleh Tuhan.

Ketika kita berhasil membangun kualitas hubungan suami istri yang baik, percayalah bahwa kita akan memiliki hikmat dalam mendidik anak kita.
Kita akan diberikan kemampuan untuk menjadi ayah yang baik dan ibu yang bijak bagi anak-anak kita.
Dan percaya jugalah bahwa ketika kita mendidik anak kita dengan cara-cara yang benar, kita tidak perlu khawatir dengan masa depan mereka.
Karena nilai yang sudah kita tanamkan untuk mereka sejak kecil, dapat menjadi bekal bagi dalam mengambil keputusan hidup untuk diri mereka sendiri.

Mulai dari titik inilah sebenarnya, berkat Tuhan yang berlimpah akan mulai dicurahkan untuk keluarga.
Tuhan berjanji bahwa berkatNya tidak akan ditangguhkan untuk keluarga-keluarga yang membangun kehidupannya di atasa dasar Firman Tuhan.
Berkat Tuhan secara jasmani, rohani dan materi akan mengalir dan kita terheran-heran dengan apa yang Tuhan lakukan dalam keluarga kita.

Hari ini, buatlah komitmen yang baru dengan Tuhan untuk memperhatikan keluarga kita lebih dari pekerjaan dan pelayanan rohani anda sekalipun.

by : PETER JACK KAMBEY