Monthly Archives: August 2009

  • 0

Keintiman dalam Pernikahan

Category : FAMILY , MARRIAGE

Berapa lamakah umur pernikahan kita ?
Setahun, dua tahun, sepuluh tahun atau duapuluh lima tahun ?
Apakah kita merasakan keintiman di dalam pernikahan kita selama ini ?

Kejadian 2:25 menuliskan :
“Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.”

Artinya Allah menghendaki keintiman antara suami dan isteri.
Seharusnya, semakin panjang usia pernikahan, maka semakin bertambah pulalah keintiman antara suami dan isteri.
Sayangnya, justru lebih banyak pernikahan yang mengalami kehambaran.

Banyak orang menikah dengan modal cinta yang segar.
Namun setelah menikah, kita lupa memelihara pernikahan, sehingga tidak ada keintiman di dalam pernikahan.

Keintiman adalah sebuah aspek yang sangat penting di dalam pernikahan.
Karena kualitas pernikahan kita ditentukan oleh tingkat keintiman di antara suami istri.
Pernikahan yang kaya dengan intimasi akan membawa efek yang sehat baik psikis maupun fisik.
Di samping itu, keintiman juga menjadi benteng pertahanan melawan stress.

Keintiman berbeda dengan hidup bersama, berbeda dengan ber-mitra, berbeda dengan berdampingan.
Intim bukan berarti bebas dari pertengkaran.
Dan sebaliknya, tidak adanya pertengkaran juga bukan berarti kita mempunyai kualitas pernikahan yang baik.
Sebagai contoh, kita dapat hidup puluhan tahun dengan pata tetangga tanpa bertengkar dan berkelahi, tetapi kita tetap tidak memiliki relasi intim dengan mereka.

Kualitas pernikahan diukur dengan seberapa dalamnya keintiman.
Keintiman mencakup beberapa aspek yang perlu dibangun di dalam setiap pernikahan, sebagai berikut :

Keintiman Fisik
Yaitu kesanggupan kita untuk hidup berdua dengan pasangan dalam satu rumah.
Ada suami isteri yang tidak bisa serumah karena kebiasaan hidup yang terlalu berbeda; seperti kerapihan, kebersihan, cara mandi, kebiasaan tidur, selera makan, dsb.
Hal yang tampak sepele ini ternyata bisa menjadi kerikil yang berdampak buruk bagi kehidupan rumah tangga.
Keintiman harus dimulai dari penyesuaian hal-hal yang bersifat jasmani, sebab mustahil kita dapat mencapai keintiman dalam segi lain jika kita tidak berhasil menyatukan diri dalam hal-hal ini.

Keintiman Emosional
Dapatkah kita menyelami perasaan pasangan kita, dan sebaliknya?
Apakah kita mengetahui mengapa ia marah, tidak senang dan tersinggung?
Apakah kita mengijinkan dia mengetahui perasaan kita yang sesungguhnya?
Jika kita pintu hati kita tidak terbuka terhadap pasangan kita, keintiman akan sulit terjalin.

Keintiman Mental
Artinya kita dapat memasuki, menyelami pikiran masing-masing demi mencapai kesepakatan.
Biasanya kita lebih sering mengambil jalan tengah agar tidak terjadi pertengkaran.
Contoh : ini tugasmu dan ini tugasku.
Pengambilan keputusan dilakukan sendiri-sendiri tanpa sepengetahuan atau persetujuan pasangannya.

Keintiman mental bukan berarti tidak ada perbedaan pendapat.
Namun yang terpenting adalah, apakah kita bisa mengambil keputusan bersama-sama ?

Keintiman Finansial
Dapatkah kita menyatukan penghasilan kita serta seia sekata dan terbuka dalam penyimpanan dan pengeluaran uang ?
Tidak dapat dipungkiri, banyak pasangan yang mengalami konflik karena masalah finansial dalam keluarga.
Misalnya sang isteri adalah orang yang hemat, sedangkan suami lebih suka memberi. Hal yang kelihatannya sepele ini dapat menimbulkan konflik berkepanjangan.

Keintiman Sosial
Menikah dengan pasangan bukan berarti hanya hidup berdua dengan pasangan kita.
Dapatkah kita saling menghargai dan bergaul dengan keluarga, kerabat dan relasi pasangan kita?
Contoh : banyak konflik dalam pernikahan yang disebabkan oleh urusan mertua-menantu.

Agar pernikahan semakin intim dan bersatu, kita sebaiknya kita memiliki teman-teman yang sama.
Jangan kehidupan sosial kita semakin hari semakin jauh. Misalnya teman suami tidak kenal dengan teman istri.
Terciptanya jurang sosial akan menjauhkan pernikahan kita dari keintiman.

Keintiman Rekreasi
Dapatkah kita menikmati rekreasi bersama ?
Banyak pasangan yang kesukaannya berbeda. Misalnya ada suami yang senang bermain golf, sementara isterinya senang berjalan-jalan ke mall untuk mengisi waktu senggangnya.
Jika sesekali, hal ini tidak masalah.
Namun jika itu berlangsung terus-menerus, akan timbul masalah.
Aturlah jadwal rekreasi yang bisa dinikmati bersama-sama.

Keintiman Seksual
Apakah kita memiliki gairah cinta terhadap pasangan kita ?
Apakah kita dapat saling terbuka terhadap pasangan kita mengenai hubungan seksual ?

Satu hal yang sangat berpengaruh dalam membangun keintiman seksual adalah “kekudusan” dalam pernikahan.
Kekudusan dalam penikahan berarti tidak adanya pihak ketiga dalam pernikahan, seperti perselingkuhan.
Selain itu, banyak pasangan yang memiliki fantasi seksual, atau harus menonton film porno terlebih dahulu sebelum melakukan hubungan seksual.
Hindarilah hal-hal demikian, yang dapat menghancurkan pernikahan kita !!!

Keintiman Rohani
Apakah suami isteri memiliki kematangan rohani yang sama ?
Dapatkah pasangan memberikan respon yang sama terhadap kehendak Tuhan ?
Misalnya, saat Tuhan menghendaki sesuatu, sang suami ingin melakukan kehendak Tuhan, tetapi pasangannya tidak setuju.

Akanlah sulit kita dapat bersatu hati meresponi kehendak Tuhan, bila kita tidak memiliki kematangan rohani yang sama.

“Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati.”
( I Petrus 3:8 )

Mari hiduplah dalam KEINTIMAN !!!

( Beberapa tulisan bersumber dari buku How to Enjoy Your Marriage, Paul Gunadi )