Monthly Archives: April 2009

  • 0

Raising Kids God’s Way – 5

Tags :

Category : PARENTING

DARE TO DISCIPLINE

Seorang ibu sedang mengantri di kasir dengan kereta dorong yang penuh dengan belanjaannya sedang kewalahan menghadapi kelakuan putranya yang berusia 4 tahun.“Billy, kamu harus tetap di sini. Tidak boleh berlari-larian.”
“Saya ingin ke sana.” Billy menyetakkan tangan ibunya dan kembali berlari-lari.
“Sekarang juga kamu harus kembali; kalau tidak, kamu akan dihukum!”
“Tidak mau!” Billy berteriak dengan sekeras-kerasnya.

Dengan spontan ibu Billy meninggalkan antrian, mencengkeram lengan anaknya dan menarik anak itu ke tempatnya semula. Billy mulai berteriak-teriak, meronta-ronta seraya berusaha melepaskan diri.
“Lepaskan!”
“Diam, dan jangan bersikap seperti ini!” bisik ibunya dengan nada marah.

Sikap Billy tidak berubah.
Pertempuran berlanjut sampai kasir menghitung barang-barang belanjaan.
Dengan frustrasi bercampur perasaan marah, pulanglah ibu dan anak tersebut.

Banyak orang tua ingin anak-anaknya taat ketika mereka diminta untuk melakukan sesuatu, namun banyak orang tua gagal untuk mendapatkan kepatuhan anaknya.
Apakah yang sebetulnya terjadi pada mereka ?
Penyebabnya adalah karena orang tua tidak mau mendisiplinkan anaknya.

Nah, kita akan mempelajari langkah penting berikutnya yang harus kita lakukan untuk menjadi orang tua bijak adalah :

8. Menjadi orang tua yang memberikan disiplin
( Amsal 29 : 15 ).

Disiplin adalah tindakan koreksi yang tepat yang diberikan untuk anak-anak yang melakukan pelanggaran sehingga anak mengalami perubahan hati dan pertobatan.

Hal yang penting perlu diketahui adalah bahwa mendisiplinkan anak bukanlah gagasan manusia, tetapi adalah gagasan Tuhan.

a. Tujuan disiplin :

** Melatih ketaatan anak, agar anak dapat tunduk kepada orang tua, bertanggung jawab & takut akan Tuhan.
Marilah kita renungkan apabila anak tidak dapat taat kepada orang tua, bagaimana anak dapat taat kepada Tuhan yang tidak kelihatan ? Bagaimana anak dapat hidup di dalam batasan Firman Tuhan ?
Kolose 3:20,.. “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan”.

** Mengajarkan bahwa setiap pelanggaran memiliki konsekuensi.
Apabila kita tidak taat kepada Firman Tuhan, berarti kita berdosa, dan dosa memiliki konsekuensi.
Ibrani 12: 5-6,.. “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.”

** Tujuan disiplin adalah untuk pertobatan anak, bukan untuk pelampiasan kemarahan kita dan bukan untuk menghukum anak.
Mendisiplinkan anak dimotivasi karena kita mengasihi anak kita.
Mendisiplinkan anak berbeda dengan memarahi anak.
Disiplin adalah mengoreksi dan mengajar, tetapi kemarahan melukai, membuat sakit hati anak dan menghancurkan.
Dalam prakteknya, orang tua justru lebih sering memarahi anak daripada mendisiplin anak-anak.

b. Kekanak-kanakkan vs Kebodohan

Sebelum melakukan tindakan disiplin terhadap kelakuan anak kita, kita harus membedakan terlebih dahulu sesungguhnya apa yang mendasari kelakukan mereka.

Apakah itu merupakan ‘kekanak-kanakkan’ atau ‘kebodohan’.

KEKANAK-KANAKKAN adalah tindakan yang tidak disengaja, anak belum mengerti, atau anak belum mampu.
Misalnya, anak jatuh dan membuat gelas menjadi pecah, hal ini merupakan tindakan yang tidak disengaja. Jika seperti ini, anak tidak boleh didisiplin apalagi dimarahi.
Atau apabila anak mengalami kesulitan dalam pelajaran karena ia belum mampu, orang tua tidak boleh memberikan disiplin.

KEBODOHAN (foolishness) adalah kebebalan, yaitu bentuk ketidaktaatan dan dilakukan dengan sengaja walaupun sudah diperingatkan.
Firman Tuhan di dalam Amsal 22, menuliskan, “Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya”.
Dan …. untuk mengusir kebodohan adalah dengan tongkat didikan, bukan dengan kemarahan.

Di dalam Amsal 29:15 menuliskan, “Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya”.
Artinya jika kita mendisiplinkan anak kita, akan memperbaiki kelakuan mereka, tetapi jika anak-anak dibiarkan akan mempermalukan orang tuanya.

c. Mengapa banyak orang tua mengalami kesulitan untuk mendisiplinkan anak ?

– Orang tua tidak mencari dan menerapkan hikmat serta petunjuk Tuhan dalam mendisiplinkan anak, sehingga orang tua tidak tahu bagaimana mendisiplin anak-anak.
Ibrani 12:11,.. “Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.”

– Orang tua menganggap apabila mendisiplinkan anak berarti tidak mengasihi anak, menghambat kepribadian dan kebahagiaan anak, bahkan menyiksa anak.
Sebagai orang tua, kita perlu menyadari bahwa kasih sejati adalah memilih yang terbaik, kasih itu harus mengoreksi segala sesuatu dalam kehidupan seseorang yang akan menghambat dia untuk menjadi lebih baik.
Amsal 13:24,.. “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya”.

Apabila kita tidak mendisiplinkan anak kita ketika dia tidak taat, berarti kita membiarkan mereka untuk hidup dalam dosa ketidaktaatan.
Dan dosa akan menjauhkan anak-anak kita dari Allah, tetapi disiplin yang benar akan menyelamatkan kehidupan anak kita.
Amsal 23:13-14,.. “Jangan menolak didikan dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati”.

– Orang tua malas untuk mendisiplinkan anak-anak.
Mendisiplinkan anak membutuhkan kemauan, komitmen dan konsistensi dari orang tua agar disiplin menjadi bagian yang efektif dalam mendidik anak.
Sejumlah orang tua malas untuk mendisiplinkan karena tidak mau repot.
Memang benar bahwa menerapkan disiplin adalah kerja keras, tetapi hal ini harus dilakukan demi mentaati Firman Tuhan.
Amsal 19:18 ,.. ”Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya”.
Orang tua yang tidak konsisten dalam mendisiplinkan anak akan membuat anak merendahkan standart ketaatan itu sendiri.

d. Bentuk-bentuk disiplin :

Ada beberapa cara untuk mendisiplinkan anak, sbb :

Teguran /Peringatan.
Teguran /peringatan adalah bentuk koreksi verbal.
Ini merupakan disiplin yang paling ringan, tetapi penting sebagai peringatan terhadap anak untuk tidak mengulangi pelanggaran yang sama.
Apabila anak tidak mempedulikan peringatan, anak akan menerima bentuk disiplin yang lain.

– Timeout.
Timeout berarti anak diminta menghentikan aktivitasnya.
Contoh :
Ketika anak kami berusia 8 bulan, ketika ia melewati batasan yang telah kami terapkan, kami mendisiplinkannya dengan melakukan ‘timeout’, yaitu meletakkan dia di dalam baby box untuk beberapa saat.

Ketika anak kami berusia 2-3 tahun, kami kadangkala melakukan timeout dengan meminta anak duduk ( di kursi yang memang telah disediakan untuk disiplin ) selama 5 menit sebagai bentuk konsekuensi.

– Pukulan dengan tongkat.
Salah satu saran yang dapat digunakan orang tua dalam mendisiplin anak adalah tongkat didikan.
Tongkat didikan bersifat netral dan bila dilakukan dengan benar tidak akan melukai hati anak.
Jika menggunakan tongkat, pukullah di bagian tubuh yang tepat, yaitu di belakang /bokong.
Jangan menggunakan tangan, karena tangan ialah bagian dari orang tua dan harus digunakan untuk mengekspresikan kasih sayang serta menolong orang lain dengan kasih.
Untuk anak usia remaja tidak dianjurkan untuk menggunakan tongkat lagi.

– Mengambil hak istimewa.
Dengan cara tidak memberikan kesempatan untuk menikmati kesukaannya atau tidak melakukan sesuatu yang disukainya selama waktu tertentu.
Contoh :
Anak kami yang berusia 8 tahun memiliki kesukaan membaca majalah mengenai otomotif. Salah satu bentuk disiplin ketika ia tidak taat adalah melarangnya membaca majalah otomotif tersebut dalam jangka waktu tertentu.

– Ganti rugi.
Dilakukan dengan cara membayar atau menyelesaikan tanggung jawabnya atas apa yang seharusnya dilakukan atau belum dilakukan.
Contoh :
Seorang anak yang dilarang orang tuanya bermain bola di halaman rumah tetangga, tetapi ia tidak taat sehingga memecahkan kaca jendela rumah tetangga.
Salah satu bentuk ‘ganti rugi’ yang diterapkan adalah mengeluarkan tabungan anak itu untuk menggantikan kaca jendela baru untuk tetangganya.

– Isolasi.
Adalah memisahkan anak “sementara waktu” dari kontak sosialnya.
Seperti meminta anak untuk diam di dalam kamar beberapa saat.
Tujuan isolasi bukanlah pelampiasan kemarahan dengan mengurung anak di dalam kamar, melainkan untuk menolong anak untuk merenungkan kesalahan-kesalahannya dan membantu anak memiliki penguasaan diri.

e. Tahap-tahap disiplin :

Disiplin harus dilakukan dengan konsisten, komitmen & KESEPAKATAN suami – isteri.

Disiplin dapat efektif apabila TANGKI EMOSIONAL anak sudah dipenuhi terlebih dahulu.

1. Anak harus mengetahui terlebih dahulu apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan /ada aturan / ada batasan /ada instruksi.
Jangan tiba-tiba main pukul, padahal anak tidak tahu apa yang salah.

2. Jangan meberikan perintah atau instruksi kecuali memang ingin agar itu ditaati. ( jangan memberikan instruksi ‘main-main’ )
Misalnya, kita memberikan instruksi kepada anak untuk selesai bermain di luar rumah, tetapi jika anak tidak taat, tidak apa-apa ( kita tidak sungguh-sungguh dengan ucapan kita ).
Dengan cepat anak akan belajar membentuk kebiasaan untuk meremehkan perintah orang tua.

Saat kita memberikan instruksi / perintah, diperlukan kepatuhan ‘seketika’.
Seorang anak dapat dilatih untuk patuh setelah tiga kali diberi tahu, atau bahkan setelah sekali diberi tahu. Ini semua tergantung kepada ‘sang pelatih’.

Contoh :
Ada kisah seorang anak berumur 2 tahun, pelatihan yang ia dapat untuk membentuk ketaatan telah menyelamatkan nyawanya. Ia keluar dari pintu depan dan berlari melewati halaman ke arah seekor kucing yang ada di seberang jalan. Pada saat yang sama, sebuah mobil melaju dari jalan itu. Ia tentu saja tidak tahu ada mobil yang mendekat.
Tiba-tiba kakaknya memanggilnya, “ Sarah, berhenti !”
Ia segera berhenti, dan mobil melaju terus.
Ingatlah ! Karena ketaatan seketika, maka nyawa anak itu diselamatkan.

Jika anak-anak tidak belajar mentaati orang tua, mereka akan mendpat kesulitan yang besar untuk mentaati Firman Allah.

3. Apabila anak melanggar dan tidak taat, berikan peringatan ( 2-3 kali ).
Jika tetap melanggar, lakukan tindakan disiplin dengan “segera”, jangan ditunda !
Peringatan bukanlah ancaman.
Tidak dibutuhkan teriakan atau ancaman yang keras.
Jangan mengancam dan mengulang-ulang ancaman.

Ada orang tua yang pada mulanya membujuk, kemudian mengancam, tawar-menawar, dan akhirnya memarahi anak. Ini akan memperburuk keadaan.

Atau … pernahkan kita melihat seorang anak yang dipukul oleh orang tuanya yang marah sambil berkata, “Mama sudah bilang 20 kali kepadamu untuk tidak melakukan hal itu, dan sekarang mama akan memukul kamu !”
Berapa kali kita harus mengancam sebelum anak kita taat ?
Setelah melarang 20 kali bukanlah waktu yang tepat untuk memperbaiki tingkah lakunya.

Atau … ketika anaknya tidak taat, si ibu mengatakan, “ Nanti ya, sampai papa pulang, kamu akan dihukum.”
Jangan ditunda, terutama untuk anak kecil akan dengan mudahnya melupakan alasan mengapa ia didisiplin dengan cara itu. Anak akan jadi bingung.

4. Sebelum melakukan ‘disiplin’, orang tua perlu menegaskan kesalahan / pelanggaran anak.
Anak perlu memahami mengapa ia menerima disiplin, tujuannya agar anak menyadari pelanggaran & bertobat.
Hindari kemarahan, sindiran dan omelan.

5. Disiplin dilakukan secara pribadi, tidak di depan publik.
Carilah tempat khusus, lakukanlah hanya antara orang tua dan anak.
Tujuannya untuk mengoreksi, bukan untuk mempermalukan.

6. Biarkan anak menangis dan merasakan “sakit”, berikan waktu untuk tenang.

7. Setelah anak tenang, ajak anak berdoa bersama untuk meminta pengampunan kepada Tuhan.
Ajar anak untuk meminta maaf kepada orang tua.

8. Orang tua memeluk anak ( rekonsiliasi ), agar anak tidak tertolak dan sakit hati, dan anak merasa yakin menerima pengampunan dari Tuhan.

9. Ingatkan anak untuk tidak mengulangi perbuatannya dan bila perlu jelaskan beberapa prinsip Firman Tuhan yang berkaitan dengan pelanggarannya.

” Didiplin mengakibatkan kepedihan sesaat,
tetapi memberikan kebahagiaan sepanjang hidup,
sikap yang serba membolehkan memberikan kesenangan sesaat,
tetapi mengakibatkan kepedihan sepanjang hidup. “

 


  • 0

Raising Kids God’s Way – 4

Tags :

Category : PARENTING

ORANG TUA BIJAK

Sebagai orang tua kita telah mengetahui mengapa kita harus mendidik anak, mempelajari pola-pola pengasuhan yang sangat berpengaruh pada anak, kemudian kita belajar untuk melakukan 10 hal agar dapat menjadi orang tua bijak.
Kita telah membahas 5 hal untuk menjadi orang tua bijak, dan berikut ini kita akan membahas masalah otoritas dan pengajaran.

Langkah-langkah berikutnya yang harus kita lakukan sebagai orang tua adalah :

6. Menjadi orang tua yang memiliki otoritas ( Roma 13 : 1 ).Sebagai orang tua kita harus menyadari bahwa kita memiliki otoritas yang berasal dari Allah.
Oleh karena itu orang tua harus memakai otoritas dari Tuhan untuk mengajar dan mendidik anak.

Tuhan telah memberikan otoritas kepada orang tua, artinya Tuhan ingin agar orang tua menjalankan bentuk kepemimpinan yang dibutuhkan, bukan diinginkan oleh anak-anak.
Pemberian otoritas kepada orang tua di dalam keluarga tidak dimaksudkan oleh Tuhan agar orang tua memimpin anak-anaknya dengan bengis, sikap keras atau tidak adil. Bukan pula agar orang tua bersikap acuh tak acuh, ceroboh ataupun serba membolehkan.

Anak-anak perlu dipimpin oleh orang tua karena mereka tidak mampu membedakan apa yang baik atau yang terbaik bagi dirinya. Dan anak memiliki sifat dosa yang egois dan mementingkan dirinya sendiri.

Marilah kita melihat grafik berikut ini :

Grafik OTORITAS vs HUBUNGAN

Ketika anak masih kecil, didiklah anak anda dengan pengaruh otoritas, ketika anak mulai dewasa, didiklah anak dengan pengaruh hubungan.

Saat anak masih kecil, orang tua harus memimpin anaknya dengan otoritas, karena :

a. Anak belum memiliki self control / pengendalian diri, sehingga kita harus mengontrol kehidupannya.
Contoh : anak tidak tahu kapan waktu makan, minum , tidur , dsb.
b. Hati nurani anak belum berfungsi, sehingga anak belum mengetahui mana yang benar dan mana yang salah.
Contoh : seorang anak berusia 2 tahun mungkin menginginkan es krim untuk makan pagi, tetapi ia tidak punya pengetahuan mengenai nutrisi sehingga ia tidak tau bahwa es krim tidak baik untuk menggantikan makanan utama.
c. Anak belajar terlebih dahulu bagaimana bertindak secara benar, baru berpikir secara benar.

Contoh :

Orang tua mengajarkan kepada anak-anak bahwa ke gereja duduk yang sopan, baik untuk memuji dan menyembah Tuhan, bukan berlari-larian. Mungkin saat itu anak belum bisa mengerti alasannya ( usia 1-2 tahun ).
Selama belum bisa mengerti mengenai pengajaran, kita memberikan instruksi & mengontrol anak untuk duduk dengan baik di gereja.
Ketika anak bertumbuh semakin besar ( usia 4-5 tahun ), kontrol orang tua berkurang, tetapi orang tua mulai memberikan pengajaran, sehingga anak-anak akan memperoleh pengertian.
Kita mengajarkan bahwa kita ke gereja untuk memuji dan menyembah Tuhan karena Tuhan layak dipuji dan ditinggikan.

Semakin besar usia anak, kontrol orang tua semakin berkurang, dan orang tua semakin banyak memberikan pengajaran.

Jika orang tua tidak menggunakan kekuatan otoritasnya sejak dini dan sangat longgar dalam aturan dengan alasan mengasihi anak, orang tua akan menjadi orang tua yang permisif. Akibatnya anak bertumbuh menjadi pribadi yang tidak dapat dikontrol oleh orang tua.
Tetapi ketika anak mulai besar, ia sudah bertumbuh dalam tanggung jawab, orang tua mulai melonggarkan kepemimpinannya melalui otoritas dan harus mengembangkan kepemimpinan melalui hubungan.
Jika orang tua gagal melihat pentingnya perubahan cara kepemimpinan tersebut, orang tua dapat menjadi orang tua yang otoriter.

7. Menjadi orang tua yang memberikan pengajaran ( Ulangan 6 : 6-7 ).

Prinsip dalam mengajar anak-anak kita :

a. Apa yang diajarkan ?
Hal-hal yang perlu diajarkan kepada anak kita adalah :
– Tuhan.
– Firman Tuhan.
– Karakter.
– Prinsip Hidup.
– Nilai dalam keluarga & kehidupan.
– Manners / Etika

Kita harus mengetahui dengan jelas nilai apa yang kita tanam dalam keluarga.
Karena kita tahu betapa pentingnya apa yang harus diajarkan kepada anak, maka pengajaran ini tidak bisa diserahkan kepada orang lain, pembantu, baby sitter, dll…
Tidak ada yang bisa menjamin apa yang akan mereka ajarkan.

b. Dalam keadaan non konflik.

Artinya, seringkali ketika anak sudah melakukan kesalahan, kita memarahi anak, terjadi konflik dan kita berusaha mengajarkan apa yang benar dan apa yang salah.
Pada saat seperti ini ( saat konflik ), justru semua yang kita katakan dan kita ajarkan pada anak tidak akan ditangkap oleh anak.
Seharusnya … waktu yang terbaik untuk kita menanamkan nilai-nilai pengajaran adalah pada saat tenang.
Namun, biasanya dalam keadaan tenang, orang tua sering lupa. Sehingga jika kesalahan muncul akan terjadi konflik berikutnya.

Kapankah waktu yang baik yang dapat kita gunakan untuk mengajarkan anak ?

Di dalam Ulangan 6 : 6-7 menuliskan :

“ Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,
haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”

Jadi pada setiap saat dan setiap kesempatan … itulah waktu yang terbaik untuk mengajar anak-anak kita.

SETIAP SAAT / MENGGUNAKAN KESEMPATAN YANG ADA

• Pada saat kita memandikan anak kita, kita bisa menanamkan kepada anak kita bahwa ‘ Yesus membersihkan hidup ktia dari dosa-dosa sehingga putih seperti salju’.
• Pada saat kita menyiapkan roti untuk anak kita, kita bisa menanamkan kepada anak kita bahwa ‘manusia hidup bukan hanya dari roti saja, tetapi dari Firman Tuhan yang hidup’.
• Pada saat kita menyisir rambut anak kita, kita bisa mengajarkan bahwa ‘sehelai rambut pun jika Tuhan tidak ijinkan tidak akan jatuh’. Menanamkan betapa Tuhan sangat memperhatikan hidup kita.

SAAT MAKAN

Banyak keluarga yang mengabaikan acara makan bersama. Masing-masing sibuk dengan urusan masing-masing dan makan pun masing-masing.
Padahal … acara makan bersama adalah kesempatan yang baik untuk berbagi antara anggota keluarga dan menanamkan nilai-nilai kepada anak-anak.

SAAT BEPERGIAN / DI KENDARAAN

Mari kita renungkan … sebagai orang tua, apa yang sering kita lakukan pada saat bersama-sama di kendaraan ? Ada yang sibuk dengan handphone, sibuk dengan pikiran masing-masing, sibuk melihat pemandangan di luar.
Di dalam kedaraan adalah kesempatan yang baik di mana orang tua dan anak memiliki waktu yang cukup lama untuk saling berkomunikasi.

SAAT MENJELANG TIDUR

Waktu menjelang tidur dapat digunakan untuk menceritakan kepada anak-anak nilai-nilai kehidupan melalui buku cerita Alkitab, untuk evaluasi apa yang terjadi pada hari itu dan berdoa bersama-sama.

SAAT BANGUN PAGI

Apakah kita sebagai orang tua telah memprioritaskan Mesbah Keluarga di pagi hari ?
Sebelum melakukan aktivitas masing-masing, setiap anggota keluarga akan mendapatkan kekuatan dengan mendapatkan siraman rohani di pagi hari melalui Mesbah Keluarga.
Jangan kita abaikan hal ini.

c. Berulang-ulang.

“ Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan,
haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”
( Ulangan 6 : 6-7 )
Firman Tuhan menuliskan ‘berulang-ulang’ …. mengapa ?
Karena mendidik anak bukanlah suatu pekerjaan yang instan. Hasilnya tidak dapat diperoleh dengan seketika.

Seringkali terjadi jika anak sudah diajar berkali-kalli, tetapi tetap melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang.
Apabila hal ini terjadi, sebagai orang tua jangan merasa lelah dan jangan lupa, karena selama masih ada kesempatan, ajarlah anak kita dengan berulang-ulang.
Karena hal inilah betapa pentingnya orang tua mendampingi anak, terlibat dengan anak agar mengetahui perkembangan anak.

Apakah seorang pembantu atau baby sitter dapat mengemban tugas penting seperti ini ?