Monthly Archives: February 2009

  • 0

Raising Kids God’s Way – 3

Tags :

Category : PARENTING


ORANG TUA BIJAKBagaimana kita dapat menjadi orang tua bijak?

1. Menjadi orang tua yang mengasihi Tuhan ( I Yoh 4 : 19 ).

Kita tidak mungkin mengasihi anak kita sesuai yang dibutuhkan oleh anak kita, jika kita tidak mengasihi Tuhan terlebih dahulu.
Bagaimana kita menjadi orang tua yang bijak sangat bergantung pada hubungan kita dengan Allah Bapa di sorga.
Kita tidak dapat mengasihi “tanpa syarat” jika kita tidak mengalami kasih “tanpa syarat” dari Tuhan.
Tuhan adalah sumber dari kasih tersebut. Kita dapat mempelajari dan melakukan banyak hal sebagai orang tua, tetapi jika kita tidak memulai dengan mengasihi Tuhan, maka akan gagal menjadi orang tua yang bijak.

Anak-anak akan belajar “apa yang penting” bagi orang tuanya, itulah juga “yang penting” bagi mereka.

Ketika mengasihi Tuhan dengan segenap hati, berarti kita menempatkan prinsip “CHRIST CENTER” dalam keluarga kita, bukan “CHILD CENTER.”
Hal ini berarti Yesus sebagai pusat dalam kehidupan keluarga kita dan prinsip-prinsip Firman Tuhan yang akan menjadi mercu suar dalam keluarga kita.

2. Menjadi orang tua yang berdoa ( I Tes 5 : 17 ).

Apakah kita mendoakan anak-anak kita ? Walaupun kita sering mengatakan bahwa hal penting dalam hidup kita adalah berdoa, berapa banyakkah waktu yang kita sediakan untuk mendoakan anak-anak kita ?
Sebagai orang tua, doa adalah hadiah abadi yang kita berikan kepada anak-anak kita.

Ketika kita berdoa pun kita sedang mengajarkan mereka pentingnya berdoa dan bagaimana cara berdoa.

Marilah kita berdoa untuk :

• Rencana Allah dalam kehidupan anak kita, bukan rencana kita.
• Agar kita dapat memandang anak kita seperti Tuhan memandang mereka.
• Setiap detail kehidupan anak kita.

Kita tidak cukup hanya berdoa untuk masalah hari ini. Kita perlu berdoa untuk masa depan, bahkan kita perlu berdoa untuk menanggulangi pengaruh buruk peristiwa di masa lalu.

3. Menjadi orang tua yang sehati ( Mazmur 133 : 1 – 3 ).

Salah satu pengaruh terbesar terhadap anak-anak terletak pada hubungan suami dan isteri.
Sebagai orang tua, kita harus memprioritaskan hubungan suami isteri agar dapat mendidik anak dengan baik.

Kuallitas hubungan orang tua dan anak akan tergantung pada kualitas hubungan antara suami dan isteri.

Hubungan yang kuat antara suami dan isteri memberikan rasa aman kepada jiwa anak, karena anak-anak perlu tahu bahwa papa dan mama saling mengasihi.

Banyak suami dan isteri yang pada mula pernikahan memiliki hubungan yang sangat indah, tetapi ketika memiliki anak mereka lupa pentingnya hubungan itu harus dibangun dan mereka memfokuskan kepada anaknya berlebihan.

Meremehkan hubungan suami isteri dapat menjadi awal kehancuran suatu keluarga tanpa disadari.

4. Menjadi orang tua yang mengasihi anak.

Dengan mengasihi anak kita , ktia sedang mengisi “tangki emosional”-nya dengan cinta. Bilamana anak merasa dikasihi, ia akan jauh lebih mudah didisiplin dan dilatih daripada “tangki emosionalnya” hampa.

Bagaimana kita dapat mengasihi anak kita ?

Penting bagi anak-anak kita untuk dikasihi oleh orang tuanya dengan “kasih tanpa syarat.”
Seringkali sebagai orang tua, tanpa berpikir panjang kita berkata, “ Kalau kamu mendapat nilai 100, baru namanya anak papa !” Atau, “ Kalau kamu nakal, nanti mama ngga sayang !”
Dengan memperlakukan demikian, berarti kita sedang menanamkan kepada anak, bahwa kita akan mengasihi dan menerima anak kita dengan syarat tertentu. Hindarilah hal-hal yang demikian.

Untuk dapat mengasihi dan mengisi tangki emosional anak kita, kita perlu belajar dan memahami “ BAHASA CINTA “ yang dimiliki oleh anak-anak kita.
Bahasa cinta merupakan ungkapan ekspresi cinta yang akan membuat seseorang merasa dikasihi dan mengasihi. Setiap manusia mempunyai bahasa cinta yang berbeda.
Ada lima bahasa cinta, yaitu : sentuhan fisik, ucapan yang membangun, waktu berkualitas, pemberian hadiah dan perbuatan melayani.

Apabila seorang anak memiliki bahasa cinta ‘sentuhan fisik’, dia akan merasa dikasihi apabila ia sering dipeluk dan dirangkul oleh orang tuanya.
Marilah kita mengenali bahasa cinta yang dimiliki oleh anggota keluarga kita.

5. Menjadi orang tua yang menyediakan waktu /terlibat.

Kebanyakan sebagai orang tua, kita sibuk bekerja, tenggelam dalam masalah sendiri atau masalah keuangan, sehingga sejauh anak-anak tidak menimbulkan masalah besar, kita menganggap segalanya baik-baik saja.

Bila kita tidak menghentikan segala kegiatan dan tidak menyediakan waktu untuk memperhatikan, bermain, mendengarkan, bertanya dan menciptakan komunikasi, anak-anak akan menganggap kita tidak memahami mereka.
Dan , jika kita tidak memahami, mereka menangkap kesan bahwa kita tidak peduli.
Hasilnya, mereka akan mencari perhatian dari sumber lain.

Anak-anak tidak akan mengikuti orang tua yang tidak memahami mereka, karena anak-anak akan jauh lebih mempercayai orang tua yang sungguh-sungguh mengasihi, mempercayai dan menghargai mereka.

Namun, ada pandapat, sebagai berikut, “ Persoalannya, bukan berapa banyak waktu yang Anda gunakan dengan anak-anak Anda, tetapi apakah waktu yang Anda gunakan itu berkualitas tinggi.”
Berkualitas tinggi bagi siapa ?
Waktu berkualitas bagi seorang anak berusia tiga tahun mungkin merupakan hadirnya ibu di sana untuk merawat luka dan mengganti popok. Seorang anak yang berusia sembilan tahun mungkin menganggap waktu yang berkualitas apabila ibunya dapat dijumpai seusai sekolah untuk diajak berbicara begitu ia masuk dari pintu.

Janganlah mengabaikan pengalaman-pengalaman “berada dekat mereka” setiap hari !


  • 0

Raising Kids God’s Way – 2

Tags :

Category : PARENTING


POLA PENGASUHANDalam mendidik anak, salah satu faktor yang sangat mempengaruhi adalah pola pengasuhan.
Orang tua biasanya mewarisi pola pengasuhan tersebut dari orang tuanya dan faktor lain seperti temperamen orang tua, tuntutan nilai-nilai masyarakat serta harapan-harapan sebagai orang tua.

Faktor-faktor yang menentukan pola pengasuhan adalah DISIPLIN dan KASIH SAYANG.

Kombinasi dari kedua faktor tersebut akan menghasilkan 4 jenis pola pengasuhan sebagai berikut :

1. Disiplin tinggi, kasih sayang rendah.

Orang tua yang demikian disebut orang tua yang “otoriter” .
Otoriter berarti menggunakan otoritasnya secara berlebihan.

Ciri – cirinya adalah :

• Orang tua menetapkan banyak peraturan di dalam rumah.
• Orang tua mudah memberi hukuman terutama fisik setiap kali anak melakukan kesalahan.
• Orang tua menuntut ketaatan anak, namun tidak disertai dengan melatih anak maupun membangun hubungan dengan anak.
Misalnya, tidak menjelaskan mengapa tidak boleh.
• Orang tua otoriter lebih berfokus pada larangan dan konsekuensi hukuman daripada mendorong hal yang positif pada anak.
• Orang tua sering memaksakan kehendak kepada anak-anaknya.
• Komunikasi antara orang tua dan anak sangat terbatas dan searah.

Hasilnya :

Anak akan melihat bahwa orang tuanya adalah ‘tukang pukul’, ‘tukang disiplin’ dan ‘jahat’.
Maka anak-anak akan menjadi anak yang sakit hati, anak yang memberontak karena kurang diperhatikan. Atau anak-anak akan menjadi anak yang memiliki gambar diri yang rusak, minder, tidak berani mengambil inisiatif.

2. Disiplin rendah, kasih sayang tinggi.

Orang tua yang demikian disebut orang tua yang “permisif”.
Permisif berarti tidak menggunakan otoritasnya sebagai orang tua sehingga menjadi orang tua yang ‘serba membolehkan.”

Ciri – cirinya adalah :

• Orang tua mempunyai prisip bahwa tanggung jawab mereka adalah membahagiakan anak.
• Sehingga mereka sangat menunjukkan kasih sayang, tetapi cenderung tidak tegas dan tidak berani mendisiplinkan anak jika anak melakukan kesalahan.
• Orang tua tidak memiliki aturan yang jelas di dalam rumah.
Misalnya, kapan mau main, kapan mau makan, silakan ….
Sesungguhnya, orang tua memberikan aturan dan nilai moral kepada anak-anak.
• Orang tua membiarkan anak mengatur dirinya sendiri.
• Orang tua menghindari konflik dengan anak-anak.
Misalnya, daripada anak menangis, lebih baik diberikan saja apa yang anak-anak inginkan.
• Orang tua lebih mengalah pada kemauan anak, sehingga mereka cenderung diatur oleh anak.
Misalnya, apa yang anak inginkan selalu dituruti, jarang dilarang, terserah anak, apa yang anak inginkan tidak bisa dicegah.
• Orang tua permisive akan cenderung menjadikan anak sebagai bos dan nomor satu di rumah.
Seharusnya kita memberikan aturan dan nilai-nilai moral pada anak.

Hasilnya :

Orang tua yang permissive akan cenderung menjadikan anak sebagai ‘bos’ dan nomor satu di dalam rumah.
Prinsip seperti ini disebut dengan CHILD CENTER, yaitu anak menjadi pusat di dalam keluarga.
Maka anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang egois, tidak memiliki penguasaan diri, tidak bertanggung jawab, cenderung mengatur dan tidak menghargai orang tua.
Anak-anak akan tumbuh menjadi anak yang manja dan ‘semau gue.’
Ketika ia besar, ia akan menjadi orang yang tidak bisa tunduk kepada peraturan.

3. Disiplin rendah, kasih sayang rendah.

Orang tua yang demikian disebut orang tua yang “tidak perduli.”

Ciri-cirinya adalah :

• Orang tua tidak memperhatikan dan memberikan dukungan kepada anak.
• Orang tua tidak mau terlibat dalam kehidupan anak.
Misalnya anak tidak pernah disayang, tetapi tidak pernah didisiplin juga.
• Orang tua menolak dan mengabaikan keberadaan anak.

Hasilnya :

Anak yang dibesarkan dalam pola pengasuhan yang demikian akan menjadi ‘anak sia-sia.’
Anak akan merasa dirinya tidak berharga, anak memiliki rasa tidak aman, batinnya terluka dan memberontak. Anak akan sulit berprestasi dan sering menjadi anak yang bermasalah.

4. Disiplin tinggi, kasih sayang tinggi.

Orang tua yang demikian disebut orang tua yang “bijak”.

Ciri-cirinya adalah :

• Orang tua memiliki aturan, batasan dan standar yang jelas di dalam keluarga.
• Orang tua yang menanamkan nilai-nilai di dalam keluarga.
• Orang tua yang menghargai anak.
• Orang tua yang memiliki hubungan yang hangat dan baik dengan anak.
• Orang tua memberikan disiplin yang tepat pada anak ketika ia bersalah dan ada penjelasan sebelum ia dihukum.
• Orang tua membangun komunikasi dengan dasar percaya dan terbuka.

Hasilnya :

Anak yang dibesarkan dengan pola pengasuhan yang demikian akan menjadi ‘anak Ilahi’.

Anak akan :
• Memiliki gambar diri yang baik.
• Bertanggung jawab dan mampu menguasai diri.
• Tidak merasa sakit hati tatkala didisiplin.
• Tidak mudah goyah dalam situasi yang sulit.
• Memiliki komunikasi yang sehat.
• Menghargai otoritas dan mau meneladani iman orang tua.
• Berpotensi untuk berprestasi dalam akademik.

Akan yang demikian akan menjadi anak yang dahsyat dipakai Tuhan.

Bagaimana dengan kita sebagi orang tua ?
Seringkali masa lalu kita akan berpengaruh dalam pola pengasuhan yang akan dilakukan terhadap anak-anak kita.
Apabila kita dibesarkan oleh orang tua yang otoriter, maka saat kita membesarkan anak, kita akan memiliki kecenderungan ‘tidak mau seperti orang tua kita.’ Kita akan menjadi orang tua yang permissive. Demikian juga sebaliknya.

Tetapi, biarlah sebagai orang tua, kita belajar untuk hidup dan membesarkan anak bukan berdasarkan masa lalu kita, tetapi dengan cara Allah. Dengan demikian, kita sedang membentuk anak-anak Ilahi yang akan menjadi berkat bagi bangsa ini.

 


  • 0

Raising Kids God’s Way – 1

Tags :

Category : PARENTING


Mazmur 127 : 3 – 5“ Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN,
dan buah kandungan adalah suatu upah. Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan,
demikianlah anak-anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu,
apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang. “

Apa yang dilakukan seorang pahlawan dengan sejumlah anak panahnya ? Ia akan melesatkan mereka ke arah seorang musuh. Allah telah merencanakan bahwa benih Ilahi akan dibesarkan untuk menghancurkan pekerjaan-pekerjaan musuhNya.
Tuhan berfirman bahwa anak-anak adalah seperti anak-anak panah di tangan seorang pahlawan.

Anak-anak adalah sebuah warisan, sebuah karunia, anak-anak panah atau sejata digunakan untuk melawan musuh di hari mendatang.
Mereka adalah berkat dari Tuhan.

Siapakah pahlawan itu ?

Pahlawan adalah kita sebagai orang tua.
Seorang pahlawan adalah seseorang yang bersedia mengambil tanggung jawab, sekalipun ada harga yang harus dibayar.
Yaitu untuk : membentuk, menajamkan, membidik dan melepaskan anak mereka sebagai anak panah kepada sasaran yang tepat, yaitu panggilan dan rencana Allah di dalam hidupnya dan memuliakan Allah melalui hidupnya.

Oleh karena itu, orang tua perlu menangkap visi Tuhan untuk anaknya dan orang tua harus jelas dengan apa yang diharapkan kepada anaknya.

Mengapa orang tua perlu mendidik anak ?

1. Perintah Tuhan terhadap orang tua (Efesus 6 : 4).

Otoritas untuk mendidik anak diberikan oleh Tuhan kepada orang tua, bukan kepada pembantu, baby sitter, opa-oma, guru sekolah minggu, ataupun guru-guru di sekolah.

2. Anak – anak adalah pusaka daripada Tuhan (Mazmur 127 : 3a).

Karena anak yang telah Tuhan percayakan kepada kita adalah harta yang paling berharga.
Sebagai orang tua, kita harus mendoakan dan bertanggung jawab untuk membawa anak kita mengenal Tuhan dan mendapat tempat dalam Kerajaan Allah.

3. Dalam diri seorang anak sudah berdosa (Mazmur 51 : 7).

Sejak dilahirkan, kita semua sudah dilahirkan dalam dosa.
Dan akibat dosa, setiap manusia dilahirkan dengan kecenderungan alami, yaitu : Mementingkan diri sendiri dan memuaskan diri sendiri.
Sebagai contoh, sejak kecil anak-anak tidak bisa sharing, egois, keinginan selalu harus dituruti, memberontak terhadap orang tua, melawan, berbohong.

Sebagai orang tua, kita perlu menjaga dan mendidik anak kita agar sifat dosa ini tidak menghancurkan mereka.

4. Anak adalah mudah terpengaruh / mudah “dirusakkan” (I Kor 15 : 33)

Kita harus menanamkan prinsip Firman Tuhan kepada anak-anak kita agar mereka memiki dasar yang kuat dan tidak terpengaruh oleh lingkungan yang dapat menghancurkan mereka.

Apa saja yang dapat berdampak buruk bagi anak-anak kita ?
Televisi, internet, temen-temen sekolah, lingkungan.

5. Anak adalah upah (Mazmur 127 : 3b).

Sehingga anak – anak dapat menjadi sukacita bagi orang tuanya dan orang-orang lain, BUKAN MENJADI BEBAN !!

Apabila orang tua berhasil mendidik anaknya , maka anak akan :
– Mendatangkan sukacita ( Amsal 10 : 1 ).
– Menggembirakan ayahnya ( Amsal 15 : 20 ).
– Memberikan ketentraman ( Amsal 29 : 17 ).

Apabila orang tua gagal dalam mendidik anaknya :
– Anak yang bebal menyakiti hati ayahnya ( Amsal 17 : 25 )
– Anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya ( Amsal 29 : 15 )

Mari kita renungkan sebagai orang tua, apakah selama ini anak-anak kita membawa sukacita atau memusingkan kita dan menjadi beban buat kita ???

6. Anak – anak adalah generasi penerus (Kejadian 1 : 28).

Sebagai orang tua, kita mempersiapkan anak-anak kita agar :

Mereka menjadi kebanggaan bagi Kerajaan Allah.
Yaitu memiliki karakter – karakter Kristus.

Mereka dipakai untuk memajukan Kerajaan Allah.
Yaitu menjadi orang-orang yang ‘berpengaruh’.

Tuhan memerintahkan kita untuk mengajar anak-anak kita bahkan cucu cicit kita tentang Dia, sehingga mereka akan mengajar anak-anak mereja untuk juga mengajarkan kepada anak-anak mereka. Dengan membangun mata rantai kebenaran dari generasi ke generasi.

Allah rindu melihat sebuah keluarga yang melayani Dia dengan setia dari generasi ke generasi.

Nasib masyarakat kita tergantung pada apa yang terjadi di dalam keluarga !

 


  • 0

Home Sweet Home

Tags :

Category : FAMILY

Pernahkah anda bermimpi mengenai sebuah Rumah Idaman?
Rumah Idaman seperti apakah yang anda inginkan?

Mungkin kita sering berpikir, seandainya rumah saya lebih besar, seandainya rumah saya seindah rumah tetangga saya, seandainya perabotan saya lebih lengkap?

Tetapi, tahukah bahwa banyak orang yang memiliki rumah / tempat tinggal ( house ), bahkan memiliki rumah yang mewah berisi perabotan yang mewah dan lengkap, tetapi belum tentu merasakan “ kebahagiaan ” di dalam keluarga.

Sehingga seringkali rumah kita hanya menjadi HOTEL, tempat kita menginap atau tidur di malam hari, namun kita tidak betah tinggal di dalamnya. Ataupun rumah kita menjadi ARENA PERTARUNGAN, di mana banyak konflik terjadi, atau pun sebagai tempat pelampiasan kemarahan satu sama lain.
Atau … sebagai PUSAT HIBURAN, di mana anggota keluarganya lebih banyak mengisi waktu di rumah dengan menonton televisi dan film, bermain game atau internet.

Mengapa demikian ?
Karena kebahagiaan dalam keluarga, tidak ditentukan dari besarnya atau mewahnya sebuah rumah, tapi bagaimana kita membangun dan menciptakan rumah kita menjadi “ home sweet home”.

Ada sebuah kalimat :

“ Home is not just a place you live – it’s a place you grow up in.”
( Christina )

“House is where the building is but home is where the heart is.”
( Clavel )

Marilah kita : make a HOUSE a HOME

Mengapa hal ini penting ?

Di dalam rumah, dibangunlah keluarga yang kuat.
Keluarga yang kuat membangun masyarakat dan gereja yang kuat.
Masyarakat dan gereja yang kuat membangun kebudayaan yang kuat.
Kebudayaan yang kuat membangun negara yang kuat.

Bagaimana caranya ?

Di dalam Mazmur 127 : 1, menuliskan,

“ Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga. “

Hal yang utama dalam membangun rumah / keluarga, adalah melibatkan Tuhan di dalam keluarga kita.
Jika tidak, sia-sialah usaha kita !
Seberapa besar biaya yang kita keluarkan untuk membangun rumah, seberapa banyak keringat yang kita keluarkan untuk membangun keluarga yang bahagia … sia-sialah semuanya itu jika kita tidak mengundang Dia sebagai ‘Master’ in our home !

Apa yang harus kita ‘bangun’ di dalam rumah kita ?

Make our home a :

1. Church
Mengapa hal ini penting ? Jika kita ‘make our home a church’, berarti hadirat Tuhan akan memenuhi rumah kita.
Ketahuilah bahwa anak-anak kita lebih banyak menghabiskan waktu di rumah daripada di gereja, sehingga atmosfer hadirat Allah di dalam rumah kita lebih memperngaruhi mereka dibandingkan program terbaik apa pun yang ada di gereja.

Untuk ‘make our home a church’, kita harus menjadikan relationship dengan Tuhan adalah prioritas utama di dalam keluarga kita.
Bangun Mezbah Keluarga dengan konsisten setiap hari, doa bersama, mempelajari Firman bersama-sama.

2. Restoration Center
Artinya sebagai “pusat pemulihan”.
Mengapa ? Karena setiap anggota keluarga akan menghadapi problem ketika berada di luar rumah. Seperti problem pekerjaan, konflik dengan orang lain, anak-anak mengalami problem di sekolah dengan teman-temennya. Walaupun mengalami banyak problem, ketika tiba di rumah, masing-masing anggota keluarga saling mendukung satu sama lain, peroblem yang ada bisa terselesaikan.
Rumah merupakan tempat untuk menyelesaikan konflik, tempat untuk belajar dari kesalahan yang ada juga bisa merupakan tempat untuk mempraktekkan kasih dan pengampunan setiap anggota keluarga.
Banyak anak-anak muda jatuh dalam narkoba, pergaulan yang buruk, karena hati mereka penuh dengan kepahitan dan sakit hati yang tidak terselesaikan di keluarga. Bagaimana dengan keluarga kita ?

3. Growth Center
Rumah adalah tempat untuk pertumbuhan, baik pertumbuhan secara fisik, mental, intelektual maupun pertumbuhan rohani dengan seimbang.
Menyediakan nutrisi yang baik bagi kesehatan keluarga, di mana justru banyak anak-anak jaman sekarang sudah dicemari dengan jajanan yang merusak kesehatan, makanan ‘junk food’ yang tidak baik bagi pertumbuhan.
Memberikan semangat bagi setiap anggota keluarga untuk mengejar mimpi dan masa depan yang penuh harapan.
“Tidak ada lingkungan yang lebih baik untuk membesarkan anak-anak dibandingkan keluarga yang takut akan Tuhan.”

4. Playground
Rumah adalah tempat untuk relaksasi, menikmati kesenangan bersama-sama, penuh dengan canda dan tawa, bermain dan rekreasi bersama.
Masing-masing anggota keluarga akan mendapatkan penghiburan yang sesungguhnya.
Pusat hiburan yang sesungguhnya adalah di dalam keluarga, bukan di cafe, diskotik .. yang merupakan hiburan semu.

5. School
Rumah adalah tempat untuk belajar. Apa yang dipelajari ?
Belajar mengenai nilai-nilai kehidupan, etika, karakter.
Anak-anak bisa belajar mengenai kehidupan rumah tangga melalui orang tuanya sebagai persiapan di masa mendatang.
Belajar memasak, belajar mengatur rumah tangga, mengekspresikan kreativitas, dsb.

6. Communication Center
Rumah adalah pusat komunikasi yang terbaik dan terpercaya. Tempat sharing dan curhat, di mana setiap anggota keluarga dapat terbuka untuk menyampaikan pikiran dan perasaan tanpa dihakimi.

7. Wedding Party
Kebahagiaan pernikahan biasanya hanya terjadi di pesta pernikahan dan bulan madu saja. Sesudah itu, pasangan akan menghadapi berbagai macam persoalan yang dapat menimbulkan konflik dan membuat keluarga menjadi tidak harmonis lagi.
Jangan biarkan itu terjadi. Pilihan ada di tangan kita !
Kebahagiaan dalam pernikahan tidak terjadi secara otomatis, tetapi perlu dipelihara sepanjang masa.
Marilah kita terus menciptakan dan memelihara suasana kebahagiaan pernikahan di rumah kita. Biarlah rumah kita menjadi tempat untuk saling mengekspresikan kasih dan berbagi keintiman.
Keluarga yang bahagia akan menghasilkan anak-anak yang bahagia pula.

8. Meeting Office
Biarlah rumah kita menjadi tempat untuk merencanakan kegiatan-kegiatan keluarga dan merancang strategi masa depan keluarga.
Banyak pasangan yang tidak mengetahui bahwa kebahagiaan dan masa depan keluarga memerlukan perencanaan.
Keluarga yang sukses tidak dapat terjadi secara kebetulan …. Sama seperti membangun rumah, pernikahan yang sukses adalah produk dari perencanaan yang cermat dan rancangan yang serius, bahan yang benar, nasihat yang baik dan kontraktor yang memenuhi syarat.

9. Museum
Jadikan rumah kita sebagai tempat untuk mengenang dan mengingat hal-hal yang telah Tuhan lakukan dalam keluarga kita. Beritakanlah kebesaran-kebesaran Tuhan kepada anak-anak kita turun-temurun.
Warisan apakah yang ingin kita turunkan kepada keluarga kita ? Warisan yang kekal ! Nilai-nilai Kerajaan Allah !
Buatlah foto-foto kenangan bersama dengan keluarga. Kenangan keluarga tidak akan berakhir selamanya !

10. House of Blessing
Jadikan rumah kita sebagai rumah yang memberkati orang-orang lain yang berkunjung. Mereka akan merasakan kehangatan, kasih dan penerimaan yang tulus. Make people feel at home !
Sediakanlah rumah kita sebagai tempat untuk memuji dan menyembah Tuhan bersama-sama, seperti ‘komsel’, tempat persekutuan orang-orang percaya, doa bersama, dll


  • 0

Jalur Kereta Api

Category : SELF DEVELOPMENT


Sekelompok anak kecil sedang bermain di dekat dua jalur kereta api.
Jalur yang pertama adalah jalur aktif (masih sering dilewati KA), sementara jalur kedua sudah tidak aktif.
Hanya seorang anak yang bermain di jalur yang tidak aktif (tidak pernah lagi dilewati KA), sementara lainnya bermain di jalur KA yang masih aktif.
Tiba-tiba terlihat ada kereta api yang mendekat dengan kecepatan tinggi….Kebetulan Anda berada di depan panel persimpangan yang mengatur arah KA tersebut.

Apakah Anda akan memindahkan arah KA tersebut ke jalur yang sudah tidak aktif dan menyelamatkan sebagian besar anak kecil yang sedang bermain ?
Namun hal ini berarti Anda mengorbankan seorang anak yang sedang bermain dijalur KA yang tidak aktif. Atau Anda akan membiarkan kereta tersebut tetap berada di jalur yang seharusnya?

Mari berhenti sejenak dan berpikir keputusan apa yang sebaiknya kita ambil ?

Sebagian besar orang mungkin akan memilih untuk memindahkan arah kereta dan hanya mengorbankan jiwa seorang anak.
Anda mungkin memiliki pilihan yang sama karena dengan menyelamatkan sebagian besar anak dan hanya kehilangan seorang anak adalah sebuah keputusan yang rasional dan dapat disyahkan baik secara moral maupun emosional.

Namun sadarkah Anda bahwa anak yang memilih untuk bermain di jalur KA yang sudah tidak aktif, berada di pihak yang benar karena telah memilih untukbermain di tempat yang aman?
Di samping itu, dia harus dikorbankan justru karena kecerobohan teman-temannya yang bermain di tempat berbahaya.

Dilema semacam ini terjadi di sekitar kita setiap hari.
Di kantor, dimasyarakat, di dunia politik dan terutama dalam kehidupan demokrasi, pihak minoritas harus dikorbankan demi kepentingan mayoritas.
Tidak peduli betapa bodoh dan cerobohnya pihak mayoritas tersebut.

Nyawa seorang anak yang memilih untuk tidak bermain bersama teman-temannya di jalur KA yang berbahaya telah dikesampingkan.
Dan bahkan mungkin tidak kita tidak akan menyesalkan kejadian tersebut.

Seorang teman yang menulis cerita ini berpendapat bahwa dia tidak akan mengubah arah laju kereta karena dia percaya anak-anak yang bermain di jalur KA yang masih aktif sangat sadar bahwa jalur tersebut masih aktif.
Akibatnya mereka akan segera lari ketika mendengar suara kereta mendekat.
Jika arah laju kereta diubah ke jalur yang tidak aktif maka seorang anak yang sedang bermain di jalur tersebut pasti akan tewas karena dia tidak pernah berpikir bahwa kereta akan menuju jalur tersebut.
Di samping itu, alasan sebuah jalur KA dinonaktifkan kemungkinan karena jalur tersebut sudah tidak aman.
Bila arah laju kereta diubah ke jalur yang tidak aktif maka kita telah membahayakan nyawa seluruh penumpang di dalam kereta. Dan mungkin langkah yang telah ditempuh untuk menyelamatkan sekumpulan anak dengan mengorbankan seorang anak, akan mengorbankan lagi ratusan nyawa penumpang di kereta tersebut.

Kita harus sadar bahwa HIDUP penuh dengan keputusan sulit yang harus dibuat.
Dan mungkin kita tidak akan menyadari bahwa sebuah keputusan yang cepat tidak selalu menjadi keputusan yang benar.

“Ingatlah bahwa sesuatu yang benar tidak selalu populer
dan sesuatu yang populer tidak selalu benar”.