Monthly Archives: August 2008

  • 0

Investasikan Waktumu

Category : FAMILY


“Aku sudah tak sabar lagi menunggu liburan kenaikan kelas, papaku janji kalo aku naik kelas, dia akan mengajakku liburan bersama dan kami akan pergi memancing di danau, kami akan naik perahu kecil, lalu berhenti di tengah untuk menunggu ikan untuk dipancing ….!”, cerita si anak pada seluruh temannya di kelas, sambil dia terus membanggakan ayahnya yang ahli dalam memancing. Mata si anak berbinar-binar saat menceritakan rencana liburan mereka.

Sejak janji itu diucapkan ayahnya 2 bulan yang lalu, si anak selalu menghitung hari, setiap hari dia melingkari kalender di rumahnya, hatinya sudah tidak sabar ! Setiap kali mengingat janji sang ayah, hatinya sangat bersukacita, bahkan kadang-kadang ibunya menjadikan janji itu sebagai senjata supaya sang anak tunduk. Seperti, kemarin sang anak tidak mau makan, karena kehabisan akal si ibu mendapat ide untuk mengancam, “Nanti kalo kamu tidak mau makan, ayah tidak jadi mengajak kamu memancing lho!”, ternyata ancaman itu ampuh juga. Intinya sang anak mau melakukan perintah ibunya asalkan acara memancing bersama ayahnya tetap terlaksana.

Tepat 1 hari menjelang hari yang dinanti-nantikan itu, sang ayah mengetuk pintu kamar sang anak, dilihatnya sang anak sedang sibuk mempersiapkan acara liburan spesialnya bersama sang ayah. Semua peralatan memancing sudah siap di kamar anaknya, sepatu, topi, baju, celana, handuk, umpan, alat pancing, dll. Dalam hati sang ayah merasa tak tega, tapi dia memberanikan diri berkata “Sayang…, papa mau minta maaf, kamu jangan kecewa yach, besok papa terpaksa harus membatalkan acara memancing kita …”, Sang anak terbelalak tak percaya, matanya mulai berkaca-kaca, ” Papahhh !” seru anak tersebut. “Sayang…., kita kan masih ada hari lain, kebetulan besok papa ada rapat mendadak, dan ada tugas kantor yang sangat penting dan tidak bisa papa tinggalkan”.

Sang anak benar-benar sangat kecewa, dia naik ke tempat tidur dan menangis sejadi-jadinya. Sambil terisak-isak sang anak bertanya, “Papa, berapa sich gaji yang papa terima dari kantor per hari?” Sang ayah menjadi terheran-heran, tetapi untuk menghibur anaknya sang ayah menjawab sejumlah nilai nominal. Kemudian Si anak pergi keluar meninggalkan ayahnya yang masih duduk terheran-heran di kamar. Setelah 15 menit kemudian si anak datang, di tangannya menggenggam uang logam bercampur dengan uang kertas dan seluruh uang itu diletakkan di hadapan ayahnya.
Belum selesai kebingungan ayahnya, sang anak berkata, “Papa ini seluruh isi tabunganku yang sudah akku kumpulkan selama hampir 3 tahun, aku pecahkan celenganku barusan, ternyata jumlahnya pas untuk menggantikan gaji papa selama 1 hari untuk acara besok. Papa maukah papa pergi memancing bersamaku besok ???” dengan wajah memelas.
Sang ayah tidak kuat menahan haru, dipeluknya anaknya erat-erat.

Seringkali kita sebagai orang tua tidak sadar, bahwa WAKTU merupakan salah satu BAHASA CINTA untuk keluarga kita. Waktu adalah sesuatu yang sangat dirindukan oleh keluarga kita, terutama anak-anak. Tanpa sadar kita para orang tua telah mengambil banyak waktu yang harusnya dimiliki oleh anak-anak kita. Waktu yang semestinya menjadi MILIK sang anak, kita tukar dengan :

Kesibukan pribadi. Kisah diatas adalah kisah seorang ayah yang menukar waktu untuk anaknya dengan kesibukan pekerjaan. Pergi ke kantor saat anak masih terlelap tidur, pulang kantor tidak bertemu dengan anak karena anak sudah pulas tertidur. Adapula orang tua yang menukar waktu untuk anaknya dengan sibuk pelayanan di gereja, dari hari Senin sampai hari Minggu selalu ada kegiatan di gereja. Ada juga ibu ibu yang sibuk arisan, dan seandainya dia di rumah, tapi perhatiannya hanya tertuju pada acara-acara televisi. Sang anak dibiarkan berkembang dan bertumbuh begitu saja.

Adapula orang tua yang menggantikan waktu bersama anak dengan fasilitas permainan dan hadiah-hadiah. Beberapa waktu yang lalu, seorang artis yang terancam bercerai berkata, kelak kami berpisah anak-anak akan baik-baik saja. Katanya, bagi mereka yang penting ada play station untuk anak-anak sudah cukup. Bagaimana mungkin dia berpikir play station bisa menggantikan waktu anak bersama orang tua ? Banyak orang tua menukar waktu untuk anak dengan membelikan mainan-mainan yang menyukakan hati anaknya, dan menganggap hal itu sudah cukup membuat diam dan anak puas.

WAktu seringkali diganti dengan kebebasan tanpa kendali untuk anak-anak. Banyak kasus yang kita lihat, akibat ayah dan ibu sibuk bekerja, mereka sepertinya meng”excuse” anaknya berbuat sesuka hati. Mereka tidak tega untuk melarang anaknya meskipun tindakan si anak salah. Mungkin mereka pikir, sang anak sudah kecewa karena orang tua tidak punya waktu, masakan harus kecewa lagi dengan larangan dan aturan-aturan yang akan mengecewakan mereka, sehingga anak bebas tanpa kendali. Mereka menjadi orang tua yang sangat permisive yang tidak mampu menetapkan aturan, mendidik dan mendisiplin anak. Seperti mengijinkan anaknya bermain dan pergi sesuka hati tanpa batasan, berjalan-jalan tanpa batasan. Renungkanlah … apa yang terjadi apabila anak-anak bertumbuh tanpa didikan ?

Dan …. hal-hal lainnya yang bisa menggantikan posisi orang tua. Suatu hari sepasang suami istri yang notabene keduanya lulusan luar negeri mengeluh, karena sekarang anaknya begitu hafal lagu-lagu dangdut di televisi sekaligus dengan gerakan-gerakannya yang “vulgar”. Belum lagi ketika anaknya demam, yang dipanggil-panggil si anak adalah “Siti”. Padahal sang ibu sudah membujuk sedemikian rupa agar si anak mau tidu di kamar bersama orang tua, tapi anaknya ngotot minta ditemani dan tidur bersama Siti. Menyedihkan bukan ? Ini dikarenakan sang orang tua memberikan anaknya diasuh, dididik oleh pembantu, atau suster dan sebagainya. Jadilah sang anak bertumbuh serupa dengan pengasuhnya.

Terkadang anak dijejalkan dengan berbagai macam kegiatan sehingga anak sibuk dan melupakan waktunya dengan orang tua. Semakin banyak les atau aktivitas, orang tua berpikir anak menjadi semakin hebat karena akan semakin diperlengkapi. Kegiatan-kegiatan tersebut memang baik untuk ketrampilan anak, tetapi hal-hal tersebut tetap tidak dapat menggantikan waktu yang seharusnya diberikan oleh orang tua kepada anaknya.

Kita sangat perlu menyediakan waktu untuk keluarga dan anak-anak kita, karena :

Waktu untuk keluarga itu TERBATAS.
Pengkotbah 3:1 menuliskan, “Untuk segala sesuatu ada masanya (waktunya) ….”Waktu berarti kesempatan yang terbatas (moment waktu selalu ada batas akhirnya). Pakailah waktu yang ada sebaik-baiknya untuk bersama keluarga selama Tuhan masih berikan kesempatan. Jangan sampai menyesal di kemudian hari !
Ada seorang ibu yang sangat sibuk dengan pekerjaannya, sehingga setiap hari putri kecilnya selalu dimandikan oleh susternya. Suatu ketika … sang anak minta dimandikan oleh ibunya, tetapi ibunya selalu berkata, “ …. Nanti …. nanti ….. dan nanti …. !” Satu minggu berlalu, sang anak mengalami kecelakaan dan dipanggil oleh Tuhan. Dan sampai hari ini, sang ibu sangat menyesal karena tidak pernah memperoleh kesempatan lagi untuk memandikan putrinya.

Waktu untuk keluarga itu berharga dan mahal.
Dalam hidup ini kita harus membuat skala Prioritas untuk waktu yang kita pergunakan. Prioritas yang benar adalah : Tempatkan Tuhan sebagai yang pertama dan utama, Keluarga adalah prioritas kedua setelah Tuhan. Berikutnya adalah pekerjaan/karir/ bisnis, diikuti prioritas selanjutnya yaitu pelayanan. Jadi jangan menganggap remeh waktu untuk keluarga, karena hal itu penting di mata Tuhan.

Waktu untuk keluarga adalah Investasi bagi pertumbuhan keluarga.
Ibarat sebuah benih untuk menjadi pohon yang besar diperlukan waktu yang panjang. Tidak mungkin langsung/instant menjadi pohon yang besar, harus ada proses waktu yang harus dilewati. Demikian pula dengan keluarga kita, jika ingin keluarga kita bertumbuh semakin berkualitas, harus ada WAKTU yang Di-INVESTASIKAN. Mungkin kegiatan atau les baik untuk ketrampilan anak-anak kita, tetapi “kehadiran kita” sebagai orang tua sangat berdampak bagi anak untuk pengembangan kepribadiannya, rasa percaya dirinya, pembentukan karakternya dan anak lebih mengenal siapa dirinya.
Bukankah orang yang berhasil dalam hidupnya tidak hanya ditentukan berapa banyak ketrampilan yang dia miliki, tetapi justru sebagian besar ditentukan oleh karakter dan bagaimana ia memberi respon pada keadaan yang terjadi.
Jadi, semakin banyak waktu untuk keluarga berarti semakin banyak peluang keluarga untuk bertumbuh ke arah yang lebih baik.

Waktu untuk keluarga akan membuat kenangan yang tak terlupakan seumur hidup.
Kenangan terbentuk karena proses waktu !! Biarlah kita membuat kenangan indah dalam keluarga kita melalui waktu bersama keluarga. Seandainya kita harus membuat pilihan, apakah akan berekreasi bersama dengan keluarga, membeli furniture baru atau menyimpan tabungan yang banyak di dalam bank ? Pergilah berekreasi !!! Furniture bisa menjadi kotor, tergores dan akan berakhir suatu saat di gudang. Apabila kita terus menunggu waktu “nanti sampai kita punya uang yang cukup banyak …” kita tidak akan pernah sempat berekreasi, karena selalu akan merasa tabungan kita kurang banyak dan uang pun dapat habis terpakai. Tetapi kenangan tidak akan hilang selamanya, bahkan sampai kita tidak di bumi ini sekalipun kenangan akan tetap ada di hati anak-anak kita dan menjadi sebuah sejarah. Bayangkan kelak setelah mereka dewasa mereka akan tersenyum bahagia saat melihat album foto yang berisi liburan yang indah dan berkesan dengan kedua orang tuanya.
“ Kenangan lebih tak terhapuskan daripada tinta.” – Aninta Loos

Waktu untuk keluarga adalah sarana untuk membangun hubungan semakin erat.
Salah satu hal terpenting dalam membangun keluarga adalah HUBUNGAN, Hubungan hanya bisa terbangun oleh waktu kebersamaan.
Ada orang tua yang demi alasan keberhasilan anaknya kelak, sejak SD sudah mengirimkan anaknya sekolah ke luar negeri, atau mengasramakan anaknya sejak SD. Setelah dewasa, anaknya menjadi orang yang cukup sukses. Tetapi mereka tidak memiliki hubungan yang baik. Sang anak cenderung memberontak pada orang tua, mereka saling tidak mengerti keinginan masing-masing karena tidak adanya hubungan yang terjalin selama ini.
“ Tidak ada Waktu = Tidak ada Hubungan”

Apa yang kita pillih saat ini sebagai orang tua ?
Marilah kita menginvestasikan waktu yang berharga bagi keluarga kita.