Monthly Archives: June 2008

  • 0

A-A-D-C

Category : FAMILY , MARRIAGE


ADA APA DENGAN CINTA ? Sepasang kekasih yang saling mencintai, memutuskan untuk segera mengakhiri masa lajang mereka. Mereka sudah tidak sabar untuk segera masuk ke dalam jenjang pernikahan.
Ketika ditanya apa yang melatarbelakangi mereka sehingga berani masuk ke jenjang pernikahan, si pria menjawab dengan tegas, “Akhirnya saya temukan juga belahan jiwa yang selama ini saya cari, bagi saya dia cinta pertama dan terakhir saya, semua kriteria wanita yang saya idam-idamkan ada dalam dirinya”, jawab si pria tadi dengan tatapan mesra ke arah pasangannya. Sedangkan si wanita dengan tidak kalah semangatnya menjawab, ”The Power of Love ! Ya !!! kekuatan cintalah yang mempersatukan kami !”
Dengan modal CINTA mereka berani mengarungi bahtera rumah tangga.

Seiring berjalannya waktu, pernikahan mereka mengalami ujian demi ujian, kehadiran anak-anak bukan lagi mempererat hubungan mereka, tetapi justru menjadi sumber pertengkaran. Kesibukan suami yang padat, dan segala macam problem keluarga membuat jurang pemisah di antara mereka.
Cinta yang selama ini mereka agung- agungkan menjadi mulai dingin, walaupun tidak bercerai dan masih hidup seatap, namun hubungan mereka sudah hambar. Tidak ada lagi kehangatan, kemesraan, keintiman seperti di awal-awal pacaran dan di awal-awal pernikahan dulu. Rumah tangga ini tetap bertahan semata-mata karena kasihan pada anak jika kelak kedua orang tuanya bercerai, dan apa kata dunia jika sepasang suami istri yang diberkati di gereja bercerai?.

Kemanakah gerangan “The Power of Love” yang waktu itu mereka kumandangkan?
Apakah mereka tidak mengerti makna KASIH yang sesungguhnya ???
Banyak orang dengan mudah mengatakan ‘cinta’, mengatakan ‘kasih’, mengatakan ‘sayang’, padahal mereka tidak menyelami apa makna sesungguhnya dari KASIH itu.

Mari kita lihat apakah makna kasih yang sesungguhnya …..

K A S I H yaitu :

K : KEPUTUSAN
Kasih adalah keputusan dan bukan perasaan.
Banyak orang berpikir bahwa kasih adalah suatu perasaan. Jika kasih itu adalah suatu perasaan, maka tidak akan bertahan lama..
Mengapa ? Karena perasaan setiap manusia selalu berubah setiap saat, setiap waktu. Perasaan mudah berubah-ubah tergantung kondisi yang ada.
Mungkin saat kita menikahi pasangan kita, kita memiliki rasa kagum dan rasa simpati, tetapi setelah menikah, semakin terlihat sifat aslinya. Baru terbuka kekurangan dan kelemahan pasangan kita, sehingga kekaguman yang kita miliki pada saat kita mengenal dia akan semakin berkurang. Dan semakin lama, kasih terhadapnya pun akan semakin pudar.

Tetapi akan berbeda jika kasih adalah sebuah KEPUTUSAN, apapun yang terjadi, apapun kondisinya kita tetap teguh berpegang pada apa yang telah kita putuskan.
Dan, apabila kita memutuskan untuk mengasihi pasangan kita, maka kasih itu akan terus berkembang dalam kehidupan pernikahan kita, bahkan semakin hari akan semakin bertambah.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.“
Yohanes 3:16, menunjukkan bahwa Kasih Yesus adalah sebuah keputusan, sekalipun manusia itu telah menganiaya dan menyalibkan-Nya, Tuhan Yesus tetap pegang keputusan-Nya untuk mengasihi manusia.

A : APA ADANYA
“Apa Adanya” berbeda jauh dengan “Ada Apanya”. Kasih yang ‘Apa Adanya’ mengandung arti ketulusan, tidak ada motivasi, atau ‘hidden agenda’.
Sebaliknya orang yang mendasari kasihnya dengan “Ada Apanya”, berarti mengasihi karena ada motivasi lain. Antara lain bisa karena uang, harta, penampilan, dll.
Kita sering dengar istilah Cewe/Cowo Matre, Ada uang abang sayang, tidak ada uang abang melayang.
Apabila “Ada Apanya”, yang mendasari kasih seseorang, maka kehidupan pernikahan akan selalu dipenuhi dengan tuntutan serta konflik karena keinginan manusia tidak pernah ada habisnya dan tidak pernah ada kata puas. Hal ini dapat merusak pernikahan.

Namun, kasih yang “Apa Adanya”, kasih yang mengandung ketulusan akan membawa pernikahan kita mengalami hal yang semakin indah.
“Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.” (Kidung Agung 8:7)

S : SETIA
“Setia” dan “Bukan sementara”. Cinta yang “mengebu-gebu” di awal hubungan, sama sekali tidak menjamin kelanggengan rumah tangga sampai akhir, terkadang hubungan itu berakhir dalam hitungan bulan setelah menikah.
Cinta yang menggebu itu berubah menjadi menjadi kebencian, saling menyakiti satu sama lain dan seringkali berakhir dengan perceraian.
Setiap pernikahan, pasti akan mengalami ‘ujian kesetiaan’, dan kasih yang sesungguhnya, akan tetap setia walaupun dalam kondisi apa pun juga.

Sebagai contoh :
Apakah kita tetap setia kepada pasangan kita ketika kesulitan datang menghadang ? Mungkin dalam hal ekonomi, sakit penyakit, dll.

Kita mungkin pernah mendengar kesaksian dari Dwi … seorang pilot yang tertimpa musibah kecelakaan. Kecelakaan tersebut mengakibatkan seluruh tubuhnya rusak parah karena terpanggang api. Tetapi sang istri tetap setia mendampingi, memberi semangat, bersama-sama melewati masa-masa sukar, sehingga Dwi … saat ini menjadi hamba Tuhan yang dipakai luar biasa, yang memberikan inspirasi bagi banyak orang. Hanya kasih memampukan kita bertahan untuk melewati masa sulit bersama-sama.

Setia juga berarti hanya ada ikatan kasih antara pasangan suami & istri, dan tidak ada tempat untuk orang ketiga.
Dan, di dalam pernikahan Kristen, kita harus mencoret kata “cerai” dalam rumah tangga kita. Kita harus setia kepada pasangan kita, yaitu mengasihi sampai pada akhirnya, sampai ajal menjemput.

“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Matius 19:6 )

I : ILAHI
Kasih bersifat Ilahi bukan duniawi. Kasih yang sejati bukan berasal dari dunia, kasih yang sejati itu berasal dari Allah. “Allah itu kasih…”

Dalam sebuah survey kasus perceraian ditemukan :
Dari 1.152 pasangan yang bercerai, hanya ada 1 pasangan yang masih berdoa bersama setiap hari sebelum bercerai. Artinya 99,9 % pasangan yang bercerai tidak pernah berdoa bersama. Sudah sepatutnya kita membangun relationship dengan “Sang Kasih Sejati’” itu.

Kasih manusia itu ada batasnya, tapi kasih Tuhan itu tak terbatas.
Jika kita memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan, maka kasih Ilahi akan memenuhi hati kita, dan kasih Ilahi itu yang akan memampukan kita mengasihi pasangan kita tanpa syarat, memampukan kita untuk memberikan kehangatan dan meresponi pasangan kita dengan baik.
Oleh karena, jangan abaikan mezbah keluarga !

“Nyanyian ziarah Salomo. Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.” (Mazmur 127 : 1
)

H : HUBUNGAN
Hubungan antara suami dan istri tidaklah terjadi secara otomatis. Kasih itu tercipta karena adanya hubungan yang baik, dan hal itu perlu dibangun.
Berlomba-lombalah menyatakan kasih setiap hari, sehingga hubungan pernikahan kita terasa indah.

Ada banyak cara membangun sebuah hubungan :

– Tanamkan dalam pikiran dan pandangan kita, bahwa pasangan kita sangat berharga, dan yang utama di atas orang tua, di atas anak, di atas sanak saudara, di atas bisnis dan pekerjaan, di atas bos, sahabat, hobi kita, di atas segalanya setelah Tuhan.
– Katakan sesering mungkin “I Love You”.
– Ungkapkan cinta melalui pelukan dan kejutan-kejutan atau hal terbaik apa pun yang dapat memenuhi kebutuhan pasangan kita.
– Tunjukan kasih sayang kita di depan umum, seperti menggandeng dan memeluk pasangan.
– Luangkan waktu untuk berkencan bersama pasangan kita seperti pada pacaran. Mungkin kita sudah jarang melakukan hal ini, dikarenakan kesibukan sehari-hari.
– Selalu menyediakan diri jika pasangan membutuhkan kita.

Mari milikilah kasih yang sejati dalam kehidupan pernikahan kita….

“Kasih yang sejati akan menjadi pondasi yang kuat bagi sebuah pernikahan untuk mencapai sebuah pernikahan yang sejati.”


  • 0

Pernikahan Dua “Orang baik”

Tags :

Category : MARRIAGE , REFLECTION


Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.
Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi, dengan begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah. Setiap sore, ibu selalu membungkukkan badan menyikat panci, setiap panci di rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikitpun.
Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci demi seinci, lantai di rumah tampak sangat, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang. Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin. Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik.
Tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tetapi berkali-kali. Ayah menganggap bahwa ibu tidak pernah memahaminya.
Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab.
Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berprestasi dalam pelajaran. Ia suka main catur, suka larut dalam dunia buku-buku kuno.
Ayah saya adalah seorang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia maha besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami. Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman. Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan, ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga.Aku sering melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan menurut pendapatku mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.

Sayangnya, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?

Ini adalah sebuah contoh potret kehidupan pernikahan sepasang suami istri. Dan hal ini jugalah yang sering terjadi di dalam kehidupan pernikahan banyak orang, sungguh ironis bukan ? Sang anak bertumbuh dalam kebingungan, dan terus bertanya dalam hatinya apa yang menyebabkan pernikahan kedua orangtuanya gagal, mengapa mereka tidak bahagia?

Ada beberapa ”Rahasia” yang mutlak diketahui oleh sepasang suami – istri untuk meraih PERNIKAHAN YANG BAHAGIA :

Ijinkanlah Tuhan hadir dalam pernikahan kita
Mazmur 127:1 : ”Nyanyian ziarah Salomo. Jikalah bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya ….”

Hal yang pertama adalah menaruh pengharapan kita di dalam Tuhan.
Banyak alasan mengapa kita melangkah masuk dalam pernikahan, mungkin alasannya mengharapkan kehidupan yang utuh, memiliki keturunan, atau untuk menghapus kesepian, untuk menyelesaikan persoalan, dan macam-macam harapan lainnya. Tetapi setelah masuk dalam pernikahan yang terjadi malah sebaliknya, kita saling menuntut supaya pasangan kita bisa memenuhi harapan-harapan kita. Pada saat pengharapan itu tidak terpenuhi, kita menjadi kecewa. Kita lupa karena hanya Tuhanlah yang dapat memenuhi segala harapan kita.

Hal berikutnya adalah mengenakan ”kasih”.
Kasih yang sesungguhnya adalah berkorban dan memberi yang terbaik bagi kebutuhan pasangannya. Jujur saja hal ini sangat bertolak belakang dengan keinginan daging kita, yang selalu menuntut, dan cenderung untuk dilayani dan menerima. Kisah perkawinan suami istri di atas tidak bisa bahagia, karena mereka terlalu bersikeras menggunakan cara mereka sendiri dalam mencintai pasangannya, bukannya berkata : ”apa yang kau butuhkan?” kepada pasangannya. Akhirnya masing-masing merasa lelah dan kecewa dengan kondisi pernikahan mereka.
Jadi hampir dapat dipastikan dengan kekuatan sendiri kita tidak mungkin bisa memberi yang terbaik bagi kebutuhan pasangan kita, kecuali ”kasih Allah” memenuhi hati kita. Tidak ada cara lain untuk menerima kasih Allah melalui membangun mezbah keluarga, agar hadirat Allah dan kasih Allah memenuhi hati kita, sehingga kita dapat mengasihi seluruh anggota keluarga kita dengan kasih Allah.

Impikan Pernikahan Bahagia.

Ketika kita hendak membangun sebuah rumah, pastilah kita akan memanggil seorang arsitek untuk menggambar bentuk rumah sesuai dengan kebutuhan dan selera kita tentunya. Gambar arsitektur tersebut merupakan ”sebuah impian” seperti apa rumah itu kelak nantinya dan menjadi acuan para pekerja membangun dari fondasi sampai rumah itu jadi. Ketika rumah itu jadi, kita menjadi puas dan bahagia karena melihat apa yang kita ’impikan” menjadi sebuah kenyataan.
Demikian pula dengan ”Rumah Tangga”. Apakah kita telah memiliki sebuah ”impian” seperti apa nantinya ”Rumah Tangga” yang kita bangun ?

Jika tidak, maka pernikahan kita akan berjalan ”biasa-biasa” saja, bahkan dingin, kaku dan suram. Mulailah berbicara dengan pasangan Anda, diskusikanlah seperti apa pernikahan yang bahagia menurut Anda, hal-hal apa saja yang perlu diperbaiki, dll.

Miliki sebuah impian tentang pernikahan yang harmonis, pernikahan yang menjadi teladan untuk pasangan lain bahkan anak-anak kita dan pernikahan yang bahagia.
Filipi 4:8 :”Jadi akhirnya saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Bangunlah pernikahan Anda

Banyak hubungan pernikahan yang dibiarkan begitu saja tanpa arah dan tujuan, mengalir saja dari waktu ke waktu, tanpa pernah mengusahakannya untuk menjadi lebih baik. Pernikahan yang bahagia tidak akan terjadi secara otomatis.
Janganlah kita memiliki prinsip seperti ”air mengalir” dalam menjalani biduk pernikahan, karena pada prinsipnya air selalu mengalir mencari permukaan yang lebih rendah.

Tetapi, bangunlah pernikahan kita !
Caranya :
JANGAN PUAS dengan keadaan yang biasa-biasa saja, kita harus berubah ke arah yang lebih baik
USAHAKAN dengan segenap hati supaya pernikahan kita menjadi lebih baik. Dengan membangun komunikasi lebih lagi, membangun keterbukaan suami istri, memberikan waktu bagi keluarga, mengusahakan untuk hidup sesuai dengan Firman Tuhan dan masih banyak hal lainnya lagi.
TERUS BELAJAR dan belajar tentang pernikahan dan keluarga. Amsal mengatakan hikmat ada di mana-mana, jadi kita dapat memperoleh hikmat mengenai pernikahan dan keluarga melalui berbagai sumber antara lain : Firman Tuhan, seminar-seminar keluarga, kesaksian, buku-buku atau terlibat dalam komunitas, dsb.
Marilah kita membuka hati kita untuk menerima kebenaran-kebenaran baru tersebut.

PERNIKAHAN SEPERTI APA YANG ANDA DAMBAKAN DAN IMPIKAN ? Mari kita ambil komitmen bersama pasangan kita untuk meraih pernikahan yang lebih baik dan lebih berbahagia.