Monthly Archives: April 2007

  • 0

Tujuan Allah bagi Keluarga

Tags :

Category : FAMILY

Di dalam Kejadian 2 : 18 – 25 , kita dapat melihat bahwa INISIATIF untuk membentuk sebuah keluarga adalah inisiatif dari Tuhan.
Karena keluarga adalah unit yang Tuhan ciptakan, maka Tuhan mempunyai rencana yang indah dalam setiap keluarga.

Namun, banyak anak Tuhan yang tidak menyadari akan hal ini, sehingga terjadi kesalahan-kesalahan sebagai berikut :

1. Memiliki pola pikir “Apa Adanya”
Keluarga yang demikian sudah merasa ‘puas’, meskipun berjalan apa adanya, yang penting tidak bercerai, tidak selingkuh, dan merasa cukup karena sudah menjalankan tanggung jawab seperti memberikan nafkah bagi keluarga dan membesarkan anak-anak.

2. Memiliki perasaan “Kurang Berguna” bagi Kerajaan Allah
Banyak orang setelah menikah, memiliki pemikiran bahwa dulu saat masih ‘single’ mereka melayani di “Pemuda & Remaja / Youth “, mereka sangat menyala-nyala & berapi-api, tetapi …… sekarang sudah tidak bersemangat lagi. Karena kesibukan dalam pekerjaan & keluarga, mereka merasa sudah tidak berguna lagi di dalam Kerajaan Allah.
Padahal, keluarga sangat penting di mata Tuhan, Tuhan memerintahkan kepada “keluarga” (Adam & Hawa) untuk mengambil alih dunia ( Kejadian 1:28 ).

3. Memiliki “prioritas” yang salah di dalam kehidupan. Seringkali keluarga menjadi prioritas yang terabaikan. Pekerjaan & pelayanan lebih menjadi perhatian & fokus dalam kehidupan seseorang. Kepentingan keluarga menjadi terabaikan, sebagai contoh : suami/isteri & anak-anak yang kurang mendapat perhatian, kurangnya kebersamaan di dalam keluarga,dsb. Urutan prioritas yang benar adalah sebagai berikut :
1.Tuhan
2.Keluarga
3.Pekerjaan
4.Pelayanan

Tujuan Allah bagi Keluarga

Sesungguhnya, keluarga adalah alat Tuhan untuk menggenapi misi Allah. Dan apabila keluarga “tidak memiliki” misi Allah, kita pasti akan merasa bosan, kita akan banyak mengalami masalah dalam keluarga, tidak dapat mengalami berkat-berkat Tuhan, dan tidak dapat memberi dampak kepada dunia.

Ada beberapa hal yang ingin Tuhan bangun di dalam sebuah keluarga, sebagai berikut :

1. Keluarga adalah dasar untuk membangun hubungan & persekutuan yang berpusatkan kepada Tuhan ( Ulangan 6:4-9 ).
Di dalam keluarga-lah, prinsip & dasar hubungan dengan Tuhan dan sesama diletakkan. Sebagai contoh, bagaimana seorang anak akan melayani Tuhan ataupun berinteraksi dengan sesama setelah ia dewasa tidak terlepas dari bagaimana pola asuh yang ia terima dari keluarganya dan sangat terpengaruh oleh prinsip-prinsip yang telah ditanamkan sejak masa kecilnya.

2. Karakter Ilahi ( II Timotius 1:5 ).
Betapa pentingnya kita memiliki standar Ilahi di dalam kehidupan keluarga. Standar Ilahi yang kita tetapkan saat ini, akan diwariskan kepada anak-anak kita dan kepada generasi berikutnya secara turun-temurun.

3. “Beranak-cucu” secara natural & rohani.
Kita akan mereproduksi anak-anak kita dan anak – anak rohani di dalam kehidupan kita. ( Kej 1 : 28 )

4. Berkuasa & memerintah secara rohani dan natural.
Tuhan memiliki rencana agar keluarga berkuasa menghentikan kerja iblis dan menempatkan bumi dalam kuasa rencana Allah. Tuhan memerintahkan untuk mengambil alih dan menguasai dunia ini sehingga memiliki dampak bagi dunia & memperluas kerajaan Allah di muka bumi ini. ( Kej 1 : 26 – 28 )

KELUARGA YANG KUAT MEMBANGUN MASYARAKAT DAN GEREJA YANG KUAT.
MASYARAKAT DAN GEREJA YANG KUAT MEMBANGUN KEBUDAYAAN YANG KUAT.
KEBUDAYAAN YANG KUAT MEMBANGUN NEGARA YANG KUAT.


  • 0

HIDUP MEMILIKI IMPIAN


Kejadian 37 : 5 – 10

Kisah ini mengenai Yusuf yang mendapat mimpi tentang masa depannya. Dari sinilah Yusuf menerima sebuah Impian untuk hari depannya. Impian adalah berbicara tentang :
– Tujuan di masa depan
– Sebuah Cita-cita di masa depan
– Kerinduan akan apa yang terjadi di masa depan

Ada orang yang memiliki impian seperti Yusuf, tetapi ada juga yang tidak memiliki impian sama sekali, atau tidak jelas impiannya. Ternyata memiliki impian dengan tidak memiliki impian akan sangat berpengaruh bagi kehidupan kita. Olah sebab itu sangat penting kita memiliki impian dalam hidup kita….Berikut ini 5 Alasan kenapa kita harus memiliki Impian :

1. Impian memberi Arah/Tujuan dalam perjalanan kehidupan kita (Kej 37 : 8)
Kehidupan kita adalah seperti sebuah perjalanan, dimana ada titik start dan titik finish-nya.
Kita telah memulai titik start bersama dengan Tuhan sewaktu kita menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan & Juruselamat, setelah itu kita melangkah kearah kemana?
Temukan arah hidup kita dengan menemukan impian kita.2. Impian membawa pada Kerinduan untuk Maju & Bertumbuh (Kej 39 : 1-2)
Ada beberapa orang yang berada pada “Confort Zone” (Zona Nyaman) dan mengalami kehidupan yang STAGNASI (DATAR), kenapa?
Sederhana saja, mereka tidak tahu akan menuju kemana, menjadi apa, dan berbuat apa. Hal ini dikarenakan mereka belum menemukan Impian dalam hidup mereka.
Impian membuat kita “tidak puas” dengan apa yang telah ada, karena Tuhan memberikan yang “lebih lagi” di masa depan kita. Ingat Impian akan menarik kita kedepan labih maju!3. Impian memberi Semangat (Kej 37 : 9)
Impian membawa harapan baru. Jika ada sebuah pengharapan baru, tentu kita memiliki semangat baru. Semangat dalam kehidupan inilah yang menjadikan hidup kita menjadi berbeda dengan orang lain!! Hasil pekerjaan orang yang semangat tentu beda dengan hasil pekerjaan orang yang tidak memiliki semangat.4. Impian memberi Kekuatan disaat lemah (Kej 37 : 24)
Setiap manusia biasa menjadi lemah, termasuk kita. Tetapi bilamana situasi itu terjadi, maka bila kita memiliki mimpi, maka kita akan merasa lebih kuat dalam menghadapinya.
Ingatlah dan bayangkan impian itu setiap kali kita sedang lemah!!

5. Impian MEMULAI penggenapan Rencana Allah atas hidup kita (Kej 45 : 8 – 9)
Setiap manusia memiliki Rencana Allah dalam hidupnya. Jika Tuhan mencipta, tentu Dia memiliki sebuah TUJUAN dan RANCANGAN bagi manusia. Dan Dia juga sangat rindu kita menggenapi RencanaNya dalam hidup kita.
Pada saat kita memiliki impian, kita sedang “memulai” sebuah penggenapan rencana Allah. Memang penggenapan rencana Allah tidak instant, tapi perlu sebuah proses dan waktu, tetapi impian telah membuat itu dimulai!
Milikilah iman pada apa yang telah Tuhan tetapkan sebagai Rencananya dalam hidup kita.

Bagaimana Cara menemukan Impian?

1. Tuhan memiliki ImpianNya bagi kita
Maz 139 : 16
Ingat : Yang harus kita mimpikan adalah impiannya Tuhan bukan impian kita sendiri!!!
Ciri impian dari Tuhan :
a. Impian itu biasanya lebih besar dari kapasitas / kemampuan kita sekarang
b. Impian itu memiliki tujuan memberkati orang lain

2. Mencari impianNya itu
Habakuk 2 : 1
Tuhan mengajar kita untuk meminta, mencari, dan mengetok supaya kita mendapatkannya.
Carilah impian itu dalam hadirat Tuhan!! Jangan cari impian dari kebutuhan, keinginan kita, tapi cari dalam Hadirat Tuhan!

Paling tidak ada 3 macam impian dalam hidup kita :
a. Impian bagi Pribadi kita
b. Impian bagi Keluarga kira
c. Impian bagi Anak-anak kita

3. Menuliskan dan mendoakan terus impianNya itu
Habakuk 2 : 2
Kenapa harus ditulis? Ini memperjelas mimpi dengan lebih detail. Ingat semakin detail, itu semakin jelas apa yang akan kita capai!

Kenapa didoakan? Iblis tentu saja tidak tinggal diam jika kita memiliki impian Tuhan, dia ingin mengagalkannya. Tapi Doa kita akan menjaga, impian itu bertumbuh sehingga menjadi kenyataan pada waktunya.

Selamat menemukan Impian Tuhan dalam Hidup kita…. Tuhan Yesus memberkati!

 

 

 

 

 

 


  • 0

GAYA HIDUP dalam KOMUNITAS

Category : COMMUNITY LIFE

Kisah Rasul 2:41-47, ayat 42
“Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.”

“And they continued stedfastly in the apostles’ doctrine and fellowship, and in breaking of bread, and in prayers” (KJV)

Sebuah komunitas yang sehat harus mengembangkan gaya hidup komunitas yang benar. Contoh gaya hidup komunitas yang benar adalah gaya hidup komunitas gereja mula-mula yang tertulis dalam kitab Kisah Para Rasul.

Ada 6 gaya hidup dalam komunitas yang harus dikembangkan:

1. Gaya Hidup MEMBANGUN HUBUNGAN
Setiap pribadi atau keluarga perlu membangun sebuah hubungan dengan pribadi atau keluarga yang lain. Hubungan yang dibangun bukan berdasarkan hubungan pekerjaan (job), hubungan pelayanan, hubungan bisnis, tetapi yang utama adalah berdasarkan hubungan personal sebagai pribadi/keluarga yang saling membutuhkan.
Membangun hubungan bisa dilakukan dengan cara-cara yang sederhana :
– Menyediakan waktu untuk bertemu satu sama lain
– Sharing / Ngobrol
– Saling telpon / sms
– Via teknologi : Internet, Chatting, Messanger, dll

2. Gaya Hidup DIMURIDKAN
Setiap pribadi dan keluarga harus memiliki kerinduan untuk belajar lebih lagi, kerinduan untuk bertumbuh lebih lagi. Kerinduan ini sangat diperlukan dalam komunitas, sehingga proses pemuridan (saling belajar) dapat berjalan dengan baik.
Ingat bahwa komunitas bukan hanya “hubungan” saja, tetapi juga “saling belajar”! Sehingga setiap pribadi dan keluarga bertumbuh, berbuah dan menggenapi tujuan Allah dengan tepat.

3. Gaya Hidup BERBAGI
“Wah berbagi?.. Apakah akan merugikan nantinya, jika berbagi?”
Seringkali kata “berbagi” itu berkonotasi pada hal yang akan merugikan pribadi kita.
Berbagi disini adalah “BERBAGI KEHIDUPAN”, artinya membangun suasana KETERBUKAAN antar satu dengan yang lainnya. Kita harus belajar terbuka baik dalam keadaan suka maupun duka. Ceritakan apa yang anda alami dengan perasaan aman.
Berbagi kehidupan yang terbaik adalah dengan menerapkan prinsip : TERBUKA KE DALAM dan TERTUTUP KELUAR, artinya :
Kita harus terbuka antar anggota komunitas, tetapi kita komitmen untuk tidak menceritakan kepada orang lain di luar kelompok komunitas kita.

4. Gaya Hidup SALING MENDOAKAN
Berdoa bersama ternyata juga memiliki arti : saling mendoakan. Betapa indahnya sebuah komunitas jika didalamnya setiap anggota saling mendoakan. Hal ini akan menguatkan satu sama lain. Ingat doa kita tidak pernah sia-sia jika kita berdoa dengan benar!

5. Gaya Hidup KEBERSAMAAN
Kebersamaan itu berarti melakukan sesuatu secara bersama-sama. Hal ini akan memberikan beberapa keuntungan :
– Terjalinnya hubungan dan keterbukaan semakin erat
– Jika bersama-sama maka beban yang ditanggung akan jadi lebih ringan
– “Bersama Kita Bisa”, kira-kira inilah yang juga akan terjadi, hal-hal yang sulit dilakukan, pasti bisa dilakukan jika bersama-sama!

6. Gaya Hidup INKLUSIF
Terang itu harus ada ditempat yang gelap agar dapat berfungsi memberkati. Jika kita diberkati dan bertumbuh dalam komunitas kita, kita juga harus memberkati pribadi atau keluarga yang lain. Ingat kita adalah “terang dunia”, biarlah dunia merasakan “terang” itu ….!!

Terapkan gaya hidup ini, kita akan mengalami berkat bersama-sama! Tuhan memberkati!


  • 0

Hidup Berkomunitas?…., Apa masih perlu buat kita??

Category : COMMUNITY LIFE

“Hidup Berkomunitas?….. Apa masih perlu buat kita???”
Mungkin ini pertanyaan yang sering muncul di kalangan Keluarga Muda dan Profesional Muda, mengingat mereka adalah kalangan orang yang tentu saja mengalami keterbatasan waktu dikarenakan : banyaknya tuntutan aktifitas seperti kesibukan yang luar biasa, beban dan tuntutan baik bagi keluarga, anak-anak maupun pekerjaan.

“Tidak baik, jika manusia itu seorang diri saja…” (Kej 2:18)
Pada dasarnya Tuhan menciptakan manusia sebagai Makhluk Sosial.
Hal ini dibuktikan bahwa dalam kehidupannya setiap manusia selalu membutuhkan hubungan dengan orang lain. Bahkan sejak lahir di dunia ini sampai pada akhir dari kehidupannya, manusia selalu membutuhkan sesamanya. Oleh sebab itu sebagai makhluk sosial, setiap kita perlu berkomunitas.

Berikut ini adalah dampak jika TIDAK terlibat di dalam komunitas :

1. Resiko Kejatuhan lebih besar
Kej 3:1-6 = Kisah Hawa yang jatuh dalam dosa.
Jika kita perhatikan kisah ini maka kita dapat melihat suatu kejadian yang janggal. Ketika Hawa berbicara dengan iblis, tidak terlihat keterlibatan Adam di situ. Tetapi pada ayat ke 6, baru muncul keterlibatan Adam. Ini berarti Hawa sedang dalam keadaan sendirian ( tanpa komunitas). Ini yang membuat resiko kejatuhan menjadi lebih besar.
Jika kita sendirian, resiko kejatuhan lebih besar. Sebaliknya jika kita bersama-sama dalam komunitas, resiko kejatuhan menjadi lebih kecil.
Karena dalam komunitas, setiap kita bisa saling menasehati, saling menguatkan, saling berbagi baik suka maupun duka.

2. Tekanan yang dirasakan seolah-olah menjadi lebih berat
I Raja-raja 19:1-4
Ini kisah tentang seorang nabi besar Elia. Saat itu keadaan Elia sedang mengalami masalah yang berat dalam hidupnya. Dan pada ayat ke-3, diceritakan bahwa justru Elia meninggalkan bujangnya (meninggalkan komunitasnya). Apa yang terjadi kemudian ? Akibat kesendiriannya, Elia justru mengalami perasaan yang lebih tertekan sampai muncul sebuah keinginan untuk ‘bunuh diri’ (Ayat 4).
Nah, seringkali pada saat kita mengalami masalah, kita rasanya lebih suka ‘sendirian’. Padahal jika kita tidak berada dalam komunitas, ternyata tekanan yang kita alami karena sebuah masalah akan menjadi lebih berat.
Tetapi sebaliknya jika kita dalam komunitas, maka kekuatan kebersamaan dalam komunitas itu akan menopang kita.

3. Melakukan hanya hal-hal yang terbatas.
Daniel 2:16-19
Pada mulanya Daniel tidak dapat menafsirkan mimpi raja Nebukadnezar, tetapi sejak dia melibatkan komunitasnya (Sadrakh, Messakh, dan Abednego) – (ayat 17-18) maka Daniel akhirnya dapat menafsirkan mimpi itu.
Jika kita sendirian mungkin kita bisa melakukan hal besar, tetapi jika kita bersama-sama dalam komunitas kita jauh lebih dapat melakukan hal-hal yang luar biasa ! Wow !!!!

Jika anda berkata, “KOMUNITAS ITU PERLU BAGI-KU DAN KELUARGA-KU…”, maka carilah komunitas yang sesuai dengan kebutuhan Anda dan terlibatlah di dalam komunitas tersebut… (Ada banyak komunitas di dalam gereja Tuhan.)
Tuhan Yesus memberkati !