Category Archives: MARRIAGE

  • 0

Pasanganku tidak seperti yang kuharapkan…

Category : COUNSELING , MARRIAGE

konflik

Kami sudah menikah selama 5 tahun.  Kesabaran saya sudah hampir habis karena kami sering konflik yang tidak pernah selesai.  Masalahnya adalah suami saya tidak pernah bisa berubah.  Ternyata, dia tidak seperti yang saya harapkan.  Seharusnya dia bisa membuat saya bahagia dan lebih memperhatikan saya. Kalau saya menegur dia, kami bertengkar hebat dan suami bilang saya istri yang suka menuntut dan mau menang sendiri. Bagaimana caranya supaya suami saya bisa berubah ? (Hana, 33 tahun)

“Read More”


  • 0

Pasanganku berbeda keyakinan …. apa yang harus saya lakukan?

Category : COUNSELING , MARRIAGE

Saya sudah menikah selama 3  tahun. Suami saya beda agama. Memang sejak pacaran, kami sudah beda agama. Saya berpikir jika menikah, saya bisa menginjil dan mengajak suami ke gereja. Tetapi sampai hari ini, suami belum mau ke gereja. Kalau saya mengajak dia, suami selalu menolak dan akhirnya kami bertengkar. Jika  bertengkar, suami saya bilang, “Kog orang Kristen sifatnya seperti itu?”   Saya jadi bingung, bagaimana caranya supaya suami saya bisa bertobat dan terima Tuhan Yesus? (Eveline, 35 tahun)

“Read More”

  • 0

Capek dalam Pernikahan??

Category : COUNSELING , MARRIAGE

Saya merasa capek dengan pernikahan kami. Kami sudah menikah 4 tahun dan memiliki anak usia 2 tahun. Permasalahannya adalah kami sering bertengkar.  Kami sering salah paham dan saya semakin tidak mengerti dengan keinginan suami.
Menurut saya, masalah kami adalah masalah komunikasi suami isteri.
Bagaimana caranya agar kami bisa memiliki komunikasi yang baik dalam pernikahan? (Netty, 31 tahun)
“Read More”

  • 1

Kenapa sih … selingkuh ??

Category : MARRIAGE

Tidak ada suatu hal yang terjadi tanpa sebab !!
Ada seorang seorang suami berselingkuh, dan sang istri menyalahkan suaminya yang tidak setia? Mungkin kita sebagai wanita akan dengan mudah menghakimi bahwa si suami yang tidak setia dan ga tau diri.

Tapi, ketika suaminya mengikuti session konseling, dan menceritakan apa yang mendorong dia untuk mencari kenyamanan di pelukan wanita lain? Ternyata sang suami berkata bahwa istrinya di rumah tidak pernah memasak makanan untuk dirinya dan istrinya sulit untuk diajak ngobrol. Kalo ngobrol, istrinya suka bersikap ‘sok pintar’. Dan istrinya juga sering ngomel-ngomel di rumah, sehingga suami jadi pusing kalo ketemu istrinya di rumah. Harapannya pulang ke rumah adalah merasakan kenyamanan di rumah, tapi yang dihadapi adalah istri yang memusingkan. Kelihatannya hal sepele? Tapi, bukankah hal ini sering terjadi dalam kehidupan rumah tangga?

Hal lain lagi, ada seorang istri berselingkuh. Waktu ditanya, apa yang menyebabkannya mencari pria lain? Jawabnya, “Suami saya terlalu otoriter dan berkuasa. Maunya menang sendiri dan ga pernah mengerti perasaan saya. Bahkan kalau diajak ngobrol, sikapnya dingin. Berbeda dengan teman baru saya, dia warm sekali.”

Suatu hari, saya pernah sharing dengan seorang istri Hamba Tuhan yang dipakai Tuhan secara luar biasa. Saat itu, saya memang sedang sibuk mengurus anak saya yang masih balita. Nah, istri Hamba Tuhan tersebut menasehati saya, “Kamu jangan terlalu sibuk dengan mengurus anak-anak kamu, sehingga melalaikan suamimu. Jangan salahkan dia kalau dia berpaling?” “Wah…ga mungkin suami saya berpaling kepada wanita lain. Suami saya pasti ngerti bahwa mengurus anak itu memang repot banget, dan suami saya mandiri kog. Satu hal lagi, suami saya itu seorang hamba Tuhan yang sangat cinta Tuhan, mana mungkin dia aneh-aneh !” jawab saya dengan pedenya.
Ternyata beliau menghentakkan saya dengan jawabannya, “Eh…walaupun begitu, kamu harus sadar bahwa suamimu itu bukan malaikat. Dia tetap manusia.” Dan, saya pun akhirnya didoakan agar saya sadar bahwa suami saya bukan seorang malaikat. Saya sangat disadarkan bahwa keintiman suami istri perlu dipelihara agar terus bertumbuh. Saya sangat setuju bahwa keintiman suami istri adalah benteng dan pagar terhadap perselingkuhan.

Temans, seringkali ketika terjadi perselingkuhan, kita lebih menyalahkan orang yang melakukan perselingkuhan. Tapi, marilah pasangan korban perselingkuhan juga menginterospeksi diri. Dan lebih tepatnya, keduanya saling interospeksi diri.

Jika ditelusuri, penyebabnya adalah suami/istri sudah mulai merasa tidak puas dengan pasangannya yang kemudian berkembang jadi ketidak cocokan. Kalau sudah begitu, ada dua hal yang akan terjadi. Yang pertama, akan mudah muncul konflik yang umumnya tak terselesaikan dengan tuntas. Atau yang kedua, memilih menghindari konflik rumah tangga dan menyimpan atau menekan masalah yang ada ke dalam hati. Perlu diketahui, keduanya bukan merupakan jalan keluar yang baik.
Dengan kondisi demikian, maka pasangan akan merasa tidak nyaman, dan mulai mencari jalan keluar di tempat lain. Maka……., ketika muncul orang ketiga….. ini menjadi sebuah celah. Sosok orang ketiga ini bisa siapa saja, bisa sahabat, teman sekantor, atau yang lagi menjamur adalah teman-teman di dunia maya. Akhirnya… muncullah perselingkuhan…..


Banyak kegiatan iseng atau tadinya biasa-biasa saja yang akhirnya membuat suami/istri tega mengkhianati pasangan dengan melakukan perselingkuhan.
Apa saja sih ?

1. Chatting
Ngobrol di dunia maya memang mengasyikkan dan membuat orang lupa waktu. Masing-masing bisa mengungkapkan perasaan secara blak-blakan. Dari chatting biasanya lantas berlanjut dengan kopi darat atau janjian ketemu. Jika keduanya merasa tertarik, pertemuan kedua dan selanjutnya lalu direncanakan, sehingga hubungan makin intensif yang akhirnya berujung pada perselingkuhan.

2. SMS
Awalnya mungkin sekedar SMS nyasar atau iseng yang masuk ke Hp. Tapi karena terus ditanggapi dan dibalas, akhirnya jadi keterusan. Tak heran lama-kelamaan aktivitas yang satu ini jadi ajang untuk saling mengirim SMS mesra dan berbunga-bunga. Kalau sudah begini, perselingkuhan hanya tinggal beberapa langkah lagi. Untuk menghindarinya jangan sekali-kali membalas/menanggapi SMS nyasar atau iseng seperti itu. Abaikan saja yang akhirnya akan membuat si pengirim bosan atau kehabisan pulsa.

3. Nebeng kendaraan atau makan siang bersama
Ada pepatah Jawa, witing tresno jalaran soko kulino yang artinya tumbuh benih-benih asmara lantaran seringnya si pria dan wanita bertemu. Untuk mengantisipasinya, buat batasan, bahwa orang yang banyak bersama itu hanyalah sebatas teman kerja yang menuntut hubungan profesional.

4. Curhat
Siapa sih yang ga betah ngobrol dengan orang yang selalu nyambung? Bisa ditebak bila lama-kelamaan keduanya akan saling mencurahkan isi hati yang akhirnya mengarah kepada kisah percintaan. Oleh karena itu, jangan gampang curhat kepada lawan jenis agar tak terlibat dalam perselingkuhan. Terlebih, bila rumah tangga sedang dilanda masalah.

5. Dinas luar kota
Memang tidak bisa disalahkan bila ketimbang berdiam diri sepanjang perjalanan yang menyita waktu sekian jam, kita berbincang dengan orang asing yang duduk bersebelahan. Kalau orang tersebut ternyata asyik diajak ngobrol, bukan tak mungkin hubungan akan terus berlanjut meski sudah sampai di tempat tujuan. Mengatasinya, tak ada jalan lain kecuali kembali memegang teguh nilai-nilai moral yang diyakini selama ini. Dunia di luar rumah memang penuh godaan.

6. Reuni
Kita memang patut berterima kasih kepada dunia teknologi yang membuat kita terhubung kembali dengan sahabat lama kita. Entah teman SD, SMP bahkan mungkin mantan pacar kita di masa lalu. Dan berlanjut dengan maraknya reuni plus kumpul-kumpul dengan teman lama. Sayangnya, munculnya reuni juga diikuti dengan munculnya “CLBK”, yaitu “cinta lama bersemi kembali”. Bahkan, mulai teringat kembali perasaan berbunga–bunga ketika bersama sang mantan yang tadinya telah terlupakan. Akhirnya, terbukalah celah untuk merajut kembali hubungan lama yang terputus dan akhirnya berujung kepada perselingkuhan.


Menghindari perselingkuhan

Sebenarnya, pertemanan dengan lawan jenis tetap bisa terjalin tanpa harus mengarah pada perselingkuhan.
Nah, berikut ini sejumlah tips yang bisa dijadikan pegangan agar tak terjerembab dalam kubangan perselingkuhan :

1. Jaga keharmonisan rumah tangga agar suami istri senantiasa memiliki hubungan emosional yang kuat. Bersikaplah saling terbuka dan selalu jalin keintiman serta komunikasi agar kehangatan hubungan tetap terpelihara.

2. Batasi hubungan dengan lawan jenis kalau memang sudah punya pasangan hidup. Bukankah tetap ada batasan tertentu yang mesti diperhatikan ketika seseorang sudah menjadi suami/istri? Meski terbilang sangat akrab, tetap bedakan hubungan pertemanan dengan pasangan hidup yang memang terikat secara emosional dan dalam tingkat yang paling mendalam.

3. Jika ada seseorang yang memperhatikan gelagat naksir, jangan malah merasa bangga. Segera komunikasikan dengannya dan tegas-tegas katakan status kita yang sudah menjadi istri/suami.

4. Pelihara hubungan pribadi dengan Tuhan, dan keteguhan hati dalam memegang nilai-nilai Firman Tuhan. Karena inilah benteng utama yang mampu mencegah kita terlibat dalam perselingkuhan. Satu hal, jangan menjauh dari komunitas orang-orang percaya, di mana kita bisa saling menguatkan dan mendoakan untuk terus berjalan dalam Firman Tuhan.

5. Jika merasa membutuhkan orang ketiga untuk membantu masalah dalam rumah tangga, jangan segan-segan untuk melakukan konseling dengan pemimpin rohani atau konselor rohani. Daripada menyimpan masalah sendirian dan mencari jalan keluar dengan cara yang bisa menyesatkan.

Tuhan Yesus memberkati !!
(by lie)

Apabila membutuhkan pelayanan konseling keluarga, dapat menghubungi kami via email.
-EFC-

(Beberapa tulisan bersumber dari Nakita)


  • 0

Marriage is Beautiful

Category : MARRIAGE

“Pernikahan itu indah…”
Bagi pasangan suami-istri kebahagiaan dalam pernikahan merupakan sebuah dambaan.
Tapi banyak pasangan yang merasakan pesimis mengenai kebahagiaan dalam pernikahan.

Terlepas dari itu semua, sejujurnya kerinduan apa yang terdalam dalam hati kita ? Tentu pernikahan yang indah !!!

Pernikahan yang indah BUKAN diukur dari :
Bebas dari konflik dan perselisihan.
Bebas dari perbedaan antara suami dan isteri.
Bebas dari kesusahan dan derita yang dialami dalam kehidupan pernikahan.
Bebas dari kejadian buruk yang dialami dalam kehidupan pernikahan.

Semua hal tersebut tidak lepas dari setiap kehidupan pernikahan yang ada.
Tetapi, yang lebih penting adalah RESPON & SIKAP kita terhadap permasalahan dan situasi sulit yang terjadi dalam kehidupan pernikahan kita.

Charles Swindol berkata :
10 % hidup kita disebabkan karena apa yang terjadi diluar control kita.
90 % hidup kita disebabkan karena respon kita terhadap apa yang terjadi.

Jadi pernikahan yang indah tidak terjadi secara otomatis, tetapi respon kita dalam menghadapi setiap masalah & situasi sulit dalam pernikahan yang akan menentukan apakah pernikahan menjadi indah atau tidak.

Oleh sebab itu belajarlah memberi respon dan sikap yang selalu positif terhadap situasi apapun yang terjadi dalam kehidupan pernikahan kita.

Berikut ini beberapa contoh situasi yang sering terjadi dalam pernikahan kita dan bagaimana kita meresponinya secara positif :

Situasi 1 : Adanya perbedaan pria & wanita.
Respon Negatif :
· Perasaan tidak cocok dengan pasangan & tidak bisa bersama-sama lagi
Respon Positif :
· Melihat perbedaan adalah sarana saling melengkapi & menyempurnakan.
· Perbedaan adalah “sebuah kekayaan” sebuah pernikahan.
· Perbedaan bukan untuk dihilangkan tetapi di-sinergy-kan.

Situasi 2 : Melihat kelemahan pasangan kita.
Respon Negatif :
· Kecewa dengan pasangan.
· Menuntut pasangan untuk berubah.
· Terus menyalahkan pasangan.
Respon Positif :
· Menerima pasangan dengan segala kelemahannya.
· Mensupport untuk bisa mengatasi kekurangan.
· Mengucapkan yang positif kepada pasangan kita.
· Kelebihan kita adalah pelengkap kekurangan pasangan kita.

Situasi 3 : Terjadi konflik & perselisihan antara suami-istri.
Respon Negatif :
· Membiarkan konflik terus berlangsung & memelihara kemarahan bahkan kepahitan.
Respon Positif :
· Konflik pasti bisa diselesaikan, harus ada kemauan menyelesaikan.
· Kunci : Kerendahan hati & hati yang mengampuni.
· Menarik pelajaran positif dari sebuah konflik.

Marilah kita memiliki tekad untuk memelihara pernikahan kita dengan memberikan respon positif dalam setiap hal yang terjadi dalam kehidupan pernikahan, maka kita akan memasuki sebuah era pernikahan yang indah.
Tuhan Yesus memberkati !!!


  • 0

Keintiman dalam Pernikahan

Category : FAMILY , MARRIAGE

Berapa lamakah umur pernikahan kita ?
Setahun, dua tahun, sepuluh tahun atau duapuluh lima tahun ?
Apakah kita merasakan keintiman di dalam pernikahan kita selama ini ?

Kejadian 2:25 menuliskan :
“Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.”

Artinya Allah menghendaki keintiman antara suami dan isteri.
Seharusnya, semakin panjang usia pernikahan, maka semakin bertambah pulalah keintiman antara suami dan isteri.
Sayangnya, justru lebih banyak pernikahan yang mengalami kehambaran.

Banyak orang menikah dengan modal cinta yang segar.
Namun setelah menikah, kita lupa memelihara pernikahan, sehingga tidak ada keintiman di dalam pernikahan.

Keintiman adalah sebuah aspek yang sangat penting di dalam pernikahan.
Karena kualitas pernikahan kita ditentukan oleh tingkat keintiman di antara suami istri.
Pernikahan yang kaya dengan intimasi akan membawa efek yang sehat baik psikis maupun fisik.
Di samping itu, keintiman juga menjadi benteng pertahanan melawan stress.

Keintiman berbeda dengan hidup bersama, berbeda dengan ber-mitra, berbeda dengan berdampingan.
Intim bukan berarti bebas dari pertengkaran.
Dan sebaliknya, tidak adanya pertengkaran juga bukan berarti kita mempunyai kualitas pernikahan yang baik.
Sebagai contoh, kita dapat hidup puluhan tahun dengan pata tetangga tanpa bertengkar dan berkelahi, tetapi kita tetap tidak memiliki relasi intim dengan mereka.

Kualitas pernikahan diukur dengan seberapa dalamnya keintiman.
Keintiman mencakup beberapa aspek yang perlu dibangun di dalam setiap pernikahan, sebagai berikut :

Keintiman Fisik
Yaitu kesanggupan kita untuk hidup berdua dengan pasangan dalam satu rumah.
Ada suami isteri yang tidak bisa serumah karena kebiasaan hidup yang terlalu berbeda; seperti kerapihan, kebersihan, cara mandi, kebiasaan tidur, selera makan, dsb.
Hal yang tampak sepele ini ternyata bisa menjadi kerikil yang berdampak buruk bagi kehidupan rumah tangga.
Keintiman harus dimulai dari penyesuaian hal-hal yang bersifat jasmani, sebab mustahil kita dapat mencapai keintiman dalam segi lain jika kita tidak berhasil menyatukan diri dalam hal-hal ini.

Keintiman Emosional
Dapatkah kita menyelami perasaan pasangan kita, dan sebaliknya?
Apakah kita mengetahui mengapa ia marah, tidak senang dan tersinggung?
Apakah kita mengijinkan dia mengetahui perasaan kita yang sesungguhnya?
Jika kita pintu hati kita tidak terbuka terhadap pasangan kita, keintiman akan sulit terjalin.

Keintiman Mental
Artinya kita dapat memasuki, menyelami pikiran masing-masing demi mencapai kesepakatan.
Biasanya kita lebih sering mengambil jalan tengah agar tidak terjadi pertengkaran.
Contoh : ini tugasmu dan ini tugasku.
Pengambilan keputusan dilakukan sendiri-sendiri tanpa sepengetahuan atau persetujuan pasangannya.

Keintiman mental bukan berarti tidak ada perbedaan pendapat.
Namun yang terpenting adalah, apakah kita bisa mengambil keputusan bersama-sama ?

Keintiman Finansial
Dapatkah kita menyatukan penghasilan kita serta seia sekata dan terbuka dalam penyimpanan dan pengeluaran uang ?
Tidak dapat dipungkiri, banyak pasangan yang mengalami konflik karena masalah finansial dalam keluarga.
Misalnya sang isteri adalah orang yang hemat, sedangkan suami lebih suka memberi. Hal yang kelihatannya sepele ini dapat menimbulkan konflik berkepanjangan.

Keintiman Sosial
Menikah dengan pasangan bukan berarti hanya hidup berdua dengan pasangan kita.
Dapatkah kita saling menghargai dan bergaul dengan keluarga, kerabat dan relasi pasangan kita?
Contoh : banyak konflik dalam pernikahan yang disebabkan oleh urusan mertua-menantu.

Agar pernikahan semakin intim dan bersatu, kita sebaiknya kita memiliki teman-teman yang sama.
Jangan kehidupan sosial kita semakin hari semakin jauh. Misalnya teman suami tidak kenal dengan teman istri.
Terciptanya jurang sosial akan menjauhkan pernikahan kita dari keintiman.

Keintiman Rekreasi
Dapatkah kita menikmati rekreasi bersama ?
Banyak pasangan yang kesukaannya berbeda. Misalnya ada suami yang senang bermain golf, sementara isterinya senang berjalan-jalan ke mall untuk mengisi waktu senggangnya.
Jika sesekali, hal ini tidak masalah.
Namun jika itu berlangsung terus-menerus, akan timbul masalah.
Aturlah jadwal rekreasi yang bisa dinikmati bersama-sama.

Keintiman Seksual
Apakah kita memiliki gairah cinta terhadap pasangan kita ?
Apakah kita dapat saling terbuka terhadap pasangan kita mengenai hubungan seksual ?

Satu hal yang sangat berpengaruh dalam membangun keintiman seksual adalah “kekudusan” dalam pernikahan.
Kekudusan dalam penikahan berarti tidak adanya pihak ketiga dalam pernikahan, seperti perselingkuhan.
Selain itu, banyak pasangan yang memiliki fantasi seksual, atau harus menonton film porno terlebih dahulu sebelum melakukan hubungan seksual.
Hindarilah hal-hal demikian, yang dapat menghancurkan pernikahan kita !!!

Keintiman Rohani
Apakah suami isteri memiliki kematangan rohani yang sama ?
Dapatkah pasangan memberikan respon yang sama terhadap kehendak Tuhan ?
Misalnya, saat Tuhan menghendaki sesuatu, sang suami ingin melakukan kehendak Tuhan, tetapi pasangannya tidak setuju.

Akanlah sulit kita dapat bersatu hati meresponi kehendak Tuhan, bila kita tidak memiliki kematangan rohani yang sama.

“Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati.”
( I Petrus 3:8 )

Mari hiduplah dalam KEINTIMAN !!!

( Beberapa tulisan bersumber dari buku How to Enjoy Your Marriage, Paul Gunadi )


  • 0

A Family Can Give Impact for the Nation

Tags :

Category : FAMILY , MARRIAGE

Pernahkah kita berpikir bahwa pernikahan kita dapat berdampak bagi sebuah generasi?
Atau berdampak bagi sebuah bangsa?Mungkin kita sering mendengar sebuah kalimat :

KELUARGA YANG KUAT MEMBANGUN MASYARAKAT YANG KUAT.
MASYARAKAT DAN GEREJA YANG KUAT MEMBANGUN KEBUDAYAAN YANG KUAT.
KEBUDAYAAN YANG KUAT MEMBANGUN NEGARA YANG KUAT.

Marilah kita melihat contoh nyata dari 2 keluarga sebagai bukti dari pernyataan tersebut :

Max Jukes adalah seorang ateis yang menikah dengan seorang wanita kafir (tidak mengenal Tuhan).
Dari sekitar 560 keturunannya ditelusuri :

300 orang mati sebagai pengemis,
150 orang menjadi penjahat, 7 orang di antaranya pembunuh,
100 orang terkenal sebagai pemabuk,
dan lebih dari setengah keturunannya yang perempuan adalah pelacur.
Keturunan Max Jukes menyebabkan pemerintah Amerika Serikat merugi sekitar $1.25 juta dengan nilai dolar pada abad ke-19.

Jonathan Edwards adalah seorang yang hidup pada masa yang sama dengan Jukes.
Ia adalah seorang Kristen yang setia.
Dia selalu mengutamakan Allah dalam kehidupannya.

Ia menikah dengan seorang wanita muda yang saleh,
dan dari 1.394 orang keturunannya ditelusuri :

295 orang lulus dari universitas, di antaranya 13 orang menjadi rektor dan 65 orang professor.
3 orang dipilih sebagai senator Amerika Serikat,
3 orang sebagai gubernur negara bagian,
dan yang lainnya diutus ke negara-negara asing sebagai hamba-hamba Tuhan.
30 orang menjadi hakim,
100 orang menjadi pengacara Negara bagian,
1 orang menjadi dekan sebuah sekolah tinggi hokum terkenal.
75 orang menjadi perwira angkatan bersenjata,
100 orang menjadi misionaris, pengkhotbah dan penulis terkenal,
80 orang lagi bekerja di beberapa kantor pemerintah, tiga di antaranya adalah walikota kota-kota besar, satu adalah seorang pengawas keuangan Departemen Keuangan Pemerintah Amerika Serikat,
dan seorang lagi adalah Wakil Presiden Amerika Serikat.

Tidak satu orang pun keturunan keluarga Edwards merugikan pemerintah Amerika Serikat.

Nah, mau tidak mau keluarga kita adalah ikatan nilai dari generasi satu kepada generasi berikutnya.
Kita adalah salah satu mata rantai dari rantai yang sangat panjang dari lingkaran generasi.

Firman Tuhan menuliskan, “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka : Beranak-cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:29)

Artinya, Tuhan rindu melalui keluarga Ilahi dan melalui keturunan Ilahi, kita menghasilkan generasi yang menegakkan Kerajaan Allah di muka bumi ini.

Oleh karena itu, marilah kita menentukan pilihan :

1. Apakah kita ingin menjalani kehidupan pernikahan tanpa tujuan dan tanpa arah ?
2. Bagaimana kita menjalani kehidupan pernikahan kita dan keluarga kita ?
3. Nilai-nilai apa yang akan kita bangun dalam keluarga kita ?
4. Warisan apakah yang akan kita tinggalkan bagi generasi berikutnya ?

Walaupun ada mata rantai negatif dari masa lalu keluarga kita, putuskanlah, tinggalkanlah dan kejarlah rencana Allah yang dahsyat bagi keluarga kita dan generasi yang akan datang !!!


  • 0

Resep Cara Membuat Kue Cinta

Category : ARTICLES , MARRIAGE




GOD BLESS YOU
( unknown )

  • 0

A-A-D-C

Category : FAMILY , MARRIAGE


ADA APA DENGAN CINTA ? Sepasang kekasih yang saling mencintai, memutuskan untuk segera mengakhiri masa lajang mereka. Mereka sudah tidak sabar untuk segera masuk ke dalam jenjang pernikahan.
Ketika ditanya apa yang melatarbelakangi mereka sehingga berani masuk ke jenjang pernikahan, si pria menjawab dengan tegas, “Akhirnya saya temukan juga belahan jiwa yang selama ini saya cari, bagi saya dia cinta pertama dan terakhir saya, semua kriteria wanita yang saya idam-idamkan ada dalam dirinya”, jawab si pria tadi dengan tatapan mesra ke arah pasangannya. Sedangkan si wanita dengan tidak kalah semangatnya menjawab, ”The Power of Love ! Ya !!! kekuatan cintalah yang mempersatukan kami !”
Dengan modal CINTA mereka berani mengarungi bahtera rumah tangga.

Seiring berjalannya waktu, pernikahan mereka mengalami ujian demi ujian, kehadiran anak-anak bukan lagi mempererat hubungan mereka, tetapi justru menjadi sumber pertengkaran. Kesibukan suami yang padat, dan segala macam problem keluarga membuat jurang pemisah di antara mereka.
Cinta yang selama ini mereka agung- agungkan menjadi mulai dingin, walaupun tidak bercerai dan masih hidup seatap, namun hubungan mereka sudah hambar. Tidak ada lagi kehangatan, kemesraan, keintiman seperti di awal-awal pacaran dan di awal-awal pernikahan dulu. Rumah tangga ini tetap bertahan semata-mata karena kasihan pada anak jika kelak kedua orang tuanya bercerai, dan apa kata dunia jika sepasang suami istri yang diberkati di gereja bercerai?.

Kemanakah gerangan “The Power of Love” yang waktu itu mereka kumandangkan?
Apakah mereka tidak mengerti makna KASIH yang sesungguhnya ???
Banyak orang dengan mudah mengatakan ‘cinta’, mengatakan ‘kasih’, mengatakan ‘sayang’, padahal mereka tidak menyelami apa makna sesungguhnya dari KASIH itu.

Mari kita lihat apakah makna kasih yang sesungguhnya …..

K A S I H yaitu :

K : KEPUTUSAN
Kasih adalah keputusan dan bukan perasaan.
Banyak orang berpikir bahwa kasih adalah suatu perasaan. Jika kasih itu adalah suatu perasaan, maka tidak akan bertahan lama..
Mengapa ? Karena perasaan setiap manusia selalu berubah setiap saat, setiap waktu. Perasaan mudah berubah-ubah tergantung kondisi yang ada.
Mungkin saat kita menikahi pasangan kita, kita memiliki rasa kagum dan rasa simpati, tetapi setelah menikah, semakin terlihat sifat aslinya. Baru terbuka kekurangan dan kelemahan pasangan kita, sehingga kekaguman yang kita miliki pada saat kita mengenal dia akan semakin berkurang. Dan semakin lama, kasih terhadapnya pun akan semakin pudar.

Tetapi akan berbeda jika kasih adalah sebuah KEPUTUSAN, apapun yang terjadi, apapun kondisinya kita tetap teguh berpegang pada apa yang telah kita putuskan.
Dan, apabila kita memutuskan untuk mengasihi pasangan kita, maka kasih itu akan terus berkembang dalam kehidupan pernikahan kita, bahkan semakin hari akan semakin bertambah.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.“
Yohanes 3:16, menunjukkan bahwa Kasih Yesus adalah sebuah keputusan, sekalipun manusia itu telah menganiaya dan menyalibkan-Nya, Tuhan Yesus tetap pegang keputusan-Nya untuk mengasihi manusia.

A : APA ADANYA
“Apa Adanya” berbeda jauh dengan “Ada Apanya”. Kasih yang ‘Apa Adanya’ mengandung arti ketulusan, tidak ada motivasi, atau ‘hidden agenda’.
Sebaliknya orang yang mendasari kasihnya dengan “Ada Apanya”, berarti mengasihi karena ada motivasi lain. Antara lain bisa karena uang, harta, penampilan, dll.
Kita sering dengar istilah Cewe/Cowo Matre, Ada uang abang sayang, tidak ada uang abang melayang.
Apabila “Ada Apanya”, yang mendasari kasih seseorang, maka kehidupan pernikahan akan selalu dipenuhi dengan tuntutan serta konflik karena keinginan manusia tidak pernah ada habisnya dan tidak pernah ada kata puas. Hal ini dapat merusak pernikahan.

Namun, kasih yang “Apa Adanya”, kasih yang mengandung ketulusan akan membawa pernikahan kita mengalami hal yang semakin indah.
“Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.” (Kidung Agung 8:7)

S : SETIA
“Setia” dan “Bukan sementara”. Cinta yang “mengebu-gebu” di awal hubungan, sama sekali tidak menjamin kelanggengan rumah tangga sampai akhir, terkadang hubungan itu berakhir dalam hitungan bulan setelah menikah.
Cinta yang menggebu itu berubah menjadi menjadi kebencian, saling menyakiti satu sama lain dan seringkali berakhir dengan perceraian.
Setiap pernikahan, pasti akan mengalami ‘ujian kesetiaan’, dan kasih yang sesungguhnya, akan tetap setia walaupun dalam kondisi apa pun juga.

Sebagai contoh :
Apakah kita tetap setia kepada pasangan kita ketika kesulitan datang menghadang ? Mungkin dalam hal ekonomi, sakit penyakit, dll.

Kita mungkin pernah mendengar kesaksian dari Dwi … seorang pilot yang tertimpa musibah kecelakaan. Kecelakaan tersebut mengakibatkan seluruh tubuhnya rusak parah karena terpanggang api. Tetapi sang istri tetap setia mendampingi, memberi semangat, bersama-sama melewati masa-masa sukar, sehingga Dwi … saat ini menjadi hamba Tuhan yang dipakai luar biasa, yang memberikan inspirasi bagi banyak orang. Hanya kasih memampukan kita bertahan untuk melewati masa sulit bersama-sama.

Setia juga berarti hanya ada ikatan kasih antara pasangan suami & istri, dan tidak ada tempat untuk orang ketiga.
Dan, di dalam pernikahan Kristen, kita harus mencoret kata “cerai” dalam rumah tangga kita. Kita harus setia kepada pasangan kita, yaitu mengasihi sampai pada akhirnya, sampai ajal menjemput.

“Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” (Matius 19:6 )

I : ILAHI
Kasih bersifat Ilahi bukan duniawi. Kasih yang sejati bukan berasal dari dunia, kasih yang sejati itu berasal dari Allah. “Allah itu kasih…”

Dalam sebuah survey kasus perceraian ditemukan :
Dari 1.152 pasangan yang bercerai, hanya ada 1 pasangan yang masih berdoa bersama setiap hari sebelum bercerai. Artinya 99,9 % pasangan yang bercerai tidak pernah berdoa bersama. Sudah sepatutnya kita membangun relationship dengan “Sang Kasih Sejati’” itu.

Kasih manusia itu ada batasnya, tapi kasih Tuhan itu tak terbatas.
Jika kita memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan, maka kasih Ilahi akan memenuhi hati kita, dan kasih Ilahi itu yang akan memampukan kita mengasihi pasangan kita tanpa syarat, memampukan kita untuk memberikan kehangatan dan meresponi pasangan kita dengan baik.
Oleh karena, jangan abaikan mezbah keluarga !

“Nyanyian ziarah Salomo. Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.” (Mazmur 127 : 1
)

H : HUBUNGAN
Hubungan antara suami dan istri tidaklah terjadi secara otomatis. Kasih itu tercipta karena adanya hubungan yang baik, dan hal itu perlu dibangun.
Berlomba-lombalah menyatakan kasih setiap hari, sehingga hubungan pernikahan kita terasa indah.

Ada banyak cara membangun sebuah hubungan :

– Tanamkan dalam pikiran dan pandangan kita, bahwa pasangan kita sangat berharga, dan yang utama di atas orang tua, di atas anak, di atas sanak saudara, di atas bisnis dan pekerjaan, di atas bos, sahabat, hobi kita, di atas segalanya setelah Tuhan.
– Katakan sesering mungkin “I Love You”.
– Ungkapkan cinta melalui pelukan dan kejutan-kejutan atau hal terbaik apa pun yang dapat memenuhi kebutuhan pasangan kita.
– Tunjukan kasih sayang kita di depan umum, seperti menggandeng dan memeluk pasangan.
– Luangkan waktu untuk berkencan bersama pasangan kita seperti pada pacaran. Mungkin kita sudah jarang melakukan hal ini, dikarenakan kesibukan sehari-hari.
– Selalu menyediakan diri jika pasangan membutuhkan kita.

Mari milikilah kasih yang sejati dalam kehidupan pernikahan kita….

“Kasih yang sejati akan menjadi pondasi yang kuat bagi sebuah pernikahan untuk mencapai sebuah pernikahan yang sejati.”


  • 0

Pernikahan Dua “Orang baik”

Tags :

Category : MARRIAGE , REFLECTION


Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.
Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi, dengan begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah. Setiap sore, ibu selalu membungkukkan badan menyikat panci, setiap panci di rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikitpun.
Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci demi seinci, lantai di rumah tampak sangat, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang. Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin. Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik.
Tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tetapi berkali-kali. Ayah menganggap bahwa ibu tidak pernah memahaminya.
Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab.
Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berprestasi dalam pelajaran. Ia suka main catur, suka larut dalam dunia buku-buku kuno.
Ayah saya adalah seorang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia maha besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami. Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman. Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan, ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga.Aku sering melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan menurut pendapatku mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.

Sayangnya, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?

Ini adalah sebuah contoh potret kehidupan pernikahan sepasang suami istri. Dan hal ini jugalah yang sering terjadi di dalam kehidupan pernikahan banyak orang, sungguh ironis bukan ? Sang anak bertumbuh dalam kebingungan, dan terus bertanya dalam hatinya apa yang menyebabkan pernikahan kedua orangtuanya gagal, mengapa mereka tidak bahagia?

Ada beberapa ”Rahasia” yang mutlak diketahui oleh sepasang suami – istri untuk meraih PERNIKAHAN YANG BAHAGIA :

Ijinkanlah Tuhan hadir dalam pernikahan kita
Mazmur 127:1 : ”Nyanyian ziarah Salomo. Jikalah bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya ….”

Hal yang pertama adalah menaruh pengharapan kita di dalam Tuhan.
Banyak alasan mengapa kita melangkah masuk dalam pernikahan, mungkin alasannya mengharapkan kehidupan yang utuh, memiliki keturunan, atau untuk menghapus kesepian, untuk menyelesaikan persoalan, dan macam-macam harapan lainnya. Tetapi setelah masuk dalam pernikahan yang terjadi malah sebaliknya, kita saling menuntut supaya pasangan kita bisa memenuhi harapan-harapan kita. Pada saat pengharapan itu tidak terpenuhi, kita menjadi kecewa. Kita lupa karena hanya Tuhanlah yang dapat memenuhi segala harapan kita.

Hal berikutnya adalah mengenakan ”kasih”.
Kasih yang sesungguhnya adalah berkorban dan memberi yang terbaik bagi kebutuhan pasangannya. Jujur saja hal ini sangat bertolak belakang dengan keinginan daging kita, yang selalu menuntut, dan cenderung untuk dilayani dan menerima. Kisah perkawinan suami istri di atas tidak bisa bahagia, karena mereka terlalu bersikeras menggunakan cara mereka sendiri dalam mencintai pasangannya, bukannya berkata : ”apa yang kau butuhkan?” kepada pasangannya. Akhirnya masing-masing merasa lelah dan kecewa dengan kondisi pernikahan mereka.
Jadi hampir dapat dipastikan dengan kekuatan sendiri kita tidak mungkin bisa memberi yang terbaik bagi kebutuhan pasangan kita, kecuali ”kasih Allah” memenuhi hati kita. Tidak ada cara lain untuk menerima kasih Allah melalui membangun mezbah keluarga, agar hadirat Allah dan kasih Allah memenuhi hati kita, sehingga kita dapat mengasihi seluruh anggota keluarga kita dengan kasih Allah.

Impikan Pernikahan Bahagia.

Ketika kita hendak membangun sebuah rumah, pastilah kita akan memanggil seorang arsitek untuk menggambar bentuk rumah sesuai dengan kebutuhan dan selera kita tentunya. Gambar arsitektur tersebut merupakan ”sebuah impian” seperti apa rumah itu kelak nantinya dan menjadi acuan para pekerja membangun dari fondasi sampai rumah itu jadi. Ketika rumah itu jadi, kita menjadi puas dan bahagia karena melihat apa yang kita ’impikan” menjadi sebuah kenyataan.
Demikian pula dengan ”Rumah Tangga”. Apakah kita telah memiliki sebuah ”impian” seperti apa nantinya ”Rumah Tangga” yang kita bangun ?

Jika tidak, maka pernikahan kita akan berjalan ”biasa-biasa” saja, bahkan dingin, kaku dan suram. Mulailah berbicara dengan pasangan Anda, diskusikanlah seperti apa pernikahan yang bahagia menurut Anda, hal-hal apa saja yang perlu diperbaiki, dll.

Miliki sebuah impian tentang pernikahan yang harmonis, pernikahan yang menjadi teladan untuk pasangan lain bahkan anak-anak kita dan pernikahan yang bahagia.
Filipi 4:8 :”Jadi akhirnya saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Bangunlah pernikahan Anda

Banyak hubungan pernikahan yang dibiarkan begitu saja tanpa arah dan tujuan, mengalir saja dari waktu ke waktu, tanpa pernah mengusahakannya untuk menjadi lebih baik. Pernikahan yang bahagia tidak akan terjadi secara otomatis.
Janganlah kita memiliki prinsip seperti ”air mengalir” dalam menjalani biduk pernikahan, karena pada prinsipnya air selalu mengalir mencari permukaan yang lebih rendah.

Tetapi, bangunlah pernikahan kita !
Caranya :
JANGAN PUAS dengan keadaan yang biasa-biasa saja, kita harus berubah ke arah yang lebih baik
USAHAKAN dengan segenap hati supaya pernikahan kita menjadi lebih baik. Dengan membangun komunikasi lebih lagi, membangun keterbukaan suami istri, memberikan waktu bagi keluarga, mengusahakan untuk hidup sesuai dengan Firman Tuhan dan masih banyak hal lainnya lagi.
TERUS BELAJAR dan belajar tentang pernikahan dan keluarga. Amsal mengatakan hikmat ada di mana-mana, jadi kita dapat memperoleh hikmat mengenai pernikahan dan keluarga melalui berbagai sumber antara lain : Firman Tuhan, seminar-seminar keluarga, kesaksian, buku-buku atau terlibat dalam komunitas, dsb.
Marilah kita membuka hati kita untuk menerima kebenaran-kebenaran baru tersebut.

PERNIKAHAN SEPERTI APA YANG ANDA DAMBAKAN DAN IMPIKAN ? Mari kita ambil komitmen bersama pasangan kita untuk meraih pernikahan yang lebih baik dan lebih berbahagia.