Category Archives: SELF DEVELOPMENT

  • 0

10 LANGKAH MENGATASI DEPRESI

DEPRESI

Saya bingung apa yang terjadi dengan diri saya. Teman-teman saya mengatakan bahwa saya mengalami depresi dan perlu dikonseling. Yang ingin saya tanyakan adalah apa gejala seseorang mengalami depresi?  Apakah saya perlu konseling?

(Yunita, 23 tahun)

“Read More”


  • 0

MASALAH EMOSI

emosi

Saya bingung dengan diri saya. Saya merasa bahwa hidup saya sangat dikontrol oleh emosi. Saya mudah marah, meledak-ledak, dan sering konflik dengan orang lain. Terutama konflik dengan suami di rumah dan dengan teman-teman di kantor.  Saya merasa bahwa orang di sekitar saya tidak bisa memahami saya, tetapi mereka bilang saya adalah orang yang tidak punya pengertian dan suka menuntut. Hal-hal kecil di rumah pun memicu kemarahan saya, saat pulang ke rumah….saya sudah cape banget, ditambah mendengar anak-anak ribut bermain rasanya kepala saya mau pecah. Saya tau bahwa sebagai orang Kristen harus bisa mengontrol emosi. Tapi seringkali saya gagal.

Saya pernah mendengar bahwa orang yang yang dapat mengontrol emosi adalah orang yang memiliki kedewasaan emosi. Bagaimana caranya agar saya dapat berubah? (Anna, 38 tahun)

“Read More”


  • 0

Apakah Saya Sudah Mengampuni?

forgive

Enam tahun yang lalu, saya pernah difitnah oleh rekan kerja sekantor. Padahal saya sering menolong kalau dia mengalami kesulitan. Akibatnya, saya dipecat dan kehilangan pekerjaan. Saat itu saya sangat kecewa, marah dan tidak percaya dia mengkhianati saya. Rasanya saya tidak akan melupakan perbuatannya yang jahat itu. Saya menganggur beberapa bulan, dan mengalami masa-masa sulit. Puji Tuhan, kemudian saya mendapat pekerjaan dengan bantuan saudara saya. Kondisi saya saat ini baik dan saya sekarang lebih berhasil daripada rekan saya itu.

Saya juga sudah mengampuni dan tidak dendam lagi dengan dia. Saya berusaha melupakan kejadian tersebut. Bulan lalu di pernikahan kerabat, saya bertemu rekan saya itu, jujur saya menghindar tidak mau menegur dia. 

Apakah saya sudah mengampuni atau saya masih menyimpan kepahitan ya? Saya jadi ragu-ragu dengan hati saya…..bagaimana caranya supaya saya bisa mengampuni total?  (Devi, 33 tahun)

“Read More”

  • 0

Bebas dari KHAWATIR

khawatir

Saya seorang ibu dari 3 orang anak. Akhir-akhir ini saya sulit tidur karena saya sering merasa khawatir dan cemas. Saya khawatir apakah saya ibu yang baik untuk anak remaja, saya khawatir memikirkan masa depan anak saya?  Saya khawatir apakah kebutuhan keluarga dapat tercukupi, saya juga khawatir dengan pekerjaan dan kesehatan suami saya. Bagaimana jika saya jatuh sakit dan tidak dapat mengurus keluarga?  Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi?  Masih ada banyak hal lain yang saya khawatirkan.

Saya bingung, bagaimana saya bisa mengatasi perasaan khawatir saya yang sangat mengganggu?  

(Ester, 44 tahun)

“Read More”

  • 0

I’m (Maybe) Broken Home But Not Broken

broken home

Setiap orang (keluarga)  pasti mendambakan kehidupan rumah tangga yang harmonis, bahagia, utuh dan langgeng sepanjang hayat. Tetapi pada kenyataannya, tidak sedikit keluarga, termasuk keluarga-keluarga Kristen yang kehidupan rumah tangganya justru berantakan bahkan hancur (Red-broken home) hingga menimbulkan luka dan kepahitan berkepanjangan bagi pribadi-pribadi yang hidup di dalamnya. Ironis!  Sebab faktanya, tak ada satu pun anak di bawah langit ini yang menginginkan tumbuh di tengah keluarga broken home.

Keluarga kami dibangun bukan atas dasar cinta, melainkan perjodohan yang bapak dan mamaku tidak saling mengasihi satu sama lain. Sejak mereka menikah hingga kami beranjak remaja, jarang sekali mereka akur. Hampir setiap hari mereka bertengkar. Terkadang aku dan adik-adik menjadi pelampiasan kemarahan mama. Dicebur ke dalam got jorok dan bak mandi, dihajar di depan teman-teman sepermainan, dan dipukuli. Begitu juga bapak, selalu memarahi kami tanpa alasan yang tidak bisa dimengerti oleh anak kecil. Dan itu kami rasakan hingga bertahun-tahun. Ketakutan, kepahitan, dan kemarahan tertanam dalam jiwa kami. Kami pun sebagai anak-anak dituntut untuk menjalani hidup yang tidak normal, berbeda dengan orang kebanyakan (aku memilih untuk tidak menuliskan semua, yang pasti sangat menyedihkan dan sama seperti anak-anak korban broken home lain). Aku menjadi orang yang pendiam di rumah, tetapi menjadi sedikit liar di sekolah (bikin konser kecil-kecilan di kelas, gangguin teman, pokoknya menutupi apa yang terjadi di dalam keluargaku), dan ribut di rumah jika orangtua kebetulan tak ada. Aku juga jadi “tukang siksa” bagi adik bungsuku. Aku sering menakut-nakuti dia, memeras uang jajannya dan banyak lagi yang sering menyakiti hatinya sebagai anak kecil. Yang ada di pikiranku saat itu, dia harus merasakan sakit hati yang aku rasakan atas orangtuaku. Tapi aku sebenarnya sangat menyayanginya. Sering  aku nangis setelah “menghajarnya”. Pada pertengahan tahun 1997, orangtuaku sudah tak lagi sekamar. Hancur sudah saat itu, makan pun jadi situasi yang tak enak. Pernah juga timbul niatku untuk bunuh diri. Saat itu aku tak kenal sama yang namanya Tuhan.

“Read More”


  • 0

Garbage In Garbage Out!!

tv

Sinetron, drama korea, atau tontonan sejenis ‘opera sabun’ lainnya bisa ditemukan dengan mudah di layar kaca kita. Dan beberapa dari sinetron atau drama korea itu digandrungi sebagian besar remaja. Mungkin itu lantaran tema yang diusung dekat dengan dunia anak remaja seperti bercerita tentang pergaulan di sekolah, persahabatan, cinta dan tren anak remaja, dan lainnya. Tapi tahukah bila di dalam cerita sinetron atau drama korea yang membuai itu terselip sesuatu yang ‘berbahaya’ bila tidak segera diwaspadai?   

Peribahasa barat garbage in garbage out  (sampah masuk sampah keluar) mengingatkan agar kita berhati-hati dengan apa saja yang masuk ke dalam diri kita. Bila yang masuk adalah hal-hal negatif maka yang keluar pun adalah hal-hal negatif.  Karena itu, perhatikan dan awasi apa yang kita baca, dengar dan lihat. Sebab itu semua akan mempengaruhi cara kita berpikir dan bertindak.

Sebuah penelitian American Psychological Association (APA) mengatakan bahwa tayangan yang bermutu akan mempengaruhi seseorang untuk berlaku baik, dan tayangan yang kurang bermutu akan mendorong seseorang untuk berperilaku buruk. So, be careful what you watching! Termasuk tayangan sinetron atau drama Korea yang suka kita tonton!

“Read More”


  • 0

New Year & New ME

New Year

Selamat tinggal tahun 2014 !

Selamat datang tahun 2015 !

Yup… itu merupakan sebuah ucapan yang sering dilontarkan orang-orang pada saat hari terakhir, jam terakhir, menit terakhir dan detik terakhir di penghujung tahun.

Tahun baru adalah waktu yang tepat untuk introspeksi diri. Saatnya menilik kembali bagaimana kita melalui sepanjang tahun ini dan merenungkan apa yang dapat kita lakukan untuk memperbaikinya di tahun depan. In other words, pergantian tahun adalah saat untuk menyusun daftar resolusi tahun baru.

Resolusi adalah sebuah komitmen yang dibuat oleh seseorang untuk mengubah kebiasaan atau gaya hidupnya supaya lebih baik. Sebetulnya menurut hasil riset, hanya 12% partisipan yang benar-benar melakukan resolusi yang dirancangnya. Setelah 2 atau 3 bulan, kebanyakan orang sudah melupakan resolusinya. Meski begitu, bukan berarti kita tidak perlu menyusun resolusi, karena bagaimana pun juga, orang yang menyusun rencana memiliki peluang 10 kali lebih besar untuk mencapai tujuannya dibandingkan orang yang tidak melakukannya sama sekali !

“Read More”


  • 0

Bebas dari Kebiasaan Buruk

Bad HabitsSaya sudah ikut Tuhan sudah lebih dari 10 tahun. Selama  ini saya merasa sudah mengalami banyak perubahan yang baik dalam hidup saya, khususnya sifat dan karakter saya.

Tetapi  ada satu hal yang masih sulit saya ubah, yaitu saya masih merokok sampai sekarang.

Terus terang merokok adalah kebiasaan saya sejak lebih dari 20 tahun yang lalu. Saya sudah coba untuk  menguranginya, ternyata cuma berhasil beberapa hari saja, rasanya sangat sulit bebas dari kebiasaan ini. Apalagi kalau sedang stress, saya bisa merokok lebih banyak lagi. Saya juga tahu bahwa rokok tidak baik untuk kesehatan.

Bagaimana ya caranya menghilangkan kebiasaan buruk ini?  Saya tidak mau seumur hidup menjadi perokok. (Dedy, 40 tahun)

“Read More”


  • 0

LIFE is so UNFAIR

Shalom,
Saya seringkali berpikir bahwa hidup ini tidak fair. Teman-teman saya mempunyai orangtua sebagian besar kaya, tetapi saya merasa yang paling tidak beruntung.
Saya merasa tidak cantik seperti adik saya, tidak heran jikalau sampai sekarang ini saya belum punya pacar, sepertinya tidak akan ada yang suka dengan saya.
Saya juga tidak mempunyai kemampuan apa-apa yang dapat saya banggakan, tidak seperti kakak saya yang banyak talentanya dan pandai bergaul.
Mengapa hidup ini tidak fair? Saya tahu Tuhan mengasihi saya, tetapi bagaimana dengan masa depan saya? Apakah saya bisa sukses dalam hidup ini? Apa yang harus saya lakukan?  (Siska, 28 tahun)

JAWAB :
Shalom Siska,
Terima kasih untuk pertanyaan Anda. Terima kasih juga untuk kejujuran Anda atas perasaan Anda terhadap diri sendiri.
Saya bisa memahami kegelisahan Anda saat ini dan merasakan kesedihan Anda. Anda merasa bahwa kehidupan Anda kurang beruntung karena orangtua Anda bukanlah orangtua yang berada, Anda merasa wajah Anda kurang cantik, Anda merasa bahwa Anda tidak memiliki keterampilan yang dapat dibanggakan, sehingga Anda menjadi khawatir apakah nantinya Anda akan sukses dalam hidup ini.  
Apa yang Anda rasakan ini sangat erat kaitannya dengan “bagaimana cara Anda memandang diri Anda sendiri.”  Inilah yang disebut dengan Gambar Diri. Ada dua macam gambar diri, yaitu gambar diri positif dan gambar diri negatif.
Ada beberapa ciri di mana seseorang memiliki gambar diri yang negatif, antara lain :
          Sering membandingkan diri sendiri dengan orang lain.
     Cenderung befokus pada kekurangan dirinya, sehingga sulit menemukan kekuatan atau potensi dirinya.
      Sulit menerima diri sendiri, misalnya ada orang yang tidak bisa menerima diri karena merasa tubuhnya pendek.
          Rendah diri atau minder dan tidak percaya diri (tidak pede).
          Merasa tidak berguna dan merasa tidak berarti.
          Merasa tidak pantas, peragu, sulit mengambil keputusan hidup.
          Takut memulai sesuatu, takut gagal dan pesimis.
    Takut salah dan takut dikritik atau sangat terpengaruh dengan komentar orang lain.
          Suka iri hati dengan orang lain.
          Sering mengasihani diri sendiri dan menyalahkan diri sendiri.
          Kurang memiliki semangat dan dorongan hidup.
Biasanya, gambar diri negatif terbentuk sejak kecil dan berhubungan dengan pola asuh orangtua seperti : kurang kasih sayang dari orangtua, sering dibandingkan atau dibeda-bedakan, banyak dikritik oleh orangtua, serta mengalami kekerasan atau trauma hidup.
Gambar diri yang negatif dapat mempengaruhi kemampuan seseorang bergaul, kemampuan memaksimalkan potensi, keberhasilan karir, hingga kepuasan pernikahan kelak.
Oleh karena itu, gambar diri yang negatif perlu diperbaiki. Ada beberapa cara untuk pemulihan gambar diri, namun pemulihan bersifat proses, tak pernah sekali jadi atau dalam waktu singkat.
Berikut adalah beberapa tips untuk memperbaiki gambar diri :
Pertama, SADARILAH bahwa :
       Kita sangat berharga di mata Tuhan dan Tuhan sangat mengasihi kita. Bukti dari keberhargaan kita adalah Tuhan menebus kita dengan darahNya yang mahal.
Yesaya 43 : 4a – “Oleh karena engkau berharga di mataKu dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau”
I Petrus 1 : 19 – “Kamu telah ditebus … bukan dengan emas atau perak … melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus..”
          Setiap kita diciptakan sangat unik dan istimewa, tidak ada yang satu orang pun yang sama seperti kita. Firman Tuhan menuliskan bahwa Tuhan membentuk setiap bagian tubuh kita ketika kita dibentuk sebagai menusia di dalam rahim ibu kita.
        Mazmur 139 : 13-16 – “Betapa dahsyatnya dan ajaibnya kejadianku”
Kedua, JUJUR terhadap diri sendiri dengan mengakui jika selama ini telah memilih gambar diri yang salah. Dengan mengakui, maka kita mulai dapat melakukan perubahan dan pembaharuan pikiran. Mintalah ampun kepada Tuhan.
Ketiga, TERIMALAH bahwa faktanya tidak ada manusia yang sempurna. Setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangan. Hidup ini adalah proses untuk terus-menerus menyelaraskan hidup kita sesuai dengan Firman Tuhan. Belajarlah menerima kelemahan diri kita dan berfokuslah untuk menggali kelebihan atau potensi yang Tuhan berikan.
Keempat, mulai melakukan INVENTARISASI kelebihan-kelebihan kita.
Setiap kita dirancang dengan tujuan Allah.  Efesus 2 : 10 – Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.”
Oleh sebab itu, Tuhan memberikan kita talenta dan kelebihan untuk memenuhi panggilan hidup dan berjalan dalam rencanaNya. Nah, sebagian kelebihan itu belum kita sadari dan sebagian talenta itu mungkin masih tersembunyi.
Caranya adalah coba kita ingat-ingat apa yang menarik minat kita? Apa yang membuat kita paling bersemangat?  Steve Job, CEO dari Apple Computer pernah mengatakan, “Kamu harus menemukan apa yang kamu sukai.”
Kelima, bergabunglah dengan KOMUNITAS atau CareCell terdekat agar kita memiliki saudara seiman yang mendukung, membangun hubungan dengan orang lain serta belajar melayani sehingga potensi kita akan terus berkembang.
Keenam, membangun hubungan pribadi dengan Tuhan, melatih rasa bersyukur. SPIRITUALITAS yang baik membuat kita selalu berpikir positif dan menghargai setiap hal baik yang ada pada kita.
Ingatlah bahwa kita istimewa bukan karena kehebatan kita, kita istimewa karena Tuhan yang menjadikan kita istimewa. Tuhan Yesus memberkati !

  • 0

Anger Management

Shalom,
Saya merasa kasihan dengan isteri dan anak-anak saya, karena  sering kena sasaran kemarahan saya di rumah. Sebenarnya saya tidak berniat marah-marah, tapi tekanan di kantor sangat berat, atasan saya sering memaki-maki kami karyawannya. Kemudian saat pulang ke rumah….saya sudah cape banget, ditambah mendengar anak-anak ribut bermain rasanya kepala saya mau pecah.
Sehingga hal-hal kecil di rumah pun memicu kemarahan saya, bahkan saya sampai meledak-ledak. Akibatnya, saya jadi sering konflik dengan isteri saya juga.
Saya tau bahwa sebagai orang Kristen harus bisa menguasai diri terhadap kemarahan. Tapi saya sering gagal mengatasi kemarahan saya. Apa yang harus saya lakukan ? (Hendi, 36 tahun)

JAWAB :
Shalom Bpk Hendi,
Terima kasih untuk pertanyaan Anda. Terima kasih juga untuk kejujuran Anda atas perasaan Anda terhadap diri sendiri.
Saya bisa memahami perasaan Anda bahwa bukanlah hal yang mudah menghadapi situasi yang menekan dan menguras emosi Anda.
Nampaknya …ada  kaitannya antara  perlakuan atasan Anda dengan pola kemarahan Anda di rumah. Cobalah untuk merefleksikan bagaimana perasaan Anda saat atasan memaki-maki Anda ….apakah muncul perasaan kesal, kecewa, sedih sakit hati atau merasa diperlakukan tidak adil ?
Perasaan-perasaan yang tak terungkap ini tanpa sadar menimbulkan ‘energi kemarahan’ di dalam diri Anda.
Tentunya tidaklah bijak jika Anda melawan atasan Anda, tetapi akibatnya tanpa sengaja ‘energi kemarahan’ ini dilampiaskan kepada keluarga di rumah. Sehingga hal-hal kecil pun dapat memicu kemarahan Anda.
Marah pada dasarnya merupakan salah satu bentuk emosi yang dimiliki setiap individu. Penyebabnya bisa dari apa yang dilakukan orang lain terhadap kita, namun mungkin juga akibat apa yang telah kita lakukan sendiri pada diri kita sendiri.
Kemarahan dapat merusak apabila kita sudah dikuasai olehnya, contohnya: kita menjadi sering marah-marah dan cenderung menyerang orang lain. Dapat berbahaya karena berhubungan dengan frustasi, stress, depresi, resiko terkena sakit-penyakit, menimbulkan permusuhan, bahkan dapat mendorong untuk menyakiti orang lain, seperti memaki, memukul, menghancurkan benda-benda, ataupun penyiksaan.
Semuanya ini dapat membuat hati dan komunikasi kita sakit, mengganggu pernikahan, hubungan dengan pasangan dan anak-anak, juga dalam kehidupan karier dan persahabatan.
Firman Tuhan menyatakan bahwa, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa; janganlah matahari  terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” (Efesus 4:26-27).
Nah, ada beberapa cara yang dilakukan seseorang dalam mengatasi kemarahannya, yaitu :
          Ditekan atau dipendam ke dalam.
Saat dipendam, orang lain akan berpikir kita adalah orang yang sabar. Namun sesungguhnya tidak! Sebab biasanya kemarahan dilampiaskan kepada sesuatu yang ‘aman’ di mana orang tidak melihat secara langsung. Pelampiasannya antara lain makan berlebihan, merokok, atau lainnya. Banyak orang depresi karena menyimpan kemarahan yang terlalu lama dan sudah mendalam. “Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh.” (Pengkhotbah 7:9 )
          Meledak keluar.
Reaksi marah keluar antara lain seperti : menghancurkan benda, memukul, berteriak, memaki. Nampaknya meluapkan kemarahan ini dapat memberikan kelegaan sementara, tetapi sesungguhnya tidak pernah menyelesaikan akar penyebab mengapa kita marah. Biasanya masalah akan berulang-ulang kembali, bahkan bisa menjadi lebih parah dan tidak terkontrol.
“Si pemarah menimbulkan pertengkaran, dan orang yang lekas gusar, banyak pelanggarannya.” (Amsal 29:22)
Jelaslah, bahwa kemarahan itu berbahaya jika tidak diatasi dengan baik.
Oleh sebab itu, marilah kita belajar cara yang bijak, yaitu mengelolakemarahan, agar dapat menghentikan diri kita untuk melakukan dosa atau hal yang lebih buruk lagi.
 “Orang bebal melampiaskan seluruh amarahnya, tetapi orang bijak akhirnya meredakannya.”
(Amsal 29:11)
Ada beberapa tips untuk mengelola  kemarahan dengan baik, sebagai berikut :
          Perhatikan di saat gejala marah mulai menguasai kita.
Misalnya jantung yang berdegup kencang, napas lebih cepat, berkeringat, bahu lebih tegang, kepala sakit. Apabila ini terjadi, alihkan perhatian kita sementara agar tidak meledak keluar dan kita dapat menenangkan diri serta berpikir jernih.
          Mengenali akar penyebab kemarahan kita yang sebenarnya.
Dalam kasus Anda, akar penyebab kemarahan sesungguhnya adalah perasaan terluka akibat dari perlakuan atasan Anda. Kemarahan Anda bukan disebabkan oleh anak-anak yang bermain di rumah, bukan pula karena istri Anda. Tetapi tanpa sadar Anda sedang melampiaskan kemarahan tersebut kepada anak-anak dan isteri Anda.
          Menyadari dan jujur mengakui  bahwa ada perasaan marah di hati kita, bukan menyangkalnya.
Anda dapat mencoba mengungkapkan secara asertif kepada istri Anda bahwa Anda sedang mengalami tekanan karena terluka dengan perlakuan atasan di kantor, sehingga membutuhkan dukungan dari keluarga.
          Menyerahkan perasaan marah kita kepada Tuhan.
Saat melakukan hal ini, berarti kita mengijinkan Tuhan membersihkan hati kita dari berbagai perasaan seperti : sakit hati, dendam, kecewa, perasaan diperlakukan tidak adil, dan sebagainya, sehingga memampukan kita mengampuni orang yang menyakiti hati kita.
Dalam hal ini, Anda perlu menjaga agar hati Anda tidak dikuasai oleh kepahitan kepada atasan Anda.
         Memelihara persekutuan pribadi dengan Tuhan agar hati kita terus-menerus dipenuhi kasih, sukacita dan damai sejahtera (Roma 15:13).
Nah, tahukah bahwa untuk setiap detik yang diluangkan dalam bentuk kemarahan, maka satu menit kebahagiaan telah terbuang?
Marilah mengelola diri kita dengan baik. Tuhan Yesus memberkati !