Category Archives: COMMUNITY LIFE

  • 0

Pelayan Tuhan tapi sering KONFLIK?

Tags :

Category : COMMUNITY LIFE , COUNSELING

Pic-konflik pelayan Tuhan

Saya melayani di sebuah komunitas. Saya merasa lelah karena di tempat saya melayani sering konflik antara sesama pelayan Tuhan. Saya berusaha menjadi penengah untuk mendamaikan, tapi ga ada hasilnya. Masing-masing yang berkonflik mempertahankan pendapat sendiri, bahkan selalu merasa yang paling benar dan menyalahkan yang lain. Saya menjadi bingung, mengapa dalam wadah pelayanan bisa terjadi konflik. Apa yang harus saya lakukan?  (Lukas, 45 tahun)

“Read More”


  • 1

Mentoring, Gaya Hidup Orang-orang Luar Biasa

Category : COMMUNITY LIFE


Orang-orang ini diakui kehebatan & keberhasilannya oleh dunia, tetapi dibalik itu mereka adalah orang-orang yang menerapkan gaya hidup pemuridan/mentoring dalam kehidupannya. Mereka menyediakan diri dimuridkan dan memuridkan orang lain.Helen Keller dan sang mentor Annie Sullivan (Pengasuh & Guru)
Christopher Columbus dan sang mentor Juan Perez (Biarawan / Penasehat rohani)
Smith Wigglesworth dan sang mentor Polly (Istri)
John Maxwell dan sang mentor Melvin Maxwell (Papa)
Marthin Luther dan sang mentor Johann Von Staupitz (Pembina Rohani)
DR. Marthin Luther King, JR dan sang mentor Rev. Marthin Luther King Sr.(Papa)
Billy Graham dan sang mentor John Minder (Hamba Tuhan / Pendeta)
Abraham Lincoln dan sang mentor Sarah Bush Johnston (Mama Tiri)
Thomas Alfa Edison dan sang mentor Nancy Elliot (Mama & Guru pribadi)

Di Alkitab juga terdapat :
– Yosua dan sang mentor Musa (Pemimpin)
– Elisa dan sang mentor Elia (Pembina Rohani)
– Paulus dan sang mentor Barnabas (Teman & pembina rohani)

Mat 28:18-20 : Amanat Agung untuk memuridkan (mementor)
Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

SEPERTI APA MENTORING ITU ?

MENTORING BUKANLAH …..

Mentoring BUKAN “CLASSROOM”
Secara umuam, banyak system pendidikan saat ini menggunakan Model Yunani (Tipe Kelas) dan biasanya memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
– Sifatnya Akademis
– Pasif / Satu Arah / Monolog
– Menekankan pada Teori
Mentoring lebih sekedar ‘Kelas Pendidikan Alkitab’!

Mentoring BUKAN “CAFÉ”
Sebuah café adalah tempat orang bersantai menikmati fellowship dengan orang lain, menikmati snack & coffee, melepas lelah, menghilangkan stress, dll.
Mentoring lebih dari sekedar ‘Fellowship tanpa Tujuan’!

Mentoring BUKAN “ACTIVITY or EVENT…”
“Perlu kegiatan/aktivitas Kristen?…” Banyak orang yang rasanya tidak nyaman jika tidak mengikuti aktivitas Kristen. Mereka suka sibuk dengan aktivitas2, tanpa tujuan dan arah yang akan dicapai.
Mentoring lebih dari sekedar ‘Aktivitas Kristen’!

Mentoring BUKAN “EXCLUSIVE CLUB”
Bila dalam kelompok pemuridan semakin dekat hubungannya, dan makin hari makin ekslusif sehingga menjadi “Klub Eklusif” dimana orang lain sulit untuk masuk didalamnya.
Hati-hati, ini bukan spririt dari Mentoring!
Mentoring lebih dari sekedar ‘Klub Eklusif’!

Kalau begitu, apa sebenarnya Mentoring yang SESUNGGUHNYA ??

MENTORING adalah ………

1. “Pelatihan Kehidupan”
Sebuah pelatihan memiliki ciri :
o Adanya Hubungan / Relationship
o Pengajaran dari Pengalaman
o Proses “Magang”
Mentoring bukan kelas, tapi sebuah proses pelatihan kehidupan! Dalam proses ini, sebuha kegagalan dalam kehidupan adalah hal yang wajar yang perlu dipelajari dan diambil makna positif untuk kemajuan lebih lagi di waktu mendatang.

2. “Gaya Hidup Sebuah Keluarga Rohani”
Hal yang dikembangkan dalam mentoring bukan sekedar pertemanan/fellowship, tapi lebih dalam dari itu. Mentoring harus menciptakan suasana dan hubungan seperti sebuah “keluarga”, inilah yang membuat mentoring membentuk“suatu keluarga rohani”.

3. “PROSES Perubahan & Pertumbuhan ”
Mentoring memiliki tujuan yang jelas yaitu PROSES PERUBAHAN KEHIDUPAN.
Jadi bukan sekedar aktivitas/event saja. Dan sebuah proses tentunya memerlukan tenggang waktu tertentu yang mungkin bisa pendek atau panjang waktunya.
Setiap anggota harus siap dengan “proses” dan rindu mengalami “perubahan”.

4. “Berbagi sebagai Garam & Terang”
Mentoring adalah menerapkan pola multiplikasi. Waktu Yesus mementor 12 orang murid, maka murid2 tersebut akhirnya mementor orang lain lagi. Inilah waktunya kita sadari bahwa hidup kita harus jadi berkat untuk orang lain… Satu kali waktu kita harus mementor orang lain…

Aplikasi apa yang bisa kita lakukan?
1. Carilah Kelompok yang dapat mementor kehidupan rohani dan keluarga kita. ..
2. Bayarlah harganya untuk bergabung dalam kelompok itu…
3. Alamilah Proses Pertumbuhan bersama-sama dalam kelompok mentoring anda.
4. Bawalah keluarga/pribadi lain untuk mengalami berkat dalam kelompok mentoring anda.

Note : Sebagian bahan diambil dari sumber Dr. Tim Elmor (Growing leaders).

 


  • 0

GAYA HIDUP dalam KOMUNITAS

Category : COMMUNITY LIFE

Kisah Rasul 2:41-47, ayat 42
“Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.”

“And they continued stedfastly in the apostles’ doctrine and fellowship, and in breaking of bread, and in prayers” (KJV)

Sebuah komunitas yang sehat harus mengembangkan gaya hidup komunitas yang benar. Contoh gaya hidup komunitas yang benar adalah gaya hidup komunitas gereja mula-mula yang tertulis dalam kitab Kisah Para Rasul.

Ada 6 gaya hidup dalam komunitas yang harus dikembangkan:

1. Gaya Hidup MEMBANGUN HUBUNGAN
Setiap pribadi atau keluarga perlu membangun sebuah hubungan dengan pribadi atau keluarga yang lain. Hubungan yang dibangun bukan berdasarkan hubungan pekerjaan (job), hubungan pelayanan, hubungan bisnis, tetapi yang utama adalah berdasarkan hubungan personal sebagai pribadi/keluarga yang saling membutuhkan.
Membangun hubungan bisa dilakukan dengan cara-cara yang sederhana :
– Menyediakan waktu untuk bertemu satu sama lain
– Sharing / Ngobrol
– Saling telpon / sms
– Via teknologi : Internet, Chatting, Messanger, dll

2. Gaya Hidup DIMURIDKAN
Setiap pribadi dan keluarga harus memiliki kerinduan untuk belajar lebih lagi, kerinduan untuk bertumbuh lebih lagi. Kerinduan ini sangat diperlukan dalam komunitas, sehingga proses pemuridan (saling belajar) dapat berjalan dengan baik.
Ingat bahwa komunitas bukan hanya “hubungan” saja, tetapi juga “saling belajar”! Sehingga setiap pribadi dan keluarga bertumbuh, berbuah dan menggenapi tujuan Allah dengan tepat.

3. Gaya Hidup BERBAGI
“Wah berbagi?.. Apakah akan merugikan nantinya, jika berbagi?”
Seringkali kata “berbagi” itu berkonotasi pada hal yang akan merugikan pribadi kita.
Berbagi disini adalah “BERBAGI KEHIDUPAN”, artinya membangun suasana KETERBUKAAN antar satu dengan yang lainnya. Kita harus belajar terbuka baik dalam keadaan suka maupun duka. Ceritakan apa yang anda alami dengan perasaan aman.
Berbagi kehidupan yang terbaik adalah dengan menerapkan prinsip : TERBUKA KE DALAM dan TERTUTUP KELUAR, artinya :
Kita harus terbuka antar anggota komunitas, tetapi kita komitmen untuk tidak menceritakan kepada orang lain di luar kelompok komunitas kita.

4. Gaya Hidup SALING MENDOAKAN
Berdoa bersama ternyata juga memiliki arti : saling mendoakan. Betapa indahnya sebuah komunitas jika didalamnya setiap anggota saling mendoakan. Hal ini akan menguatkan satu sama lain. Ingat doa kita tidak pernah sia-sia jika kita berdoa dengan benar!

5. Gaya Hidup KEBERSAMAAN
Kebersamaan itu berarti melakukan sesuatu secara bersama-sama. Hal ini akan memberikan beberapa keuntungan :
– Terjalinnya hubungan dan keterbukaan semakin erat
– Jika bersama-sama maka beban yang ditanggung akan jadi lebih ringan
– “Bersama Kita Bisa”, kira-kira inilah yang juga akan terjadi, hal-hal yang sulit dilakukan, pasti bisa dilakukan jika bersama-sama!

6. Gaya Hidup INKLUSIF
Terang itu harus ada ditempat yang gelap agar dapat berfungsi memberkati. Jika kita diberkati dan bertumbuh dalam komunitas kita, kita juga harus memberkati pribadi atau keluarga yang lain. Ingat kita adalah “terang dunia”, biarlah dunia merasakan “terang” itu ….!!

Terapkan gaya hidup ini, kita akan mengalami berkat bersama-sama! Tuhan memberkati!


  • 0

Hidup Berkomunitas?…., Apa masih perlu buat kita??

Category : COMMUNITY LIFE

“Hidup Berkomunitas?….. Apa masih perlu buat kita???”
Mungkin ini pertanyaan yang sering muncul di kalangan Keluarga Muda dan Profesional Muda, mengingat mereka adalah kalangan orang yang tentu saja mengalami keterbatasan waktu dikarenakan : banyaknya tuntutan aktifitas seperti kesibukan yang luar biasa, beban dan tuntutan baik bagi keluarga, anak-anak maupun pekerjaan.

“Tidak baik, jika manusia itu seorang diri saja…” (Kej 2:18)
Pada dasarnya Tuhan menciptakan manusia sebagai Makhluk Sosial.
Hal ini dibuktikan bahwa dalam kehidupannya setiap manusia selalu membutuhkan hubungan dengan orang lain. Bahkan sejak lahir di dunia ini sampai pada akhir dari kehidupannya, manusia selalu membutuhkan sesamanya. Oleh sebab itu sebagai makhluk sosial, setiap kita perlu berkomunitas.

Berikut ini adalah dampak jika TIDAK terlibat di dalam komunitas :

1. Resiko Kejatuhan lebih besar
Kej 3:1-6 = Kisah Hawa yang jatuh dalam dosa.
Jika kita perhatikan kisah ini maka kita dapat melihat suatu kejadian yang janggal. Ketika Hawa berbicara dengan iblis, tidak terlihat keterlibatan Adam di situ. Tetapi pada ayat ke 6, baru muncul keterlibatan Adam. Ini berarti Hawa sedang dalam keadaan sendirian ( tanpa komunitas). Ini yang membuat resiko kejatuhan menjadi lebih besar.
Jika kita sendirian, resiko kejatuhan lebih besar. Sebaliknya jika kita bersama-sama dalam komunitas, resiko kejatuhan menjadi lebih kecil.
Karena dalam komunitas, setiap kita bisa saling menasehati, saling menguatkan, saling berbagi baik suka maupun duka.

2. Tekanan yang dirasakan seolah-olah menjadi lebih berat
I Raja-raja 19:1-4
Ini kisah tentang seorang nabi besar Elia. Saat itu keadaan Elia sedang mengalami masalah yang berat dalam hidupnya. Dan pada ayat ke-3, diceritakan bahwa justru Elia meninggalkan bujangnya (meninggalkan komunitasnya). Apa yang terjadi kemudian ? Akibat kesendiriannya, Elia justru mengalami perasaan yang lebih tertekan sampai muncul sebuah keinginan untuk ‘bunuh diri’ (Ayat 4).
Nah, seringkali pada saat kita mengalami masalah, kita rasanya lebih suka ‘sendirian’. Padahal jika kita tidak berada dalam komunitas, ternyata tekanan yang kita alami karena sebuah masalah akan menjadi lebih berat.
Tetapi sebaliknya jika kita dalam komunitas, maka kekuatan kebersamaan dalam komunitas itu akan menopang kita.

3. Melakukan hanya hal-hal yang terbatas.
Daniel 2:16-19
Pada mulanya Daniel tidak dapat menafsirkan mimpi raja Nebukadnezar, tetapi sejak dia melibatkan komunitasnya (Sadrakh, Messakh, dan Abednego) – (ayat 17-18) maka Daniel akhirnya dapat menafsirkan mimpi itu.
Jika kita sendirian mungkin kita bisa melakukan hal besar, tetapi jika kita bersama-sama dalam komunitas kita jauh lebih dapat melakukan hal-hal yang luar biasa ! Wow !!!!

Jika anda berkata, “KOMUNITAS ITU PERLU BAGI-KU DAN KELUARGA-KU…”, maka carilah komunitas yang sesuai dengan kebutuhan Anda dan terlibatlah di dalam komunitas tersebut… (Ada banyak komunitas di dalam gereja Tuhan.)
Tuhan Yesus memberkati !