Category Archives: REFLECTION

  • 0

Aku Ingin Seperti Ayah

Tags :

Category : FATHERHOOD , REFLECTION

Berikut ini adalah sharing dari Facebook seorang teman, yang dapat menjadi sebuah refleksi bagi kita semua  :

Suatu hari ada percakapan para kakek yang sudah mendekati usia 60 tahun dan dikaruniai beberapa orang cucu. Di sela-sela pembicaraan serius tentang bisnis, para kakek yang masih aktif itu sempat juga berbagi pengalaman tentang kehidupan keluarga di masa usia senja.  

Inilah kira-kira kisah mereka…….

Salah satu dari mereka kebetulan akan ke Bali untuk urusan bisnis, dan minta tolong diatur tiket kepulangannya melalui Surabaya karena akan singgah ke rumah anaknya yang bekerja di sana. Di situlah awal pembicaraan dimulai.

Ia mengeluh, “Susah anak saya ini, masak sih untuk bertemu bapaknya saja sulitnya bukan main.” “Kalau saya telepon dulu, pasti nanti dia akan berkata jangan datang sekarang karena masih banyak urusan. Lebih baik datang saja tiba-tiba, yang penting saya bisa lihat cucu.”

Kemudian itu ditimpali oleh rekan yang lain. “Kalau anda jarang bertemu dengan anak karena beda kota, itu masih dapat dimengerti,” katanya. “Anak saya yang tinggal satu kota saja, harus pakai perjanjian segala kalau ingin bertemu.”

“Saya dan istri kadang-kadang merasa begitu kesepian, karena kedua anak saya jarang berkunjung, paling-paling hanya telepon.”

Ada lagi yang berbagi kesedihannya, ketika ia dan istrinya mengengok anak laki-lakinya, yang istrinya baru melahirkan di salah satu kota di Amerika.

Ketika sampai dan baru saja memasuki rumah anaknya, sang anak sudah bertanya, “Kapan Ayah dan Ibu kembali ke Indonesia?” “Bayangkan! Kami menempuh perjalanan hampir dua hari, belum sempat istirahat sudah ditanya kapan pulang.”

Apa yang digambarkan adalah rasa kegetiran dan kesepian yang tengah melanda mereka di hari tua. Padahal mereka adalah para profesional yang begitu berhasil dalam kariernya.

Marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri, “Apakah suatu saat kita juga akan mengalami hidup seperti mereka?”

Untuk menjawab itu, marilah kita melihat syair lagu berjudul Cat’s In the Cradle karya Harry Chapin.
Beberapa cuplikan syair tersebut diterjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia agar relevan untuk konteks Indonesia.
“Read More”

  • 0

Pernikahan Dua “Orang baik”

Tags :

Category : MARRIAGE , REFLECTION


Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.
Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi, dengan begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah. Setiap sore, ibu selalu membungkukkan badan menyikat panci, setiap panci di rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikitpun.
Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci demi seinci, lantai di rumah tampak sangat, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang. Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin. Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik.
Tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tetapi berkali-kali. Ayah menganggap bahwa ibu tidak pernah memahaminya.
Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab.
Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istrirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berprestasi dalam pelajaran. Ia suka main catur, suka larut dalam dunia buku-buku kuno.
Ayah saya adalah seorang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia maha besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami. Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman. Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan, ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih, namun, jarang menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga.Aku sering melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan menurut pendapatku mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.

Sayangnya, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?

Ini adalah sebuah contoh potret kehidupan pernikahan sepasang suami istri. Dan hal ini jugalah yang sering terjadi di dalam kehidupan pernikahan banyak orang, sungguh ironis bukan ? Sang anak bertumbuh dalam kebingungan, dan terus bertanya dalam hatinya apa yang menyebabkan pernikahan kedua orangtuanya gagal, mengapa mereka tidak bahagia?

Ada beberapa ”Rahasia” yang mutlak diketahui oleh sepasang suami – istri untuk meraih PERNIKAHAN YANG BAHAGIA :

Ijinkanlah Tuhan hadir dalam pernikahan kita
Mazmur 127:1 : ”Nyanyian ziarah Salomo. Jikalah bukan Tuhan yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya ….”

Hal yang pertama adalah menaruh pengharapan kita di dalam Tuhan.
Banyak alasan mengapa kita melangkah masuk dalam pernikahan, mungkin alasannya mengharapkan kehidupan yang utuh, memiliki keturunan, atau untuk menghapus kesepian, untuk menyelesaikan persoalan, dan macam-macam harapan lainnya. Tetapi setelah masuk dalam pernikahan yang terjadi malah sebaliknya, kita saling menuntut supaya pasangan kita bisa memenuhi harapan-harapan kita. Pada saat pengharapan itu tidak terpenuhi, kita menjadi kecewa. Kita lupa karena hanya Tuhanlah yang dapat memenuhi segala harapan kita.

Hal berikutnya adalah mengenakan ”kasih”.
Kasih yang sesungguhnya adalah berkorban dan memberi yang terbaik bagi kebutuhan pasangannya. Jujur saja hal ini sangat bertolak belakang dengan keinginan daging kita, yang selalu menuntut, dan cenderung untuk dilayani dan menerima. Kisah perkawinan suami istri di atas tidak bisa bahagia, karena mereka terlalu bersikeras menggunakan cara mereka sendiri dalam mencintai pasangannya, bukannya berkata : ”apa yang kau butuhkan?” kepada pasangannya. Akhirnya masing-masing merasa lelah dan kecewa dengan kondisi pernikahan mereka.
Jadi hampir dapat dipastikan dengan kekuatan sendiri kita tidak mungkin bisa memberi yang terbaik bagi kebutuhan pasangan kita, kecuali ”kasih Allah” memenuhi hati kita. Tidak ada cara lain untuk menerima kasih Allah melalui membangun mezbah keluarga, agar hadirat Allah dan kasih Allah memenuhi hati kita, sehingga kita dapat mengasihi seluruh anggota keluarga kita dengan kasih Allah.

Impikan Pernikahan Bahagia.

Ketika kita hendak membangun sebuah rumah, pastilah kita akan memanggil seorang arsitek untuk menggambar bentuk rumah sesuai dengan kebutuhan dan selera kita tentunya. Gambar arsitektur tersebut merupakan ”sebuah impian” seperti apa rumah itu kelak nantinya dan menjadi acuan para pekerja membangun dari fondasi sampai rumah itu jadi. Ketika rumah itu jadi, kita menjadi puas dan bahagia karena melihat apa yang kita ’impikan” menjadi sebuah kenyataan.
Demikian pula dengan ”Rumah Tangga”. Apakah kita telah memiliki sebuah ”impian” seperti apa nantinya ”Rumah Tangga” yang kita bangun ?

Jika tidak, maka pernikahan kita akan berjalan ”biasa-biasa” saja, bahkan dingin, kaku dan suram. Mulailah berbicara dengan pasangan Anda, diskusikanlah seperti apa pernikahan yang bahagia menurut Anda, hal-hal apa saja yang perlu diperbaiki, dll.

Miliki sebuah impian tentang pernikahan yang harmonis, pernikahan yang menjadi teladan untuk pasangan lain bahkan anak-anak kita dan pernikahan yang bahagia.
Filipi 4:8 :”Jadi akhirnya saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Bangunlah pernikahan Anda

Banyak hubungan pernikahan yang dibiarkan begitu saja tanpa arah dan tujuan, mengalir saja dari waktu ke waktu, tanpa pernah mengusahakannya untuk menjadi lebih baik. Pernikahan yang bahagia tidak akan terjadi secara otomatis.
Janganlah kita memiliki prinsip seperti ”air mengalir” dalam menjalani biduk pernikahan, karena pada prinsipnya air selalu mengalir mencari permukaan yang lebih rendah.

Tetapi, bangunlah pernikahan kita !
Caranya :
JANGAN PUAS dengan keadaan yang biasa-biasa saja, kita harus berubah ke arah yang lebih baik
USAHAKAN dengan segenap hati supaya pernikahan kita menjadi lebih baik. Dengan membangun komunikasi lebih lagi, membangun keterbukaan suami istri, memberikan waktu bagi keluarga, mengusahakan untuk hidup sesuai dengan Firman Tuhan dan masih banyak hal lainnya lagi.
TERUS BELAJAR dan belajar tentang pernikahan dan keluarga. Amsal mengatakan hikmat ada di mana-mana, jadi kita dapat memperoleh hikmat mengenai pernikahan dan keluarga melalui berbagai sumber antara lain : Firman Tuhan, seminar-seminar keluarga, kesaksian, buku-buku atau terlibat dalam komunitas, dsb.
Marilah kita membuka hati kita untuk menerima kebenaran-kebenaran baru tersebut.

PERNIKAHAN SEPERTI APA YANG ANDA DAMBAKAN DAN IMPIKAN ? Mari kita ambil komitmen bersama pasangan kita untuk meraih pernikahan yang lebih baik dan lebih berbahagia.